<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa &#187; Daun Muda</title>
	<atom:link href="http://cerita.modelperawan.com/category/daun-muda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.modelperawan.com</link>
	<description>Cerita seks terlengkap dan cerita dewasa terbaru</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 02:37:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Aku dan Asisten pribadiku</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/aku-dan-asisten-pribadiku/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/aku-dan-asisten-pribadiku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 12:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[asisten cantik]]></category>
		<category><![CDATA[asistenku binal]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks asisten]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan asisten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa kembali dengan cerita baru, dari pengalaman seorang bos yang memiliki asisten pribadi, banyak orang berfikir dan bernegatif thinking soal hubungan bos dengan sekretaris ataupun asisten pribadi, karena komunikasi sering bisa jadi buah-buah cinta muncul,,, seperti dalam kisah berikut ini. Aku menjabat Kepala Cabang perusahaan asing ternama disalah satu kota di Sumatra. Dalam pekerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://cerita.modelperawan.com">Cerita dewasa</a></strong> kembali dengan cerita baru, dari pengalaman seorang bos yang memiliki asisten pribadi, banyak orang berfikir dan bernegatif thinking soal hubungan bos dengan sekretaris ataupun asisten pribadi, karena komunikasi sering bisa jadi buah-buah cinta muncul,,, seperti dalam kisah berikut ini.</p>
<p>Aku menjabat Kepala Cabang perusahaan asing ternama disalah satu kota di Sumatra. Dalam pekerjaan ku, salah satu team ku sebagai asisten ku,bernama Ika sudah bersama ku selama 3 tahun lebih. Ika sangat menarik, dandanannya cukup simple, namun suka pakai rok mini. Dalam pekerjaan sehari-hari aku dan Ika selalu membicarakan tugas, tidak pernah melenceng ke hal-hal sex, meskipun aku sering mencuri-curi ke arah pahanya yang mulus, yang tidak ter”cover” oleh rok-nya yang mini. Sering aku menghampiri meja kerjanya untuk membicarakan tugas, dan Ika dengan santainya membicarakan serius tanpa gaya merayu atau apapun. Paha yang terlihat pun tidak ada usaha untuk menutupinya ataupun. Pokoknya hubungan ku “straight” sebatas pekerjaan.<br />
Adalah hal rutin untuk saya berkunjung ke kantor pusat Jakarta untuk urusan rapat dll. Namun kejadian minggu lalu adalah hal yang benar2 berbeda.<br />
Undangan rapat pun tiba dan kantor pusat memanggil kami untuk rapat membicarakan krisis, karena cukup penting maka kantor pusat memanggil beberapa staff cabangku termasuk Ika.<br />
Sengaja aku sampaikan ke Ika bahwa dia aku utuskan untuk hadir di Jakarta, namun dibalik itu aku memang rencanakan untuk hadir, aku booking tiket pesawat secara terpisah.<br />
Pada hari H, aku langsung check in di counter Garuda, saat boarding sengaja aku masuk pesawat paling akhir, sambil jalan di gang aku lihat penumpang dan terlihatlat Ika yang sudah duduk dikursi jendela. Belum selesai dia terkaget akan kehadiranku, aku sudah langsung bilang bahwa aku putuskan untuk ikut rapat. Dalam perjalanan hampir dua jam lebih aku hanya bisa melihat Ika dari belakang, karena aku dapat kursi paling belakang sedangkan Ika ada ditengah.<br />
Saat mendarat di Jakarta, langsung aku menghampirinya dan aku jelaskan lagi bahwa aku putuskan untuk ikut karena pentingnya rapat ini, dan Ika pun hanya mengangguk sembari menjawab “Ya Pak” dengan nada pelan, sambil dalam hati kebingungan (mungkin).<span id="more-266"></span><br />
Dari Airport Jakarta langsung kami menuju ke Hotel Mulia tempat kami meeting dan menuju ke salah satu Ballroom untuk mengikuti meeting. Karena waktu yang mepet sekali, kami langsung menuju ke Ballroom tsb tanpa check in kamar terlebih dahulu. Rapat pun berjalan serius dan berakhir sore hari.<br />
Saya langsung suruh Ika untuk check in ke reception, sempat Ika menanyakan apakah saya mau check in kamar juga. Saya jawab nanti saya susul setelah saya menemui atasan saya di Ball room itu.<br />
Selesai berbicara dengan atasan saya, saya menuju ke reception, dari jauh aku melihat Ika dari belakang dengan rok mininya serta terlihat pahanya yang mulus yang sudah aku hafal benar…<br />
Ku dekati Ika dan langsung Ika nanya, Bapak mau check in juga? Aku hanya bilang kamu check in saja dulu, aku nanti nyusul.<br />
Selesai check in Ika menuju lift untuk kekamar, aku ikuti sambil membicarakan topic rapat tadi, Ika pun masuk lift dan memasukkan kartu kamarnya dan menekan tombol lantai 17. Didalam lift aku jelaskan bahwa kamar hanya pesan satu, dan aku tanya Ika apakah dia keberatan kalau aku gabung dikamar dia, plus aku tambahkan sekalian menghemat anggaran kantor cabangku, toh cuman untuk tidur saja.<br />
Ika terlihat bingung namun juga tidak bilang keberatan atau tidak keberatan, sambil jalan ke kamar yang dituju. Sesampainya dikamar aku langsung aja menaruh koper kecilku, dan Ika sempat menanyakan apakah aku serius mau sekamar dengannya.<br />
Aku tegaskan lagi bahwa kalau hanya untuk tidur semalam gak ada masalah. Akhirnya sambil terheran-heran, Ika meng-iya-kan, tanpa menyebut syarat-syarat.<br />
Kami pun mulai melepaskan baju kantor kami, aku lepas dikamar dan Ika masuk ke kamar mandi untuk ganti baju sekaligus membersihkan diri.<br />
Aku hanya bilang sehrian capek kita gak usah keluar makan, kita order room service saja, Ika pun langsung setuju.<br />
Sambil menunggu makanan room service aku pun mandi, namun dalam otak ku hanya terbayang tubuh Ika yang mulus.<br />
Setelah kami makan, Ika pun kembali ke kamar mandi (aku pun tidak tahu apa yang dia perbuat), aku santai sambil nonton Star Sport dikamar, duduk di soaf yang nyaman. Interior hotel yang indah membuat suasana sangat romantis, ditambha sinar lampu yang pas.<br />
Ika pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan daster warna kuning muda, sambil berbaring di ranjang dan ikut menonton Star Sport, Ika menanyakan mengenai posisi tidur, karena ranjang yang kami dapat adalah King Size Bed, aku hanya bilang aku biasa di sebelah kanan, maka Ika pun langsung ke sebelah kiri.<br />
Ika tidak menyukai tayangan sport di TV, dan dia bilang mau tidur. Sepuluh menit kemudian aku pun ke tempat tidur, lampu aku redupkan, dengan hati yang berdebar.<br />
Lima menit, sepuluh menit waktu berlalu aku [pun tidak bisa langsung tidur lelap. Ku lihat Ika pun beberapa kali pendah posisi, yang pasti Ika belum bisa tidur juga.<br />
Setengah jam pun berlalu, kondisi masih sama, kami berdua masih gelisah dalam hati, sampai pada akhirnya aku usap daster Ika warna kuning muda yang sedang bertolak muka dengan aku. Dengan pelan namun pasti, Ika membalikkan badan dan kontan tangannya membalas usapanku.<br />
Aku langsung mendekat dan memeluk tanpa tolakan sedikitpun dari Ika, malah Ika pun memulai gerakan erotisnya. Aku aba pahanya yang sering aku tatap dikantor kini ada di genggamanku. Tangan jahil ku pun mulai meraba hingga ke arah Miss. V nya.<br />
Tak sabar aku langsung perlahan melepas dastenya yang lembut, dan sekali lagi Ika pun tidak menolaknya, bahkan wajahnya dibuat manja, sehingga aku tak tahan untuk menciuminya. Lepaslah sudah datser kuning muda itu, dan dari wajah aku turun menciumi leher, pundak, dan akhirnya menuju ke ketiaknya yang bersih tanpa bulu, Ika pun mulai mengerang-ngerang nikmat.<br />
Puas mencium kedua ketiaknya, aku menuju toked-nya yang kencang pertanda birahi. Beberapa saat kemudian aku menelusuri perut hingga tiba di Miss V nya yang masih tertutup celana dalam. Kunikmati celana dalamnya nya yang halus di remang-remang kamar Hotel Mulia yang romantis. Ika mengenakan celana dalam biasa (bukan lingerie) warna krem dengan gambar kecil panda lucu. Ku sadari bahwa Ika tidak menyangka kalau malam itu dia ada acara “honeymoon” dengan aku.<br />
Perlahan sambil menikmati celana dalamnya yang biasa, aku melepaskan nya melihat Miss V nya yang ditumbuhi rambut yang natural. Foreplay pun dimulai dengan berbagai posisi dan bertaburan kecupan dari masing-masing insan. Aku sadar bahwa Ika pun sudah siap setelah meraba Miss V nya yang sudah licin sekali.<br />
Aku pun melepas busana secepat kilat dan langsung menancapkan secara perlahan tapi pasti Mr. P ku ke Miss V nya. Wow, beberapa kali goyangan di Miss V yang licin sempat membuat Mr. P ku muntah, tapi aku pakai teknik untuk mengurangi sensitivitas. Beberapa posisi aku coba sampai pada saatnya Ika yang sedang berada diatasku tiba2 mengerang sambil kurasakan Miss V nya makin menghimpit Mr. P ku, saat itulah Ika mengalami orgasme yang hebat. Tak kuasa aku melihat sambil merasakan Miss. V nya yang lagi action, aku pun mencapai puncaknya, namun aku langsung sadarbahwa aku belum pernah membicarakan soal kontrasepsi yang dia pakai (gak tahu pakai atau tidak), dengan berat hati aku langsung angkat sedikit tubuh Ika agak Mr. P ku keluar segera dai Miss V nya, dan muntah sperma ku di tubuhku sendiri, sedikit mengenai perut Ika.<br />
Tanpa ijin Ika aku langsung tarik daster kuning mudanya untuk mengelap sperma yang berceceran, Ika pun tidak sempat komplain karena dia lemas dan penuh kepuasan….<br />
Dalam hitungan menit, kami pun berdua tertidur lelap tanpa busana, hanya berselimutkan selimut putih tebal yang lembut…<br />
Ketika matahari pagi mulai bersinar, korden Hotel Mulia yang tidak rapat tertutup menembuskan sinar matahari pagi yang mebangunkan kami. Tak tersadarkan aku bangun sambil memeluk perut Ika yang ramping dan mulus. Aku pun mulai mengusap kelembutan kulitnya, kuciumi bibirnya dan Ika pun terbangun. Beberapa pelukan pun terjadi yang membuat Mr. P ku memanjang lagi, tanpa basa basi yang panjang aku pun terlibat dalam permainan yang tidak kalah serunya, kali ini to the point karena semuanya sudah terbuka. Beberapa kalai kami berganti posisi bagai pegulat profesional, hingga akhirnya posisiku diatas dan terus menggenjot Miss V nya yang licin. Lebih lama dari pergulatan semalam, aku mampu menahan klimaks, Ika pun terlihat sudah mencapai orgasme, dan aku pustuskan untuk memuntahkan sperma ku, sekali lagi diluar Miss V nya, rambut kemaluannya pun terlihat berceceran sperma ku. Sempat kuatir kalau kalau ada sperma yang masuk ke Miss V nya, ceritanya bisa panjang nantinya….<br />
Setelah berpelukan yang bermesraan ala romantic, kami pun segera mandi bersama, mengingat waktu yang harus kami kejar untuk rapat hari kedua, kami pun hanya mandi bersama plus sedikit saling mengusap dengan sabun.</p>
<p>Demikian dulu <a href="http://cerita.modelperawan.com/aku-dan-asisten-pribadiku/">cerita seks dengan asisten pribadi</a> kali ini, baca juga cerita-cerita kami yang lain yang bisa membuat anda mendapatkan pelajran dari kehidupan dan pengalaman orang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/aku-dan-asisten-pribadiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gara-gara Maen Dokter-dokteran</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/gara-gara-maen-dokter-dokteran/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/gara-gara-maen-dokter-dokteran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 03:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[asiknya dengan om]]></category>
		<category><![CDATA[dokter dokteran]]></category>
		<category><![CDATA[gadis binal]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan om]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Berikut kiriman cerita dewasa dari seorang wanita bernama rini, tentang kebenaran cerita kembali pada diri kita masing-masing. Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut kiriman cerita dewasa dari seorang wanita bernama rini, tentang kebenaran cerita kembali pada diri kita masing-masing. Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman <a href="http://cerita.modelperawan.com">seks</a>ku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri. Peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman ayah itu bernama Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh. Usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap dengan dada yang bidang.</p>
<p>Kejadian ini bermula ketika liburan semester. Waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan<span id="more-262"></span> Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.</p>
<p>Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata kepadaku, &#8220;Rin&#8230; kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis&#8221;.</p>
<p>Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.</p>
<p>&#8220;Ayoo&#8230;&#8221;, sambutku dengan polos tanpa curiga.</p>
<p>Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.</p>
<p>&#8220;Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang&#8221;.</p>
<p>Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.</p>
<p>&#8220;Baik Om&#8221;, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.</p>
<p>Namun Om Bayu bilang, &#8220;Lho&#8230; BH-nya sekalian dibuka dong.. biar Om gampang meriksanya&#8221;.</p>
<p>Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.</p>
<p>&#8220;Wah&#8230; kamu memang benar-benar cantik Rin&#8230;&#8221;, kata Om Bayu.</p>
<p>Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku dan aku hanya tertunduk malu.</p>
<p>Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula ditempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.</p>
<p>&#8220;Waah&#8230; kulit kamu halus ya, Rin&#8230; kamu pasti rajin merawatnya&#8221;, katanya.</p>
<p>Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu. Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut. Dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya. Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih&#8230; baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira&#8230; yah hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku.</p>
<p>&#8220;Nah.. sekarang Om periksa bagian bawah yah&#8230;&#8221;, katanya.</p>
<p>Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.</p>
<p>&#8220;Ih&#8230; Om kok celana dalam Rini dibuka&#8230;?&#8221;, kataku dengan gugup.</p>
<p>&#8220;Lho&#8230; kan mau diperiksa.. pokoknya Rini tenang aja&#8230;&#8221;, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hiii&#8230; aku jadi merinding rasanya.</p>
<p>&#8220;Ooomm&#8230;&#8221;, suaraku lirih.</p>
<p>&#8220;Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu merasa nikmat&#8230;&#8221;, katanya sambil tersenyum.</p>
<p>Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya. Kemudian dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.</p>
<p>&#8220;Aahh&#8230; Oooomm&#8230;&#8221;, jeritku lirih.</p>
<p>&#8220;Sssstt&#8230; hmm&#8230; nikmat.. kan&#8230;?&#8221;, katanya.</p>
<p>Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat kesana kemari.</p>
<p>&#8220;Ssstthh&#8230; aahh&#8230; Ooomm&#8230; aahh&#8230;&#8221;, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat terangsang sekali.</p>
<p>Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku. Aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya. Hiii&#8230; rasanya jadi makin geli&#8230; apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.</p>
<p>Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh&#8230; gila&#8230; tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap diantara kedua kakiku yang otomatis terkangkang. Kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku. Kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.</p>
<p>&#8220;Aaa&#8230; Ooomm&#8230;!&#8221;, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannya itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait kesana kemari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.</p>
<p>&#8220;Aahh&#8230; Ooomm&#8230; jaangan&#8230; jaanggann&#8230; teeerruskaan&#8230; ituu&#8230; aa&#8230; aaku&#8230; nndaak&#8230; maauu.. geellii&#8230; stooopp&#8230; tahaann&#8230; aahh!&#8221;.</p>
<p>Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana kemari antara mau dan tidak. Biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku diantara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana kemari namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan. Vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya. Hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi semakin kelonjotan.</p>
<p>Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya lalu dijilatnya clitorisku.</p>
<p>&#8220;Aahh&#8230;&#8221;, tentu saja aku menjerit keras sekali. Aku merasa seperti kesetrum karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai mengangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap-hisapnya.</p>
<p>&#8220;Aa&#8230; Ooomm&#8230; aauuhh&#8230; aahh… !&#8221;, jeritku semakin menggila.</p>
<p>Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya.</p>
<p>&#8220;Ooomm&#8230; aa… !&#8221;, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya. Disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas.</p>
<p>Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja. Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mencuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku.</p>
<p>Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada diantara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat, panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20 cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang dimana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu.</p>
<p>Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu.</p>
<p>Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan-lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke keseluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung. Aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.</p>
<p>&#8220;Gimana Rin&#8230; nikmat kan&#8230;?&#8221;, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya. Nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.</p>
<p>Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku. Hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku. Aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada, aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.</p>
<p>Tapi selang tak lama kemudian perlahan-lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku. Gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya. Sodokan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit. Seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi. Perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar.</p>
<p>Tanpa sadar dari mulutku keluar suara, &#8220;Ssshh&#8230; ssshh&#8230; aahh… ooohh&#8230; Ooomm&#8230; Ooomm&#8230; eennaak&#8230; eennaak… !&#8221;</p>
<p>Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku.</p>
<p>&#8220;Aadduuhh&#8230; saakkiiitt&#8230; Ooomm&#8230; sttooopp… sttooopp&#8230; jaangaan&#8230; diterusin&#8221;, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia-sia saja.</p>
<p>Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku. Tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu.</p>
<p>&#8220;Om&#8230; kenapa dimasukkan semua… kan&#8230; janjinya hanya digosok-gosok saja?&#8221;, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum-senyum saja.</p>
<p>Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, &#8220;Ssshh&#8230; ssshh&#8230; ooohh&#8230; ooohh…&#8221;</p>
<p>Dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku. Bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku. Sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku. Seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat. Tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik. Terasa tubuhku melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak berdaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.</p>
<p>Melihat keadaanku, Om Bayu makin terangsang. Dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya. Dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme. Dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan.</p>
<p>&#8220;Ooohh&#8230; Riiinn&#8230; Riiinnn&#8230; aakkuu&#8230; maau&#8230; keluar!.. Ooohh&#8230; aahh&#8230; hhmm&#8230; ooouuhh!&#8221;.</p>
<p>Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian… cret&#8230; crett&#8230; crett… spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.</p>
<p>&#8220;Aahh&#8230;&#8221;, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega.</p>
<p>Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Terima kasih sayang&#8230;&#8221;, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.</p>
<p>Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang. Perasaan-perasaan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi. Memang kalau diingat-ingat sebenarnya nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu, tentu saja aku malu mengatakannya. Aku hanya pura-pura ngobrol kesana kemari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu. Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertama kalinya aku merasakan kenikmatan hubungan seks.</p>
<p>Demikian cerita kami, nantikan lagi cerita-<a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> yang lain yang tentunya lebih baru dan segar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/gara-gara-maen-dokter-dokteran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta dengan Mahasiswi Ayam Kampus</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-mahasiswi-ayam-kampus/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-mahasiswi-ayam-kampus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 17:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[ayam kampus]]></category>
		<category><![CDATA[bispak]]></category>
		<category><![CDATA[bispak makasar]]></category>
		<category><![CDATA[bisyar]]></category>
		<category><![CDATA[cewek bispak]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswi bisyar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dewasa, Semua emang berawal dari Blog ini, gue sering baca Cerita yang ada di web ini meski belum cukup lama. suatu saat ketika gw dapet job keluar kota, yaitu makassar untuk beberapa hari. langsung berniat untuk surfing di forum bispak/bisyar untuk domisi sulawesi (makassar). liat liat beberapa thread disana sampe akhirnya ga bisa nemuin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita Dewasa</strong>, Semua emang berawal dari Blog ini, gue sering baca Cerita yang ada di web ini meski belum cukup lama. suatu saat ketika gw dapet job keluar kota, yaitu makassar untuk beberapa hari. langsung berniat untuk surfing di forum bispak/bisyar untuk domisi sulawesi (makassar). liat liat beberapa thread disana sampe akhirnya ga bisa nemuin data data yang akurat dari para TSnya, akhirnya kepikiran untuk ngebuka thread baru untuk cari tau tentang info bisyar/bispak disana. beberapa hari blum kunjung ada balesan dari siapapun (sepertinya memang agak susah kali ya??) dan akhirnya waktunya pun tiba untuk berangkat ke makassar.</p>
<p>keperluan gw ke makassar untuk nemenin temen2 band baru (dan belum terkenal pastinya,hehehe) yang di undang oleh salah satu acara kampus swasta disana. dan gw hanyalah orang yang tergabung pada tim produksi band. sampe di makassar dengan 2 jam perjalanan yang cukup melelahkan dan disambut dengan beberapa panitia acara. hmm, laki laki semua nih yang jemput?! makin terasa aja perasaan cape ini (gw dalam hati). langsung menuju venue untuk soundcheck. dan cukup bikin ngiler begitu pas sampe di venue ternyata banyak mahasiswi yang<span id="more-245"></span> bening sampe kusem, yang kurus sampe muontok. bikin dag dig dug aja. diruang artist terlihat ada salah satu sosok mahasiswi putih dan mungil (bukan type gw sih dalem hati, tapi mukanya lumayan bitchy nih). ah&#8230;tapi ya udah lah, kerja aja dulu. koq makin lama makin napsuin aja nih cewe ya? dengan nada ga sabar (dan penasaran) gw coba iseng tanya sama salah satu panitianya :</p>
<p>G : (gw) yang itu lucu juga tuh, siapa namanya?<br />
P : (panitia) owh yang itu mahasiswa baru bang. cuma bantu2 aja.<br />
G : ohh&#8230;gitu ya? ajak2 dia donk main ke hotel kita ntar.hehehe<br />
P : abang naksir bang? yah gampang lah (sambil sedikit berbisik)<br />
G : naksir&#8230;?? nggak lah&#8230;cuma nanya aja<br />
p : sip bang, ntar saya ajak dia main kehotel. ntar saya kenalin juga.<br />
G : emang namanya siapa ?<br />
P : namanya (sebut aja Nia) masih single tuh bang&#8230;!!!<br />
G : hehehe&#8230;ok ok.</p>
<p>selesai soundcek semua tim bergegas untuk bebenah dan langsung menuju hotel tempat kita nginep selama di makassar. tempatnya ga terlalu jauh dari venue supaya ga makan waktu lama di perjalanan. semua tim langsung pada istirahat dikamar masing2 (yang diisi oleh 2 orang pertiap kamar) karna nanti malem langsung balik lagi ke venue untuk perform onstage. waktu berganti akhirnya tiba juga waktu perform. kita jalan ke venue dari hotel. sampe di venue langsung bersiap di samping panggung untuk checking alat sampe soundsystem. lagi2 sosok Nia hadir ditengah tengah tim. dia terlihat udah ganti baju dan sangat sexy sekali malam ini. bikin konak aja ngeliat mukanya yang binal. ga lama, salah satu panitia dateng sambil nepuk punggung gw, dan pas gw balik badan ternyata dibelakangnya ada Nia&#8230;</p>
<p>P : (panitia) bang, katanya mau kenalan? nih orangnya..hehe<br />
(waduh bikin malu gw aja nih anak didepan temen2 crew)<br />
G : (gw) ohh&#8230;iya iya&#8230;<br />
N : (Nia) Nia&#8230;(suaranya sengau2 sexy, sambil ngulurin tangan)<br />
G : Rocky&#8230; (singkat, sok jual mahal,hahaha)<br />
P : Nia, kau tunggu sini aja dulu yah sama bang Rocky. bang titip ya!!<br />
(emang sendal apa dititip segala, kaya mau ke masjid)<br />
G : ohh&#8230;ok ok. tapi gw mesti prepare dulu nih.<br />
N : ya udah gapapa bang, sekalian aku tungguin alat2nya.<br />
(jagain alat vital aja mau ga neng??gw dalem hati.hahaha)<br />
G : ohh..ok deh. makasih ya Nia.</p>
<p>akhirnya waktu perform berakhir, dan semua berjalan sukses seperti rencana. penampilan band cukup memuaskan, dan penonton pun cukup antusias. lalu gw dan tim bersiap lagi untuk packing balik ke hotel. pas sambil packing, Nia tiba2 nyamperin gw (sampe kaget gw&#8230;)&#8230;</p>
<p>N : bang nanti malem aku boleh main ke hotel ga bang?<br />
G : eh&#8230;Nia,kirain siapa??<br />
N : hehe&#8230;maaf bang. ngagetin ya?<br />
G : hmm&#8230;gapapa koq. iya kenapa tadi?<br />
N : hmm&#8230;Nia mau main kehotel donk&#8230;boleh ga bang?<br />
(sambil merayu sexy dengan suara sengau nya)<br />
G : ohh..boleh boleh.main aja.sekalian nemenin aku cari makan.hehe<br />
N : gampang bang&#8230;!! nanti aku kasih tau tmp yang enak.<br />
(senyumnya aja ga kliatan manis buat gw, tapi napsuin)<br />
G : ya udah, aku tunggu di hotel ya. aku duluan&#8230;<br />
N : oke bang. ati ati ya?<br />
(wah&#8230;mulai ngeres nih otak gw. kayanya &#8220;bisa&#8221; nih anak kecil?!)</p>
<p>Nia sampe di hotel selang 10 menit gw sampe dihotel. pas baru aja lagi rebahan dikasur tiba2 ada yang ngetok kamar. gw yang menghuni kamar berdua bareng temen produksi yang lain langsung spontan&#8230;</p>
<p>T : (temen) Rock bukain tuh pintu&#8230;!!<br />
G : iya&#8230;siap sih malem2??<br />
(pas pintu gw buka&#8230;ternyata Nia adalah sosok dibalik pintu itu)<br />
(Nia yang berpakaian sexy dengan kaos ketat dan cardigan hitam)<br />
N : malam bang&#8230;jadi ga cari makannya? ayo Nia temenin&#8230;<br />
G : eh&#8230;Nia??!! (heran) koq tau nomor kamar aku??<br />
N : iya tadi Nia tanya ama Kakak senior dikampus&#8230;<br />
G : ya udah yuk&#8230;kamu tunggu lobby aja dulu nanti aku nyusul.<br />
N : ok bang. jangan lama2 ya&#8230;Nia juga laper nih.hehe</p>
<p>pintu buru2 gw tutup lagi, trus nyamperin temen sekamar gw&#8230;</p>
<p>G : (gw) eh&#8230;Nyet&#8230;!!! lo pindah kamar dulu donk&#8230;!!! (sumringah)<br />
T : (temen) ah&#8230;!!! mau ngapain sih lo??? ga mau&#8230;!!! (kekeh)<br />
G : ayo donk please&#8230;kaya ga ngerti anak muda aja sih lo???<br />
T : ah&#8230;kalo ada maunya aja lo&#8230;ya udah lah&#8230;dasar!!! (ngedumel)<br />
G : hehehe&#8230;gitu donk pengertian. tengkyu BRRRoooOOO..!!</p>
<p>gw langsung buru2 ganti baju trus siap2 untuk nyusul Nia ke Lobby. trus kita jalan makan pake mobil Yaris merah Nia. yang diperbolehkannya gw untuk mengendarai kendaraan pribadinya itu. udah sekitar 2 jam lewat kita diluar hotel dan mutusin untuk balik lagi ke hotel. suasana makan malam tadi bener2 menyenangkan. SSI sana sini sampe akhirnya gw yakin kalo ini bener2 bisa jadi rejeki buat gw.</p>
<p>akhirnya sampe di hotel Nia gw ajak kekamar. SSI sambil cerita sana sini dan langsung gw sikat bibir kecil mungil berwarna merah muda itu didepan pintu kamar mandi hotel. agak sedikit pasif memang, mungkin karna usia nya yang masih terbilang belia dan masih berstatus mahasiswa baru dikampus. FK 5 menit dan udah terlihat banyak kemajuan di teknik FK Nia. lidahnya udah mulai mengulum balik bibir dan lidah gw. sesekali dia gigit2 kecil bibir dan lidah gw. berpikir dalam hati kayanya suasana udah semakin memanas, akhirnya gw mulai mencoba untuk terjun langsung kedaerah pertahanan Nia. <a href="http://cerita.modelperawan.com">Toket</a>nya emang ga gede2 banget sih, tapi usia yang ngebuat permukaannya bener2 kenceng. perlahan gw angkat kaos nya yang ketat dan Nia blum terlihat terganggu sama aktivitas gw sejauh ini. gw loloskan kaosnya yang ketat lewat kepala dan tangannya hingga terlihat jelas warna putih bergaris merah muda pada bra 34B nya. gw remes2 tuh toket nya yang masih kenceng, dan Nia sesekali hanya bisa membalas dengan rintihan kecil dari bibirnya yang mungil.</p>
<p>daerah pertahanan akhirnya udah gw lucuti tanpa adanya perlawanan. lalu Nia berkata untuk membukakan semua pakaian yang gw pake. hingga akhirnya kita berdua udah dalam keadaan <a href="http://cerita.modelperawan.com/tag/bugil/">bugil</a>. sesekali gw giring tangannya yang masih malu2 untuk meraih batang kejantanan gw yang udah berdiri tegak dari tadi. gw pandu tangan nya untuk ngelakuin HJ hingga akhirnya Nia terlihat mahir dengan alami dan sendirinya.</p>
<p>G : (gw) Nia, kamu kulum yah punya aku&#8230;<br />
(Nia seolah pasrah menikmati keadaan dan hanya mengangguk iya)</p>
<p>BJ Nia lumayan cukup untuk seorang pemula. sesekali Nia tersedak karna terlalu dalam mengulum batang&#8230;.</p>
<p>G : (gw) pelan2 aja Nia, kamu nikmatin aja&#8230;<br />
N : (Nia) mulut Aku pegel bang&#8230;(sembari tersenyum)<br />
G : ya udah kalo gitu gantian ya&#8230;kamu tiduran aja sekarang.<br />
(spontan gw angkat Nia dan gw rebahin di kasur, dari depan pintu WC)</p>
<p>gw jilatin lubang kenikmatannya secara halus dan perlahan. Nia hanya bisa merintih menahan rasa nikmat sambil sesekali membisikan &#8220;geli&#8230;bang&#8221; dari dalam bibir mungilnya. makin bikin gw napsu aja nih anak untuk terus menjilati bibir kemaluannya. setelah 2 menit berlalu&#8230;</p>
<p>G : (gw) Nia, aku masukin sekarang ya&#8230;<br />
N : iya bang&#8230;tapi pelan pelan ya&#8230;aku suka sakit.<br />
G : iya&#8230;aku pelan pelan koq&#8230; (sleb&#8230;sambil masukin perlahan)</p>
<p>setengah batang udah masuk, Nia malah bilang&#8230;</p>
<p>N : masukin semuanya bang&#8230;masukin&#8230; (suaranya sengau membisik)<br />
G : enak Nia&#8230;??<br />
N : enak bang&#8230;kamu emang jago yah bang&#8230;??<br />
G : Nia juga jago koq (hibur gw)<br />
G : kita ganti gaya yah Nia&#8230;<br />
(Nia hanya bisa mengangguk, dengan batang gw masih tertanam didalam)</p>
<p>gw nunggingin badannya dan bersiap untuk memulai DS. lubang kenikmatan Nia yang masih cukup sempit ngebuat posisi ini jadi semakin terasa enak buat gw. meskipun gw tau kalo ternyata Nia pun udah ga perawan, karna ga ada tanda2 berdarah pada saat MOT tadi.</p>
<p>gw terus genjot Nia di posisi DS sambil nusuk atas-bawah sampe kanan-kiri dengan variasi RPM. kepalan tangan Nia hanya bisa tersasarkan pada sprei kasur hotel. Nia terlihat sangat menikmati ayunan batang gw maju mundur dengan kepalan tangan nya yang semakin erat meraih sprei kasur hotel itu. desahannya yang dipadu dengan suaranya yang sengau membuat Nia semakin sexy di hadapan gw malam itu. setelah 10 menit berlalu. Nia teriak kecil&#8230;</p>
<p>N : ampun bang&#8230;ampun&#8230;aku udah lemes nih&#8230;<br />
(jadi ga tega mau lanjut ngospek Nia untuk ngajarin WOT)<br />
G : ya udah&#8230;kamu tiduran aja lagi yah&#8230;<br />
N : aku udah lemes bang&#8230;<br />
(mungkin karna durasinya juga yang udah kelamaan)<br />
G : iya&#8230;bentar aja koq sayang&#8230; (keceplosan)</p>
<p>lalu gw baringin lagi Nia ke posisi MOT dan langsung gw hajar dengan RPM tinggi. desahan dan rintihan Nia semakin ga terkendali&#8230;</p>
<p>N : ampun bang&#8230;Nia udah keluar trus dari tadi&#8230;<br />
G : keluarin sekali lagi Nia&#8230;ayo keluarin lagi&#8230; (bisik gw dikupingnya)<br />
N : terus bang&#8230;masukin terus&#8230;Nia mau keluar bang&#8230;<br />
(semakin naik libido gw kaya mau meledak dengernya)<br />
N : keluarin bang&#8230;keluarin punya abang di dada Nia<br />
G : iya Nia&#8230;iya&#8230;</p>
<p>ga lama gw angkat batang gw dari lubang kenikmatan Nia, cairan kejantanan gw langsung berhambur tak tertahan diatas dadanya yang putih dan masih mulus dengan puting yang merah kecoklatan. setelah itu gw cium lagi bibirnya yang mungil dan masih menyimpan hela nafas yang masih terlihat sangat lelah. setelah pertempuran itu kita membersihkan diri di kamar mandi hotel. berbincang ringan sambi berpelukan didepan TV hingga akhirnya kuantar Nia keluar hotel menuju mobilnya sambil mengucapkan terima kasih untuk malam yang menyenangkan. Tidak sempat berkata banyak bahkan sampe lupa menanyakan nomor HP ato FB nya (tapi gampang lah,tinggal coba tanya sama kakak seniornya aja kali ya ntar,hehehe), Nia pulang dengan senyum yang masih tersimpan dari balik kaca Yaris merahnya.</p>
<p>Entah suatu rejeki atau apa namanya, berawal pengen cari bisyar/bispak di makassar&#8230;eh malah dapet ayam kampus. bisa dapet kesempatan buat ngospek kilat di hotel lagi&#8230;??!! hehehehe&#8230;</p>
<p>Lumayan cerita ini gw sharing untuk teman-teman yang suka dengan cerita seks yang bisa menjadi selingan hidup, agar otak tak kaku dan terlalu fokus dengan kerja yang menumpuk.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-mahasiswi-ayam-kampus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Pemerkosaan Cewek berjilbab</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/cerita-pemerkosaan-cewek-berjilbab/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/cerita-pemerkosaan-cewek-berjilbab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 05:57:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[cewek jilbab bugil]]></category>
		<category><![CDATA[cewek jilbab diperkosa]]></category>
		<category><![CDATA[diperkosa]]></category>
		<category><![CDATA[foto telanjang cewek jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[pemerkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini adalah share atau kisah nyata dari seseorang yang tidak ingin identitasnya di buka, dia menyesal telah melakukan pemerkosaan yang dilakukan terhadap wanita baik-baik cewek berjilbab, akibat sering melihat foto telanjang dan gambar-gambar cewek bugil, cewek berjilbab itu diperkosa. Annisa terbangun. Gadis berjilbab itu terbaring di lantai sebuah ruangan dengan dada di bawah. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini adalah share atau kisah nyata dari seseorang yang tidak ingin identitasnya di buka, dia menyesal telah melakukan pemerkosaan yang dilakukan terhadap wanita baik-baik cewek berjilbab, akibat sering melihat foto telanjang dan gambar-<a href="http://cerita.modelperawan.com/cewek-bispak-bugil/">gambar cewek bugil</a>, cewek berjilbab itu diperkosa.</p>
<p><img alt="foto cewek jilbab bugil" src="http://ak2.static.dailymotion.com/static/video/953/161/18161359:jpeg_preview_large.jpg" title="Cewek jilbab bugil" width="320" height="240" /><br />
Annisa terbangun. Gadis berjilbab itu terbaring di lantai sebuah ruangan dengan dada di bawah. Ia mencoba<span id="more-233"></span> bergerak. Ia baru sadar bahwa tangannya terborgol ke belakang punggung. Ia mencoba berteriak, namun mulutnya ternyata disumpal dengan bola golf dan dilakban. Rasa takut mulai menjalari sekujur tubuhnya.</p>
<p>Ia berusaha mengingat kembali bagaimana ia bisa sampai berada di ruangan itu. Tadi siang ia sedang mengendarai sepeda motornya saat sebuah mini van memepetnya dari samping. Ia terjatuh. Tubuhnya terseret beberapa meter. Aspal yang panas diterjang matahari menggores tubuhnya yang mulus. Telapak tangan dan lututnya lecet. Beberapa pria turun dari mini van itu dan menghampirinya.</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa Mbak Annisa?&#8221; tanya salah seorang dari mereka.<br />
&#8220;Gak papa&#8221; jawabnya.</p>
<p>Ia bertanya-tanya di dalam hati &#8220;Bagaimana laki-laki itu bisa mengetahui namanya, padahal ia belum parnah berjumpa dengannya sebelumnya?&#8221;<br />
Annisa mencoba berdiri. Salah seorang laki-laki yang berada di dekatnya meninju ulu hati gadis berjilbab itu.</p>
<p>&#8220;Uuuggghhh&#8230;&#8221; lenguh Annisa.<br />
&#8220;Apa-apaan ini?!&#8221; ia memprotes.</p>
<p>Seseorang memelintir kedua tangan Annisa ke atas punggungnya.</p>
<p>&#8220;Aduh. Sakiiiittt&#8230;&#8221;</p>
<p>Laki-laki lain membekap hidung dan mulut Annisa dengan sapu tangan yang telah dibasuh dengan cairan pembius.</p>
<p>Kembali ke kamar tempat Annisa disekap&#8230; Setelah hampir satu jam lamanya sejak ia terbangun, barulah ia mendengar suara kunci pintu kamar itu dibuka. Ia melihat ke arah pintu itu. Seorang, dua orang, hingga seluruhnya tujuh laki-laki masuk ke dalam kamar itu.</p>
<p>&#8220;Oh, rupanya sudah terbangun mangsa kita ini.&#8221; ujar salah seorang dari ketujuh laki-laki itu.</p>
<p>Ketujuh laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Dari mulut mereka tercium bau alkohol. Mereka mendekati tubuh Annisa yang terbaring kaku di lantai. Mereka balik tubuh gadis berjilbab itu sehingga kini punggungnya yang menghadap ke lantai. Lakban di mulutnya dibuka.</p>
<p>&#8220;Apa-apaan ini? Siapa kalian? Di mana saya?&#8221; tanya Annisa dengan panik.<br />
&#8220;Kamu ada di vila saya yang terletak di tempat terpencil. Vila lain yang terdekat dari sini jaraknya tiga kilometer. Kamu berteriak sekeras kerasnya untuk minta tolongpun percuma.&#8221; jawab pimpinan kelompok itu.</p>
<p>&#8220;Kami sudah memperhatikan kamu sejak lama. Kami tahu kebiasaanmu. Sekarang kamu akan menjadi budak pemuas nafsu kami&#8221;</p>
<p>Pakaian Annisa direnggut dengan kasar.</p>
<p>&#8220;Tidaaakkk!!! Lepaskan saya!&#8221;</p>
<p>Sekarang yang tinggal hanya jilbab dan kaos kaki. Pimpinan kelompok itu segera memasukkan batang kejantanannya ke dalam vagina Annisa yang masih perawan. Sekali sodok, batang itu masuk seluruhnya.</p>
<p>&#8220;Ooogghhh&#8230;aaaaarrrghhhh. ..&#8221;</p>
<p>Laki-laki lain memasukkan penisnya ke dalam mulut Annisa. Kini, yang terdengar hanya erangan-erangan tak jelas. Sisanya meremasi dan mencubiti tubuh Annisa. Tubuh gadis itu mengejang sejadi-jadinya.</p>
<p>Sang pemimpin kelompok akhirnya memuntahkan spermanya ke dalam rahim Annisa. Setelah itu, dikeluarkannya batang penisnya dari lubang kenikmatan <a href="http://cerita.modelperawan.com/cerita-pemerkosaan-cewek-berjilbab/">cewek berjilbab</a> itu. Sperma dan darah keperawanan Annisa meleleh dari lubang itu.<br />
Mulut Annisa masih digarap saat laki-laki lain memasukkan penisnya ke vagina Annisa lagi.</p>
<p>&#8220;Uuuhhh&#8230;nikmaaaatttt&#8230;&#8221; ujar laki-laki yang mulai menggagahinya.</p>
<p>Sisa-sisa keperawanan Annisa masih ia rasakan menjepit dan memijat penisnya. Tidak berapa lama kemudian, laki-laki yang memperkosa mulut gadis itu pun mengalami ejakulasi. Dengan kedua tangannya ia menahan kepala Annisa.</p>
<p>&#8220;Telan Sayang. Telan semua benihku.&#8221;</p>
<p>Annisa merasa mual. Ia ingin muntah, namun mulutnya masih disumpal oleh batang yang makin lama makin mengecil itu. Terpaksalah ia menelan cairan putih kental itu.<br />
Laki-laki itu kemudian mengeluarkan kemaluannya. Dari pinggir mulut Annisa, menetes sisa sperma. Posisi laki-laki itu digantikan oleh pria lain yang sudah menunggu dari tadi. Begitu pula laki-laki yang saat ini sedang menggempur vagina gadis berjilbab itu. Saat ia telah mencapai puncak kepuasannya, orang lain mengisi lubang yang ia tinggalkan.</p>
<p>Anus gadis berjilbab itu pun tidak ketinggalan. Lubang pembuangan kotoran itu diperkosa berulang kali oleh ketujuh laki-laki itu hingga Annisa pingsan.</p>
<p>Hari sudah malam saat Annisa tersadar dari pingsannya. Tubuhnya terasa sakit semua, khususnya vagina dan anusnya. Air mata mengalir membasahi pipinya. Bau dan rasa sperma para pemerkosanya masih terasa di mulutnya. Sisa sperma yang membanjiri vagina dan anusnya terasa lengket.</p>
<p>Ia sadar bahwa ia tidak akan bisa pergi dari rumah itu. Ia sadar bahwa sepanjang sisa hidupnya ia harus melayani nafsu para pemerkosa itu hingga ia mati. </p>
<p>Namun salah satu dari pelaku akhirnya sadar dan berusaha melepaskan anisa, dengan usaha itu akhirnya berakhir sudah penderitaan dari anisa yang diperkosa dengan brutal dan dari cerita ini sang pelaku berpesan agar bisa diambil pelajaran tidak dengan mudah menuruti hawa nafsu, karena akan membawa bencana pada diri anda sendiri.</p>
<p>Sekian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/cerita-pemerkosaan-cewek-berjilbab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gara-gara Foto Telanjang</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/gara-gara-foto-telanjang/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/gara-gara-foto-telanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 18:50:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[foto cewek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[foto telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[ML dengan perawan]]></category>
		<category><![CDATA[vagina perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Foto telanjang bisa menjadi modal untuk menekan orang, baik dengan cara yang halus sampai ancaman keras agar bisa menikmati tubuhnya, dalam cerita ini sebenarnya mirip sinetron, tapi sangat menarik, karena foto telanjang si om genit dapat perawan lagi, Langsung saja ceritanya berikut ini. kejadian ini terjadi kira2 2 bulan yang lalu, saat itu rumah saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto telanjang bisa menjadi modal untuk menekan orang, baik dengan cara yang halus sampai ancaman keras agar bisa menikmati tubuhnya, dalam cerita ini sebenarnya mirip sinetron, tapi sangat menarik, karena foto telanjang si om genit dapat <a href="http://cerita.modelperawan.com/cewek-perawan/">perawan</a> lagi, Langsung saja ceritanya berikut ini.</p>
<p><img title="Cewek perawan" src="http://4.bp.blogspot.com/_1UrbneHn90I/SYgXhlHrMzI/AAAAAAAAAS0/dcmuUx7FuPg/s400/BlogShinchiCoCc.JPG" alt="Foto Cewek perawan, perawan, gadis perawan" width="210" height="250" /><br />
kejadian ini terjadi kira2 2 bulan yang lalu, saat itu rumah saya kedatangan seorang teman dari pembantu saya sebut saja namanya bunga. bunga ini dtg ke jakarta untuk mencari pekerjaan, umur dia sekitar 19-21 tahun. pembantu saya meminta<span id="more-229"></span> ijin kepada saya klo bunga akan menginap di rumah saya sampai dia mendapat pekerjaan.<br />
saya tinggal di rumah bersama istri dah satu orang anak saya. istri saya bekerja di salon temannya, sementara saya wirausaha menjual berbagai tanaman hias sehingga waktu saya banyak saya habiskan di rumah mengurusi tanaman. sedangkan pembantu saya etiap harinya menemani anak saya yg masih SD dari pagi hingga sore.<br />
Kadang-kadang saya merasa kesepian di rumah karena hanya ada saya sendiri. suatu hari saya merasa kesepian dan saya melihat bunga sedang mencuci pakaian, dan saat itulah saya berpikir bagaimana klo saya dapat ML dengan bunga agar rasa kesepian ini hilang. sebenarnya saya takut sekali untuk melakukan hal ini secara paksa atau to the point mengajak bunga untuk ML karena takut klo dia mengadu kepada pembantu ato istri saya sehingga nama baik saya jadi usak.<br />
berbagai cara saya pikirkan bagaimana agar saya dapat ML dengan bunga. setelah saya pikir2, saya mendapat ide untuk menjebak dia agar dia mau ML dengan saya tanpa paksaan sama sekali yaitu dengan memberi obat tidur pada makanannya dan saat dia tertidur saya akan menelanjanginya dan memfotonya.<br />
Ide ini saya jalankan keesokan harinya, seperti biasa istri saya bekerja di salon, pembantu mengantarkan anak saya sekolah. kira2 jam 11an saya menaburkan obat tidur pada semua makanan yang ada di atas meja, pada saat itu saya sengaja hanya makan mie instan saja.<br />
Saat siang hari saya melihat dia mengambil makanan untuk makan siang, setelah beberapa menit selesai makan saya liat dia pergi ke kamar tidurnya, 30 menit kemudian sayapun pergi kekamarnya dan kebetulan sekali kamar dia tidak dikunci padahal saya sudah membawa obeng dan kunci cadangan serta kamera untuk mem foto .<br />
Setelah saya buka kamarnya saya pun langsung membuka baju dan celananya tapi tidak sampai lepas, setelah itu saya memfoto semua tubuhnya yg tidak tertutup pakaian. saat saya melihat bagian tubuhnya, ingin rasanya saat itu juga saya ML dengan dia. Tapi saya berusaha untuk sabar hingga waktunya tiba, karena saya ingin ML dengan keadaan sama2<br />
sadar dan tanpa kekerasan. Setelah mengambil foto saya pun membereskan pakaiannya seperti semula, walau masih acak2an.<br />
saat itu hari ke-4 bunga menginap, keadaannya sama seperti biasa, hanya ada saya dan bunga dirumah dari pagi hingga siang. Di hari inilah rencana saya ML dengannya, saat itu saya ingin memperlihatkannya foto telanjangnya, sayapun pergi kekamarnya dan ternyata dia tidak ada di kamarnya, saya langsung pergi ke kamar mandi karena menurut saya dia<br />
edang mandi. Dan ternyata dia memang sedang mandi, kebetulan dia sudah mandi karena biasanya saya dan istri saya mandi terlebih dahulu seblm ML karena saya senang yg bersih. pikiran jahat sayapun kembali bereaksi, bagaimana klo aya tiba2 memfoto dia, saat dia mandi. pintu kamar mandi saya terbuat dari plastik yg banyak sekali ditemukan di oko bangunan . saya pun langsung menendang pintu tsb, dia sangat kaget sekali waktu pintu kamar mandinya terbuka, aat pintu terbuka itu lah saya langsung mengambil foto dia. saat dia melihat saya sedang memfotonya dia dengan sigap mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya.<br />
setelah selesai menutupi tubuhnya, dia pun membentak saya &#8220;apa2an sih bapak, pake acara dobrak pintu dan memfoto saya, nanti saya bilangi istri bapak dan melati(pembantu saya)&#8221; saya pun hanya tertawa dan menjawab &#8220;maaf, tidak sengaja&#8221; akhirnya dia menutup pintu dan kemdian langsung keluar dari kamar mandi.<br />
Saat dia keluar kamar mandi, saya memanggil dia, awalnya dia tidak mau menoleh ke arah saya saat saya panggil dan terus berjalan ke arah kamarnya. tapi kemudian saya ngomong ke dia &#8220;mau foto telanjang kamu saya kirim ke keluargamu yg ada di desa&#8221; diapun langsung diam dan berhenti melangkah.<br />
saya langsung menghampirinya dan memperlihatkan foto2 telanjang saat dia mandi dan tidur. dia sangat heran kenapa bisa foto saat dia tidur bisa saya ambil, saya pun menceritakan kepadanya kenapa saya bisa mengambil foto dia.<br />
Akhirnya sayapun bilang kepadanya klo kamu tidak mau foto2 ini saya sebarkan maka kamu harus ML dengan saya. dia terus berpikir dan akhirnya dia setuju dan mau ML dengan saya. Setelah bertahun-tahun akhirnya saya dapat menikmati keperawanan untuk kedua kalinya. dengan keadaan tubuh dan payudara yg masih kenceng apa lagi vagina nya seperti bukan wanita <a href="http://cerita.modelperawan.com">dewasa</a>, masih rapet banget.<br />
Itulah awal kejadian saya ML dengan bunga, dan akhirnya bunga saya pekerjakan di rumah saya dengan alasan untuk membantu saya mengurusi tanaman saya. dan mulai saat itulah saya tidak merasakan kesepian di rumah, karena pagi hingga sore ada bunga dan sore hingga pagi ada istri saya.</p>
<p>Demikian cerita seks yang berawal dari keisengan mengambil foto cewek perawan dengan cara curang, dan menjadi alat ancaman untuk mendapatkan seks.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/gara-gara-foto-telanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keponakanku yang cantik</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/keponakanku-yang-cantik/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/keponakanku-yang-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 15:42:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[cerita gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[memek rapet]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[toket  gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa &#8211; Dalam perjalanan seks seseorang kadang memang tak terduga , ada cerita yang mungkin diluar nalar seperti cerita seks paman dengan keponakan. Berikut cerita lengkapnya dari cerita dewasa : Berkali kali kucoba menghubungi HP Febi, keponakanku yang kuliah di Semarang, tapi selalu dijawab si Veronica, sekretaris nasional dari Telkomsel. Akhirnya aku spekulasi untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cerita.modelperawan.com">Cerita dewasa</a> &#8211; Dalam perjalanan seks seseorang kadang memang tak terduga , ada cerita yang mungkin diluar nalar seperti cerita seks paman dengan keponakan. Berikut cerita lengkapnya dari cerita dewasa :</p>
<p><img title="Keponakan bugil" src="http://4.bp.blogspot.com/_ec5TQ7qh6qM/Sf5E2u05RFI/AAAAAAAAABM/_gNlD2UrZ0k/s320/42196.jpg" alt="Chika Bugil, Ponakan seksi, abg bugil" width="240" height="320" /><br />
Berkali kali kucoba menghubungi HP Febi, keponakanku yang kuliah di Semarang, tapi selalu dijawab si Veronica, sekretaris nasional dari Telkomsel. Akhirnya aku spekulasi untuk langsung saja ke tempat kost-nya, aku masih punya waktu 2 jam sebelum schedule pesawat ke Jakarta, rasanya kurang pantas kalau aku di Semarang tanpa menengok keponakanku yang sejak SMP ikut denganku.</p>
<p>Kuketuk pintu rumah bercat biru, rumah itu kelihatan sunyi seakan tak berpenghuni, memang jam 12 siang begini adalah jam bagi anak kuliah berada kampus. Lima menit kemudian pintu<span id="more-223"></span> dibuka, ternyata Desi, teman sekamar Febi, sudah tingkat akhir dan sedang mengambil skripsi.<br />
&#8220;Febi ada?&#8221; tanyaku begitu pintu terbuka.<br />
&#8220;Eh.. Om pendekar.., anu Om.. anu.. Febi-nya sedang ke kampus, emang dia nggak tahu kalo Om mau kesini?&#8221; sapanya dengan nada kaget.<br />
Aku dan pacarku sudah beberapa kali menengok keponakanku ini sehingga sudah mengenal teman sekamarnya dan sebagian penghuni rumah kost tersebut.<br />
&#8220;Om emang ndadak aja, pesawat Om masih 2 jam lagi, jadi kupikir tak ada salahnya kalo mampir sebentar daripada bengong di airport&#8221; jawabku sambil mengangsurkan lumpia yang kubeli di pandanaran.<br />
&#8220;Aku ingin nemenin Om ngobrol tapi maaf Om aku harus segera bersiap ke kantor, maklum aja namanya juga lagi magang, apalagi sekretaris di kantor sedang cuti jadi aku harus ganti jam 1 nanti&#8221; jawabnya lagi tanpa ada usaha untuk mempersilahkan aku masuk.<br />
&#8220;Sorry aku nggak mau merepotkanmu, tapi boleh nggak aku pinjam kamar mandi, perut Om sakit nih&#8221; pintaku karena tiba tiba terasa mulas.<br />
Desi berdiam sejenak.<br />
&#8220;Please, sebentar aja&#8221; desakku, aku tahu memang nggak enak kalau masuk tempat <a href="http://cerita.modelperawan.com/cerita-seks-anak-kost/">kost putri</a> apalagi Cuma ada Desi sendirian di rumah itu.<br />
&#8220;Oke tapi jangan lama lama ya, nggak enak kalau dilihat orang, apalagi aku sendirian di sini&#8221; jawabnya mempersilahkanku masuk.<br />
&#8220;Oke, cuman sebentar kok, cuma buang hajat aja&#8221; kataku</p>
<p>Aku tahu kamar mandi ada di belakang jadi aku harus melewati kamar Desi yang juga kamar Febi yang letaknya di ujung paling belakang dari 9 kamar yang ada dirumah itu sehingga tidak terlihat dari ruang tamu. Desi tak mengantarku, dia duduk di ruang tamu sambil makan lumpia oleh olehku tadi, kususuri deretan kamar kamar yang tertutup rapat, rupanya semua sedang ke kampus. Kulihat kamar Febi sedikit terbuka, mungkin karena ada Desi di rumah sehingga tak perlu ditutup, ketika kudekat di depannya kudengar suara agak berisik, mungkin radio pikirku, tapi terdengar agak aneh, semacam suara desahan, mungkin dia sedang memutar film porno dari komputernya, pikirku lagi. Ketika kulewat di depan kamar, suara itu terdengar makin jelas berupa desahan dari seorang laki dan perempuan, dasar anak muda, pikirku.</p>
<p>Tiba tiba pikiran iseng keluar, aku berbalik mendekati kamar itu, ingin melihat selera anak kuliah dalam hal film porno, dari pintu yang sedikit terbuka, kuintip ke dalam untuk mengetahui film apa yang sedang diputar. Pemandangan ada di kamar itu jauh mengagetkan dari apa yang kubayangkan, ternyata bukan adegan film porno tapi kenyataan, kulihat dua sosok tubuh telanjang sedang bergumulan di atas ranjang, aku tak bisa mengenali dengan jelas siapa mereka, karena sudut pandang yang terbatas. Sakit perutku tiba tiba hilang, ketika si wanita berjongkok diantara kaki laki laki dan mengulum kemaluannya dengan gerakan seorang yang sudah mahir, dari pantulan cermin meja rias sungguh mengagetkanku, ternyata wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Febi, keponakanku yang aku sayang dan jaga selama ini, rambutnya dipotong pendek seleher membuatku agak asing pada mulanya. Sementara si laki lakinya aku tak kenal, yang jelas bukan pacarnya yang dikenalkan padaku bulan lalu. Aku tak tahu harus berbuat apa, ingin marah atau malahan ingin kugampar mereka berdua, lututku terasa lemas, shock melihat apa yang terjadi dimukaku. Aku ingin menerobos masuk ke dalam, tapi segera kuurungkan ketika kudengar ucapan Febi pada laki laki itu.</p>
<p>&#8220;Ayo Mas Doni, jangan kalah sama Mas Andi apalagi si tua Freddy&#8221; katanya lepas tanpa mengetahui keberadaanku.<br />
Aku masih shock mematung ketika Febi menaiki tubuh laki laki yang ternyata namanya Doni, dan masih tidak dapat kupercaya ketika tubuh Febi turun menelan penis Doni ke vaginanya, kembali aku sulit mempercayai pemandangan di depanku ketika Febi mulai mengocok Doni dengan liar seperti orang yang sudah terbiasa melakukannya, desahan nikmat keluar dari mulut Febi dan Doni, tak ada kecanggungan dalam gerakan mereka. Tangan Doni menggerayangi di sekitar dada dan bukit keponakanku, meremas dan memainkannya. Aku masih mematung ketika mereka berganti posisi, tubuh Febi ditindih Doni yang mengocoknya dari atas sambil berciuman, tubuh mereka menyatu saling berpelukan, kaki Febi menjepit pinggang di atasnya, desahan demi desahan saling bersahutan seakan berlomba melepas birahi.</p>
<p>Tiba tiba kudengar suara sandal yang diseret dan langkah mendekat, aku tersadar, dengan agak gugup aku menuju kamar mandi, bukannya menghentikan mereka. Kubasuh mukaku dengan air dingin, menenangkan diri seakan ingin terbangun dan mendapati bahwa itu adalah mimpi, tapi ini bukan mimpi tapi kenyataan. Cukup lama aku di kamar mandi menenangkan diri sambil memikirkan langkah selanjutnya, tapi pikiranku sungguh buntu, tidak seperti biasanya ide selalu lancar mengalir dari kepalaku, kali ini benar benar mampet. Ketika aku kembali melewati kamar itu menuju ruang tamu, kudengar tawa cekikikan dari dalam.<br />
&#8220;Nggak apa Mas, ntar kan bisa lagi dengan variasi yang lain&#8221; sayup sayup kudengar suara manja keponakanku dari kamar, tapi tak kuhiraukan, aku sudah tak mampu lagi berpikir jernih dalam hal ini.<br />
&#8220;Kok lama Om, mulas ya&#8221; Tanya Desi begitu melihatku dengan wajah lusuh, sambil menikmati lumpia entah yang keberapa.<br />
Aku diam saja, duduk di sofa ruang tamu.<br />
&#8220;Kamu bohong bilang Febi nggak ada, ternyata dia di kamar dengan pacarnya&#8221; kataku pelan datar tanpa ekspresi.</p>
<p>Dia menghentikan kunyahan lumpianya, diam tak menjawab, kupandangi wajahnya yang hitam manis, dia menunduk menghindari pandanganku, diletakkannya lumpia yang belum habis di meja tamu.<br />
&#8220;Jadi Om memergoki mereka?&#8221; katanya pelan<br />
&#8220;Ya, dan Om bahkan melihat apa yang mereka perbuat di kamar itu&#8221;<br />
&#8220;Lalu Om marahi mereka? kok nggak dengar ada ribut?&#8221; Desi mulai penuh selidik<br />
&#8220;Entahlah, Om biarkan saja mereka melakukannya&#8221; aku seperti seorang linglung yang dicecar pertanyaan sulit<br />
&#8220;Ha?, Om biarkan mereka menyelesaikannya? Om menontonnya?&#8221; cecarnya</p>
<p>Aku makin diam, seperti seorang terdakwa yang terpojok, Desi pindah duduk di sebelahku.<br />
&#8220;Om menikmatinya ya&#8221; bisiknya, tatapan matanya tajam menembus batinku.<br />
&#8220;Entahlah&#8221;<br />
&#8220;Tapi Om suka melihatnya kan?&#8221; desaknya pelan ditelingaku, kurasakan hembusan napasnya mengenai telingaku.<br />
Aku mengangguk pelan tanpa jawab.<br />
&#8220;Om&#8221;<br />
Aku menoleh, wajah kami berhadapan, hanya beberapa millimeter hidung kami terpisah, kurasakan napasnya menerpa wajahku. Entah siapa yang mulai atau mungkin aku telah terpengaruh kejadian barusan, akhirnya kami berciuman. Kejantananku kembali menegang merasakan sentuhan bibir Desi, kulumat dengan penuh gairah dan dibalasnya tak kalah gairah pula.</p>
<p>Desi meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya, kurasakan bukitnya yang lembut tertutup bra, tidak terlalu besar tapi kenyal dan padat. Kubalas meletakkan tangannya di selangkanganku yang sudah mengeras. Desi menghentikan ciumannya ketika tangannya merasakan &#8230;&#8230;kekakuan di selangkanganku, sejenak memandangku lalu tersenyum dan kembali kami berciuman di ruang tamu.<br />
Tiba tiba aku tersadar, ini ruangan terbuka dan anak lain bisa muncul setiap saat, tentu ini tak baik bagi semua.<br />
&#8220;Kita tak bisa melakukan disini&#8221; bisikku<br />
&#8220;Tapi juga tak mungkin melakukan di kamarku&#8221; jawabnya berbisik<br />
&#8220;Kita keluar saja kalau kamu nggak keberatan&#8221; usulku<br />
&#8220;Oke aku panggil taxi dulu&#8221; jawab Desi seraya menghubungi taxi via telepon</p>
<p>Sambil menunggu taxi datang kami bersikap sewajarnya, Febi masih juga belum nongol, mungkin dia melanjutkan dengan pacarnya untuk babak berikutnya. Ternyata Desi membohongiku dengan mengatakan ke kantor supaya aku segera pergi, tapi kini dia bersedia menemaniku selama menghabiskan waktu. Dengan beberapa pertimbangan maka kubatalkan penerbanganku dan kutunda besok, aku ingin bersama Desi dulu. Kutawari Desi untuk memilih hotel yang dia mau, ternyata dia mau di hotel berbintang di daerah Simpang Lima. Akhirnya Taxi yang kami tunggu datang juga, Desi kembali ke kamar berganti pakaian dan membawa beberapa barang keperluan menginap, sekaligus pesan sama Febi kalau dia tidak pulang malam ini. Dia makin cantik dan sexy mengenakan kaos ketat dengan celana jeans selutut.</p>
<p>Kami mendapatkan kamar yang menghadap ke arah simpang lima, Desi langsung melepas kaos dan celananya hingga tinggal bikini putih, tampak body-nya yang sexy dan menggairahkan. Kupeluk tubuh sintal Desi, dia membalas memelukku sambil melucuti pakaianku, tinggal celana dalam menutupi tubuhku, kurebahkan tubuhnya di ranjang, kutindih tubuhnya dan kuciumi bibir dan lehernya, aku masih terbayang tubuh mulus Febi yang sedang dicumbui pacarnya, kalau dibandingkan antara Desi dan Febi memang keponakanku lebih unggul baik dari kecantikan maupun body-nya. Tanpa sadar sambil mencium dan mencumbunya aku membayangkan tubuh Febi, hal yang tak pernah terlintas sebelumnya.</p>
<p>Kami sama sama telanjang tak lama kemudian, aku mengagumi keindahan buah dada Desi yang padat menantang dengan puting kemerahan, kujilati dan kukulum sambil mempermainkan dengan gigitan lembut, dia menggeliat dan mendesis. Jilatanku turun menyusuri perut dan berhenti di selangkangannya, rambut tipis menghiasi celah kedua kakinya, meski berumur 23 tahun tapi rambut kemaluannya sangat jarang, bahkan seakan Cuma membayang. Desi berusaha menutup rapat kakinya, dengan kesabaran kubimbing posisi kakinya membuka, seakan aku sedang memberikan pelajaran pada muridku. Aku sangat yakin kalau ini bukan pertama kali baginya, vaginanya yang masih segar kemerahan seolah memceritakan kalau tidak banyak merasakan hubungan sexual, tapi aku tak tahu kebenarannya. Mata Desi melotot ke arahku ketika bibirku menyusuri pahanya dan dia menjerit tertahan ketika kusentuh klitorisnya dengan lidahku.<br />
&#8220;aahh.. sshh.. ennaak Om, terus Om&#8221; desahnya meremas rambutku.<br />
Lidahku menari nari di bagian kewanitaannya, desahnya makin menjadi meski masih tertahan malu, kupermainkan jari jemariku di putingnya, dia makin menggeliat dalam nikmat. Desi memberiku isyarat untuk posisi 69, kuturuti kemauannya.</p>
<p>&#8220;Tadi Febi dengan posisi ini ketika Om datang&#8221; katanya sebelum mulutnya tertutup penisku.<br />
Dia menyebut Febi membuatku teringat kembali akan keponakanku, masih terbayang bagaimana dia mengulum penis pacarnya dengan penuh gairah, aku membayangkan seolah sedang bercinta dengan Febi, masih jelas dalam benakku akan kemulusan tubuh telanjang Febi yang selama ini tak pernah aku lihat, masih jelas tergambar betapa montoknya buah dada nan indah lagi padat, mungkin lebih montok dari istriku sendiri. Kurasakan Desi kesulitan mengulum penisku, aku turun dari tubuhnya, kini kepala Desi berada di selangkanganku, dijilatinya kepala penisku.<br />
&#8220;Punya Om gede banget sih, nggak muat mulutku, lagian aku nggak pernah melakukannya sama pacarku, aku Cuma melihat tadi Febi melakukannya, jadi aku ingin coba&#8221; komentarnya lalu kembali berusaha memasukkan penisku ke mulutnya, kasihan juga aku melihatnya memaksakan diri untuk mengulumku.</p>
<p>Kurebahkan tubuh telanjang Desi lalu kuusapkan penisku di bibir vaginanya, tapi sebelum penisku menerobos masuk dia mendorongku menjauh.<br />
&#8220;Pake kondom dulu ya Om&#8221; katanya sambil bangun mengambil kondom dari tas tangannya.<br />
Aku hampir lupa kalau yang kuhadapi ini seorang mahasiswa, bukan wanita panggilan yang tak peduli pada kondom karena mereka sudah pasti mempersiapkan dengan pil anti hamil. Aku jadi teringat Febi, apakah dia juga menggunakan kondom tadi, tak sempat kuperhatikan. Desi memasangkan kondom di penisku, kondom itu seperti bergerigi dan bentuknya agak aneh.<br />
&#8220;Oleh oleh pacarku dari Singapura, ih susah amat mesti punya Om ukurannya XL kali&#8221; katanya lalu dia kembali telentang di depanku.<br />
&#8220;Pelan pelan aja ya Om, baru kali ini aku lakukan selain sama pacarku, lagian punya Om jauh lebih besar dari punya dia&#8221; bisiknya</p>
<p>Kembali kusapukan penisku ke vaginanya yang sudah basah, perlahan memasuki liang kenikmatan Desi, tubuhnya menegang saat penisku menerobosnya, terasa begitu rapat, sempit dan kencang, penisku serasa dicengkeram, mungkin karena Desi terlalu tegang atau mungkin memang masih pemula. Desi memejamkan mata lalu melotot ke arahku, seakan tak percaya kalau penisku sedang mengisi vaginanya. Dia menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkeram lenganku, tubuhnya menggeliat ketika penisku melesak semua ke vaginanya. Kudiamkan sejenak sambil menikmati cantiknya wajah Desi dalam kenikmatan, dia menahanku ketika aku mulai mengocoknya.<br />
&#8220;Jangan dulu Om, penuh banget, seperti menembus perutku&#8221; katanya<br />
&#8220;Sakit?&#8221; tanyaku<br />
&#8220;Ya dan enak, seperti perawan dulu&#8221; jawabnya sambil mulai menggoyangkan tubuhnya, aku menganggap pertanda sudah boleh bergerak.</p>
<p>Perlahan aku mulai mengocok vagina Desi, pada mulanya tubuhnya kembali menegang, penisku seperti terjepit di vagina, dia mulai menggeliat dan mendesah nikmat ketika beberapa kocokan berlalu, mungkin bentuk kondom sangat berpengaruh juga pada rangsangan di vaginanya. Penisku bergerak keluar masuk dengan kecepatan normal, desahnya makin menjadi sambil meremas kedua buah dadanya. Kaki kanannya kunaikkan di pundakku, penisku makin dalam melesak. Entah kenapa, tiba tiba bayangan Febi kembali melintas dipikiranku, terbayang Febi sedang telentang menerima kocokan pacarnya, masih terdengar desahan kenikmatan darinya, maka kupejamkan mataku sambil membayangkan bahwa aku sedang mengocok keponakanku itu. Belum 5 menit aku menikmati vaginanya ketika kurasakan remasan kuat dari vaginanya disertai jeritan orgasme, fantasiku buyar. Desi terlalu cepat mencapai puncak kenikmatan itu, padahal aku masih jauh dari puncaknya, aku ingin tetap mengocoknya tapi dia sepertinya sudah kelelahan dan minta beristirahat sebentar, kupikir tak ada salahnya untuk beristirahat dulu, toh kita tidak terburu buru, masih ada waktu semalam hingga besok. Akhirnya kuturuti permintaannya, kami telentang berdampingan di atas ranjang, Desi merebahkan kepalanya di dadaku, kurasakan jantungnya yang keras berdetak disertai napas yang berat.<br />
&#8220;Punya Om sepertinya masih terasa mengganjal di dalam, abis punya Om gede banget sih&#8221; bisiknya.<br />
Aku tersenyum menghadapi kemanjaannya.</p>
<p>Kuhubungi Room Service untuk memesan makan siang, baru tersadar ternyata kami belum makan, tak ada salahnya menambah tenaga dan energi. Tak lebih dari 10 menit kemudian kudengar bel berbunyi, cepat amat servisnya, pikirku. Kuambil &#8230; handuk dan kubelitkan di pinggang, kuminta Desi menutupi tubuhnya dengan selimut. Tanpa pikir panjang kubuka pintu dan.. sungguh sangat mengagetkanku, bukannya Room Service yang nongol ternyata Febi yang berada di depan pintu, aku terkejut tak menyangka kedatangannya karena memang aku tak mengharap kedatangannya kali ini. Kusesali kecerobohanku untuk tidak mengintip terlebih dahulu dari lubang di pintu.</p>
<p>Febi langsung menerobos masuk, seperti biasa seolah tak pernah terjadi sesuatu, dengan manja Febi memelukku seperti layaknya seorang keponakan, kucium pipi kiri kanannya, hal yang biasa kami lakukan, tapi kali ini aku merasakan getaran yang tidak seperti biasanya, aku bisa merasakan tonjolan buah dadanya yang montok mengganjal di dadaku, padahal tak pernah terjadi sebelumnya. Dia langsung nyelonong masuk ke dalam.</p>
<p>&#8220;Om lagi mandi ya, malam ini Om harus traktir Febi dan temenin aku.. Mbak Desi!&#8221;<br />
Belum sempat dia menyelesaikan kata katanya ketika melihat Desi di ranjang, melihat ke arahku lalu kembali lagi ke Desi. Kami tertangkap basah, tak ada lagi alasan untuk mengelak, aku diam seribu basa menunggu reaksi dari Febi. Sebelum aku tahu harus berbuat apa, Desi bangun dari ranjang, menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut lalu menggandeng Febi ke kamar mandi, sekilas kulihat mukanya merona merah seperti orang marah. Kukenakan piyama yang ada dilemari menunggu kedua gadis itu, pasrah menerima nasib selanjutnya, meski tidak terlalu khawatir karena aku juga memegang kartunya Febi. Bel pintu kembali berbunyi ketika kedua gadis itu masih di kamar mandi, ternyata Room Service pesanan kami, mereka keluar sesaat setelah Waitress menutup pintu kamar. Bertiga kami makan dalam kebisuan setelah Desi mengenakan piyama yang sama denganku, dia berbagi makanan dengan Febi karena memang pesanan Cuma untuk kami berdua, tak ada kata yang terucap selama makan.</p>
<p>Aku tak berani membuka topik karena belum tahu bagaimana sikap mereka terhadap kejadian ini.<br />
&#8220;Om, kita saling jaga rahasia ya, just keep among us, aku nggak keberatan Om sama Mbak Desi asal Om juga tidak cerita sama Mbak Lily tentang kejadian tadi siang&#8221; Febi membuka percakapan, aku merasakan lampu kuning mengarah hijau darinya.<br />
Febi melanjutkan, &#8220;Karena tadi Om melihatku sama Doni, aku juga ingin melihat Om sama Mbak Desi&#8221; lanjutnya mengagetkan, aku tak tahu apa maunya anak ini.<br />
&#8220;Terserah kamu Feb, toh aku juga udah biasa melihat kamu main sama pacar pacarmu&#8221; kata Desi lalu duduk dipangkuanku dengan sikap pamer.<br />
Sebenarnya agak segan juga kalau harus melakukannya didepan keponakanku sendiri, tapi Sebelum aku protes, Desi sudah mendaratkan bibirnya di bibirku, tangannya menyelip diselangkanganku, meremas penisku dan mengocoknya. Mau tak mau Kubalas dengan lumatan di bibir dan remasan di buah dadanya, rasa seganku perlahan hilang berganti dengan birahi dan sensasi, Febi seakan tidak melihat kami, menghabiskan sisa makanan yang masih ada di atas meja. Kami saling melepas piyama hingga telanjang di depan Febi. Desi merosot turun diantara kakiku, menjilati dan mengulum kemaluanku. Terkadang kurasakan giginya mengenai batang penis tegangku, maklum masih pemula.</p>
<p>&#8220;Feb, lihat punya Om-mu, besar mana sama punya Doni&#8221; Desi memamerkan penis tegangku yang ada digenggamannya.<br />
&#8220;Wow, gede banget&#8221; sahut Febi lalu memandang ke arahku.<br />
&#8220;Bisa pingsan kamu kalau segede itu&#8221; lanjutnya dengan nada kagum<br />
&#8220;Nggak tuh, enak lagi, coba aja sendiri&#8221; jawab Desi melanjutkan kulumannya, kulihat Febi menggeser duduknya melihat penisku keluar masuk mulut Desi seakan tak percaya kalau dia bisa melakukannya.<br />
&#8220;Akhirnya berhasil juga mendapatkan Om-ku yang selama ini kamu kagumi&#8221; seloroh Febi mengagetkanku, Desi hanya tersenyum.<br />
&#8220;Mau coba?&#8221; goda Desi sambil menyodorkan penisku ke Febi, aku diam saja menunggu reaksi keponakanku, tapi dia diam saja, Desi menjilati penisku seakan memamerkan ke Febi mainannya.</p>
<p>Febi menggeser lagi mendekati kami, Desi menuntun tangan Febi dan menyentuhkannya ke penisku, ada ke-ragu raguan di wajahnya untuk menyentuh penis Om-nya. Wajah putihnya bersemu merah ketika Desi menggenggamkan tangannya ke penisku, dia hanya menggenggam tanpa berani menggerakkan tangannya, memandang ke arahku seolah minta pendapat. Aku diam saja, hanya mengangguk kecil pertanda setuju. Perlahan keponakanku mulai meremas penisku, tangannya yang putih mulus sungguh kontras dengan penisku yang kecoklatan gelap, makin lama gerakannya berubah dari meremas lalu mengocok, sementara Desi masih asyik menjilati kepala penisku sambil mengelus kantong bola. Gerakan mereka mulai seirama, Febi mengocok keras ketika kepala penisku berada di mulut Desi, aku mendesah kenikmatan dalam permainan kedua gadis ini. Ketika Desi menjilati kantong bola, Febi kembali memandangku, kubalas dengan senyum dan anggukan, dia menundukkan kepalanya ke arah penisku, tapi sebelum sampai ke tujuannya Desi memotong.</p>
<p>&#8220;Kami sudah telanjang masak kamu masih pakai pakaian lengkap kayak orang mau kuliah, cepat copot gih&#8221; katanya kembali menjilat dan mengulum.<br />
Febi terlihat ragu ragu untuk melepas pakaiannya dan telanjang di depanku, dia diam sejenak, aku menghindar ketika dia manatapku, meskipun sebenarnya aku sangat berharap dia melakukannya.<br />
&#8220;Kok jadi bengong gitu, kenapa malu, kan Om-mu sudah melihatmu telanjang tadi dan lagian waktu kecil kan sering dimandiin, jadi kenapa risih&#8221; goda Desi<br />
Akhirnya Febi tunduk pada godaan Desi, dia membalikkan badan membelakangiku sambil melepas kaos ketatnya, kulihat punggungnya yang mulus dengan hiasan bra hijau muda, bodynya sungguh menggetarkan tanpa timbunan lemak di perutnya, ketika jeans-nya dilepas, aku makin kagum dengan ke-sexy-annya, pantatnya padat membentuk body seperti gitar spanyol nan indah, baru sekarang aku menyadari betapa keponakanku tumbuh menjadi seorang gadis yang menawan, selama ini pengamatan seperti ini telah kulewatkan, aku hanya melihatnya sebagai seorang gadis kecil yang selalu manja, tapi tak pernah melihatnya sebagai seorang gadis cantik yang penuh gairah.</p>
<p>Darahku berdesir makin kencang saat Febi membalikkan badannya menghadapku, buah dadanya yang sungguh montok indah nian terbungkus bra satin, kaki bukitnya menonjol seakan ingin berontak dari kungkungannya, kaki Febi yang putih mulus berhias celana dalam hijau mini di selangkangannya menutupi bagian indah kewanitaannya. Febi menyilangkan tangannya di dadanya seakan menutupi tubuhnya dari sorotan mata nakalku.<br />
&#8220;Alaa sok suci kamu, lepas aja BH-mu sekalian&#8221; Desi kembali menggoda tapi kali ini Febi tak menurutinya, dengan masih memakai bikini dia ikutan Desi mengeroyok selangkanganku, tangannya berebut dengan Desi mengocokku, kutarik tubuh Desi untuk duduk disampingku, aku ingin melihat saat pertama kali keponakanku menjilat dan mengulum penisku tanpa gangguan Desi.</p>
<p>Mula mula agak ragu dia menjilati kepala penisku tapi akhirnya dengan penuh gairah lidahnya menyusuri seluruh bagian kejantananku sebelum akhirnya memasukkan ke mulutnya yang mungil, aku mendesis penuh kenikmatan saat pertama kali penisku menerobos bibir dan mulut Febi, sungguh kenikmatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, kenikmatan yang bercampur dengan sensasi yang hebat, mendapat permainan oral dari keponakanku sendiri. Penisku makin cepat meluncur keluar masuk mulut Febi. Diluar dugaanku ternyata Febi sangat mahir bermain oral, jauh lebih mahir dibandingkan Desi, sepertinya dia lebih berpengalaman dari sobat &#8230;sekamarnya. Lidah Febi menari nari di kepala penisku saat berada di mulutnya, sungguh ketrampilan yang hanya dimiliki mereka yang sudah terbiasa, aku harus jujur kalau permainan oral keponakanku menyamai tantenya yaitu istriku. Begitu penuh gairah Febi memainkan penisku membuatku terhanyut dalam lautan kenikmatan, kepalanya bergerak liar turun naik diselangkanganku. Aku mendesah makin lepas dalam nikmat.</p>
<p>Desi kembali ke selangkanganku, kini kedua gadis bergantian memasukkan penisku ke mulutnya diselingi permainan dua lidah yang menyusuri kejantananku secara bersamaan, aku melayang makin tinggi. Desi memasang kondom, bentuknya unik berbeda dengan sebelumnya, dikulumnya sebentar penisku yang terbungkus kondom lalu dia naik ke pangkuanku, menyapukan ke vaginanya dan melesaklah penisku menerobos liang kenikmatannya saat dia menurunkan badan.<br />
&#8220;Aduuhh.. sshh.. gila Feb, punya Om-mu enak banget, penuh rasanya&#8221; komentarnya setelah penisku tertanam semua di liang vaginanya.<br />
Febi duduk di sebelahku melihat sahabatnya merasakan kenikmatan dari Om-nya, aku masih ragu untuk mulai menjamah tubuh Febi, selama ini yang kami lakukan hanya peluk dan cium dari seorang Om kepada keponakannya yang masih kecil, tapi kini aku harus melihatnya sebagai seorang gadis sexy yang menggairahkan. Belum ada keberanianku mulai menikmati tubuh sintal keponakanku, hanya memandang dengan kagum dan penuh hasrat gairah.<br />
&#8220;aagghh.. uff.. Feb.. lepas dong bikinimu, kamu harus merasakan nikmatnya Om-mu&#8221; Desi ngoceh disela desahannya.</p>
<p>Sepertinya antara aku dan Febi saling menunggu, sama sama risih dan malu untuk mulai, ketika desahan Desi makin liar aku tak tahan lagi, kuraih kepala Febi dalam rangkulanku dan kucium bibirnya. Ada perasaan aneh ketika bibirku menyentuh bibirnya, perasaan yang tidak pernah kujumpai ketika berciuman dengan wanita manapun, mungkin hubungan batin sebagai seorang Om masih membatasi kami. Setelah sesaat berciuman agak canggung, akhirnya kami mulai menyesuaikan diri, saling melumat dan bermain lidah, jauh lebih bergairah dibanding dengan Desi atau lainnya, kami seolah sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Kocokan Desi makin liar tapi lumatan bibir lembut Febi tak kalah nikmatnya.</p>
<p>Agak gemetar tanganku ketika mulai mengelus punggung telanjang Febi, dengan susah payah, meskipun biasanya cukup dengan tiga jari, aku berhasil melepas kaitan bra yang ada di punggung. Masih tetap berciuman kulepas bra-nya, tanganku masih gemetar ketika menyusuri bukit di dada Febi, begitu kenyal dan padat berisi, kuhentikan ciumanku untuk melihat keindahan buah dadanya, jantungku seakan berdetak 3 kali lebih cepat melihat betapa indah dan menantang kedua bukitnya yang berhiaskan puting kemerahan di puncaknya, I have no idea berapa orang yang sudah menikmati keindahan ini.</p>
<p>Desah kenikmatan Desi sudah tak kuperhatikan lagi, kuusap dan kuremas dengan lembut, kurasakan kenikmatan kelembutan kulit dan kekenyalannya, gemas aku dibuatnya. Febi menyodorkan buah dadanya ke mukaku, langsung kusambut dengan jilatan lidah di putingnya dan dilanjutkan dengan sedotan ringan, dia menggelinjang meremas rambutku. Belum puas aku mengulum puting Febi, Desi sudah turun dari pangkuanku, lalu kami pindah ke ranjang, Desi nungging mengambil mengambil posisi doggie, langsung kukocok dia dari belakang sambil memeluk tubuh sexy Febi. Kukulum puting kemerahannya untuk kesekian kalinya bergantian dari satu puncak ke puncak lainnya, Febi mendesis nikmat, inilah pertama kali kudengar desahan nikmat langsung darinya, begitu merangsang dan penuh gairah di telinga.</p>
<p>Tanpa kusadari, ternyata Febi sudah melepas celana dalamnya, aku kembali terkesima untuk kesekian kalinya, selangkangannya yang indah berhias bulu kemaluan yang sangat tipis, bahkan nyaris tak ada, sungguh indah dilihat. Gerakan pinggul Desi makin tak beraturan, antara maju mundur dan berputar, penisku seperti diremas remas di vaginanya, sungguh nikmat, kali ini Desi bisa bertahan lebih lama. Kami berganti posisi, aku telentang diantara kedua gadis cantik ini dengan penis yang masih tegak tegang menantang.<br />
&#8220;Feb, gantian, kamu harus coba nikmatnya Om-mu&#8221; Desi mempersilahkan Febi, tapi aku menolak dan minta Desi segera naik melanjutkannya.</p>
<p>Terus terang, jauh di lubuk hati ini masih menolak untuk bercinta atau bersenggama dengan Febi, aku masih harus berpikir panjang untuk bertindak lebih jauh dari sekedar oral, saat ini belum bisa menerima untuk melanjutkan ke senggama atau tidak, aku belum tahu. Desi kembali bergoyang pinggul di atasku, Febi kuberi isyarat untuk naik ke kepalaku, dia langsung mengerti, kakinya dibuka lebar di depan mukaku, terlihat dengan jelas vaginanya yang masih kemerahan seperti daging segar, kepalaku langsung terbenam di selangkangannya, lidahku menyusuri bibir dan klitorisnya sambil meremas pantatnya yang padat, desahan Febi bersahutan dengan Desi. Seperti halnya Desi, kedua gadis ini menggoyangkan pinggulnya di atasku, vagina Febi menyapu seluruh wajahku. Febi mendesah keras dan tubuhnya menegang ketika kusedot vaginanya, hampir dia menduduki wajahku. Desi minta bertukar tempat, rupanya dia ingin mendapatkan kenikmatan seperti yang aku berikan ke keponakanku. Kini vagina Desi yang basah tepat di atas mukaku, sementara Febi melepas kondom yang membalut penisku, membersihkan sisa cairan dari vagina Desi dengan selimut lalu mulai menjilatinya.</p>
<p>Rasa asin dari vagina Desi tak kuperhatikan, cairannya menyapu mukaku, sementara kemaluanku sudah mengisi rongga mulut Febi dengan cepatnya. Aku begitu asyik menikmati vagina Desi dengan lidahku, tanpa kusadari Febi sudah mengambil posisi untuk memasukkan penisku ke vaginanya, aku baru tersadar ketika Febi sudah naik di atas tubuhku dan menyapukan penisku ke bibir vaginanya, aku harus mencegahnya, pikirku, karena masih belum memutuskan apakah harus melakukannya, hati kecilku masih belum menerima kalau aku bercinta dengan keponakanku sendiri.</p>
<p>&#8220;Febi, jangan&#8221;, teriakku.<br />
Tapi terlambat, penisku sudah meluncur masuk ke vagina keponakanku tanpa kondom, sudah terjadi, ada rasa sesal meskipun sedikit sekali. Tapi rasa sesal segera berubah menjadi heran karena begitu mudahnya penisku menerobos liang vaginanya, tidak seperti Desi yang cukup sempit dan kesakitan, tapi Febi sepertinya tidak ada rasa sakit sama sekali ketika vaginanya terisi penisku yang berukuran 17 cm itu. Bahkan dia langsung mengocok dan menggoyang dengan cepatnya seolah tak ada halangan dengan ukuran penisku seperti yang dialami Desi. Goyangan pinggul Febi lebih nikmat dari Desi tapi sepertinya vagina Febi tidak sesempit Desi, tidak ada kurasakan remasan dan cengkeraman otot dari vaginanya, hanya keluar masuk dan gesekan seperti biasa, dalam hal ini vagina Desi lebih nikmat, itulah perbedaan antara Desi dan Febi, meskipun keduanya sama sama nikmat.</p>
<p>Desi turun dari mukaku, kuraih buah dada montok Febi dan kuremas remas gemas penuh nafsu, kutarik Febi dalam pelukanku, kukocok dari bawah dengan cepatnya, desahannya begitu bergairah di telingaku.<br />
&#8220;Oh.. yess.. enak banget Om truss.. Febi kaangeen.. Febi cemburuu.. Febi sayang Om.. udah lama Febi menunggu kesempatan ini&#8221; desahnya.<br />
Aku kaget ternyata disamping cinta seorang keponakan dia juga menyimpan cinta layaknya seorang gadis pada lawan jenisnya. Kami bergulingan, kini aku di atasnya, kunikmati ekspresi kenikmatan wajah cantik keponakanku yang sedang dilanda birahi tinggi, desahannya makin keras dan liar, rasanya lebih liar dari yang kulihat tadi siang membuatku makin bernafsu mengocok lebih cepat dan &#8230; lebih keras. Dengan gemas kuciumi pipi Febi, tidak dengan perasaan kasih sayang seperti biasanya tapi penuh dengan perasaan nafsu, kususuri leher jenjangnya yang putih mulus, baru sekarang kusadari betapa menggairahkan tubuh keponakanku ini. Febi menggelinjang dan menjerit ketika lidahku mencapai puncak buah dadanya, kupermainkan putingnya yang kemerahan, dengan kuluman ringan kusedot buah dadanya, itulah yang membuat dia menggelinjang hebat penuh nikmat.</p>
<p>Desi memelukku dari belakang, diciuminya tengkuk dan punggungku, dalam keadaan normal bercinta dengan dua wanita cantik tentulah menyenangkan tapi ini keadaan khusus dimana pertama kali aku mencumbu keponakanku tercinta, aku ingin menikmatinya secara total, keterlibatan Desi sebenarnya kurasakan mengganggu tapi aku tak bisa menyuruhnya pergi, karena dialah aku bisa menikmati tubuh sexy Febi. Tanpa menghiraukan pelukan Desi, kuangkat kedua kaki Febi kepundakku, dengan meremas kedua buah dadanya sebagai pegangan aku mengocoknya keras dan cepat. Febi menjerit keras antara sakit dan nikmat, kepala penisku serasa menyentuh dinding terdalam dari vaginanya, tangannya mencengkeram erat lenganku, matanya melotot ke arahku seakan tak percaya aku melakukan ini padanya, tapi sorot matanya justru menambah tinggi nafsuku, dia kelihatan makin cantik dengan wajah yang bersemu merah terbakar nafsu, lebih menggairahkan dan menggoda, makin dia melotot makin cepat kocokanku, makin keras pula jerit dan desah kenikmatannya. Dan tak lama kemudian dia sampai pada puncak kenikmatan tertinggi.<br />
&#8220;Truss.. Om.. Febi mau keluar ya.. truss.. f*ck me harder&#8221; dia mendesis indah, dan dengan diiringi jeritan kenikmatan panjang dia menggoyang goyangkan kepalanya, cengkeraman di lenganku makin erat, tubuhnya menegang, dia telah mencapai orgasme lebih dulu, kunikmati saat saat orgasme yang dialami Febi.</p>
<p>Inilah pertama kali aku melihat ekspresi orgasme dari keponakanku yang cantik, begitu liar dan menggairahkan, sungguh tak kalah dengan tantenya, istriku. Tubuh Febi perlahan mulai melemah, kuturunkan kakinya dari pundakku lalu kukecup bibir dan keningnya.<br />
&#8220;Makasih Om, ini orgasme terindah yang pernah kualami, nanti lagi ya, aku ingin merasakan Om keluar di dalam&#8221; katanya mendorong tubuhku turun dari atas tubuhnya.<br />
Desi sudah sampingnya bersiap menerimaku, posisi menungging dengan kaki dibuka lebar, penisku yang masih tegang siap untuk masuk ke vagina lainnya. Rupanya Desi tak pernah melupakan pengamannya, dia memberiku kondom sebelum penisku sempat menyentuh bibir vaginanya, sementara Febi tak peduli dengan hal itu, aku tak khawatir karena memang tidak berniat memuntahkan spermaku di vagina keponakanku. Febi memasangkan kondom di penisku dan kembali untuk kesekian kalinya penisku menguak celah sempit di antara kaki Desi, sungguh sempit, meski udah beberapa kali kumasuki tapi masih tetap saja terasa mencengkeram pada mulanya.</p>
<p>Berbeda dengan punya Febi yang langsung bisa &#8220;melahap&#8221; semuanya, Desi meringis sebentar saat penisku kudorong menguak vaginanya, cukup lama sebelum akhirnya aku bisa mengocoknya dengan normal, sesekali hentakan keras menghunjam membuatnya teriak entah sakit atau enak. Kupegangi pantatnya yang padat berisi, kocokanku makin cepat, desahan Desi begitu juga makin keras terdengar, kuraih buah dadanya yang menggantung dan kuremas sambil tetap mengocoknya. Terus terang setelah merasakan nikmatnya bercinta dengan keponakanku, terasa Desi begitu hambar, padahal saat pertama tadi dia begitu menggairahkan, kini aku hanya berusaha untuk memuaskan dia sebagai balas jasa dan secepat mungkin mencapai orgasme dengannya supaya berikutnya aku bisa lebih &#8220;all out&#8221; dengan Febi.</p>
<p>Kocokan kerasku membawa Desi lebih cepat ke puncak kenikmatan, tangan Desi dan Febi saling meremas, teriakan orgasme Desi mengagetkanku, apalagi diiringi dengan denyutan dan remasan kuat dari vaginanya, penisku seperti diremas remas, sungguh nikmat yang tak bisa kudapat dari Febi, akhirnya akupun harus takluk pada kenikmatan cengkeraman vagina Desi, menyemprotlah spermaku di dalam vaginanya. Kembali dia menjerit merasakan denyut kenikmatan penisku, kami saling memberi denyutan nikmat, lebih nikmat dari yang kudapat tadi. Tubuhku langsung ambruk di atas punggun Desi, kami bertiga telentang dalam kenangan dan kenikmatan indah. Aku telentang di antara dua gadis cantik yang menggairahkan, Desi melepas kondom, sungguh tak menyangka kalau aku akhirnya bercinta dengan keponakanku sendiri yang sangat sexy dan menggairahkan. Diusianya yang belum 23 tahun dia terlalu pintar bermain sex apalagi permainan oralnya, sungguh sukar dipercaya kalau dia mampu melakukannya dengan sangat baik.</p>
<p>Setelah kudesak akhirnya dia mengakui bahwa dia sudah sering melakukannya sejak setahun yang lalu. Pertama kali yang menikmati keperawanannya adalah P. Freddy, dosennya sendiri, seorang duda berumur hampir 50 tahun, orangnya jauh dari simpatik, justru lebih mendekati sadis, karena wajahnya tipikal orang maluku yang keras. Untuk mendapatkan nilai lulus dari dia akhirnya Febi harus menyerahkan keperawanannya, kalau tidak dia tidak akan bisa melewati tahap persiapan yang berakibat Drop Out. Dengan perasaan jijik Febi menyerahkan kehangatan dan kesuciannya pada si tua bangka, seminggu sekali dia terpaksa harus melayani nafsu bejat si dosen, setelah berjalan dua bulan dan merasakan nikmatnya bercinta akhirnya keterpaksaan itu berubah menjadi ketergantungan, bukan lagi P. Fredy yang memaksa tapi terkadang justru Febi yang minta karena dia tidak mungkin melakukannya dengan orang lain. Hingga akhirnya dia menemukan teman kuliah pujaan hati, tapi begitu sampai ke urusan sex ternyata Febi masih tidak bisa melupakan keperkasaan P. Fredy, jadi dia tetap melakukannya dengan si dosen untuk mendapatkan kepuasan, pacarnya tidak pernah memperlakukan Febi seperti yang dilakukan P. Fredy, perlakuannya begitu sabar dan kebapakan dan dia selalu memenuhi apa yang Febi inginkan, tak pernah memaksa dan selalu sopan di ranjang, begitu romantis hingga Febi makin terhanyut dalam pesona si dosen, dari keterpaksaan menjadi ketergantungan. Semua berakhir setelah P. Fredy mendapat Profesor dan promosi dipindah tugas ke Ujung Pandang. Untuk memenuhi ketergantungannya Febi sering melakukannya dengan pacarnya, tapi sosok permainan sex seperti P. Fredy tak pernah dia dapatkan dari sang pacar. Entah sudah berapa kali dia ganti pacar, tak pernah lebih dari 3 bulan mereka pacaran, selalu diawali dan diakhiri di ranjang.</p>
<p>Cerita Febi sungguh mengagetkanku, rupanya selama ini aku dan istriku terlalu memandang enteng masalah yang dihadapi Febi, tak pernah memberi solusi yang kondusif, kini baru kusadari hal itu. Istriku pernah cerita kalau Febi ingin mendapatkan suami seperti Om-nya, aku, sabar penuh pengertian dan kebapakan, hal yang tidak pernah dia terima dari ayah kandungnya. Diam diam dia mengagumiku, aku tak menyangka kalau kekagumannya ternyata lebih jauh dari sekedar seorang Om.<br />
&#8220;Om Febi cemburu sekali ketika melihat Om sama Mbak Lily bercinta, begitu penuh perasaan dan gairah&#8221; katanya sambil kepalanya disandarkan di dadaku.<br />
&#8220;Oh ya? kapan dan dimana&#8221; tanyaku kaget<br />
&#8220;Di rumah, ketika direnovasi, hampir tiap kali aku mendengar desahan dari Mbak Lily aku naik dan mengintip dari celah celah bangunan yang belum selesai itu, setelah itu aku tak bisa tidur sampai pagi, sejak itu aku bertekad untuk bisa merasakan nikmat seperti itu dari Om, bahkan aku ingin lebih dari itu&#8221; katanya.<br />
Berarti sejak dia kelas 3 SMA dia sudah melihat kami berhubungan.<br />
Mendengar penuturan Febi gairahku kembali naik, penisku menegang dalam genggaman Febi, Desi tertidur di samping kami, mungkin kelelahan setelah mendapat 2 kali orgasme berurutan dariku.<br />
&#8220;Di sofa yuk Om, Febi udah lama nggak bermain di sofa sejak terakhir kali dengan P. Fredy&#8221; ajaknya seraya bangun dan menarikku.<br />
Febi langsung duduk di sofa dan membuka kakinya, aku tak mau langsung melakukannya, kucium bibirnya lalu turun ke leher dan berhenti di kedua bukitnya, dengan gemas kuciumi bukit di dadanya, kombinasi jilatan dan kuluman membuat dia mendesah.<br />
Sengaja kutinggalkan beberapa bekas kemerahan di buah dadanya supaya dia berhenti melakukan dengan pacarnya untuk beberapa hari. Dia cemberut ketika tahu ada kemerahan di dadanya tapi justru kecemberutannya makin menambah kecantikan wajahnya. Bibirku menyusuri perutnya lalu berhenti di selangkangannya, terasa asin ketika lidahku menyentuh vaginanya, mungkin cairan ketika dia orgasme tadi. Tangannya meremas rambutku ketika lidahku menari nari di bibir vaginanya, kakinya menjepit kepalaku, aku makin bergairah mempermainkan vaginanya dengan bibirku.</p>
<p>&#8220;Udah.. udah.. Om.. sekarang.. Febi udah nggak tahan nih&#8221; desahnya menarik rambutku.<br />
Aku berdiri, kusodorkan penisku ke mulutnya, dia menggenggam dan mengocoknya, memandang ke arahku sejenak sebelum menjilati dan memasukkan penisku ke mulutnya. Tanpa kesulitan, segera penisku meluncur keluar masuk mulut mungil keponakanku yang cantik, kembali kurasakan begitu pintar dia memainkan lidahnya. Antara jilatan, kuluman dan kocokan membuatku mulai melayang tinggi. Puas dengan permainan oral-nya, aku lalu jongkok di depannya, dia menyapukan penisku ke vaginanya, dia menatapku dengan pandangan penuh gairah, aku jadi agak malu memandangnya, namun nafsu lebih berkuasa, dengan sekali dorong melesaklah penisku kembali ke vaginanya, dia masih tetap menatapku ketika aku mulai mengocoknya. Kakinya menjepit pinggangku, kutarik dia dalam pelukanku, kudekap erat hingga kami menyatu dalam suatu ikatan kenikmatan birahi, saling cium, saling lumat.</p>
<p>Febi mendesah liar seperti sebelumnya, kurebahkan dia di sofa lalu kutindih, satu kaki menggantung dan kaki satunya dipundakku. Aku tak pernah bosan menikmati ekspresi wajah innocent yang memerah penuh birahi, makin menggemaskan. Buah dadanya bergoyang keras ketika aku mengocoknya, dia memegangi dan meremasnya sendiri. Kuputar tubuhnya untuk posisi doggie, dia tersenyum, tanpa membuang waktu kulesakkan penisku dari belakang, dia menjerit dan mendorong tubuhku menjauh, kuhentikan gerakanku sejenak lalu mengocoknya perlahan, tak ada penolakan. Kupegang pantatnya yang padat berisi, Febi melawan gerakan kocokanku, kami saling mengocok, dia begitu mahir mempermainkan lawan bercintanya.</p>
<p>Aku bisa melihat penisku keluar masuk vagina keponakanku, kupermainkan jari tanganku di lubang anusnya, dia menggeliat ke-gelian sambil menoleh ke arahku. Kuraih buah dadanya yang menggantung dan bergoyang indah, kuremas dengan gemas dan kupermainkan putingnya. Aku sepertinya benar benar menikmati tubuh indah keponakanku dengan berbagai caraku sendiri, ada rasa dendam tersendiri di hatiku, kalau orang lain telah menikmatinya, aku sebagai orang yang membesarkannya tentu ingin menikmatinya lebih dari lainnya, tak ada yang lebih berhak dari aku. Kuraih tangannya dan kutarik kebelakang, dengan tangannya tertahan tanganku, tubuh Febi menggantung, aku lebih bebas melesakkan penisku sedalam mungkin. Desah kenikmatan Febi mekin keras memenuhi kamar ini. Kudekap tubuhnya dari belakang, kuremas kembali buah dadanya, penisku masih menancap di vaginanya, kuciumi telinga dan tengkuknya, geliat nikmat Febi makin liar.<br />
&#8220;Aduh oom.. enak banget Omm, Febi sukaa, trus Om&#8221;</p>
<p>Kulepaskan tubuh Febi, kambali kami bercinta dengan doggie style, tak terasa lebih setengah jam kami bercinta, belum ada tanda tanda orgasme diantara kami. Kami berganti posisi, Febi sudah di pangkuanku, tubuhnya turun naik mengocokku, buah dadanya berayun ayun di mukaku, segera kukulum dan kusedot dengan penuh gairah hingga kepalaku terbenam diantara kedua bukitnya. Gerakan Febi berubah menjadi goyangan pinggul, berputar menari hula hop di pangkuanku, berulang kali dia menciumiku dengan gemas, sungguh tak pernah terbayangkan kalau akhirnya aku bisa saling mengulum dengannya. Tak lama kemudian, tiba tiba Febi menghentikan gerakannya, dia juga memintaku untuk diam.<br />
&#8220;Sebentar Om, Febi nggak mau keluar sekarang, masih banyak yang kuharapkan dari Om&#8221; katanya sambil lebih membenamkan kepalaku di antara kedua bukitnya, aku hampir tak bisa napas.<br />
&#8220;Kamu turun dulu&#8221; pintaku<br />
&#8220;Tapi Om, Febi kan belum&#8221; protesnya<br />
&#8220;Udahlah percaya Om&#8221; potongku</p>
<p>Kutuntun dan kuputar tubuhnya menghadap dinding, kubungkukkan sedikit lalu kusapukan penisku ke vaginanya dari belakang, Febi mengerti maksudku, kakinya dibuka lebih lebar, mempermudah aku melesakkan penisku. Tubuhnya makin condong ke depan, desah kenikmatan mengiringi masuknya penisku mengisi vaginanya.<br />
&#8220;ss.. aduuh Om, enak Om.. belum pernah aku.. aauu&#8221; desahnya sambil membalas gerakanku dengan goyangan pinggulnya yang montok.</p>
<p>Kami saling bergoyang pinggul, saling memberi kenikmatan sementara tanganku menggerayangi dan meremas buah dadanya. Nikmat sekali goyangan Febi, lebih nikmat dari sebelumnya, berulang kali dia menoleh memandangku dengan sorot mata penuh kepuasan, mungkin dia belum pernah melakukan dengan posisi seperti ini. Tubuhnya makin lama makin membungkuk hingga tangannya sudah tertumpu meja sebelah. Kudorong sekalian hingga dia telungkup di atasnya, aku tetap masih mengocoknya dari belakang, dia menaikkan satu kakinya di pinggiran meja, penisku melesak makin dalam, kocokanku makin keras, sekeras desah kenikmatannya. Kubalikkan tubuhnya, dia telentang di atas meja, kunaikkan satu kakinya di pundakku, kukocok dengan cepat dan sedalam mungkin.</p>
<p>&#8220;ss.. eegghh.. udaahh oom, Febi nggaak kuaat, mau keluar niih&#8221; desahnya<br />
&#8220;Sama Om juga&#8221;<br />
&#8220;Kita sama sama, keluarin di dalam saja, aman kok, Febi pake pil, jangan ku.. aa.. sshhiit&#8221; belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya ternyata sudah orgasme duluan, aku makin cepat mengocoknya, tak kuhiraukan teriakan orgasme Febi, makin keras teriakannya makin membuatku bernafsu. Semenit kemudian aku menyusulnya ke puncak kenikmatan, kembali dia teriak keras ketika penisku berdenyut menyemprotkan sperma di vaginanya. Aku telah membasahi vagina dan rahim keponakanku dengan spermaku, dia menahanku ketika kucoba menarik keluar.<br />
&#8220;Tunggu, biarkan keluar sendiri&#8221; cegahnya, maka kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, kucium kening dan pipinya sebelum akhirnya kucium bibirnya.<br />
&#8220;Makasih Om, permainan yang indah, the best deh pokoknya&#8221; bisiknya menatapku tajam.<br />
Kuhindari tatapannya, tak sanggup aku melawan tatapan tajam keponakanku itu.</p>
<p>Jarum jam masih menunjukkan pukul 17:30, entah sudah berapa lama aku melayani kedua gadis ini, gelapnya malam mulai menyelimuti Kota Semarang, para pedagang kaki lima di simpang lima sudah mulai menata dagangannya. Aku sempat tertidur sejenak diantara kedua gadis itu sebelum mereka membangunkanku untuk makan malam, jam 19:30. Kami memutuskan untuk makan di luar sambil shoping di Mall sebelah hotel. Ternyata mereka lebih senang shopping lebih dulu dari pada makan malam, padahal aku sudah lapar akibat bekerja terlalu keras, terpaksa aku memenuhi keinginan kedua gadis itu. Diluar dugaanku justru mereka memilih untuk belanja parfum, .ingerie dan pakaian dalam, aku ikutan memilihkan untuk mereka, tentu saja yang kuanggap sexy, tak jarang aku diminta memberikan penilaian ketika mereka mencoba bra di ruang ganti, tentu dengan senang hati aku memenuhinya. Tak lupa kami membeli beberapa VCD porno di pinggiran jalan.</p>
<p>Kami kembali ke hotel hampir pukul 22:00, kuminta mereka memakai apa yang baru mereka beli, sungguh sexy dan menggairahkan kedua bidadari itu mengenakan pakaian dalam yang serba mini pilihanku, hampir semuanya dicoba, tapi aku sudah tak tahan lagi melihat penampilan mereka. Saat mereka berganti lagi untuk ketiga kalinya, aku sudah tak sanggup menahan lebih lama lagi, terutama melihat tubuh sexy Febi, kutarik mereka ke ranjang dan kucumbui mereka bersamaan, kami saling bergulingan seperti anak kecil sedang bermain main. Mereka berebutan melepas pakaian dan celanaku, bahkan suit untuk menentukan siapa yang melepas celana dalamku. Bersama sama mereka mulai menjilati dan mengulum penisku, kedua lidah gadis itu secara bersamaan menyusuri penis dan kantong bola dengan gerakan berbeda, aku segera melayang tinggi didampingi kedua bidadari ini.</p>
<p>&#8220;Om percaya nggak, Desi itu udah lama lho kagum sama Om, jadi ini sudah menjadi fantasinya&#8221; kata Febi disela kulumannya.<br />
&#8220;Ih kamu buka rahasia deh&#8221; Desi yang sedang menjilati pahaku mencubih Febi, mereka berdua tertawa sambil terus menjilatiku.<br />
Kedua tanganku meremas remas dua buah dada yang berbeda, baik kekenyalan maupun besarnya, punya Febi lebih besar tapi Desi lebih kenyal dan padat. Febi lebih cepat mengambil inisiatif, kakinya dilangkahkan ke tubuhku hingga posisi 69, Desi yang kalah cepat bergeser di antara kakiku, sambil menjilati Febi aku masih bisa merasakan kuluman dari dua mulut yang berbeda. Ketika Febi menegakkan tubuhnya melepaskan kulumannya pada penisku, Desi segera mengambil posisi untuk memasukkan penisku ke vaginanya, rupanya takut keduluan Febi dia tak mempedulikan lagi kondomnya seperti sebelumnya, kurasakan vaginanya yang rapat mencengkeram erat penisku, apalagi tanpa kondom, kurasakan makin kuat mencengkeram, hingga semua tertanam dia tak berani bergerak.</p>
<p>&#8220;Om kalo keluar bilang ya&#8221; rupanya dia masih sedikit sadar<br />
Perlahan tubuhnya turun naik dan mulai menggoyangkan pinggul, penisku terasa diremas dengan hebat, gerakannya makin cepat dan tidak beraturan. Tak lebih lima menit dia turun dari tubuhku.<br />
&#8220;Feb, giliranmu, aku nggak udah tahan, bisa keluar duluan aku nanti, habis enak banget sih&#8221; katanya.<br />
Mereka bertukar posisi, sepeti sebelumnya penisku langsung masuk ke vagina Febi tanpa hambatan yang berarti, berbeda dengan Desi yang mendiamkan sesaat sebelum mengocok, tubuh Febi langsung turun naik dengan cepatnya, pinggangnya berputar putar sambil tangannya mengelus kantong bola. Aku tak bisa melihat ekspresi wajah Febi karena mukaku tertutup pantat Desi yang tepat berada di atasku dengan vagina terbuka lebar. Jerit dan desahan kedua gadis di atasku saling bersahutan merasakan kenikmatan yang berbeda.</p>
<p>Tak lama kemudian Febi turun, Desi mengikutinya, kedua gadis itu lalu telentang bersebelahan dan membuka kakinya lebar lebar seakan mempersilahkan aku untuk memilihnya, aku bingung, kutatap mata keduanya, sama sama memberikan pandangan yang menggairahkan. Aku yakin Desi tidak bisa bertahan lama, maka kupilih Desi duluan supaya aku bisa menikmati Febi lebih lama dan memuntahkan spermaku ke vagina keponakanku itu.<br />
&#8220;Om janji ya kalo keluar di luar saja&#8221; katanya ketika aku mendekatinya.<br />
&#8220;Kalo aku nggak mau&#8221; godaku<br />
&#8220;Pleese&#8221; Desi memelas<br />
Tanpa menjawab lagi kusapukan penisku ke vaginanya dan mendorongnya masuk perlahan lahan.<br />
&#8220;Pelan pelan Om, ini pertama kali aku nggak pake kondom&#8221; katanya pelan ketika penisku mulai menerobos liang kenikmatannya.</p>
<p>Kutelungkupkan tubuhku menindih tubuhnya setelah penisku masuk semuanya, pantatku mulai turun naik di atas tubuhnya, desah kenikmatan mengiringi kocokanku. Febi bergeser di belakangku, rupanya dia mengatur kaki Desi, diletakkannya menjepit pinggangku, penisku makin dalam mengisi liang kenikmatannya. Kukocok dia dengan cepat dan keras, kuhentakkan sedalam mungkin, tak kupedulikan desahan kenikmatannya, aku ingin segera membuatnya orgasme dan secepatnya beralih ke tubuh keponakanku yang sedang menunggu giliran. Diluar dugaanku, ternyata Desi tidak segera orgasme seperti perkiraanku, gerakannya malah semakin liar mencengkeramku, justru hampir saja aku keluar duluan kalau tidak segera kuhentikan gerakanku dan kucabut penisku dari vaginanya.</p>
<p>Desi tersenyum penuh kemenangan melihat aku hampir kalah, kuambil napas dalam dalam lalu kutahan dan kuhembuskan pelan pelan. Febi sudah bersiap di sampingnya dengan posisi nungging, kuturunkan teganganku dengan menciumi pantat Febi, menjilati vagina dan anusnya, dia menggeliat geli, kukocok vaginanya dengan dua jariku, dia mendesis. Setelah kurasa aku siap maka langsung kumasukkan penisku ke liang Febi dengan sekali dorong disusul kocokan cepat, dia menjerit nikmat lepas.</p>
<p>&#8220;Des, remas dadanya&#8221; perintahku sambil mengocoknya keras, Desi memandangku bingung, kuraih tangannya dan kuletakkan di dada Febi, kedua gadis itu kelihatan risih tapi aku tak peduli, kupaksa Desi meremasnya. Akhirnya Febi bisa menerima remasan Desi di buah dadanya, aku makin bergairah melihatnya, apalagi ketika Desi meremas kedua buah dada yang menggantung itu. Nafsuku makin meninggi ketika Febi membalas meremas buah dada Desi, mereka saling meremas buah dada.</p>
<p>Aku terkejut ketika Febi mengambil inisiatif lebih jauh, tiba tiba dia menciumi buah dada Desi dan menjilati <a href="http://cerita.modelperawan.com">puting</a>nya, mulanya Desi tertawa geli menerima hal itu, tapi kemudian dia ikutan mendesah dan meremas rambut Febi yang ada di dadanya. Aku makin bergairah dibuatnya, kocokanku makin cepat dan liar, seliar sedotan Febi pada buah dada sahabatnya. Desi menyusupkan tubuhnya di bawah Febi, kepalanya tepat di bawah bukit yang menggantung, mereka saling mengulum buah dada seperti permainan lesbi meski aku yakin mereka bukan golongan itu.</p>
<p>Imajinasiku makin liar melihat kenakalan mereka, kuminta Desi nungging di atas Febi, tubuhnya menempel rapat di punggungnya, memeluk rapat dari belakang, vaginanya tepat di atas pantat Febi, masih tetap mengocok Febi kumasukkan dua jariku ke liang kenikmatannya, kedua gadis itu mendesah bersahutan. Kutarik keluar penisku dan segera beralih ke liang kenikmatan di atasnya, masih saja kurasakan rapatnya vagina Desi, nikmat yang berbeda dari dua vagina. Kocokanku berpindah dari satu vagina ke vagina lainnya. Aku tak tahu harus mengakhirinya di mana, hampir saja aku orgasme ketika tiba tiba kudengar bunyi HP-ku. Ingin kuabaikan tapi deringnya terasa mengganggu.<br />
&#8220;Terima dulu Om, siapa tahu penting, atau mungkin dari Mbak Lily&#8221; kata Febi ketika aku sedang mengocok vagina di atasnya.</p>
<p>Terpaksa kutinggalkan kedua vagina yang sedang penuh gairah itu, benar saja pacarku menelpon, aku menjauhi mereka, duduk di sofa supaya tidak terdengar suara napas mereka yang sedang ngos-ngosan. Kedua gadis itu menyusulku, Desi bersimpuh di antara kakiku sedangkan Febi duduk di sebelahku, menempelkan telinganya di HP, ikutan mendengar pembicaraanku dengan tantenya, sambil tangannya mengocok penisku bersamaan dengan lidah dan mulut Desi yang menari nari di penisku yang masih menegang. Handphone kuberikan ke Febi ketika istriku mau bicara padanya, akupun tak mau berlama lama bicara sama istriku dalam keadaan seperti ini, bisa bisa bicara sambil &#8230; mendesah.<br />
&#8220;Ya Mbak, ini Om mau antar Febi pulang, udah malam, lagian besok kan kuliah.. agak siang sih, jam 11 pagi kuliahnya.. tapi Febi belum pamit sama ibu Kost, ntar dicari&#8221;</p>
<p>Untungnya Febi mengikuti pembicaraan kami tadi hingga bisa langsung nyambung, kubalas Febi dengan mengulum putingnya ketika bicara sama tantenya, dia melototiku.<br />
&#8220;..oke deh Mbak, nanti Febi telpon ke kost deh&#8221; jawabnya mengakhiri pembicaraan.<br />
&#8220;Nakal ya, awas Febi balas&#8221; katanya lalu jongkok di sebelah sahabatnya, bersamaan mereka mengulum penisku, lidah kedua gadis itu menyusuri penisku kembali, aku mendesah sambil meremas rambut keduanya. Begitu nikmat permainan dua lidah, apalagi ketika bibir keponakanku mulai meluncur di batang kemaluanku, sementara sobatnya mempermainkan kantong bola dengan lidahnya, membawaku melayang tinggi dalam kenikmatan.</p>
<p>Akhirnya aku menyerah dalam permainan dua mulut mereka, menyemprotlah spermaku ketika berada di mulut Desi, segera dia menarik keluar tapi terlambat, beberapa semprotan sudah membasahi tenggorokannya. Febi segera meraih penisku dan langsung memasukkan ke mulut mungilnya, semprotanku sempat mengenai wajah dan rambut Desi sebelum akhirnya habis dalam kuluman keponakanku, sedikit tetesan keluar dari celah bibirnya, dia menyedot habis semburan demi semburan hingga tetes terakhir tanpa mengeluarkan dari mulutnya. Kedua gadis itu lalu menyapukan penisku yang sudah lemas ke wajahnya.<br />
Malam itu kuhabiskan dengan mengarungi lautan kenikmatan bersama keponakanku dan sahabatnya, sepertinya mereka tak ada kata puas merengkuh kenikmatan demi kenikmatan, bergantian aku harus melayani mereka sampai kewalahan melayaninya, tapi dengan bantuan film VCD yang kami putar di Laptop, sedikit banyak aku bisa mengimbangi permintaan mereka. Entah jam berapa kami baru bisa tertidur, &#8220;terpaksa&#8221; aku pulang dengan pesawat terakhir ke Jakarta besoknya, &#8220;tak tega&#8221; meninggalkan keponakanku tercinta berikut sobat karibnya.</p>
<p>sejak saat itu, rutinitas <a href="http://cerita.modelperawan.com/tag/seks/">seks</a> ku di semarang menjadi terus berlanjut dengan Desi, aku merasa dia adalah gadis muda yang sempurna, toket yang gede, memek  keponakanku yang rapet dan pastinya kulit yang mulus, tanpa rasa kekurangan dari kepuasan seks yang ku dapat dari keponakanku sendiri. Sekian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/keponakanku-yang-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta dengan Cheerleader</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cheerleader/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cheerleader/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 08:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks Cheerleader]]></category>
		<category><![CDATA[Cheerleader bugil]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot Cheerleader]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot siswi SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Dewasa &#8211; cerita seru kali ini adalah cerita pengalaman nyata dari seorang siswa sma dengan seorang Cheerleader, bagaimana kisah seru seks mereka berikut adalah cerita lengkapnya yang penuh dengan birahi yang menantang, cerita seks yang membuat kita heran dan terpana, ternyata anak seusia itu sudah bisa melakukan hubungan seks layaknya film bokep. langsung cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cerita.modelperawan.com">Cerita Dewasa</a> &#8211; cerita seru kali ini adalah cerita pengalaman nyata dari seorang siswa sma dengan seorang Cheerleader, bagaimana kisah seru seks mereka berikut adalah cerita lengkapnya yang penuh dengan birahi yang menantang, cerita seks yang membuat kita heran dan terpana, ternyata anak seusia itu sudah bisa melakukan hubungan seks layaknya <a href="http://bugil.gadisperawan.info/search/film+bokep/">film bokep</a>. langsung cerita selengkapnya berikut ini.</p>
<p>Namaku Deny, aku seorang siswa SMU di salah satu besar yang cukup terkenal. Aku memang tidak memiliki tampang yang cukup tampan atau badan yang atletis. Tetapi aku cukup lumayan untuk seorang cowok tidak terlalu jelek dan termasuk biasa-biasa saja dalam hal penampilan. Tetapi yang sangat menarik dari diriku adalah kekayaan yang orangtuaku miliki. Setiap hari aku selalu berpergian dengan mengendarai Honda Estillo yang sangat gaul karena modifikasi yang aku lakukan, aku juga selalu mambawa HP Nokia 8250. Belum lagi sifatku yang royal terhadap setiap cewek cantik dan sexy, semakin membuatku dikejar cewek terutama para cewek matre.</p>
<p>Di sekolahku terdapat berbagai macam ekstra kurikuler yang menarik, tetapi yang paling menarik untuk para cewek centil di sekolahku adalah ekstra kurikuler cheerleader, karena untuk masuk dalam ekstra kurikuler tersebut diharuskan melewati seleksi yang cukup ketat. Selain itu cewek yang dapat masuk ke dalam ekstra kurikuler tersebut adalah cewek-cewek yang memiliki tubuh seksi, tampang yang cantik dan keberanian dalam memakai baju minim di depan umum, karena para anggotanya selalu mengenakan baju yang sangat seksi ketika mengadakan pentas. Biasanya mereka hanya mengenakan tank-top atau kembel yang dipadukan dengan rok yang sangat mini atau dengan celana ketat yang super pendek. Secara tidak langsung hal ini membuat para cewek yang dapat masuk memiliki kebanggaan tersendiri karena berarti mereka telah dianggap sebagai cewek yang cantik dan seksi.<br />
Para anggota dari cheerleader biasanya selalu cewek yang sangat centil dan matre. Karena itu sangatlah mudah bagiku untuk mengajak mereka jalan dan “bermain” dengan mereka atau hanya sekedar memegang-megang mereka. Memang predikat “perek” cukup melekat dalam setiap anggota cheerleader, walaupun tidak semua cewek tersebut gampangan, dan ada juga yang memang hanya cewek baik-baik dan mengikutinya<span id="more-216"></span> karena menyukai tari modern, walaupun jumlahnya paling hanya 2 orang.<br />
Seperti biasanya pada tahun ini cukup banyak cewek kelas 1 yang mau mencoba mengikuti ekstra kurikuler ini. Dan memang pada tahun ini cewek yang mengikutinya terlihat seksi-seksi dan tampang yang cantik. Seluruh anggota baru ini memiliki payudara dan pantat yang besar. Belum lagi mereka memang selalu ke sekolah dengan mengenakan baju ketat dan tipis dan mengenakan BH yang selalu berwarna mencolok seperti hitam, hijau, biru, kuning atau warna mencolok lainya yang membuat payudara mereka terlihat dengan jelasnya oleg setiap mata. Mereka juga selalu mengenakan rok yang pendeknya sekitar satu telapak tangan di atas lutut dan sangat ketat sehingga menunjukkan pantat mereka yang besar.<br />
Melihat para perawan baru yang tersedia aku menjadi ingin mencoba kenikmatan tubuh mereka. Ada 8 anggota baru yang masuk dari kelas 1 angkatan ini. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah Melati dan Mawar (sebut saja begitu). Karena mereka memiliki payudara yang besar dan pantat yang besar pula, belum lagi wajahnya yang cukup manis. Melati adalah seorang cewek keturunan Arab dengan ukuran payudara 34B dan pantat yang padat. Cewek ini adalah cewek yang paling merangsang di antara para anggota baik yang baru maupun yang lama. Mawar adalah saorang cewek dengan payudara yang tidak terlalu besar dan itu pula dengan pantatnya bila dibanding Melati. Ukuran payudaranya hanya 32B, tetapi bodinya seksi dan yang paling menarik adalah wajahnya yang manis dan cantik. Ia adalah cewek keturuna Jawa.<br />
Aku sangat berhasrat untuk menikmati tubuh keduanya, tetapi aku belum akrab dengan mereka. Sehingga aku meminta bantuan salah satu anggota cheerleader di angkatanku yang bernama Rani yang sebelumnya sudah sering aku nikmati tubuhnya, bahkan aku secara teratur berhubungan dengannya karena memang kami berdua memilki nafsu yang sangat besar walaupun diluar itu kami juga sering melakukanya dengan pacar kami masing-masing.<br />
Tanpa pikir panjang aku mengutarakanya ke Rani dan tentu saja Rani menyanggupinya, bahkan di luar dugaan Rani menantang aku untuk melakukannya sekaligus dengan mereka bertiga. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena ini memang sensani yang belum pernah aku lakukan hanya sering aku bayangkan. Entah dengan bujuk rayu apa yang dikatakan Rani kepada Melati dan Mawar sehingga mereka berdua mau malakukan itu. Rani menyuruh aku datang ke villa Rani di puncak yang memang sudah sering kugunakan untuk menikmati tubuh Rani pada malam minggu itu juga tetapi dengan syarat aku tidak pernah membahas kesepakatan ini dengan Melati dan Mawar sebelum hari itu dan aku juga tidak boleh mengatakannya kepada siapapun.<br />
Akhirnya sampai juga hari yang sangat kunantikan. Sekitar jam 14:00 aku segera berangkat untuk menghindari kemacetan, tapi apa boleh buat aku tetap terjebak kemacetan dan aku sampai di villa itu jam 05:00 sore, padahal biasanya bila tidak macet aku hanya mambutuhkan 1-2 jam untuk sampai ke villa tersebut. Sampai di sana, aku disambut oleh Rani yang pada hari pulang terlebih dahulu dari sekolah dengan Mawar dan Melati dengan alasan mereka sakit. Mereka berangkat terlebih dahulu untuk menghindari macet dengan menggunakan mobil Rani.<br />
Di sana aku langsung masuk ke kamar yang terletak di lantai atas, di sana sudah terlihat Melati dan Mawar. Pada saat itu mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang ketat dan tipis, Melati mengenakan BH berwarna biru langit, Mawar dengan warna kuning dan Rani sendiri mengenakan BH berwarna merah cerah. Penampilan mereka semakin meningkatkan gairahku yang sudah lama kupendam terhadap mereka. Tanpa basa-basi mereka langsung mendorongku ke ranjang yang masih rapi dengan sprei putih. Melati dan Mawar langsung mendekatiku, sementara Rani mengambil handycam dan meminta ijinku untuk merekam adegan yang akan berlangsung, dan mengatakan hanya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya tanpa ada maksud menyebarkannya. Aku mengiyakannya saja karena sudah sibuk dengan Melati dan Mawar.<br />
Pada saat itu Melati menciumiku dengan ganasnya dan Mawar mulai menyupang leherku. Tanganku segera beraksi, aku menggerayangi seluruh tubuh mereka berdua, terasa olehku kulit mereka yang halus di paha mereka. Pelan-pelan aku mulai membuka kemeja Melati dan mulai meremas kedua payudaranya di balik BH birunya. Terasa olehku payudaranya yang halus dan empuk, lalu aku mulai memuntir putingnya. Setelah itu aku juga membuka kemeja Mawar dan meremas payudaranya seperti halnya pada Melati. Aku juga mulai menjilat payudara mereka secara bergantian dan menghisapnya tanpa membuka BH mereka.<br />
“Ahhh… ahhh…” mereka berdua mulai mendesah saat puting mereka kuhisap.<br />
“Isep terus Den toked gue!” kata Melati.<br />
Mawar pun memohon hal yang sama kepadaku, dan aku semakin bersemangat menghisap puting mereka.<br />
Melati mulai membuka kemeja yang aku kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga aku benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut sampai akhirnya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan.<br />
“Ahhh,” aku mulai mendesah karena kenikmatan yang tiada tara.<br />
Aku menyuruh mereka berdua berhenti. Aku segera meraih tangan Melati dan membuatnya telentang di atas ranjang. Kubuka BH-nya dan mulai kulahap kedua putingnya, aku juga mulai membuka roknya dan celana dalamnya, tampak olehku vaginanya yang kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku buat kakinya mengangkang sehingga terllihat lebih jelas, aku pun langsung menjilati liang kemaluannya dengan ganasnya.<br />
“Ahhh… ahhh…” tubuh Melati gemetar dan ia menjepit kepalaku di antara kedua pahanya dan… “Ahhh, ahhh…” keluarlah cairan dari liang kemaluannya dan ia mengalami orgasmenya yang pertama.<br />
Aku kembali mencium bibirnya dengan ganas dan melahap kedua putingnya, sambil aku gesek-gesekkan batang kemaluanku di atas liang kemaluannya, “Ahhh, Ahhh…” tubuh Melati mulai kembali menegang.<br />
“Den Ayo masukin batang kemaluan loe, gue udah nggak tahan,” aku mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan memasukkannya pelan-pelan, aku keluar-masukkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya, “Blessss,” dan “Ackhhh… Akchhhh…” Melati berteriak keras sekali karena kesakitan.<br />
Kudiamkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya sebentar dan mulai aku goyangkan pelan-pelan.<br />
Lama-lama Melati mulai tampak nikmat sambil terus mendesah, “Ahhh… Ahhh…”<br />
Aku pun berganti gaya dengan Melati di atas, tanpa disuruh Melati mulai memompa naik-turun batang kemaluanku dengan semangat, aku pun menggerakkan pantatku naik-turun sehingga terdengar bunyi “Cleb.. cleb…” yang cukup keras pada saat batang kemaluanku masuk ke liang kemaluannya dengan full-nya.<br />
“Ahhh, ahh, ahhh…” Melati mendesah-desah sambil tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.<br />
Sekitar 7 menit kemudian Melati kembali meminta posisi kembali di bawah. Aku menyetubuhinya dengan sangat bernafsu, dan sektar 6 menit kemudian, “Ahhhhh, ahhhh… gue mau keluar Den…”<br />
“Tahan sedikit! gue juga…” kataku.<br />
Kupercepat gerakanku dan akhirnya,“Akhhh… ahhh…”<br />
Melati keluar duluan, dan tidak lama kemudian aku semakin mempercepat gerakanku, aku bertanya,<br />
“Mel, mau di luar apa di dalem?”<br />
“Di dalem aja,” jawabnya.<br />
Dan, “Crott… crott…” aku ejakulasi di dalam liang kemaluannya.<br />
Aku berpelukkan sesaat dengan Melati dan melap keringat di sekujur tubuhnya dengan tanganku, Melati tampak sangat kelelahan. Tapi tiba-tiba Mawar membuatku telentang di atas ranjang, dengan ganasnya ia mulai membersihkan sisa sperma yang ada di ujung batang kemaluanku, dan terus menghisapnya dengan ganasnya. Tak lama kemudian batang kemaluanku kembali bangun dan siap tempur, staminaku tiba-tiba kembali pulih dan nafsuku kembali menggebu. Aku segera meremas pantat Mawar dan menelanjangi dia, sekitar 7 menit aku habiskan untuk merangsang dia, dengan cara menghisap payudaranya dan meremas-remasnya, aku juga menjilat klitorisnya. Terlihat dari wajahnya dia sangat menikmatinya dan sesekali mendesah karena foreplay yang kulakukan.<br />
“Masukkin ****** loe dong Den! masa cuman bigini aja, gue udah nggak tahan…”<br />
Aku menyuruhnya berpegangan ke pinggir tempat tidur dengan posisi seperti mau merangkak. Aku mau melakukan doggy style. Dia melakukannya dengan cepat, dan terlihat dua bongkah pantat yang mulus.<br />
Aku melap keringat yang ada di kedua pantat tersebut dan meremas-remasnya. Aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, dan aku masukkan sedikit, aku pegang dengan kuat kedua pahanya, dan secara tiba-tiba “Bless…” aku memasukkannya secara mendadak dan langsung seluruhnya, “Akhhh… akhhh…” Mawar berteriak dengan sangat keras karena selaput daranya robek mendadak. Ia meronta-ronta tetapi batang kemaluanku tetap di dalam liang kemaluannya, karena pahanya telah aku tahan dengan kuat. Tidak lama kemudian Mawar mulai tenang, dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur secara pelan-pelan. Tak beberapa lama kemudian tampak Mawar mulai menikmatinya, aku pun semakin mempercepat gerakanku.<br />
“Ahhh, ahhh, ahhh…” Mawar mulai mendesah nikmat, tampak olehku dari kaca besar di dinding bahwa wajahnya mulai menikmati batang kemaluanku.<br />
Aku juga melihat adegan yang sering kulihat di film-film porno dari kaca besar tersebut.<br />
Semakin lama aku semakin mempercepat gerakkan maju-mundurku, dan Mawar pun mulai merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur berlawanan arah dengan apa yang aku lakukan, sehingga batang kemaluanku keluar-masuk dengan cepat dan sangat keras, “Blesss, blesss…” aku dan Mawar sangat menikmatinya. Setelah melakukan doggy style selama kurang lebih sepuluh menit, aku mengganti gaya. Mawar tiduran menghadap ke samping sementara aku berlutut dan meletakkan paha kiri Mawar di atas pahaku sehingga Mawar dapat melihat keluar-masuknya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya.<br />
“Ahhh, ahh, ahhh,” Mawar terus mendesah selama aku setubuhi.<br />
Tidak lama kemudian, “Ahhh,” Mawar mengalami orgasmenya yang pertama, “Ahhh,” ia terus mendesah, terasa cairan hangat mengalir dari liang kemaluannya sehingga memperlicin gerakan batang kemaluanku. Aku terus menyetubuhinya.<br />
Mawar meminta untuk berganti gaya dengan gaya konvensional, yakni dengan ia berada di bawah. Aku menurutinya dan terus menyetubuhinya. Sekitar 4 menit kemudian,<br />
“Ahhhh, ahhhh… Den gue udah mau keluar lagi…”<br />
“Tahan sebentar! gue juga,” kataku.<br />
Kupercepat gerakanku dan, “Ahh, ahhh…” aku ejakulasi di dalam liang kemaluan Mawar, dan Mawar pun mengalami orgasmenya secara bersamaan.<br />
“Ahhh, ahhh…” Mawar mendesah panjang, dan aku pun mengeluarkan batang kemaluanku.<br />
Tapi Rani yang sejak tadi diam langsung menghisap batang kemaluanku dan membuka bajunya. Setelah agak lama aku kembali “on”, aku kembali bernafsu dan menelanjangi Rani dengan ganasnya. Kuhisap payudaranya dengan ganas dan kugigit lehernya sampai tampak merah-merah. Tanpa membuang waktu aku langsung memasukkan batang kemaluanku dan mulai menyetubuhinya dengan kedua pahanya di atas kedua pundakku.<br />
“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah dan terasa olehku liang kemaluannya sudah basah, mungkin ia dari tadi sudah terangsang.<br />
Rupanya kamera yang tadi ia pegang telah diambil alih oleh Melati untuk merekam semua kegiatan kami berdua.<br />
Setelah 6 menit menyetubuhi Rani, aku mengganti gaya, kusuruh Rani berpegangan di kusen pintu dan melingkarkan kedua kakinya di pingggangku. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya dan mulai menyetubuhinya kembali.<br />
“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah, sementara itu aku menopang punggungnya dengan kedua tanganku dan menghisap kedua paayudaranya selama menyetubuhinya.<br />
“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah, dan setelah menyetubuhinya selama 15 menit, “Den, gue mau keluar,” dan… “Ahhh, ahhh,” Rani mendesah panjang dan mengeluarkan cairan kewanitaannya dari dalam liang kemaluannya.<br />
Ia tidak sanggup meneruskan gaya tersebut, ia memilih melakukan doggy style.<br />
Setelah 5 menit melakukannya, ia kembali mengalami orgasme yang kedua, sementara aku terus menggenjotnya. Tidak lama kemudian aku juga mau keluar,“Ran, mao dimana?” tanyaku.<br />
“Di mulut gue saja!”<br />
Ia langsung menghisap batang kemaluanku sambil mengurut-ngurut batang kemaluanku dengan jarinya dan “Ahhh…” aku keluarkan semua spermaku di mulutnya dan ia menelan seluruhnya. Ia terus menghisap batang kemaluanku hingga bersih dari sisa sperma.<br />
Kami semua kelelahan dan tertidur sebentar. Saat bangun, aku kembali bernafsu karena melihat 3 tubuh seksi tergeletak. Aku mulai kembali merangsang mereka dan mereka juga mulai merangsang diriku. Tubuh mereka kembali menegang dan aku pun mulai tambah bernafsu. Mereka bertiga berposisi seperti akan malakukan doggy style. Rani berada paling depan, Mawar di belakangnya, dan Melati berada di belakang mawar, sedangkan aku berada paling belakang dan mulai menyetubuhi Melati dari belakang, sedangkan Melati menjilat liang kemaluan Mawar, dan Mawar menjilat liang kemaluan Rani, sehingga semua dapat menikmati kenikmatan duniawi.<br />
“Ahhh, ahhhh,” terdengar mereka bertiga mendesah dan suara batang kemaluanku ketika memesuki liang kemaluan Melati yang basah.<br />
Sekitar 10 menit kemudian Rani mengalami orgasme disusul dengan Mawar. Tinggallah aku dan Melati meneruskan permainan kami.<br />
Tapi tak lama kemudian, “Ahhh, ahhh,” Melati pun mengalami orgasme, ia merasa kesakitan pada liang kemaluannya.<br />
Tapi karena aku berum mengalami ejakulasi, Mawar berinisiatif dengan menggosokkan kedua payudaranya dengan baby oil sehingga tampak mengkilat batang kemaluanku dijepit di tengah kedua payudaranya dan aku bergerak maju-mundur dengan cepatnya.<br />
Sekitar 5 menit aku mau mengeluarkan spermaku dan, “Crott… crottt…” spermaku keluar di wajah Mawar tapi Rani segera memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan menelan seluruh spermaku walau agak terlambat karena sudah ada yang mengenai wajah dan rambut Mawar.<br />
Malam itu kami menginap di villa itu, pada pagi harinya kami melakukannya lagi sampai 6 kali. Sungguh pengalaman ini sangat mengesankan dan terkadang sampai sekarang kami masih sering meneruskannya, walaupun berganti orang.</p>
<p>Sampai pada cerita selanjutnya yang lebih seru dan pasti lebih membuat anda kembali ke website kami, denganc erita-cerita hot dan artis bugil yang terbaru dari kiriman teman yang menjadi pelaku <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> dalam cerita-cerita seks yang kami berikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cheerleader/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta dengan cewek india</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cewek-india/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cewek-india/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[cewek india]]></category>
		<category><![CDATA[cewek keturunan india]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan cewek india]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot cewek india]]></category>
		<category><![CDATA[ngeseks dengan cewek india]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Pernah nonton film india? jika pernah anda pasti ngebayangin bagaimana rasanya bisa bercinta dengan cewek india. sudah toket gede, selain itu goyangannya aduhai, pasti bikin puas di ranjang. untuk pergi ke india tentu terlalu mahal hanya untuk Ml, nah bagaimana menyiasati agar bisa ngentot cewek india? berikut adalah cerita dari seorang pemuda yang memiliki pengalaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah nonton film india? jika pernah anda pasti ngebayangin bagaimana rasanya bisa <a href="http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cewek-india/">bercinta dengan cewek india</a>. sudah <a href="http://cerita.modelperawan.com/payudara-indah/">toket gede</a>, selain itu goyangannya aduhai, pasti bikin puas di ranjang. untuk pergi ke india tentu terlalu mahal hanya untuk Ml, nah bagaimana menyiasati agar bisa ngentot cewek india? berikut adalah cerita dari seorang pemuda yang memiliki pengalaman ngeseks dengan cewek india.</p>
<p><img title="Cewek India" src="http://www.rmblitz.com/images/infotaint/normal/590106-12410913122007@RAI.jpg" alt="Cewek India Bugil, foto cewek India, foto cewek india bugil" width="170" height="220" /><br />
Gw cowo umur 20thn,gw kuliah di salah satu perguruan tinggi di jakarta,dan gw ber dua dengan teman gw ngontrak rumah deket kampus diseberang rumah kontrakan gw tinggal keluarga keturunan india yang baru pindah kira2 1bulan, bapaknya keturunan india sedangkan nyokapnya orang sunda, mereka punya 1 anak yang masi kelas 3 sma cantik bgt, bodynya montok ,kulitnya putih- kecoklatan,dan rambutnya pendek. namanya wiwit. awal kenalan dengan wiwit gara2 gw maen basket tiap hari minggu dilapangan kompleks perumahan tempat kita tinggal, setiap selesai maen basket wiwit terlihat tambah cantik bagi gw dengan baju ketat yang dibasahi sama keringatnya sungguh menggairahkan bgt buat gw. singkat cerita sekitar 1 bulan akhirnya gw jadian sama wiwit, tapi tanpa sepengetahuan ortu wiwit , karena wiwit dilarang pacaran sebelum lulus sma, kalao mau pergi nge-date gw selalu nuggu wiwit di depan gerbang kompleks karena takut ketauan sama ortu wiwit.</p>
<p>Setelah pacaran selama kurang lebih 2 bulan, pada satu<span id="more-196"></span> hari ortu wiwit berangkat ke surabaya karena paman wiwit mengalami kecelakaan.<br />
dirumah,wiwit hanya tinggal dengan pembantunya saja. karena ortu wiwit keluar kota jadi gw bisa dengan tenang menagajak wiwit main ke kontrakan gw.setiap wiwit datang kekontrakan gw selalu minta pengertian sama temen kontrakan gw untuk pergi keluar rumah.karena cuma ber 2 dengan wiwit dikontrakan gw bisa leluasa bermesra2an dengan wiwit,terkadang sekali2 gw menciumi bibir wiwit yang mungil. waktu itu hari sabtu sekitar pukul 1.30 siang, temen gw pergi dengan pacarnya dan gw telp wiwit agar datang ke kontrakan gw, waktu itu gw sedang nonton acara happy song di indosiar, ga berapa lama wiwit datang menggunakan baju ketat dan celana jeans yang pendek bgt.</p>
<p>akhirnya kita duduk disofa sambil bermesra2an dan nonton happy song, ketika iklan gw tawarin wiwit untuk nonton dvd dan gw memang punya beberapa dvd porno, mau nonton film apa yang? tanya wiwit dan gw jawab film laga padahal yang gw masukin dvd porno korea, tanpa menunggu jawaban wiwit langsung aja gw stel dvd tersebut. begitu muncul filmya wiwit langsung mecubit perut gw dan bilang &#8221; kamu boong yang, katanya film laga kok taunya film ginian&#8221; gw tersenyum dan gw jawab aja ini juga film laga kok, tapi tempatnya beda ini film laga di ranjang.</p>
<p>wiwit mencibir bibirnya dan bilang kamu nakal ya yang, walaupun begitu wiwit tetap duduk disofa sambil nonton adegan sex di tv. setelah adegan sang cowo menjilati MQ sang cw korea langsung aja gw pegang tangan wiwit dan gw tanya, yang kamu pernah nonton film ginian dan wiwit hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandagannya dari tv, gw remas2 tangannya dan akhirnya gw jilatin bibir wiwit yang imut, pertama wiwit menolak karena dia bilang takut, gw terus menciumi bibirnya sambil merayu wiwit, akhirnya lama kelamaan wiwit juga menggerakan bibirnya dan kita saling mengulum bibir, sambil mengulum bibir wiwit gw raba2 perutnya dan dia tidak memberikan reaksi apa2, langsung aja gw remas toketnya yang sekel bgt, nafas wiwit makin berat dan gw perlahan2 membuka kaos ketat yang dipakai wiwit, setelah koas terbuka betapa indahnya gw liat tokot wiwit yang menyembul dari BH nya gw jilatin toketnya dan wiwitpun mendesah, sambil menjilat tokotnya gw pelan2 membuka kaitan BH wiwit, setelah terbuka gw semakin konak karena baru kali ini gw melihat langsung toket cw secara langsung.</p>
<p>gw jilati puting wiwit yang berwarna kecoklatan dan desahan wiwit pun semakin menjadi2, gw buka semua pakaian gw dan gw telanjang bulat, wiwit pun cuma terdiam memandang kontol gw yang sudah sangat tegang, aku baru kali ini liat punya cowo secara langsung yang kata wiwit, dan gw juga bilang kalo baru kali ini juga gw liat dan jilat2 toket cw, wiwit hanya tersenyum. dan gw bilang buka juga dong celana kamu biar adil, gw kan juga pengen liat punya kamu yang, dengan gayanya yang sangat manja wiwit bilang, kamu buka aja sendiri kan kamu yang pengen liat, tanpa menunggu lama lagi langsung aja gw berlutut dibawah sofa sambil menghadap ke selangkangan wiwit, gw buka celana jeansnya dan celana dalam wiwit sudah basah, kamu udah kepengen ya wit, tuh cd kamu basah.. ih kamu nakal bgt d jawab wiwit, suara wiwit yang manja semakin membuat gw konak, langsung aja gw pelorotin cd nya dan gw jiatin memek wiwit,sambil gw raba2 clitnya, baru sekitar 1 menit wiwit udah mendesah desah dan teriak&#8230; yangggg terus yangggg enak bangett&#8230;. gw percepat jilatan gw dan gw raba2 terus clit wiwit yang udah nonjol.. akhirnya wiwit teriak ahhh&#8230;. yanggg geli bangettt nih dan MQ wiwit ngeluarin cairan dan daging MQ nya bergerak ndut2an.. setelah itu gw ajak wiwit ke kamar gw gw gendong wiwit dalam keadaan sama2 telanjang bulat, enak banget tadi yang kata wiwit, dan gw bilang masi ada yang lebih enak lagi yang.. makanya aku ajak kamu ke kamar biar kita lebih leluasa, sampai di kamar gw rebahin tubuh mulus wiwit dan gw kembali cium bibir imutnya sambil gw remas2 toket nya, gw minta wiwit untuk mengulum kontol gw tapi wiwit menolak karena katanya ga berani, langsung aja gw pegang tangan wiwit dan gw arahin ke kontol gw, kalo kamu ga mau pake mulut kamu kocok ajapake tangan ya wit, gw pengen bgt ngerasain di kocok sama kamu, sekitar 30 detik wiwit mengocok kontol gw, gw udah konak abis, wit.. masukin ya ke punya kamu, enak kok rasanya..</p>
<p>wiwit menganggukan kepalanya sambil bilang pelan2 ya yang aku takut, gw arahin kontol gw ke MQ nya rasanya sempit bgt baru masuk 1/2 wiwit sudah merintih kesakitan, sakit yang.. kamu tahan aja nanti sakitnya ilang kok malahan sakitnya jadi rasa geli seperti yang kamu rasaain di luar tadi kok rayu gw. akhirnya gw berhasil memasukan semua kontol gw ke dalam MQ wiwit, wiwit menjerit dan teriak.. sakit yang&#8230; gw diemin kontol gw didalam MQ wiwit dan gw mencium cium bibir dan toket wiwit, setelah beberapa menit merangsang toket dan mengulum bibir wiwit, akhirnya nafas wiwit kembali terasa berat dan sekali2 wiwit mendesah, pelan2 gw kocok lagi kontol gw didalem MQ wiwit, gw percepat maju mundur kontol gw dan wiwit pun semakin mendesah2 sambil meraba2 clitnya sendiri, sekitar 3 menit gw memompa wiwit, wiwit mendesah.. yanggg&#8230; geliiiiiiiii bgtttttt, aku mau pipis yanggg&#8230;. dan kontol gw didalem MQ wiwit terasa seperti tersiram cairan hangat, gw yakin wiwit orgasme, gw cabut kontol gw dari MQ wiwit dan gw lihat ada darah di kontol gw, dan gw bilang enak kan yang.. iya enak bgt, kamu mau lagi ga? wiwit cuma bilang aku cape yang.. ga apa2 kamu tiduran aja biar aku yang bikin kamu geli2 lagi,langsung gw angkat ke dua kaki wiwit dan gw letakan kaki wiwit di bahu gw,gw masukin kontol gw kedalem MQ wiwit lama kalamaan wiwit kembali mendesah dan teriak.. terus yangggg enak bgt..</p>
<p>aku sayang sama kamu yangg&#8230;. gw percepat laju kontol gw dan akhirnya gw merasa kontol gw udah mau nyembur gw makin percepat maju mundur gw dan wiwit teriak.. ahhhhh&#8230;&#8230; ahhhhh&#8230;. geliiiii yangg&#8230;. dan gw cabut kontol gw dan gw tumpahin sperma gw ke toket wiwit, gw dan wiwit tertidur di ranjang dan ketika bangun gw lihat waktu menujukan pukul 16.40. melihat wiwit yang masi berbaring gw jilatin MQ nya wiwit dan wiwit terbangun, gw cium bibir mungil wiwit dan gw ajak dia mandi bareng, dikamar mandi gw dan wiwit kembali saling berciuman bibir, dan kita melakukannya kembali di dalam bathtub, ternyata ML di bathtub lebih menyenangkan daripada di ranjang. kali ini gw berbaring di bathtub dan wiwit memasukan kontol gw ke MQ nya,wiwit bergerak naik turun dan gw konak bgt liat toketnya bergerak2 keatas dan ke bawah sambil mendesah desah ah.. ah..ahhh&#8230;gw cubit2 puting wiwit yang tegang dan sekitar 5 menitan wiwit kembali mendesah2 dan dia bilang yankkk aku mau keluar lagi yangg&#8230; kembali kontol ku terasa hangat karena cairan MQ wiwit, akhirnya kita saling membersikan badan dan keluar dari kamar mandi dengan telanjang karena pakaian gw dan wiwit tertinggal di ruang tamu<br />
setelah berpakaian wiwit balik kerumahnya. selama 4 hari ortu wiwit keluar kota gw puas bgt ML sama wiwit.. wit.. i love you very much..</p>
<p>Bagaimana ceritanya seru bukan? <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita</a> ini dikirim oleh andika yang berada di kalimantan, entah bagaimana rasanya jika kita memiliki pengalaman seperti dia, pasti seru dan asik nih, wow&#8230;wow..owwo&#8230; cerita dewasa yang bikin naik turun unyil ..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cewek-india/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tubuh Evi yang ranum</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/tubuh-evi-yang-ranum/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/tubuh-evi-yang-ranum/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 15:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[abg 15 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan abg 15 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[menikmati tubuh abg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Merasakan tubuh abg yang masih ranum menjadi khayalan banyak lelaki, orang berduit bahkan rela mengeluarkan duit jutaan untuk bisa bercinta dengan gadis usia belia, dan ternyata ada banyak lelaki beruntung yang tak perlu mengeluarkan dana untuk menikmatinya, seperti pemuda berikut ini. Ilustrasi Aku baru saja pulang kuliah. Di tempat kosku yang baru, aku selalu saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Merasakan tubuh abg yang masih ranum menjadi khayalan banyak lelaki, orang berduit bahkan rela mengeluarkan duit jutaan untuk bisa bercinta dengan gadis usia belia, dan ternyata ada banyak lelaki beruntung yang tak perlu mengeluarkan dana untuk menikmatinya, seperti pemuda berikut ini.</p>
<p><img title="ABG" src="http://1.bp.blogspot.com/_3PuizlEX2Mk/SoBeSBtKvPI/AAAAAAAACFk/f43M4WXvn8Y/s1600/intip-cewek-abg-seksi-.jpg" alt="ABG cantik, ABG Bugil, Foto ABG Bugil" width="240" height="320" /><br />
<em>Ilustrasi</em></p>
<p>Aku baru saja pulang kuliah. Di tempat kosku yang baru, aku selalu saja gerah. Kamarku yang berukuran 3,5X3 meter itu, hanya memiliki sebuah jendela, sebuah tempat tiodur, satu meja kecil tempat komputerku dan rak buku mini. Kamar kecil itulah istanaku.</p>
<p>Di sebelah kamarku, ada taman kecil yang kubuat sendiri, sekedar untuk <span id="more-180"></span>menghilangkan penat. Ada jemuran dan kutanami beberapa pohon bunga agar sedikit lebih terasa asri. Di sanalah aku menyelesaikan tugas-tugas kuliahku. Apalagi sebentar lagi aku akan memasuki Ujian Akhir Kuliah (UAS). Semoga tahun depan aku bisa menyelesaikan sarjanaku.</p>
<p>Aku tinggal kos dengan sebuah keluarga, memiliki dua orang anak. Yang sulung berusia 15 tahun laki-laki, yang nomor dua berusia 13 tahun, perempuan dan yang kecil berusia 11 tahun perempuan.</p>
<p>Aku mau menceritakan kisahku y ang sebenarnya pada Evi anak perempuan berusia 11 tahun itu. Dia duduk di kelas 5 SD. Centil dan sangat grusah-grusuh, tapi baik hati. Dia suka membawakan makanan kecil dan mau disuruh membelikan rokok serta membelikan gorengan untuk cemilan sore. Selalu saja dia mendapatkan bagian dari cemilan. itu. Saat aku tidur sore, dia suka membanguni aku, agar cepat mandi, karena sudah sore. Tak lupa setelah itu dia membawakan PR-nya untuk kami kerjakan bersama. Tentu saja aku suka, karean Evi memang anak yang baik, bersih, berkulit putih. Ayah ibunya sangat senang, karean aku suka mengajarinya menyanyi oleh vocal. Sebagai mahasiswa Fakultas Kesenian jurusan etnomusikologi, aku juga senang memainkan gitar klasikku. Terkadang dari seberangkamarku, ibu Evi suka mengikuti nyanyianku. Apalagi kalau aku memetik gitarku dengan lagu-lagu nostalgia seperti Love Sotery atau send me the pillow.</p>
<p>Sore itu, aku gerah sekali. Aku mengenakan kain sarung. Biasa itu aku lakukan untuk mengusir rasa gerah. Semua keluarga tau itu. Kali ini seperti biasanya aku mengenakan kain sarung tanpa baju seperti biasanya, hanya saja kali ini aku tidak mengenakan CD.</p>
<p>“Wandy (nama samaran)…ibu pergi dulu ya. Temani Evi, ya,” ibu kosku setengah berteriak dari ruang tamu.</p>
<p>“Ok…bu!”jawabku singkat. Aku duduk di tempat tidurku sembari membaca novel Pramoedya Ananta Toer. AKu mendengar suara pintu tertutup dan Evi menguncinya. Tak lama Evi datang ke kamarku. Dia hanya memakai minishirt. Mungkin karean gerah juga. Terlihat jelas olehku, teteknya yang mungil baru tumbuh membayang. Pentilnya yang aku rasa baru sebesar beras menyembul dari balik minishirt itu. Evi baru saja mandi. Memakai celana hotpant. Entah kenapa, tiba-tiba burungku menggeliat. Saat Evi mendekatiku, langsung dia kupeluk dan kucium pipinya. Mencium pipinya, sudah menjadi hal yang biasa. Di depan ibu dan ayahnya, aku sudah beberapa kali mencium pipinya, terkadang mencubit pipi montok putih mulus itu.</p>
<p>Evi pun kupangku. Kupeluk dengannafsu. Dia diam saja, karen tak tau apa yang bakal tejadi. Setelah puas mencium kedua pipinya, kini kucium bibirnya. Biobir bagian bawah yang tipis itu kusedot perlahan sekali dengan lembut. Evi menatapku dalam diam. Aku tersenyum dan Evi membalas senyumku. Evi berontak sat lidahku memasuki mulutnya. Tapi aku tetap mengelus-elus rambutnya.</p>
<p>“Ulurkan lidahmu, nanti kamu akan tau, betapa enaknya,” kataku berusaha menggunakan bahasa anak-anak.</p>
<p>“Ah…jijik,”katanya. Aku terus merayunya dengan lembut. Akhirnya Evi menurutinya. Aku mengulum bibirnya dengan lembut. Sebaliknya kuajari dia mkenyedot-nyedot lidahku. Sebelumnya aku mengatakan, kalau aku sudah sikat gigi.</p>
<p>“Bagaimana, enak kan?” kataku. Evi diam saja. Aku berjanji akan memberikan yang lebih nikmat lagi. Evi mengangukkan kepalanya. Dia mau yang lebih nikmat lagi. Dengan pelan kubuka minishirt-nya.</p>
<p>“Malu dong, kak?” katanya. Aku meyakinkannya, kalau kami hanya berdua di rumah dan tak akan ada yang melihat. Aku bujuk dia kalau kalau mau tau rasa enak dan nanti akan kubawa jajan. Bujukanku mengena. Perlahan kubuka minishirt-nya. Bul….buah dadanya yang baru tumbuh itu menyembul. Benar saja, pentilnya masih sebesar beras. Dengan lembut dan sangat hati-hati, kujilati teteknya itu. Lidahku bermain di pentil teteknya. Kiri dan kanan. Kulihat Evi mulai kegelian.</p>
<p>“Bagaimana…enakkan? Mau diterusin atau stop aja?” tanyaku. Evi hanya tersenyum saja.</p>
<p>Kuturunkan dia dari pangkuanku. Lalu kuminta dia bertelanjang. Mulanya dia menolak, tapi aku terus membujuknya dan akupun melepaskan kain sarungku, hingga aku lebih dulu telanjang. Perlahan kubuka celana pendeknya dan kolornya. Lalu dia kupangku lagi. Kini belahan vaginanya kurapatkan ke burungku yang sudah berdiri tegak bagai tiang bendera. Tubuhnya yang mungil menempel di tubuhku. Kami berpelukan dan bergantian menyedot bibir dan lidah. Dengan cepat sekali Evi dapat mempelajari apa yang kusarankan. Dia benar-benar menikmati jilatanku pada teteknya yang mungil itu.</p>
<p>“Evi mau lebih enak lagi enggak?” tanyaku. Lagi-lagi Evi diam. Kutidurkan dia di atas tempat tidurku. Lalu kukangkangkan kedua pahanya. Vagina mulus tanpa bulu dan bibir itu, begitu indahnya. Mulai kujilati vaginanya. Dengan lidah secara lembut kuarahkan lidahku pada klitorisnya. Naik-turun, naik-turun. Kulihat Evi memejamkan matanya.</p>
<p>“Bagaimana, nikmat?” tanyaku. Lagi-lagi Evi yang suka grusah grusuh itu diam saja. Kulanjutkan menjilati vaginanya. Aku belum sampai hati merusak perawannya. Dia harus tetap perawan, pikirku. Evi pun menggelinjang. Tiba-tiba dia minta berhenti. Saat aku memberhentikannya, dia dengan cepat berlari ke kamar mandi. Aku mendengar suara, Evi sedang kencing. AKua mengerti, kalau Evi masih kecil. Setelah dia cebok, dia kembali lagi ke kamarku.</p>
<p>Evi meminta lagi, agar teteknya dijilati. Nanti kalau sudah tetek di jilati, memek Evi jilati lagi ya Kak? katanya. Aku tersenyum. Dia sudah dapat rasa nikmat pikirku. Aku mengangguk. Setelah dia kurebahkan kembali di tempat tidur, kukangkangkan kedua pahanya. Kini burungku kugesek-gesekkan ke vaginanya. Kucari klitorisnya. Pada klitoris itulah kepala burungku kugesek-gesekkan. Aku sengaja memegang burungku, agar tak sampai merusak Evi. Sementara lidahku, terus menjilati puting teteknya. Aku merasa tak puas. Walaupun aku laki-laki, aku selalu menyediakan lotion di kamarku, kalau hari panas lotion itu mampu mengghilangkan kegerahan pada kulitku. Dengan cepat lotion itu kuolesi pada bvurungku. Lalu kuolesi pula pada vagina Evi dan selangkangannya. Kini Evi kembali kupangku.</p>
<p>Vaginanya yang sudah licin dan burungku yang sudah licin, berlaga. Kugesek-gesek. Pantatnya yang mungil kumaju-mundurkan. Tangan kananku berada di pantatnya agar mudah memaju-mundurkannya. Sebelah lagi tanganku memeluk tubuhnya. Dadanya yang ditumbuhi tetek munguil itu merapat ke perutku. Aku tertunduk untuk menjilati lehernya. Rasa licin akibat lotion membuat Evi semakin kuat memeluk leherku. Aku juga memeluknya erat. Kini bungkahan lahar mau meletus dari burungku. Dengan cepat kuarahkan kepala burungku ke lubang vaginanya. Setelah menempel dengan cepat tanganku mengocok burung yang tegang itu. Dan crooot…crooot…crooot. Spermaku keluar. Aku yakin, dia sperma itu akan muncrat di lubang vagina Evi. Kini tubuh Evi kudekap kuat. Evi membalas dekapanku. Nafasnya semakin tak teratur.</p>
<p>“Ah…kak, Evi mau pipis nih,” katanya.</p>
<p>“Pipis saja,” kataku sembari memeluknya semakin erat. Evi membalas pelukanku lebih erat lagi. Kedua kakinya menjepit pinggangku, kuat sekali. Aku membiarkannya memperlakukan aku demikian. Tak lama. Perlahan-lahan jepitan kedua aki Evi melemas. Rangkulannya pada leherku, juga melemas. Dengan kasih sayang, aku mencium pipinya. Kugendong dia ke kamar mandi. Aku tak melihat ada sperma di selangkangannya. Mungkinkah spermaku memasuki vaginanya? Aku tak perduli, karean aku tau Evi belum haid.</p>
<p>Kupakaikan pakaiannya, setelah di kamar. Aku makai kain sarungku. Mari kita bobo, kataku. Evi menganguk.</p>
<p>“Besok lagi, ya Kak,” katanya.</p>
<p>“Ya..besok lagi atau nanti. Tapi ini rahasia kita berdua ya. Tak boleh diketahui oleh siapapun juga,” kataku. Evi mengangguk. Kucium pipinya dan kami tertidur pulas di kamar.</p>
<p>Kami terbangun, setelah terdengar suara bell. Evi kubangunkan untuk membuka pintu. Mamanya pulang dengan papanya. Sedang aku pura-pura tertidur. Jantungku berdetak keras. Apakah Evi menceritakan kejadian itu kepada mamanya atau tidak. Ternyata tidak. Evi hanya bercerita, kalau dia ketiduran di sampingku yang katanya masih tertidur pulas.</p>
<p>“Sudah buat PR, tanya papanya.</p>
<p>“Sudah siap, dibantu kakak tadi,” katanya. Ternyata Evi secara refleks sudah pandai berbohong. Selamat, pikirku.</p>
<p>Setelah itu, setiap kali ada kesempatan, kami selalu bertelanjang. Jika kesempatan sempit, kami hanya cipokan saja. Aku menggendongnya lalu mencium bibirnya.<br />
Hal itu kami lakukan 16 bulan lamanya, sampai aku jadi sarjana dan aku harus mencari pekerjaan.</p>
<p>Malam perpisahan, kami melakukannya. Karena terlalu sering melaga kepala burungku ke vaginanya, ketika kukuakkan vaginanya, aku melihat selaput daranya masioh utuh. Masa depannya pasti masih baik, pikirku. Aku tak merusak vagina mungil itu.</p>
<p>Sesekali aku merindukan Evi, setelah lima tahun kejadian. AKu tak tahu sebesar apa teteknya sekarang, apakah dia ketagihan atau tidak. Kalau ketagihan, apakah perawannya sudah jebol atau tidak. Semoga saja tidak.</p>
<p>Demikian cerita yang membuat tegang seluruh tubuh, wangi gadis ranum memang tak bisa dilupakan, <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> akan kembali lagi dengan cerita-cerita seru yang membuat anda betah berlama-lama untuk online dan membaca cerita yang kami suguhkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/tubuh-evi-yang-ranum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepergok saat ML</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/kepergok-saat-ml/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/kepergok-saat-ml/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 22:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[keperawanan]]></category>
		<category><![CDATA[kepergok ML]]></category>
		<category><![CDATA[ML]]></category>
		<category><![CDATA[onani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah cerita dewasa kiriman seseorang yang merasa bersalah dan bertobat atas apa yang dia lakukan, dan apesnya semua itu terbongkar alias kepergok saat ML, nasib udah menjadi bubur tapi kenikmatan juga tak se enak bubur yang di dapatkan Saya ingin bercerita kejadian nyata yang merupakan pengalaman pahit saya, saya adalah overseas student. Saya mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah cerita dewasa kiriman seseorang yang merasa bersalah dan bertobat atas apa yang dia lakukan, dan apesnya semua itu terbongkar alias kepergok saat ML, nasib udah menjadi bubur tapi kenikmatan juga tak se enak bubur yang di dapatkan <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya ingin bercerita kejadian nyata yang merupakan pengalaman pahit saya, saya adalah overseas student. Saya mempunyai seorang teman baik orangnya itu cantik sekali tingginya kira kira 164 cm. Tubuhnya indah, rambutnya hitam panjang, kulitnya kuning langsat. Pada awalnya kami cuma berteman biasa berkenalan di sekolah. Dia lebih tua dari saya, orang bukan dari Indonesia. Dia jadi saya anggap sebagai kakak, saya tidak mempunyai kakak perempuan di rumah dan saya ingin sekali. Makin lama hubungan kami semakin dekat, saya akui saja saya ada rada-rada suka sedikit sama dia, orangnya manis sekali, hubungan kami berlangsung baik sampai pada suatu hari saya datang ke rumahnya sewaktu pulang sekolah, saya diajak masuk ke kamarnya. Saya sih tak curiga soalnya ini bukan yang pertama kali.</p>
<p>Saya diminta menunggu, katanya sih dia mau mandi dulu. Waktu itu saya menunggu sekitar 10 menit sesudah itu mendadak dia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan sehelai handuk dililitkan ke tubuhnya yang indah, terlihatlah lekuk-lekuk tubuhnya dan pahanya yang indah. Itulah yang membuat saya terangsang sekali. Dia tersenyum pada saya, saya tambah bengong, saya mohon pamit eh pas sampai di luar rumahnya, saya ada ketinggalan barang sepertinya payung saya di kamar dia, jadi saya balik lagi masuk. Sewaktu saya kembali, gila&#8230;, yang membuat saya kaget apa yang saya lihat, dia sedang tiduran di ranjangnya cuma mengenakan selembar selimut, tangannya memegang seperti <span id="more-165"></span>satu bantal kecil dielus-elusi ke dalam selangkangannya yang ditutupi selimut. Eh dia lihat saya mukanya langsung merah padam, &#8220;Loh kok kamu balik lagi&#8221;, dia tanya dengan perasaan malu tangannya menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Saya melongo tak kusangka dia mempunyai nafsu yang besar untuk bermasturbasi padahal selama ini dia di sekolah orangnya alim, sopan, pendiam dan pemalu. &#8220;Loh kok di rumah bisa begini ya?&#8221; Tak saya rasa darah kelakian saya memuncak, penis saya waktu itu tegang sekali langsung saja saya dekati ke ranjangnya. Matanya menatap saya dengan pandangan kosong, bibir manisnya itu terbuka sedikit kaget. Saya langsung peluk dia, langsung saya embat mulutnya. Saya sudah berada di atas tubuhnya, dia sepertinya diam saja, langsung tangan saya meraba selimut itu lalu melemparkannya ke lantai. Mukanya langsung merah sekali, tangan saya memeluk pinggangnya yang ramping, mulut saya menciumi lehernya, saya remas juga payudaranya. Dia langsung serba salah tapi sepertinya terangsang juga dia memeluk saya, dia peluk saya lalu juga kami berdua dalam posisi duduk berpelukan di atas ranjang. Dia langsung menekan saya, tangannya meraba penis saya yang mengeras lalu di usap-usap.</p>
<p>Saya tidak tahan langsung buka baju seragam saya sampai polos. Dia langsung saya terjang, kakinya saya buka lebar. Saya mengincar vaginanya yang bulunya sangat indah. Saya lihat vaginanya yang perawan itu baunya bikin orang tambah nafsu. Saya jilati sampai habis. Dia cuma berkejap-kejap sambil mengeluarkan suara memelas. Saya tidak peduli langsung saja merasakan vaginanya sudah basah. Saya langsung arahkan penis saya ke vaginanya dia langsung teriak, &#8220;Please don&#8217;t!&#8221;, sembari tangannya menutupi lubang kewanitaannya tapi saya paksa, saya tepis tangannya, dia tak bisa melawan sudah terlalu terangsang. Saya tekan penis saya, bless masuknya susah juga tapi sudah masuk juga penis saya tak terlalu besar, sempit sekalii! maklum perawan. Dia menjerit kesakitan lama kelamaan jeritan itu menjadi desahan nikmat, saya majukan penis saya maju mundur. Posisi dia dalam keadaan duduk dan kaki terbuka lebar. Tangan saya mengincar pinggangnya dan saya peluk erat-erat, kakinya dilingkarkan ke pantat saya. Penis saya sudah maju mundur, tak lama kemudian saya merasakan surga di langit, &#8220;aahh ahh&#8221;, sepertinya ada cairan yang ingin mengalir keluar, Dia mendesah keras sekali seperti sudah orgasme, juga saya rasakan cairan yang keluar dari penis saya, &#8220;Sret.. sret&#8221;, banyak sekali di dalam vaginanya. Dia langsung memegang penis saya pakai tangannya langsung ditarik keluar. Penis saya penuh dengan bercak-bercak darah dan sperma, saya kaget sekali dengan perasaan takut, dia merasakan perih di vaginanya, maklum saya tidak berpengalaman, ini pertama kalinya saya sanggama.</p>
<p>Dia menangis seraya menyesali semua ini, dia berkata bahwa saya gila merenggut keperawanannya. Dia langsung menjelaskan dengan pilu bahwa dia sering melakukan onani karena dia hanya ingin memuaskan nafsu seks-nya terhadap dirinya sendiri, dia tidak menginginkan berhubungan seks terhadap laki-laki sebelum nikah, bagaimana jika orang tuanya tahu soal ini? Asap memang tak bisa dibungkus, pintu yang tak terkunci itu dimasuki seseorang yang tak lain adalah ibunya sendiri masuk ke kamarnya, langsung ibunya menampar wajah putrinya, saya takut sekali, waktu itu kami sudah berpakaian. Ibunya langsung menyemprot anaknya dengan bahasa cantonese yang saya tak mengerti. Saya merasa pilu sekali, dengan matanya yang berkaca-kaca dia memberikan isyarat pada saya supaya saya buru-buru lari pulang. Sewaktu saya sampai pintu depan, saya mendengar bunyi gamparan berkali-kali. Keluarganya tak mau mengungkit-ungkit masalah ini lagi dan dia tak memberitahukan siapa yang telah memperkosanya.</p>
<p>Waktu cepat berlalu, dia pindah sekolah untuk menghindari tabu kita sudah kehilangan kontak dan kurasa dia juga benci pada saya, kejadian itu sudah berlangsung lama tapi tetap mengenang di hati saya, saya tahu sekarang dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Mudah baginya untuk mendapatkan pacar tapi tak mungkin dia mendapatkan keperawannya kembali. Oh, Tuhan, umatmu yang berdosa ini, tolong maafkan nafsu khilafku ini, saya sangat menyesal.</p>
<p>Sekian&#8230; <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> yang bikin kita kembali berfikir untuk tak main-main dalam masalah keperawanan seseorang, masih banyak ada kisah yang mungkin mereka merasa sedih karena hilang keperawanan nya. dan anda bisa belajar dari cerita dewasa ini. semoga bermanfaat bagi kita semua&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/kepergok-saat-ml/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

