<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa &#187; Sedarah</title>
	<atom:link href="http://cerita.modelperawan.com/category/sedarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.modelperawan.com</link>
	<description>Cerita seks terlengkap dan cerita dewasa terbaru</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 02:37:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Tante Ngentot Keponakan</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/tante-ngentot-keponakan/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/tante-ngentot-keponakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 18:21:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[keponakanku perkasa]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot keponakan sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[tante bercinta dengan keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[tanteku binal]]></category>
		<category><![CDATA[tanteku tante girang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Cerita seks selalu saja ada yang baru, setelah sebelumnya cerita seks sesama jenis atau cerita seorang gay kami publish, kali ini kami berikan cerita seks seorang tante yang bercinta dengan keponakannya sendiri, bagaimana cerita dewasa ini di mulai? apakah cerita seks sedarah ini menjadi kontroversi keluarga mereka? berikut lengkapnya : Tante ku menyetubuhiku. Hari itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita seks selalu saja ada yang baru, setelah sebelumnya cerita seks sesama jenis atau <a href="http://cerita.modelperawan.com/cerita-seks-seorang-gay/">cerita seorang gay</a> kami publish, kali ini kami berikan cerita seks seorang tante yang bercinta dengan keponakannya sendiri, bagaimana cerita dewasa ini di mulai? apakah cerita seks sedarah ini menjadi kontroversi keluarga mereka? berikut lengkapnya : <strong>Tante ku menyetubuhiku.</strong></p>
<p>Hari itu aku pulang agak cepat karena ada beberapa klien yang mengubah jadwal appointmentnya, aku turun didepan pagar danmeminta Pak Supir untuk langsung menuju kantor suamiku, toh aku tidak ada rencana pergi lagi hari ini.</p>
<p>Suasana rumah terasa sepi, aku melirik jam tanganku, pantas…baru<span id="more-91"></span> pukul dua lewat sekarang ini, masih siang dan kedua anak – anakku belum pulang dari sekolah, yang bungsu sekarang sudah SMP kelas 1 dan kakaknya SMP kelas 3, kuingat mereka mengatakan siang ini ada Eskul sehingga pulang agak sore.</p>
<p>Saat melewati kamar di lantai bawah, aku tercekat…kudengar suara nafas yang agak memburu dan desah tertahan…dan semakin jelas ketika aku mendekat, kulihat pintu kamar tidak tertutup rapat dan ada sedikit celah yang memungkinkan aku bias melihat isi kamar dari pantulan cermin yang terletak berserangan dengan letak pintu, dan kini aku yang terhenyak.<br />
Suatu perasaan ‘menggelitik’ mulai menerpaku…turun ke kebawah ke antara kedua kaki ku…aku tahu kalau kemaluanku mulai melembab menyaksikan pemandangan itu.</p>
<p>Dari pantulan cermin kulihat Dino, keponakan suamiku telentang diatas ranjang, telanjang dan tangannya sedang menggenggam kemaluannya, bergerak teratur naik turun, tentu saja aku tahu kalau pemuda itu sedang bermasturbasi, namun yang membuatku terpana adalah kemaluannya itu…, besar dan panjang…sekilas terlihat kalau genggaman tangan pemuda itu sama sekali tak menutupi kepala kemaluannya yang Nampak merah dan berkilauan.</p>
<p>Dino masih mendesah perlahan dan tiba tiba ia mempercepat gerakan tangannya lalau tubuhnya mengejang dan dari kepala kemaluannya keluar dengan semprotan yang cukup keras melambung keudara dan cairan itu mendarat didadanya, beberapa kali kepala kemaluan itu Nampak menyemprotkan cairan dan akhirnya dengan lesu tangan pemuda berusia 20 tahun itu mengendur dan menggapai tissue di meja sisi ranjang</p>
<p>Aku yang sempat terpana segera sadar dan cepat cepat menuju kamarku, kalau saja sampai terlihat, aku…tantenya menontonnya bermartubasi wah……………</p>
<p>Ketika aku mengganti pakaian dengan baju santai.. aku baru menyadari kalau celana dalamku ternyata sangat basah……………</p>
<p>Tanganku sudah menyelinap kedalam celana dalam yang kukenakan.. dan jari-jariku memainkan clitorisku.., aku semakin basah…dan pikiranku semakin menerawang membayangkan kemaluan muda yang besar dan kekar itu………, dan akhirnya….dengan lenguhan dan desah tertahan aku mencapai orgasme ku…ah…tapi tak senikmat yang kuinginkan.</p>
<p>Perkawinanku sudah menginjak tahun kelima belas, aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak bahagia, suamiku baik, perhatian, dengan 2 anak yang sehat dan memenuhi harapan setiap orang tua, namun aku juga tidak bias mengatakn kalau aku puas dengan kehidupan sexku.</p>
<p>Suamiku selain sibuk juga hanya menjadikan sex sebagai pemenuhan kewajiban, memang setiap kali kami berhubungan sex aku bias terpuaskan, namun frekuensi yang jarang, kadang belum tentu seminggu sekali sesungguhnya jauh dari yang sesungguhnya kuharapkan.</p>
<p>Untunglah aku juga memiliki kesibukan, sebagai beauty consultan sebuah perusahaan kosmetik terkemuka aku memiliki jadwal yang cukup padat, namun berselingkuh sungguh sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiranku.</p>
<p>Sambil rebah aku terus menerawang ………pada awalnya aku agak keberatan ketika suamiku menyampaikan bahwa Dino keponakannya yang hendak melanjutkan kuliah di kota kami untuk sementara akan tinggal di rumah kami sampai mendapatkan tempat kost yang sesuai.<br />
Aku merasa bahwa kehadiran orang lain akan mengganggu privacy kami yang selama ini tenang, di rumah kami hanya berempat, aku, suamiku dan kedua anakku yang masih SD dan SMP, serta seorang pembantu yang sudah lama ikut kami.</p>
<p>“Pikirkanlah ma…” kata suamiku ketika untuk kesekian kalinya menanyakan jawabanku,<br />
“Dulu papa sempat dibantu oleh Tante Ina, ibunya Dino ketika kuliah dan almarhum Oom Broto masih hidup, Papa pikir paling tidak bisalah membalas budi baik mereka dulu, dan Papa dengar dino itu anak yang baik, sopan dan malah bias membantu Andre dan Tony dengan pelajaran mereka kan ?” suamiku mencoba meyakinkanku.</p>
<p>Aku mengalah dan berpikir tidak ada salahnya mencoba lagi pula kami masih ada kamar kosong dilantai bawah.</p>
<p>Ketika Dino datang aku cukup senang karena pemuda yang kecilnya kurus itu kini telah menjelma menjadi pemuda yang tinggi, kekar, lumayan ganteng dan memiliki sikap yang sopan, pun setelah dia tinggal dirumah kami pemuda itu tetap sangat sopan dan ringan tangan, membantu semua yang bisa dikerjakannya, anak anak pun senang karena dengan senang hati Dino membantu pelajaran mereka.</p>
<p>Selama beberapa bulan ini tanpa terasa Dino sudah menjadi bagian dari keluarga kami, dan aku tidak pernah sebelumnya memandang Dino sebagai seorang lelaki.</p>
<p>Namun kejadian tadi secara total mengubah pandanganku………………</p>
<p>Rasa penasaran yang sedemikian besar mebuatku ingin mengetahui lebih jauh tentang pemuda itu, aku keluar dari kamar dan menuruni tangga sambil memanggilnya.</p>
<p>“Din…Dino…sibuk ?” tanyaku ketika aku melihatnya<br />
“Nggak tante…ada yang bisa dibantu?” tanyanya dengan sopan, pemuda itu sudah keluar dari kamarnya, dan tentu saja sudah mengenakan jeans dan kaos yang mencetak tubuh kekarnya.<br />
“Tante lapar… boleh nggak tolongin tante beliin nasi bungkus di restoran padang?, kalau nyuruh si bibik nanti lama, kamu kan naik motor pasti lebih cepat, beli 2 bungkus ya.. kamu temenin tante makan” kataku lagi.<br />
“Baik tante” jawabnya dan setelah menerima uang yang aku berikan ia melesat pergi</p>
<p>Setelah suara deru motornya terdengar menjauh aku bergegas ke kamarnya, masih kutemukan tissue yang telah teremas dan tergeletak dimeja disamping tempat tidurnya, dan kulihat kalau laptopnya masih dalam keadaan menyala.<br />
Dengan cepat aku mencoba melihat isi computer pemuda itu dan sungguh terperanjat aku melihat di my picture foto foto ku terpampang disana.</p>
<p>Foto foto itu adalah foto-foto yang dibuat saat kami rekreasi, makan di restoran dan segudang kegiatan lain, namun sudah di cropping dan tertinggal hanya diriku seorang, semua diberi nama dengan awalan ‘<a href="http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/">tanteku yang cantik</a>’</p>
<p>Aku tidak berani terlalu lama membongkar data data yang ada karena selain tidak terlalu mahir, juga agak schok dengan kenyataan yang ada…Dino..? …Menilaiku cantik ..?</p>
<p>“Tumben kamu dirumah, nggak ada kegiatan hari ini ?” tanyaku sambil menikmati nasi bungkus yang tadi dibeli.<br />
“Nggak Tante.. hari ini kebetulan jadwal kuliah kosong” jawab Dino<br />
“Kok nggak ke pacar kamu?” tanyaku lagi sambil menjangkau gelas minum<br />
“Wah..nggak punya Tante, selain nggak ada yang mau juga Dino mau cepet cepet selesai kuliah” katanya dengan wajah memerah.<br />
“Nggak ada yang mau ?..mana mungkin ..kamu tuh ganteng lho.., kamu ‘kali yang nolak terus” kataku lagi.<br />
“Iya ..Tante, nggak ada yang mau..” wajah anak muda itu semakin memerah.<br />
“Ok.. deh..” kataku setelah meneguk minumanku, “Tante mau istirahat dulu ya…, mumpung pas bias pulang siang…” kataku sambil meninggalkan ruang makan menuju kamar dan sambil berjalan aku merasa betapa mata anak muda mengawasi ayunan pinggulku saat berjalan.</p>
<p>Hampir aku terlelap ketika suara ramai menggetarkan gendang telingaku…dan anak anakku menerobos masuk kamar, mengucapkan salam dan bergantian mengecup pipiku, pikiran dan perhatiankupun kini kembali ke dunia ‘nyata’ dan kesibukan sebagai Ibu rumah tangga berlangsung seperti biasa.</p>
<p>“Aduh Pa..Mama nggak bisa, besok ada presentasi dan seminar penting, dan Mama harus menyajikan materi yang telah disiapkan team dihadapan para audience” jawabku ketika suamiku memintaku untuk menemaninya menengok kebun kami di daerah pegunungan.<br />
“Tapi kan besok hari Sabtu..izin sajalah, kasihan anak – anak, Papa sudah janji sama mereka” kata suamiku lagi.<br />
“Habis Papa sih.. bikin rencana nggak ngomong dulu.., nggak mungkin Mama membatalkan begitu saja, siapa yang bisa menggantikan ?, ajak Dino juga biar ada yang bantu papa jaga anak – anak” jawabku lagi.<br />
“Hmm.. sudah kuajak, tapi besok dia ada ujian katanya” suamiku menjawab.<br />
“Ok..lah, tapi si Bibik dibawa ya Ma, biar dia bantu mengawasi anak – anak, soalnya Mang Abdul penjaga kebun kita sudah wanti-wanti kalau masalah pagar disana sudah mendesak..nanti kalau ada yang nyerobot jadi repot” suamiku akhirnya mengalah.</p>
<p>“Boleh, ajak aja si Bibik, Mama juga akan lebih tenang..”jawabku, Bibik pembantu kami itu sudah ikut kami sejak aku masih kecil dan setelah aku berumah tangga aku memamng minta kepada orang tuaku agar Bibik bisa ikut aku, pada usianya yang menjelang 60 tahun dia masih sangat sehat dan mampu mengerjakan semua sebaik dulu.</p>
<p>Pukul dua siang seminar dan presentasi produk baru sudah selesai dan aku segera meluncur pulang, di mobil aku sempat menelpon anak – anak dan antusiasme dalam suara mereka sedikit banyak membuatku merasa tidak enak…untunglah mereka bergembira pikirku.</p>
<p>“Bu masih ada rencana pergi..?” Tanya pak Udin sopir yang juga sudah lama ikut kami.<br />
“Tidak Pak., kenapa..?” tanyaku<br />
“Kalau boleh saya mau ijin Bu, anak saya hari ini dating dari desa..kangen juga sudah lama nggak ketemu”jawab sopir tua dengan sopan.<br />
“Oh..boleh Pak.. “ kataku member ijin.</p>
<p>Setelah memarkir mobil di garasi pak Udin pamit dan aku masuk rumah yang kali ini benar benar sepi.</p>
<p>“Lho..sudah pulang tante..?” suara Dino mengejutkanku<br />
“Sudah selesai seminarnya, dan kamu katanya ujian..? jawabku sambil bertanya.<br />
“Sudah tadi tante.. dari Jam 8.00 sampai jam 12.00, habis itu langsung pulang” jawab pemuda itu.<br />
“Kamu sudah makan..?” tanyaku lagi.<br />
“Juga sudah..tante sudah makan ?, kalau belum biar Dino siapkan” katanya menawarkan diri.<br />
“Sudah tadi diseminar tapi kalau nggak keberatan bikini tante minuman dingin dong…dikulkas kayaknya masih ada juice ..” kataku<br />
“Baik Tante” jawab pemuda itu patuh.<br />
“Trims.., Tante salin baju dulu ya..? kataku sambil melangkahkan kakiu naik tangga menuju kamarku.</p>
<p>Setelah membersihkan diri, aku mengikat rambutku ekor kuda, dan aku agak lama menentukan pakaianku…..tiba tiba saja terbersit pikiran nakalku ingin menggoda pemuda itu.<br />
Akhirnya aku memilih baju longgar dan rok mini yang biasa kugunakan saat main tennis, aku sengaja tidak mengenakan BH sehingga payudaraku menggantung bebas, dengan tinggi 160 Cm, berkulit putih, aku tidak memiliki payudara seperti Pamela Anderson, tapi dengan usia yang menjelang 40, payudara dengan BH No. 36 B masih tegak dan belum terlalu turun.<br />
Wajahku tidaklah terlalu cantik, mataku agak sipit, maklum keturunan Chinese, tapi aku tahu kalau aku cukup menarik dengan hidung mancung dan bibir yang penuh walau tidak tebal.</p>
<p>Ketika aku melangkah turun sekilas kulihat Dino menatapku dengan terpesona, namun aku berpura-pura tidak menyadarinya dan sambil menerima gelas juice yang diangsurkannya aku mengajaknya duduk disofa depan TV. Dan dengan patuh Dino menurut, kulihat tangannya membawa sebuah buku.</p>
<p>Siang hari begini mana ada acara TV yang menarik?, maka akupun mengajaknya ngobrol.</p>
<p>“Buku apa itu Din..?’” tanyaku.<br />
“Oh.. ini .. tentang akupunktur dan anatomi serta susunan syaraf manusia Tan…” jawabnya<br />
“Lho..kamu ini kuliah di ekonomi atau mau jadi akupnktur?”<br />
“Ah…ini sekedar iseng … buat nambah pengetahuan..habis jenuh belajar ekonomi terus..buta refreshing..gitu..” jawabnya lagi.<br />
“Biasanya anak muda tuh kalau refreshing baca nya buku porno” jawabku sembarangan.<br />
“Ah..Tante..nggak semua dong begitu” jawabnya dengan wajah anak muda itu memerah dan dari sudut mataku aku menilainya, dengan tinggi diatas 170 Cm, rutin kefitness menjadikannya kekar dan berisi dengan perut yang rata, rambut ikal bergelombang dan sudut mulut yang membuat wajahnya nampak ramah sesungguhnya pemuda berusia 20 tahun ini sangat menarik.</p>
<p>“Terus apalagi yang diajarin buku itu?” tanyaku<br />
“Ya macam – macam Tan.. termasuk refleksiologi” jawabnya cepat.<br />
“Refleksi, kayak pijat refleksi gitu………?” tanyaku<br />
“Iya betul” jawabnya lagi.</p>
<p>Pikiran untuk menggodanya semakin kuat menerpa hatiku dan sikap sopan serta malu &#8211; malu pemuda ini menjadikanku semakin ingin menggodanya.</p>
<p>“Berarti kamu sudah bisa dong..?” tanyaku<br />
“Wah nggak tahu Tante..belum pernah dipraktekan, kan nggak gampang mencari sukarelawan untuk jadi kelinci percobaan” jawabnya tersenyum.<br />
“Ya udah…kebetulan Tante lagi santai..ayo kamu praktek ilmumu”</p>
<p>Tanpa menunggu aku pindah kesofa panjang dan telungkup disana.</p>
<p>“Lho..kok diam…?, ayo kamu coba refleksi yang kamu pelajari” kataku dan saat aku mendongak aku melihat wajahnya seperti tidak percaya menatapku.<br />
“Nggak..ah…Dino nggak berani…”jawabnya<br />
“Iya deh…Tante sudah tua….pasti kamu segan ya merefleksi orang tua” kataku menggoda<br />
“Ih.. Tante sama sekali nggak tua, Tante cantik sekali” jawabnya dan terkejut sendiri dengan pujiannya<br />
“Cantik?, memang kamu pikir tante cantik ?” tanyaku<br />
“Tapi……….”Jawabnya ragu<br />
“Tapi apa..? pelan pelan saja.., jangan pakai tenaga dulu…” aku meyakinkannya walau aku tahu maksudnya ‘tidak berani’ itu bukan masalah pijatnya.</p>
<p>Dengan wajah seakan – akan ‘apa boleh buat’ Dino beringsut dan duduk diujung sofa dekat kakiku.<br />
Tangannya agak basah, dingin dan sedikit gemetar ketika ia menyentuh telapak kakiku.<br />
“Kok tanganmu dingin sih…?” tanyaku<br />
“Nggak apa – apa kok Tan..”suaranya agak serak kertika ia menjawab.<br />
Tangan kekar itu lalu mulai memegang kaki kiriku dan menekan tapak kakiku, hatiku juga bergemuruh tidak karuan..gila…masa cuma dipegang tapak kaki saja aku mulai hangat diantara kedua pahaku.</p>
<p>Setelah beberapa lama ia memijat kedua tapak kakiku akhirnya aku yang tidak tahan<br />
Aku berbalik mengubah posisi dan setengan duduk dengan berselonjor<br />
“Ah.. kamu jadi bikin Tante pegel deh.., kamu pijitin kaki Tante ya, pijat biasa saja Ok..?” kataku<br />
“Ba..baik..Tante..” Jawabnya agak terbata<br />
“kamu duduknya agak kesini dikit….nah…gitu” kataku menggurui.</p>
<p>Demikianlah Dino kini duduk dekat pinggangku, membelakangiku dan tangannya memijit mijit lembut.</p>
<p>“Mmmh..enak juga pijitan kamu Din..terus aja keatas sampai paha..nggak apa kok” dan kakiku yang satunya kutekuk, lupa kalau aku mengenakan mini skirt sehingga pasti Dino bisa melihat celana dalamku terpampang.</p>
<p>pantantnya sudah diatas lututku dan hatiku juga semakin terbawa oleh rasa terangsang yang mulai mempengaruhiku.</p>
<p>Aku menggapai gelas minumku dan mencoba minum tanpa merubah posisi, suatu pikiran nakal lain menyergapku dan toh dia sedang membelakangiku, dengan sengaja aku menumpahkan juice yang tersisa kebadanku setelah sebelumnya menyenggol punggungnya.<br />
“Aduh..maaf Tante…” Kata Dino terkejut ketika melihat cairan juice itu membasahi perutku hingga kepaha.<br />
“nggak apa…Din..Tante yang salah” jawabku<br />
“Din..tolong ambil handuk kecil di kamar mandi ya…” katku lagi dan dengan setengah berlari pemuda itu melesat, sempat kulihat kalau bagian depan celana yang dikenakannya menggembung. Aku tersenyum.</p>
<p>“Iya disitu yang basah..agak keatas…”kataku ketika Dino sudah kembali dan mengelap pahaku yang basah<br />
“Tapi ..basahnya kedalam …Din..kamu tolong T ante ya.. “ kataku lalu kuangkat baju gombrong yang kukenakan hingga atas dan sedikit bagian payudaraku terlihat.<br />
Dengan teliti dan hati hati anak muda itu mengelap tubuhku dengan handuk yang diambilnya, sambil berlutut disamping sofa.<br />
“Nggak apa – apa ya Din..tolongin tante..” kataku lagi..sambil menatap wajah yang berada dekat dengan perutku itu.<br />
“I..I..Iya tante…jawabnya dengan suara yang hamper tk terdengar.<br />
“Kebawah Din…ah… rok nya mengganggu..lalu dengan cepat aku meloloskan rok tennis yang kukenakan dan kini aku setengah terbaring dengan hanya bercelan dalam dibagian bawah.<br />
Semakin gemetar tangan Dino mengelap pahaku dan perutku.<br />
“Tapi bagian dalam juga basah Din…”kataku lagi<br />
“Lepaskan celana dalam tante ya..biar kamu leluasa” aku meyuruhnya</p>
<p>Kini jelas terpampang didepan wajahnya kemaluanku, dengan bulu yang tercukur rapih , dan aku agak merenggangkan kakiku sehingga rekahannya terlihat olehnya.</p>
<p>Nafas pemuda itu sudah sangat memburu dan akupun merasa semakin basah…dengan tangan kiriku aku mengambil handuk yang digunakannya dan melemparkannya entah kemana.., lalu kutuntun jari jari tangan yang kekar itu menyentuh dan sedikit memasuki lubang kemaluan yang telah membasah itu.</p>
<p>Tangan kananku tahu tahu sudah meremas gelembung depan celana pemuda itu, dan dengan lirih aku berkata “Din..kmau sudah melihat tante punya.., boleh tante melihat punyamu..?”<br />
Wajah yang semakin memerah itu hanya mengangguk dan dia berdiri didepanku membuka ikat pinggangnya dan aku membantunya dengan sekali tarik aku menurunkan celana yang dikenakannya termasuk celana dalamnya.<br />
‘Prang’ Kemaluan yang sudah mengeras itu berdiri dan menunjuk depan wahaku, dan aku sungguh harus mengagumi keindahanmya, dengan otot yang tampak melingkar, kepala yang besar kemerahan dan tanpa menunggu aku mencoba menggenggamnya.</p>
<p>Aku yakin kalau panjangnya pasti lebih dari delapan belas centimeter dengan lingkar yang besar dan buah zakar yang menggantung, ditutupi bulu – bulu yang agak keriting.<br />
Kedua tanganku tak henti mengusap dan menggenggamnya dengan sesekali tangan kiriku mengusap buah zakarnya dan tanpa dapt menahan kepala kemaluan itu sudah masuk dalam mulutku.<br />
Hanya sepertiga mungkin yang bisa masuk mulutku.. dan lidahku mulai menari, menjilat dan mengecup, menghisap dan sesekali batang kemaluan itu kugigit perlahan.</p>
<p>Kuminta ia duduk dan kami bertukar tempat, aku yang kini berlutut didepannya dan ia duduk di sofa, dengan isyarat kusuruh ia melepaskan kaos yang dikenakannya dan sesekali tanganku membelai dada yang kekar itu.</p>
<p>Aku sudah melepaskan baju gombrong yang kukenakan…dan kini kami sama sama sudah tak berpakaian, aku terus menjilat dan menghisap kemaluan Dino dengan penuh nafsu dan desahan serta erangan tak tertahankan keluar dari mulut pemuda itu.<br />
“Ahhh..tante…enak….aduh….hhh”<br />
“Ssshhh….aaaahhh…aduh Tante….”<br />
Denyutan dibatang kemaluan itu semakin keras dan aku tahu kalau pemuda itu mulai tak tahan, dengan kepala kemaluanitu dalam mulutku tanganku melakukan gerakan mengocok dan tangan satunya meremas zakarnya….<br />
“Tanteeee…..ahhh..oohhh….ssssshhhhh” agak berteriak pemuda itu dan sebuah semburan kuat dari lubang dikepala kemaluan itu mengenai belakang lidahku membuatku hamper tersedak lalu memenuhi mulutku dengan cairan kental dan panas yang tanpa berpikir kutelan habis…., namun semburan itu tidak cuma sekali, beberapa kali dalam jumlah yang cukup banyak, dan kecepatanku menelan tidak sebanding dengan kecepatan semburan itu.., sebagian keluar dari sisi bibirku…namun aku taatp tidak melepaskan jepitan bibirku dikepala kemaluan keponakan suamiku itu hingga berhenti, lalu dengan lidahkua aku membersihkannya, lalu mendongak menatapnya dengan tersenyum.</p>
<p>“Enak…?” tanyaku…?<br />
Ia hanya mengangguk dan tangannya mengusap kepalaku.</p>
<p>“gantian …” bisikku dan kini aku telentang disofa.<br />
Kuminta Dino mengulum pentil payudaraku dan lidahnya bergerak sesuai perintahku. Aku tahu kalau anak muda itu masih ‘hijau’ maka aku ‘menuntunya’ untuk menelusuri tubuhku dengan lidahnya dan mengajarkannya bagaimana seharusnya dia menggunakan lidahnya ketika mulutnya mencapai kemaluanku</p>
<p>“ya..disitu…ahhh…..di emut Din…emut clitoris tante…ahhhh, yah masukan lidahmu …ohhh….” namun irama yang tidak konstan serta pecahnya perhatian antara menikmati dan menyuruhnya membuatku sulit mencapai puncak yang kudambakan.</p>
<p>Belum lima menit Dino menjilatiku aku melihat kalau kemaluannya sudah mengeras lagi…dasar anak muda………………………….</p>
<p>Kusuruh Dino telentang dan dengan posisi diatas aku mengarahkan kemaluannya memasuki kemaluanku yang sudah teramat basah …….dengan perlahan aku menurunkan pinggulku dan kepala kemaluan yang besar itu, jauh lebih besar dari milik suamiku mulai menembus masuk….cukup lama aku berjuang agar kemaluan itu bisa menembus masuk kemaluanku yang ternyata cukup sempit untuk miliknya dan akhirnya setelah hamper semua terbenam aku mulai bergerak, kedepan …kebelakang kadang pinggulku berputar dan naik turun.</p>
<p>Dino cukup kreatif…. Tangannya juga bekerja meremas dan sesekali kepalanya terangkat mencium dan mengulum pentil payudaraku.</p>
<p>“Ssshh…ah.. Dino….batangmua besar..aduh..enak….” aku mulai meracau dan seirama denga gerakanku, aku merasa gelombang kenikmatan mulai menerjang dan naik…naik….dan AAAhhhhhhhhhhh……..dengan setengah berteriak aku mencapai orgasmeku, orgasme yang sangat dahsyat yang sudah betahun tahun tidak pernah bisa diberikan suamiku.</p>
<p>Aku ambruk didada pemuda itu dan bibirku mencari bibirnya, kami berciuman cukup lama.</p>
<p>Aku tahu kalau Dino masih belum ‘keluar’ lagi…, namun aku sudah terlalu lelah untuk berada diatas.., maka aku melepaskan diri..menyuruhnya diatas dan kini dengan aku dibawah kakiu terbuka lebar dengan salah satu kakiku menyangkut kesenderan sofa dan Dino dengan mudah kali ini memasukiku.</p>
<p>Gerakan anak muda itu teratur dan terasa bagaimana kemaluan besar itu menusuk dan mengexplorasi bagian dalam kemaluanku hingga bagian yang belum tersenah tersentuh oleh suamiku dan gelinjang serta perasaan nikmta yang tak tertahankan membuat gelombang menuju orgasme kembali menerjangku.</p>
<p>Dino semakin mempercepat gerakannya dan aku mencoba mengimbangi gerakannya dengan goyangan pinggulku dan akhirnya denga tertahan “Tante..Dino mau keluar……”<br />
“Keluarin Din……” dan aku menjepit pinggang pemuda itu dengan kedua kaki yang kutautkan sehingga kemaluannya terbenam semakin dalam dan akhirnya dengan erangan keras bersamaan dengan orgasmeku, aku merasakan cairan hangat menyemprot jauh didalam..<br />
Suara desahan, erangan dan nafas memburu kami terdengar jelas dikeheningan ruangan dan akhirnya kami berdua melemas berpelukan erat.</p>
<p>“Din…., maafin Tante ya…., Tante membuatmu melakukan ini, lupa kalau Tante sudah tua” kataku<br />
“Tante…., Dino selalu mengagumi Tante…tante adalah wanita paling cantik yang dino kenal…dan Tante sama sekali tidak tua…” jawabnya sambil mengecup bibirku.<br />
“Tapi ini tidak bisa jadi kebiasaan Din…., kalau Oom tahu………..” kataku tidak melanjutkan.<br />
“Dino tahu, ……. Tante…jangan kuatir”</p>
<p>Sore itu kami banyak bercakap – cakap dan tidak merasa perlu mengenakan pakaian kami, dan sebelum maghrib tiba kami menyelesaikan permainan yang ketiga kalinya, kali ini dia memasukan kemaluannya dalam posisi dari belakang dan diselesaikan dengan posisi misionari…kembali rahimku menerima siraman sperma hangat yang menyemprot dan memberikanku kenikmatan yang sudah hamper terlupakan.</p>
<p>Pukul 8 malam anak – anak dan suamiku pulang dan malam itu aku tidur dengan sangat nyenyaknya.</p>
<p><a href="http://cerita.modelperawan.com">Cerita seks</a> kali ini bersambung, ini adalah cerita bagian pertama perselingkuhan antara tante dengan keponakan, tante nya yang cantik menggoda keponakannya sendiri yang bertubuh kekar, nantikan lanjutan cerita kami dalam ngentot keponakan bagian kedua. sampai jupa&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/tante-ngentot-keponakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seks dengan Mertua</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/seks-dengan-mertua/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/seks-dengan-mertua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 17:35:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[ibu mertuaku binal]]></category>
		<category><![CDATA[mertua binal]]></category>
		<category><![CDATA[mertua seksi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot mertua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Lanjut lagi nih cerita seks nya. Cerita seks sedarah masih diminati, tak hanya bercinta dengan ibu kandung atau pun bercinta dengan anak kandung, tapi cerita sedarah melebar pada cerita bercinta dengan ibu mertua, walau tidak masuk dalam kategori sedarah, tapi paling tidak masuk dalam kategori keluarga. Berikut cerita lengkapnya , bercinta dengan mertua. hati-bagi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjut lagi nih cerita seks nya. <strong>Cerita seks sedarah</strong> masih diminati, tak hanya <a href="http://cerita.modelperawan.com/tag/bercinta-dengan-ibu-kandung/">bercinta dengan ibu kandung</a> atau pun bercinta dengan anak kandung, tapi cerita sedarah melebar pada cerita bercinta dengan ibu mertua, walau tidak masuk dalam kategori <a href="http://cerita.modelperawan.com/category/sedarah/">sedarah</a>, tapi paling tidak masuk dalam kategori keluarga. Berikut cerita lengkapnya , bercinta dengan mertua. hati-bagi yang memiliki Mertua Binal!!</p>
<p><strong>MertuaKu Binal Juga Bagian I</strong></p>
<p>Perkawinanku yang telah berusia tujuh tahun tergolong mulus dan memberi banyak kebahagiaan. Tetapi tidak sejak enam bulan lalu, tepatnya setelah istriku Neni terkena kanker payudara dan terpaksa salah satu miliknya itu harus diangkat. Neni menjadi<span id="more-86"></span> sangat murung dan kehilangan gairah hidup. Bahkan ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan swasta.</p>
<p>Kuakui, dengan hilangnya salah satu payudara di tubuh Neni, ada sebagian pesonanya yang hilang. Bila ia telanjang, kurasakan ada sesuatu yang hilang. Sepasang buah dadanya yang sangat montok dan selalu menjadi pelampiasan gairahku kini tinggal satu. Bagian yang lain menjadi rata dan bahkan ada semacam luka parut yang sangat mengganggu. Namun karena aku tak mau menyakitinya, kuanggap itu bukan masalah. Bahkan kerap kuyakinkan bahwa aku tak pernah berpikir untuk meninggalkannya.</p>
<p>Tetapi tidak bagi Neni. Kehilangan payudara menjadikannya hilang rasa percaya diri. Setiap hari hanya berbaring di tempat tidur. Tidak mau mengerjakan apa pun termasuk mengurus Lani, putriku yang berusia 3 tahun anak kami satu-satunya. Untung ada ibu mertuaku yang memutuskan tinggal bersama kami setelah Neni menjalani operasi. Dan karena ibu mertuaku itulah segala pekerjaan rumah menjadi beres termasuk memasak dan mengurus Lani.</p>
<p>Malangnya, Neni sama sekali menolak diajak berhubungan intim sejak mulai sakit dan sampai payudaranya diangkat. Ia malah selalu menyuruhku untuk mencari wanita pengganti karena menurutnya ia sudah tidak pantas lagi melayaniku. Maka sebagai laki-laki berusia 33 tahun (istriku berumur 28 tahun), yang masih sangat potens dalam soal seks, aku sering merasa puyeng. Mau mencari kepuasan ke WTS aku merasa jijik. Di samping dipakai banyak orang, pasti membawa penyakit berbahaya.</p>
<p>Pernah melintas pikiran buruk untuk merayu ibu mertuaku. Usia ibu mertuaku sudah 53 tahun dan telah menjanda sejak kematian suaminya tiga tahun lalu. Pikiran ngeres itu muncul setelah aku sempat memergokinya mengenakan pakaian yang sangat minim. Suatu hari ia sedang mandi. Tiba-tiba dari arah dapur tercium bau gosong nasi yang sedang ditanak. Aku yang sedang memberi makan burung di dekat dapur jadi berteriak.</p>
<p>&#8220;Bau gosong apa nih Bu, nasi yah?&#8221; ujarku saat itu karena tidak tahu ibu mertuaku ada di kamar mandi.</p>
<p>Ibu mertua yang mendengar teriakanku langsung lari keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang masih basah kuyup, karena belum selesai mandi, hanya dililit handuk yang berukuran tak cukup lebar. Hanya menutup dada dan sedikit di bawah pangkal pahanya. Dengan tergesa ia segera mengangkat panci, mematikan kompor dan memindahkan nasi ke magicjar agar nasi tidak berbau gosong semua.</p>
<p>Saat itulah, saat ibu mertuaku melakukan segala aktivitas itu, aku bisa melihat sebagian tubuh ibu mertuaku yang belum pernah kulihat. Kulit ibu ternyata lebih bersih dibandingkan kulit Neni, istriku. Buah dadanya kurasa juga lebih besar dibanding kepunyaan Neni. Hanya mungkin sudah agak kendur. Aku tidak bisa memastikan karena belum pernah menyentuhnya dan saat itu terbelit oleh handuk yang dililitkannya.</p>
<p>Namun, yang lebih membuatku panas dingin, adalah saat ia membungkukkan badan. Karena handuknya kelewat kekecilan, saat membungkuk handuknya menjadi tambah terangkat. Jadilah aku bisa melihat pahanya yang membulat sampai ke pangkalnya. Juga pantatnya yang besar dan pinggul yang mengundang pesona. Bahkan, ah, aku juga bisa melihat memek ibu mertuaku yang terlihat mengintip di antara kedua pangkal pahanya. Kemaluan ibu mertuaku terlihat gundul tanpa rambut. Tampaknya habis dicukur.</p>
<p>Melihat itu, gairahku langsung naik cukup tinggi. Jakunku menjadi turun naik dan denyut jantung menjadi tidak teratur. Maklum sudah cukup lama tidak mendapat layanan istri di tempat tidur. Saat itu aku nyaris nekad memeluk ibu mertuaku dari belakang dan melampiaskan hasrat yang menggelegak. Namun takut dianggap kurang ajar dan bisa mengundang masalah bila ibu mertuaku tidak berkenan, aku pendam keinginan itu. Juga karena penampilan ibu selama ini sangat pendiam dan rajin menasehati hingga aku tidak berani kurang ajar.</p>
<p>Dari waktu ke waktu, sikap istriku bukannya membaik tetapi semakin buruk. Ia hanya keluar kamar saat makan atau mandi dan selebihnya dihabiskan untuk tidur atau nonton TV yang juga tersedia di kamar. Ia juga menolak bila diajak berhubungan badan. Jadilah kami sering bertengkar seperti yang terjadi malam itu.</p>
<p>&#8220;Kalau kamu tetap dingin, biar nanti aku mencari pelacur untuk menggantikanmu,&#8221; kataku dalam nada tinggi karena tak bisa menahan emosi.</p>
<p>Gairahku malam itu memang sudah naik ke ubun-ubun. Tetapi Neni hanya menjawab santai.</p>
<p>&#8220;Aku kan sudah minta Mas Hen mencari wanita lain yang bisa melayani. Aku nggak apa-apa kok,&#8221; ujarnya enteng.</p>
<p>Emosiku meledak. Sambil keluar kamar pintu kututup kencang hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Ingin rasanya aku menstater motor keluar untuk mencari pelacur di pinggir jalan atau ke hotel yang menyediakan wanita panggilan. Tetapi kemana, aku tidak punya pengalaman? Dan lagi malam sudah sangat larut. Untuk meredam emosi, kuambil sebotol air dingin dan kubawa ke kandang ayam di belakang rumah. Tempat yang paling kusenangi untuk melamun dan mengurangi rasa gundah.</p>
<p>Benar emosiku mulai reda setelah beberapa tegukan air dingin membasahi kerongkonganku. Terlebih setelah sebatang rokok kunyalakan dan kuhisap. Berteman asap rokok, anganku mengembara memikirkan nasib perkawinanku yang porak-poranda gara-gara kanker yang diderita istriku. Namun saat aku hendak menyalakan batang rokok berikutnya, suara ibu mertua mengagetkanku.</p>
<p>&#8220;Bertengkar lagi ya Hen,&#8221; lirih suara ibu mertuaku terdengar.</p>
<p>Wanita itu ternyata telah berdiri tak jauh dari tempat aku duduk di kegelapan kandang ayam.</p>
<p>&#8220;I.. Ibu belum tidur? Maafkan saya Bu,&#8221; ujarku sedikit tergagap.<br />
&#8220;Bukan kamu yang salah. Tetapi memang Neni yang keterlaluan. Padahal ibu sudah berkali-kali mengingatkan,&#8221; katanya lagi seolah menyalahkan diri sendiri.</p>
<p>Ibu mertuaku mendekat dan duduk menjejeriku di kursi panjang. Mungkin ia tidak enak dengan sikap putrinya itu.</p>
<p>&#8220;Saya emosi karena Neni lebih senang kalau saya tidur dengan pelacur. Saya pusing sekali..,&#8221;<br />
&#8220;I.. Iya Ibu tahu. Pasti kamu sangat pusing,&#8221; ujarnya lirih mencoba memahami perasaanku.</p>
<p>Sasaat kami hanya diam membisu. Aku dengan pikiranku yang kesal dengan ulah istrik. Sedang ibu mertuaku? Entah menerawang kemana pikiranbnya. Sampai akhirnya, &#8220;Kalau mau ibu punya usul.., ta.. tapi,&#8221; ibu mertuaku nampak ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.<br />
&#8220;Usul apa Bu? Katakan saja..,&#8221;<br />
&#8220;Begini. Dulu, kalau ibu hamil muda, bawaannya enggan melayani bapaknya Neni. Bahkan dipaksa pun ibu menolak. Dan itu berlangsung sampai tiga bulan. Maka bapak jadi tidak kuat. Akhirnya sebagai jalan keluar, setiap ingin bapak minta itunya dikocok oleh tangan ibu sampai keluar,&#8221; ujar ibu mertuaku.<br />
&#8220;Saya sudah minta begitu Bu, tetapi Neni tetap tidak mau,&#8221; kataku menukas.</p>
<p>Ibu mertuaku terdiam. Ia ingin menyampaikan sesuatu tetapi terlihat ragu. Wajahnya menunduk. Sampai akhirnya, &#8220;Hen, ibu kasihan sama kamu. Biarlah ibu yang bantu mengocok, biar pusingnya hilang,&#8221; ujarnya lirih.</p>
<p>Sungguh aku sangat senang dengan tawaran ibu mertuaku. Daripada mengocok sendiri sambil membayangkan paha dan pantat besar ibu mertuaku. Kini dia yang malah menawarkan diri untuk mengocok kontolku. Pasti lebih asyik, pikirku.</p>
<p>&#8220;Te.. Terus kapan Bu? Saat ini kepala saya sangat pusing.&#8221; Memang sejak tadi gairahku naik cukup tinggi.<br />
&#8220;Sekarang juga boleh,&#8221; katanya menawarkan.</p>
<p>Tadinya ibu mertuaku mau melakukannya di tempat kami duduk di dekat kandang ayam. Tapi kutolak dengan alasan kurang leluasa dan tempatnya kurang nyaman. Akhirnya kami sepakat melakukan di kamar tamu, karena di kamar yang ditempati ibu mertuaku ada Lani putriku. Ibu memintaku untuk lebih dulu mengecek apakah Neni sudah pulas apa belum. Katanya, nggak enak kalau sampai Neni tahu. Dan Neni ternyata sudah pulas mendengkur hingga aku langsung menyusul ibu mertuaku ke kamar tamu.</p>
<p>Di dalam kamar, ibu mertua menungguku duduk di tepian ranjang. Tapi ia nampak canggung, mungkin malu atau entah apa yang membersit di kepalanya. Namun aku tak peduli dan segera kulepaskan sarung dan baju kaos yang kukenakan. Dengan rudal yang telah tegak mengacung dan tubuh bugil telanjang bulat aku duduk merapat ke ibu mertuaku.</p>
<p>&#8220;Ayolah Bu, biar pusingku hilang. Katanya mau mengocok?&#8221; kataku sambil menarik tangan ibu mertuaku dan menempelkannya di penisku.</p>
<p>Melihat kontolku yang ukurannya lumayan besar dan telah tegak mengacung, wanita itu agak tertegun melihatnya. Wajahnya kian tertunduk tapi kuyakin ia mengagumi alat kejantananku itu. Mengagumi kepala penisku yang membonggol dan batangnya yang cukup besar dihiasi urat-urat menonjol.</p>
<p>Bersambung ke cerita selanjutnya di bagian kedua, nantikan cerita dewasa kami untuk anda yang memang menyukai <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a>. dan selalu tunggu update cerita kami. kami akan memberikan cerita-cerita dewasa yang di kirim langsung oleh pembaca maupun kami salin-dari forum-forum dewasa lain nya.</p>
<p>Bersambung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/seks-dengan-mertua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot Ibu Berjilbab</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/ngentot-ibu-berjilbab/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/ngentot-ibu-berjilbab/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 19:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan cewek berjilbab]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan ibu berjilbab]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan ibu kandung]]></category>
		<category><![CDATA[cewek jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot cewek jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Ibu-ibu genit sekarang banyak juga yang pake jilbab, jadi inget mantan temen saya ceweknya juga pake jilbab , tapi ngeseks nya jago banget, nah untuk itu saya berharap teman-teman jangan melihat simbol agama seseorang, baiknya kita menilai pribadi orang itu, berikut salah satu pribadi ibu ibu girang boleh di bilang tante girang, tapi udah agak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu-ibu genit sekarang banyak juga yang pake jilbab, jadi inget mantan temen saya ceweknya juga pake jilbab , tapi ngeseks nya jago banget, nah untuk itu saya berharap teman-teman jangan melihat simbol agama seseorang, baiknya kita menilai pribadi orang itu, berikut salah satu pribadi ibu ibu girang boleh di bilang tante girang, tapi udah agak tua atau STW, walaupun kesehariannya memakai jilbab, ternyata dia masih gak sanggup menahan birahi, Berikut ceritanya.</p>
<p>“Tadi malam saya lewat rumah ibu dan mendengar suara menarik jadi saya mengintip. Ternyata, saya lihat ibu sedang mencolok-colokkan pisang ke itunya ibu sambil nyetel film BF. Saya sangat terangsang.Kalau ibu setuju, daripada pakai pisang saya juga mau dan penginbegituan dengan ibu”.<br />
Itu kalimat yang kutulis dalam HP dan siap dikirimkan dalam <span id="more-77"></span>bentuk SMS ke sebuah nomor HP milik Bu Ruminah, tetanggku. Namun kendati tinggal memencet tombol agar pesan terkirim, aku sempat ragu. Jangan-jangan nanti Bu Rum (demikian Bu Ruminah biasa dipanggil) ngadu ke ibuku atau ke orang-orang tentang SMS yang kukirim, begitu aku membathin. Tapi, ah nggak mungkin dia berani cerita ke ibuku atau ke orang-orang. Sebab kalau dia cerita, kebiasaannya memuaskan diri dengan buah pisang kan jadi ketahuan. Begitu pikirku lagi. Yakin Bu Rum tidak mungkin menceritakan isi SMS itu ke orang lain, akhirnya kutekan panel tanda OK pada HP-ku dan terkirimlah SMS trsebut.</p>
<p>Hanya dalam hitungan menit, reaksi dari SMS yang kukirim langsung kudapat. HP ku berdering dan pada layar terlihat nama Bu Rum memanggil. Tetapi aku tidak berani mengangkat karena pasti ia mengenali suaraku hingga kudiamkan saja panggilannya. Setelah beberapa kali telefonnya tidak diangkat, akhirnya sebuah SMS masuk.<br />
“Tolong jawab. Nomor siapa ini”. Demikian bunyi SMS yang dikirimnya dan memacu niatku untuk kembali mengisenginya.<br />
“Pokoknya ibu sangat mengenal saya. Bener lho Bu, pisang saya jadi pengin banget dimasukkan ke itunya ibu seperti pisang yang ibu pegang tadi malam. Ibu pasti puas. Mau kan Bu?”. Ujarku dalam SMS yang kukirim berikutnya.<br />
“Huussh&#8230; jangan ngawur. Saya bukan wanita begituan dan saya kan sudah tua. Tolong kejadian itu jangan diceritakan ke orang lain. Tolong banget”. Ungkapnya dalam SMS berikutnya.</p>
<p>Rupanya dia ketakutan kalau aku menceritakan kejadian yang sempat kupergoki itu hingga niat isengku makin menjadi.<br />
“Beres Bu, Saya tidak akan cerita ke siapa-siapa. Tapi sungguh saya sangat terangsang saat melihat memek ibu dicolok buah pisang. Bahkan lebih merangsang dibanding memek wanita bule yang ada di film BF. Jadi soal saya kepengin begituan dengan ibu memang bener-bener lho.” Kataku lagi dalam SMS yang kukirim selanjutnya. Tetapi balasan SMS dari Bu Rum pendek saja. “Sudah ya. Saya sangat berterima kasih kejadian itu tidak diceritakan ke siapapun,” ujarnya dalam SMS yang kuterima. Setelah itu beberapa kali kukirim SMS dengan kata-kata yang lebih panas. Termasuk kesediaanku untuk menjilati memek dan itilnya bila ia mau melayaniku. Namun Karena tetap tidak dijawab maka malam itu SMS an dengan Bu Rum tidak berlanjut.</p>
<p>Bu Ruminah yang biasa disapa Bu Rum adalah tetanggaku. Rumahnya hanya terpaut tiga rumah dari rumahku. Suaminya Pak Kirno, adalah pensiunan TNI dan pernah menjadi Satpam sebuah bank serta menjabat Ketua RW sebelum terkena stroke dan mengalami kelumpuhan. Sementara Bu Rum di samping menjadi ketua kelompok pengajian ibu-ibu di lingkungan RW tempat tinggalku, ia yang pernah mengenyam pendidikan pesantren itu juga mengajari ibu-ibu mengaji termasuk ibuku yang menjadi teman dekat dan sekaligus muridnya. Aku yakin orang-orang tidak bakalan percaya kalau kuceritakan bahwa Bu Rum ternyata suka melampiaskan hasrat seksnya dengan menggunakan pisang. Betapa tidak, wanita berusia 53 tahun itu, penampilan kesehariannya sangat santun. Selalu berkerudung dan menutup rapat auratnya. Hingga orang tidak akan percaya tentang kebiasaannya yang nyeleneh dalam soal seks terlebih di usianya yang sudah tergolong tua.</p>
<p>Tetapi aku benar-benar melihat dengan mata dan kepalaku sendiri tentang apa yang dilakukan dia yaitu memuasi diri dengan buah pisang. Bahkan saat itu, terus terang aku sangat terangsang. Terlebih saat ia meremasi sendiri kedua teteknya yang gede dan melihat memeknya yang dipenuhi rambut tebal dicolok-colok dengan buah pisang. Karena selalu terbayang oleh bagian-bagian tubuhnya yang membuatku terangsang, akhirnya aku iseng mengirim SMS. Karena beberapa SMS ku yang terakhir tidak dibalasnya, aku nyaris nekad dengan mengancamnya bahwa bila ia tidak mau melayaniku akan kuceritakan soal masturbasi dengan pisang itu kepada orang-orang. Hanya setelah kupikir, tindakanku itu bisa membuat dia kalap atau melapor ke polisi hingga kuurungkan niatku tersebut. Hanya aku tetap bertekad untuk mengisenginya dengan berkirim SMS kepadanya di tiap kesempatan. Hampir tiap hari, terkadang pagi, siang maupun malam, beberapa SMS kukirim kepadanya. Intinya mengungkapkan keinginanku untuk menjadi patner seksnya karena setelah memergoki dia main dengan pisang aku menjadi sangat terangsang dan terpaksa sering mengocok sendiri kontolku sambil membayangkan menyetubuhinya. Tetapi ia tetap tidak mau membalasnya. Pernah beberapa kali ia mencoba menelepon tetapi aku tidak berani mengangkatnya.</p>
<p>Oh ya, dari perkawinannya dengan Pak Kirno, Bu Rum hanya mempunyai satu anak Mbak Lasmi. Ia sudah berkeluarga dan mempunyai beberapa anak. Mbak Lasmi tinggal di tempat lain di sebuah kecamatan terpencil karena suaminya menjadi pegawai kecamatan di sana. Jadi status Bu Rum adalah nenek dari beberapa cucu. Puncak dari keisenganku mengrim SMS kepada Bu Rum terjadi ketika pengajian ibu-ibu di kampungku yang dilaksanakan secara bergiliran jatuh ke giliran ibuku. Karena acaranya berbarengan dengan halal bi halal setelah lebaran, pengajian yang diadakan di rumahku terbilang besar. Hidangan yang biasanya cuma snack kali ini dilengkapi ketupat dan opor ayam. Juga ustazahnya yang biasanya pembicara lokal, kali ini didatangkan dari luar kota.</p>
<p>Sejak pagi rumahku ramai oleh ibu-ibu tetangga yang mempersiapkan acara tersebut termasuk Bu Rum. Adanya wanita itu di rumahku membuatku tidak berani mengirim SMS iseng padanya. Hanya secara sembunyi-sembunyi aku sering mencuri pandang menatapinya. Seperti kebiasaannya, saat itu Bu Rum memakai busana muslim dengan hiasan bordir yang apik. Yakni sebuah baju terusan warna krem yang longgar yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya dipadu dengan celana panjang warna senada. Dengan kerudung yang tak pernah lepas menutup kepalanya, wanita bertubuh tinggi besar itu nampak anggun dan berwibawa.</p>
<p>Acara pengajian yang dimulai selepas ashar, baru berakhir menjelang maghrib. Sekira pukul 19.30 WIB, setelah acara beres-beres rumah selesai ibu memanggilku. “Win tolong ini diantar ke rumah Bu Rum ya.Tadi ia minta disisihkan lontong dan opornya karena katanya di rumah lagi tidak masak,” ujar ibuku.</p>
<p>Setelah beberapa kali berkirim SMS gelap kepadanya, sebenarnya agak grogi untuk berhadapan langsung dengan Bu Rum. Terlebih mengingat kata-kata jorok dan porno serta ajakan main seks dalam setiap SMS yang kukirim. Tetapi aku juga tidak punya alasan untuk menolak perintah ibu hingga dengan terpaksa kulaksanakannya. Dua buah rantang besar berisi lontong dan opor kubawa ke rumah Bu Rum. Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan menunggu agak lama, kulihat seseorang mengintip dari balik korden dan akhirnya membukakan pintu.Ternyata yang mengintip dan membukakan pintu adalah Bu Rum sendiri. “Ohkamu Win, ibu kira siapa. Ayo masuk,” ujarnya mempersilahkanku.</p>
<p>Bu Rum yang kalau berada di luar rumah berpakaian muslimah yang rapat,ternyata tidak begitu adanya kalau sedang di dalam rumah. Baju yang dipakainya hanya daster berbahan tipis dan tanpa lengan. Hingga BH hitam dan celana dalam putih yang dipakainya tampak menerawang. “Saya disuruh mengantarkan ini untuk Bu Rum,” kataku setelah berada di ruang tamu rumahnya. Tetapi Bu Rum tidak langsung menerima bingkisan makanan yang kusodorkan. Ia kembali membuka pintu dan keluar rumah. Setelah sesaat melihat sekeliling, ia kembali masuk dan mengunci pintu dari dalam. Ia juga mengajakku ke dalam, ke ruang tengah rumahnya. “Taruh saja bawaannya di meja Win. Ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu,” katanya pelan.</p>
<p>Deg! Serasa berhenti detak jantungku. Pasti ia sudah tahu kalau yang berkirim SMS selama ini adalah aku, pikirku membathin. Gelisah akudibuatnya. “Duduk sini Win. Tidak ada siapa-siapa kok. Pak Kirno tadi dijemput Lasmi dan suaminya karena ia ingin banyak menghirup udara gunung yang segar. Mungkin agar bisa pulih,” ujarnya lagi.</p>
<p>Agak sedikit plong mendengar bahwa Pak Kirno suaminya sedang tidak dirumah. Setidaknya kalau Bu Rum marah terkait soal SMS ku itu, suaminya tidak ikut mendengarnya. Hanya aku tetap tidak bisa membuang kegelisahan yang kurasakan. Seperti pesakitan yang menunggu vonis hakim, aku hanya duduk mematung di kursi sofa di ruang tengah rumah Bu Rum. Bu Rum duduk di kursi lain yang ada, dekat tempat aku duduk. Baru kusadari, daster yang dipakainya ternyata terlalu pendek. Pahanya yang mulus terlihat terlihat terbuka. Hanya aku tetap tidak dapat menikmati pemandangan yang mengundang itu karena suasana tegang yang terjadi.</p>
<p>“Tadi waktu di pengajian, ibu minta ijin ke ibumu agar kamu mau mengantar ibu ke rumah Lasmi tiga hari lagi untuk menjemput Pak Kirno.Rencananya mau pinjam mobil Pak RT dan kamu yang menyetir. Ibumu setuju dan memberi nomor HP milikmu. Tapi ibu jadi kaget, sebab ternyata nomornya sama dengan nomor yang suka dipakai SMS ke ibu beberapa hari ini. Jadi kamu Win yang suka SMS ke ibu,” ujarnya tenang dan disampaikan tanpa emosi. Namun meskipun begitu, sempat kecut juga nyaliku.<br />
“Eee…ee.. ti…eh… iya Bu,” jawabku terbata.<br />
“Oh syukurlah kalau begitu. Ibu takut banget apa yang kamu sempat lihat diceritakan ke orang-orang lain. Ibu pasti sangat malu. Terima kasih banyak ya Win kamu tidak cerita ke orang-orang,”.</p>
<p>Ah ternyata ia tidak marah soal itu. Aku jadi merasa plong. Bahkan dengan terbuka, Bu Rum akhirnya bercerita soal kenapa ia terpaksa menggunakan pisang untuk memuaskan dorongan seksnya. Diceritakannya, meski sudah tergolong berumur namun kebutuhan biologisnya belum padam benar. Padahal sudah lama Pak Kirno tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai suami. Bahkan jauh sebelum terkena stroke. Makanya setiap keinginan untuk itu datang ia selalu berusaha memuaskan sendiri termasuk menggunakan pisang.<br />
“Ibu malu banget lho sama kamu Win. Apalagi kalau kamu sampai cerita ke orang-orang. Mau ditaruh dimana muka ibu?” Kata Bu Rum lagi.<br />
“Tidak Bu, saya janji tidak akan cerita ke siapa pun soal itu,” ujarku meyakinkannya.</p>
<p>Mungkin saking senangnya rahasianya soal ngeseks dengan pisang tidak akan terbongkar ia langsung berpindah duduk menjejeriku di sofa yang kududuki. Digenggam dan diguncang-guncangkannya tanganku.<br />
“Terima kasih win, ibu sangat berterima kasih,” kata Bu Rum.</p>
<p>Beban yang semula seolah menghimpit dadaku langsung sirna melihat sikap Bu Rum. Hanya kembali aku sulit menjawab ketika ia menanyakan perihal kata-kata dalam beberapa SMS yang kukirimkan.<br />
“Kalau ibu boleh tahu, sebenarnya apa yang mendorongmu mengirim SMS itu kepada ibu?”<br />
“Eee… eee… sa… sa.. saya.. ee,” kembali aku terbata.<br />
“Tidak apa-apa Win, jawab saja yang jujur. Ibu cuma ingin tahu,”<br />
“Saya mengirim SMS itu karena sangat terangsang setelah melihat ibu,” kataku akhirnya.<br />
Bu Rum kulihat terpana. Mungkin ia tidak percaya dengan jawaban yang kuberikan. Namun sebuah senyuman terlihat mengembang di wajahnya hingga aku tidak takut lagi.<br />
“Jadi kamu juga benar-benar ingin begituan dengan ibu?”<br />
“Eee… maksud saya.. ee. Iya kalau ibu bersedia,” jawabku mantap.<br />
Mendengar jawabanku Bu Rum langsung meraih dan mendekapku. Dalam kehangatan dekapannya, wajahku tepat berada di busungan buah dadanya yang terbungkus BH hitam. Wajahku membenam di busungan susunya yang memang berukuran besar. Diperlakukan seperti itu kontolku jadi langsung bangkit. Mengeras di balik celana dalam dan jins yang kupakai.</p>
<p>Sesaat setelah Bu Rum melepaskan pelukan pada tubuhku, kulihat gaya duduknya makin sembrono. Kedua kakinya terbuka lebar hingga pahanya yang membulat besar terlihat sampai ke pangkalnya. Bahkan kulihat sesuatu yang membukit dan terbungkus celana dalam warna hitam. Aku tak berkedip menatapinya. Untuk ukuran wanita seusia dirinya, kaki dan bagian paha Bu Rum masih terhitung mulus. Memang ada lipatan-lipatan lemak dan kerutan mendekati ke pangkal paha. Tetapi tidak mengurangi hasratku untuk menatapi bagian yang merangsang itu termasuk ke bagian membukit yang tertutup celana dalam warna krem. Jembut di memeknya itu pasti sangat lebat karena banyak yang tidak tertampung celana dalam yang menutupinya hingga terlihat banyak yang keluar dari celana dalam yang dipakainya.</p>
<p>Rupanya Bu Rum tahu mataku begitu terpaku menatapi organ kewanitaannya. Mungkin karena telah yakin aku benar-benar mau menjadi pelepas dahaganya, ia pelorotkan sendiri celana dalam itu dan melepasnya.<br />
“Bu Rum sudah nenek-nenek lho Win. Tetapi kalau kamu pengin melihat memek ibu bolehlah. Sebenarnya ibu juga sudah lama tidak puas main sendiri dengan tangan dan pisang,” katanya.</p>
<p>Bahkan tanpa sungkan, setelah melepas sendiri celana dalamnya ia duduk mengangkang membuka lebar-lebar pahanya. Memamerkan memeknya yang berbulu sangat lebat. Ah tak kusangka akhirnya dapat melihat memek Bu Rum dalam jarak yang sangat dekat. Memek Bu Rum lebar dan membukit. Jembutnya sangat lebat dan hitam pekat. Kontras dengan pahanya yang kuning langsat sampai ke selangkangannya. Puas memandangi bagian paling merangsang di selangkangan wanita itu, keinginanku untuk menyentuhnya menjadi tak tertahan. Kujulurkan tanganku untuk menyentuhnya.</p>
<p>Kuusap-usap jembutnya yang keriting dan tumbuh panjang. Jembut Bu Rum benar-benar super lebat menutupi memeknya. Hingga meski telah mengangkang, masih tidak terlihat lubang memeknya karena tertutup rambut lebat itu. Kuusap-usap dan kusibak jembut yang tumbuh sampai ke atas mendekati pusar wanita itu dan di bagian bawah mendekati lubang duburnya. Menimbulkan bunyi kemerisik. Untuk bisa melihat lubang memeknya, aku memang harus menyibak rambut-rambut yang menutupinya dengan kedua tanganku. Bibir luar memek Bu Rum tampak tebal dan kasar karena sudah banyak kerutan dan warnanya coklat kehitaman. Di bagian dalam lubang memeknya yang berwarna hitam kemerahan, ada lipatan-lipatan daging agak berlendir dan sebuah tonjolan. Ini rupanya yang disebut itil, pikirku. Tidak seperti ukuran memeknya yang besar, tebal dan tembem, itil Bu Rum relatif kecil. Hanya berbentuk tonjolan daging kemerahan di ujung atas celah bibir luar kemaluannya yang sudah berkerut-kerut. Kutoel-toel itilnya itu dengan jari telunjukku yang sebelumnya kubasahi dengan ludah. Ia mendesah dan sedikit menggelinjang.</p>
<p>“Kamu sudah pernah begituan dengan perempuan Win? Ee.. maksud ibu ngentot dengan perempuan?”<br />
“Belum Bu,” jawabku sambil tetap menggerayangi dan mengobok-obok vaginanya.<br />
“Masa!? Kalau melihat memek wanita lain selain punya ibu?”<br />
“Juga belum Bu. Saya hanya melihatnya di film BF yang pernah saya tonton. Memangnya kenapa Bu?” Jawabku lagi.<br />
Sebenarnya aku berbohong.Sebab di rumah aku sering mengintip ibuku sendiri. Saat dia mandi atau berganti pakaian di kamarnya. Mendengar aku belum pernah berhubungan seks dengan perempuan dan belum pernah menyentuh vagina, entah kapan ia melakukannya, tanpa sepengetahuanku ternyata Bu Rum sudah melepas daster dan BH nya. Telanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya dan memintaku untuk melepas semua pakaian yang kukenakan.<br />
“Oooww.. punya kamu besar juga ya Win,” kata Bu Rum sambil membelai kontolku yang telah tegak mengacung setelah aku telanjang.</p>
<p>Bu Rum tidak hanya membelai dan mengagumi kontolku yang telah keras terpacak. Setelah menjilat-jilat lubang di bagian ujung kepala penisku, ia memasukkan batang kontolku ke mulutnya. Aku jadi merinding menahan kenikmatan yang tak pernah terbayangkan. Tubuhku tergetar hebat. Sesekali kurasakan mulutnya mengempot dan menghisap batang kotolku yang kuyakin semakin mengembang. Lalu dikeluarkan dan dikocok-kocoknyanya perlahan. Ah, teramat sangat nikmat. Sangat berbeda bila aku mengocok sendiri kontolku. Saking tak tahan, tanpa sadar aku memegang dan mengusap-usap rambut Bu Rum yang semestinya tidak pantas kulakukan mengingat usia dan sekaligus statusnya sebagai guru mengaji ibu-ibu di kampungku termasuk ibuku. Tetapi Bu Rum tak peduli. Ia terus asyik dengan kontolku. Dikulum,dihisap dan dikocok-kocoknya perlahan dengan gemas. Seperti wanita yang baru melihat kejantanan milik pasangannya. Mungkin karena selama ini ia hanya bisa melakukannya dengan pisang setelah kotol suaminya tidak berfungsi.</p>
<p>Sambil menikmati kocokan dan kuluman Bu Rum pada kontolku, kuremasi teteknya. Tetek Bu Rum gede dan sudah menggelayut bentuknya. Namun sangat lembut dan enak di remas. Bahkan puting-putingnya langsung mengeras setelah beberapa kali aku memerah dan memilin-milinnya. Tak kusangka wanita yang dalam keseharian selalu tampil dengan busana muslim yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu di kampungku ini juga lihai dalam urusan kulum mengulum kontol. Aku dibuat kelojotan menahan nikmat setiap ia menghisap dan memainkan lidahnya di ujung kepala kontolku. Bahkan saat Bu Rum mulai mengalihkan permainannya dengan menjilati kantung pelirku dan menghisapi biji-biji pelir kontolku, aku tak mampu bertahan lebih lama. Pertahananku nyaris jebol. Karenanya aku berusaha menarik diri agar air maniku tidak muncrat ke mulut atau wajah Bu Rum.</p>
<p>Namun Bu Rum menahan dan menekan pinggangku. “Mau keluar Win ? Muntahkan saja di mulut ibu,” ujarnya sambil langsung kembali menghisap penisku. Akhirnya, pertahananku benar-benar ambrol meski telah sekuat tenaga untuk menahannya karena merasa tidak enak mengeluarkan mani di mulut Bu Rum. Sambil mendesis dan mengerang nikmat pejuhku muncrat sangat banyak di rongga mulut Bu Rum. Cairan kental warna putih itu kulihat berleleran keluar dari mulut wanita itu. Tetapi ia tidak mempedulikannya. Bahkan menelannya dan dengan lidahnya berusaha menjilat sisa-sisa maniku yang berleleran keluar. Terpacu oleh kenikmatan yang baru kurasakan dan banyaknya mani yang keluar membuat tubuhku lemas seperti dilolosi tulang-tulangku. Aku terduduk menyandar di si kursi sofa tempat Bu Rum terduduk.</p>
<p>“Gimana Win, enak?”<br />
“Enak banget Bu,”<br />
“Nanti gantian ya punya ibu dibikin enak sama kamu. Ibu ke kamar mandi dulu,” ujarnya berdiri dan melangkah ke kamar mandi.</p>
<p>Saat kembali dari kamar mandi, Bu Rum menyodorkan segelas besar teh manis hangat. Sodoran teh manisnya langsung kusambut dan kuteguk.Terasa hangat dan nikmat setelah tenaga hampir terkuras dan kini kembali segar. Saat itu baru kusadari Bu Rum masih bugil tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.Aku kembali terpaku pada tubuh bahenolnya yang masih lumayan mulus. Wanita berpinggul besar dan berdada montok namun sudah agak kendur itu,meskipun sudah menjadi nenek masih sangat menggoda. Jembutnya yang keriting lebat terlihat basah. Mungkin habis dibersihkan di kamar mandi untuk menghilangkan bekas air maniku.</p>
<p>“Mau lagi Win?” ujarnya mendekat dan berdiri tepat di tempat aku duduk. Kini memang giliranku untuk memuaskannya setelah kenikmatan yang diberikan padaku. Aku bingung harus memulai dari mana dan melakukan apa pada Bu Rum karena memang belum pernah pengalaman dengan perempuan. Hanya dari sejumlah film BF yang sering kutonton, wanita kelihatannya sangat suka kalau memeknya dijilat. Maka aku langsung turun dari kursi panjang dan berjongkok di depan Bu Rum. Memeknya yang besar membusung kini tepat di hadapan wajahku. Jembut keriting lebatnya terlihat basah. Dan Bu Rum, melihat aku hanya terbengong memandangi bukit kemaluannya, langsung mengangkat kaki kirinya dan di tumpukan pada kursi panjang. Karena pahanya yang terbuka kini aku bisa melihat lubang memeknya yang nampak sudah longgar. Lubang memeknya menyerupai lorong panjang. Bahkan kulihat itilnya yang mencuat di ujung atas belahan memeknya.</p>
<p>Kembali aku menyentuh dan mengusap memeknya. Bibir luar memeknya yang berwarna coklat kehitaman penuh kerutan dan terasa lebih tebal. Namun makin ke dalam lebih lembut dan basah serta warnanya agak memerah.Kudengar Bu Rum mendesah saat jariku menyelinap masuk menerobos lubang vaginanya. Rambut kepalaku diusap dan diremas-remasnya. Desahannya mengingatkanku pada suara wanita yang tengah disetubuhi di adegan film BF. Aku jadi terangsang. Kontolku kembali menggeliat dan bangkit. Sambil mendesah, Bu Rum tak hanya meremas dan menjambaki rambut kepalaku. Tetapi ia berusaha menarik dan mendekatkan wajahku kememeknya. Aku jadi tahu, nampaknya ia tidak ingin memeknya hanya dicolok-colok dengan jariku, Aku yang memang sudah kembali terangsang langsung mendekatkan mulutku dan mulai mengecupi lubang memek Bu Rum.</p>
<p>Ternyata selain bibir luar vaginanya yang mengeras dan berkerut-kerut, di luar kelentitnya yang menonjol besar, ada sebentuk daging yang menjulur keluar dari lubang memeknya. Bentuknya nggedebleh mirip jengger ayam jantan. Pengetahuanku tentang bagian paling intim milik wanita memang sangat terbatas dan melihatnya dari jarak sangat dekat baru kali ini mendapat kesempatan. Satu-satunya memek wanita dewasa yang pernah kulihat adalah milik ibuku. Aku memang sering mengintipnya saat ibu mandi. Atau saat berganti baju di kamarnya dan pernah beberapa kali melihatnya dalam jarak cukup dekat saat dia tidur. Tetapi sepengetahuanku tidak ada jengger ayam di lubang memek ibuku. Jadi terasa agak aneh atas apa yang kulihat di lubang memek Bu Rum. Tetapi aku tak peduli. Hingga selain menjilati bibir vaginanya, jengger ayamnya juga tak luput dari sentuhan mulut dan lidahku. Bahkan aku langsung mengulum, menghisap dan menarik -nariknya dengan mulutku.</p>
<p>“Ohhh… sshhh… aahhh… enak Win. Aaauuwww… ya.. ya.. aaahhh.. sshhh.. enak banget,”</p>
<p>Aku sangat senang karena ternyata Bu Rum menyukai dan keenakan oleh jilatan lidahku di lubang memeknya. Dari liang sanggamanya mulai keluar lendir yang terasa asin di lidahku. Tetapi itu pun tidak membuat surut langkah untuk terus mengobok-ngobok vaginanya dengan mulut dan lidahku. Aku terus mencerucupi dan menghisapnya hingga lendirnya banyak yang tertelan masuk ke kerongkonganku.Diperlakukan seperti itu Bu Rum seperti kesetanan. Tubuhnya tergetar hebat dan kulihat ia merintih, mendesah sambil meremasi sendiri kedua tetek besarnya.</p>
<p>“Kamu naik dan tiduran di sofa Win. Sshhh aahh jilatanmu di memek ibu enak banget,” katanya.</p>
<p>Seperti yang dimintanya, aku naik ke sofa dan tiduran telentang dengan kaki menjuntai. Setelah itu Bu Rum ikutan naik. Tadinya kukira ia akan menyetubuhiku dengan posisi wanita di atas seperti yang pernah kulihat dalam adegan film mesum yang menggambarkan hubungan seks antara wanita dewasa dan bocah ingusan. Tetapi tidak. Ia berdiri dan memposisikan kedua kakinya diantara tubuhku. Lalu bertumpu di dinding tembok yang ada di belakang kursi sofa dan sedikit menurunkan tubuhnya. Rupanya, ia masih ingin mendapatkan jilatan di memeknya dengan posisi yang membuat dirinya lebih nyaman dan bergerak leluasa. Sebab saat memeknya telah berada tepat di depan wajahku, ia langsung membekapkannya ke mulutku.</p>
<p>Tak kusangka, wanita yang sangat dihormati di kampungku karena selalu berbusana muslimah yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu, di usianya yang sudah 53 tahun masih sangat menggebu. Pantesan ia suka menyogok-nyogok memeknya dengan pisang. Mungkin karena tidak tahan akibat tidak pernah disentuh oleh suaminya yang sudah tidak bisa melayaninya sama sekali.</p>
<p>Aku sempat gelagapan karena tidak mengira Bu Rum akan membekapkan memeknya ke wajahku. Tetapi setelah mengetahui apa yang diinginkannya, aku langsung menyambutnya meskipun tidak tahu harus bagaimana semestinya dilakukan. Seperti sebelumnya kembali kujulurkan lidah dan kembali kujilati lubang memeknya. Namun kali ini dengan lebih semangat. Daging jengger ayamnya yang keluar dan menggelambir kukulum. Lalu lidahku menjulur masuk sedalam-dalamnya di lubang vaginanya sampai hidung dan wajahku ikut belepotan oleh lendir yang keluar dari liang sanggamanya. Sambil terus mengobeli memeknya dengan lidah dan mulutku, pantat Bu Rum juga menjadi sasaran remasan tanganku. Meskipun sudah melorot, pantat Bu Rum yang besar terasa masih lumayan kenyal. Nampaknya ia menjadi keenakan. Bu Rum melenguh dan mendesah.<br />
“Iya Win…aahhh… sshhhh…aaahhhh… ssshh.. enak banget. Terus colok memek ibu dengan lidahmu sayang. Ahhh.. ya.. ya… oooohhhhh…. ssshhhh,” desahnya tertahan saat aku makin dalam menjulurkan lidah.</p>
<p>Mendengar rintihan dan desahan Bu Rum, aku jadi makin bersemangat.Hanya karena tidak punya pengalaman, aku hanya menjilat dan mengisap bagian dalam memeknya sekena-kenanya. Rupanya karena terlalu menggebu, aku sempat menghisap itilnya dengan kuat. Bu Rum memekik. Tetapi tidak marah dan malah makin keenakan.<br />
“Ia Win itu itil ibu.. enak banget…sshhh ..aahhh.. aahhh. Terus Win hisap itil ibu… aaoooohhh …oooohhhh,”</p>
<p>Seperti yang dimintanya, itil Bu Rum yang akhirnya paling sering menjadi sasaran jilatan dan hisapan mulutku. Bahkan sambil terus mencerucupi kelentitnya, dua jari tanganku kupakai untuk menyogok-nyogok bagian dalam memeknya. Saat itulah Bu Rum menjadi kelojotan dan beberapa saat kemudian ia memintaku berhenti.</p>
<p>“Udah Win ibu nggak tahan. Bisa KO kalau diteruskan. Sekarang ibu pengin dientot dengan kontolmu. kamu juga pengin kan ngentot dengan ibu kan?”<br />
“Ii .. iya bu. Saya pengin banget. Ta.. ta.. tapi saya tidak tahu caranya,”<br />
“Nggak apa-apa. Nanti ibu ajarin,” ujarnya seraya menggamit lenganku.</p>
<p>Ia membawaku ke kamarnya. Kamar dengan ranjang spring bed berukuran besar dan tampak rapi tertutup sprei motif garis-garis. Di kamar Bu Rum, ada meja rias berukuran besar dengan berbagai alat make up di atasnya serta sebuah almari pakaian model antik di samping gambar Bu Rum dan suaminya dalam pose berpasangan mengenakan pakaian adat Jawa. Foto itu sepertinya dibuat saat usianya masih di bawah 40 tahun. Bu Rum terlihat sangat cantik dan seksi. Suaminya, Pak Kirno juga terlihat kekar dan tampan. Adanya gambar Pak Kirno suaminya di kamar itu, sebenarnya aku sempat grogi. Tetapi melihat Bu Rum sudah telentang di ranjang dan dalam posisi mengangkang, sayang kalau harus melepaskan kesempatan yang sudah berada di depan mata. Aku sudah sering mengocok sendiri kontolku sambil membayangkan ngentot dengan Bu Rum. Aku juga ingin mengetahui dan merasakan seperti apa rasanya ngentot sebenarnya.</p>
<p>Dengan kontol tegak mengacung aku naik ke ranjang. Hanya aku tetap bingung bagaimana harus memulai. Di antara kedua pahanya yang membuka lebar, memek Bu Rum tampak menganga menunggu batang zakar pria yang mau menyogoknya. Sepasang buah dadanya yang besar, dalam posisi telentang terlihat jadi nggedebleh dan hanya puting-putingnya yang hitam kecoklatan terlihat menantang. Melihat aku cuma mematung, rupanya Bu Rum menjadi tak sabar. Ditariknya tanganku hingga menjadikan tubuhku ambruk dan menindih tubuh montoknya.Beberapa saat kemudian kurasakan Bu Rum meraba selangkanganku dan meraih kontolku. Batang penisku yang sudah mengacung dikocok-kocoknya perlahan hingga makin mengeras dan membesar.</p>
<p>Oleh wanita itu, kepala penisku digesek-gesekkannya di sekitar bibir kemaluannya. Setelah tepat berada di bagian lubangnya, ia berbisik.”Tekan Win, biar kontol kamu masuk ke memek ibu,” bisiknya lirih di telingaku. Slessseeppp.. blleeesss. Tanpa banyak hambatan batang kontolku yang lumayan panjang dan besar seluruhnya masuk membenam. Mungkin karena lubang memek Bu Rum yang sudah kelewat longgar dan licin akibat banyaknya lendir yang keluar. Bagian dalam memek Bu Rum hangat dan basah. Dan tanpa ada yang memerintah, seperti semacam naluri, aku membuat gerakan naik turun pinggangku hingga kontolku sekan memompa lubang memek wanita itu.</p>
<p>“Iya begitu Win, terus entot sayang. Ah.. aahhh….aahhh.. kamu merasa enak juga kan,” Aku mengangguk dan tersenyum. Kulihat Bu Rum mulai mendesah-desah.Mungkin ia mulai merasakan enaknya sogokan kontolku. Dan bagiku,kenikmatan yang kurasakan juga tiada tara. Jauh lebih nikmat dibanding mengocok sendiri. Gesekan-gesekan batang kontolku pada dinding memeknya yang basah menghantarkan pada kenikmatan yang sulit kuucapkan. Aku terus mengaduk-aduk memeknya dengan kontolku. Mata Bu Rum membeliak-beliak dan meremasi sendiri teteknya. Melihat itu aku langsung menyosorkan mulutku untuk mengulum dan menghisapi salah satu putingnya. Pentil susunya yang berwarna coklat kehitaman terasa mengeras di bibirku.<br />
“Iya Win… terus hisap sayang… aahhh… aahhh,Kamu ternyata sudah pinter,” ujarnya terus mendesah.Makin lama kusogok dan kuaduk-aduk, lubang memek Bu Rum kurasakan makin basah. Rupanya semakin banyak lendir yang keluar. Bunyinya cepok…cepok… cepok… setiap kali batang kontolku masuk menyogok dan kutarik keluar.</p>
<p>Bosan ngentotin Bu Rum dengan posisi menindihnya, kuhentikan sogokanku pada memeknya. Pasti asyik dan tambah merangsang kalau bisa melihat memeknya yang tengah kusogok-sogok, pikirku membathin. Aku bangkit, turun dari ranjang. Dan tanpa meminta persetujuannya, kaki Bu Rum kutarik dan kuposisikan menjuntai di tepi ranjang. Tindakanku itu membuat Bu Rum agak kaget. Namun tidak marah dan bahkan sepertinya ia menunggu tindakan yang akan kulakukan selanjutnya. Namun setelah pahanya kembali kukangkangkan dan kontolku kembali kuarahkan ke lubang vaginanya, Bu Rum tersenyum. “Kamu pengin ngentot sambil ngelihatin memek ibu Win? Iya sayang, kamu boleh melakukan apa saja pada ibu,” katanya.</p>
<p>Ternyata menyetubuhi sambil berdiri dan melihat ketelanjangan lawan mainnya benar-benar lebih asyik. Lebih merangsang karena bisa melihat keluar masuknya kontol di lubang memek. Saat kontolku kutekan, bibir memeknya yang berkerut-kerut seperti ikut melesak masuk. Namun saat kutarik, seluruh bagian dalam memeknya seakan ikut keluar termasuk jengger ayamnya yang menggelambir. Pemandangan itu membuat aku kian terangsang dan kian bersemangat untuk memompanya. Teteknya juga ikut terguncang-guncang mengikuti hentakan yang kulakukan. Aku makin bernafsu dan makin cepat irama kocokan dan sodokan kontolku di liang sanggamanya. Bu Rum tak dapat menyembunyikan kenikmatan yang dirasakan. Ia merintih dan mendesah dengan mata membeliak-beliak menahan nikmat. Sesekali ia remasi sendiri susunya sambil mengerang-erang. Aku juga memperoleh nikmat yang sulit kulukiskan. Meski lubang memek Bu Rum sudah longgar tetapi tetap memberi kenikmatan tersendiri hingga pertahananku nyaris kembali jebol.</p>
<p>“sshhh … aahh… sshhh… aaakkhhh… memek ibu enak banget. Saya nggak kuat bu,” ujarku mendesahsambil terus memompanya.<br />
“Tahan sebentar Win. Aaahhh.. sshhh… kontolmu juga enak banget,”Bu Rum bangkit memeluk serta menarik pinggangku hingga tubuhku ambruk menindihnya. Kedua kakinya yang panjang langsung membelit pinggangku dan menekannya dengan kuat. Selanjutnya Bu Rum membuat gerakan memutar pada pinggul dan pantatnya. Memutar dan seperti mengayak. Akibatnya batang kontolku yang berada di kedalaman lubang memeknya serasa diperah. Kenikmatan yang kurasakan kian memuncak. Terlebih ketika dinding- dinding vaginanya tak hanya memerah tetapi juga mengempot dan menghisap. Kenikmatan yang diberikan benar-benar makin tak tertahan.”<br />
Ooohh… aahh… aahhh.. ssshhh… aakkhh enak banget. Saya …aaahhh nggak kuat Bu. Ohhh enakkkhhh bangeet,”<br />
“I..iiya Win, ibu juga mau nyampe. Tahan ya sebentar ya..aaahhh…sshhh.. sshhhh…aahhh….ssshh ….aaaoookkkh,”</p>
<p>Goyangan pantat dan pinggul Bu Rum makin kencang. Dan puncaknya, ia memeluk erat tubuhku sambil mengangkat pinggangnya tinggi-tinggi. Saat itu, di antara rintihan dan erangannya yang makin menjadi kurasakan tubuhnya mengejang dan empotan memeknya pada kontolku kian memeras. Maka muncratlah spermaku di kehangatan lubang memeknya berbarengan dengan semburan hangat dari bagian paling dalam vagina guru mengaji ibuku.Karena kenikmatan yang aku dapatkan, cukup lama aku terkapar di ranjang Bu Rum.</p>
<p>Saat aku terbangun, Bu Rum sudah menyiapkan segelas teh panas dan mengajakku menyantap lontong dan opor ayam bikinan ibuku. Kami menyantapnya dengan nikmat. Bahkan dua bungkus rokok kegemaranku telah tersedia di meja makan. Kata Bu Rum, ia menyempatkan membelinya di warung Lik Karni saat aku tertidur.</p>
<p>Malam itu Bu Rum benar-benar melampiaskan hasratnya yang tertahan cukup lama. Sesudah makan aku diajaknya bergumul di karpet di ruang tengah di depan televisi lalu berlanjut di ranjang kamar tidurnya. Aku bak seorang murid baru yang cerdas dan cepat pintar menerima pelajaran. Ia mengaku sangat menikmati dan merasa puas oleh sogokan-sogokan kontolku di memeknya yang memiliki jengger ayam.</p>
<p>“Ibu kira udah nggak bakalan merasakan enaknya yang seperti ini lagi. Karena sudah lima tahun lebih sejak bapak kena stroke tidak pernah mendapatkannya. Makanya terpaksa pakai pisang dan kadang kontol karet kalau lagi kepengen,” katanya sambil meremas gemas kontolku setelah persetubuhan yang keempat kalinya malam itu.Ternyata wanita yang selalu tampil bak muslimah yang taat itu, juga memiliki beberapa koleksi film porno. Ia sempat menyetel sejumlah koleksinya untuk ditonton bersamaku saat istirahat setelah ngentot yang ketiga di depan televisi. Namun yang mengejutkan, karena “nonton bareng” film porno aku jadi tahu kalau ibuku juga penggemar film porno.Itu terlontar secara tak disengaja oleh Bu Rum. Kata Bu Rum yang paling banyak dikoleksi adalah yang menggambarkan adegan incest atau hubungan seks antar anggota keluarga.</p>
<p>Saat itu Bu Rum memutar dua film. Film pertama menggambarkan adegan seks antara pria muda berkulit hitam dengan wanita tua kulit putih. Sang wanita kulit putih dibuat merintih dan mengerang karena sogokan kontol pria pasangannya yang perkasa. Bahkan akhirnya si wanita merelakan anusnya dijebol kontol panjang sang negro muda. Film kedua yang merupakan semi film cerita mengisahkan wanita STW yang bekerja di perusahaan penebangan hutan. Suaminya selalu pergi cukup lama dan hanya beberapa hari tinggal di rumah karena pekerjaannya itu.Si ibu yang sering merasa kesepian saat suaminya pergi, sering mengobel-ngobel sendiri memek dan itilnya saat hasrat seksnya datang.Ulah si ibu sering dipergoki secara diam-diam oleh pria remaja yang merupakan anak sulungnya. Maka di satu kesempatan, saat tengah bermasturbasi dan sang anak tak tahan menahan nafsu ia mendekati sang ibu. Keduanya larut dalam permainan panas di dapur, ranjang dan bahkan di kamar mandi tanpa peduli bahwa sebenarnya mereka pasangan ibu dan anak.</p>
<p>Usai pemutaran film yang kedua, kukatakan pada Bu Rum bahwa dibanding film yang pertama, adegan seks ibu dan anak yang paling bagus. Tetapi komentarku itu membuat Bu Rum keceplosan. Tanpa sadar ia menyebut bahwa film porno itu dipinjam dari Bu Narsih (nama ibuku). Saat itu ia berusaha meralat. Ia mungkin baru bahwa yang diajaknya bicara adalah aku anak Bu Narsih. Tetapi akhirnya Bu Rum tersenyum dan berterusterang.</p>
<p>“Keinginan manusia akan seks kan manusiwai Win. Seperti ibu dan ibumu,meskipun sudah berumur tetapi kebutuhan akan itu masih belum padam,”kata Bu Rum.</p>
<p>Ibuku memang sudah 3,5 tahun menjada setelah ayah meninggal akibat menderita diabetes cukup lama. Untuk menikah lagi mungkin malu karena cucunya sudah tiga yang diperoleh dari Mbak Ratri, kakak perempuanku.Bahkan salah satu cucunya sudah duduk di bangku SLTP. Maka ia memilih memendam hasratnya dan lebih menyibukkan diri pada usaha jual beli perhiasan berlian yang menjadi usahanya selama ini.</p>
<p>Menurut Bu Rum, koleksi film-film porno yang dimiliki ibuku cukup banyak. Koleksi film seksnya yang berthema hubungan seks sedarah tergolong lengkap. Bahkan Bu Rum mengaku, ia mengenal penis palsu dari karet yang dikenal dengan sebutan dildo juga dari ibuku. “Pergaulan ibumu kan luas terutama dengan ibu-ibu dari kalangan menengah atas. Mungkin dari ibu-ibu yang menjadi sasaran bisnisnya itu ia jadi mengenal banyak hal,” ujar Bu Rum menambahkan.</p>
<p>Meskipun sangat kaget, tetapi aku tidak mencoba memperlihatkannya di hadapan Bu Rum. Sebab sebagai anaknya aku tidak pernah melihat ibu nonton film porno atau barang-barang berbau seks yang dimilikinya. Di kamar tidur ibu memang ada televisi berukuran besar dan perangkat pemutar DVD. Tetapi kebanyakan film-filmnya adalah film hindustan karena ibu penggemar berat bintang Shah Ruk Khan. Berarti ia memiliki tempat penyimpanan khusus, ujarku membathin.</p>
<p>Sekitar pukul 03.00 dini hari, dengan tubuh lunglai aku meninggalkan rumah Bu Rum dengan mengendap agar tidak dipergoki warga lainnya. Ibuku membukakan pintu sambil menggerutu. Katanya mengganggu orang tidur.Tetapi wajahnya kulihat tidak seperti orang bangun tidur. Bahkan televisi di kamarnya terdengar masih menyala. Seperti kebiasaanya saat tidur ia selalu mengenakan daster longgar.Tetapi saat itu dasternya kelewat tipis hingga terlihat membayang lekuk-liku tubuhnya yang aduhai. Ternyata ia juga tidak memakai kutang dan celana dalam sampai-sampai kulihat tonjolan putingnya pada sepasang buah dadanya yang hampir sama besar dengan punya Bu Rum. Ah bisa jadi ibu bukannya tidur. Tetapi lagi asyik mengocok-ngocok memeknya dengan kontol karetnya sambil nonton adegan seorang ibu yang tengah ngentot sama anak lelakinya. Hanya karena terlalu kecapaian, aku langsung masuk kamar dan tidur.</p>
<p>Ini semua hanyalah cerita karangan belaka, kebenaran cerita tidak bisa di pertanggung jawabkan, kami hanya mencopy cerita ini dari member yang menceritakan tentang pengalaman <a href="http://cerita.modelperawan.info/ngentot-ibu-berjilbab/">bercinta dengan ibu berjilbab</a>. Nantikan postingan kami selanjutnya lebih seru!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/ngentot-ibu-berjilbab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot Mamaku Sendiri</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/ngentot-mamaku-sendiri/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/ngentot-mamaku-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 17:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan anak sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan ibu kandung]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan ibu sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan mama]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot anak sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot mamaku]]></category>
		<category><![CDATA[ngesek dengan mamaku]]></category>
		<category><![CDATA[ngetot ibu kandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Inilah cerita seks sedarah antara ibu dan anak, bercinta dengan anak kandung ataupun bercinta dengan ibu kandung memang menjadi hal yang tak wajar, sangat tidak wajar, tapi cerita dewasa sedarah ini emang ada saja peminatnya, termasuk anda yang berkunjung kesini, selama menikmati, cerita seks sedarah, Bercinta dengan Mama sendiri Hari ini suntuk banget dirumah sendirian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah cerita seks sedarah antara ibu dan anak, bercinta dengan anak kandung ataupun bercinta dengan ibu kandung memang menjadi hal yang tak wajar, sangat tidak wajar, tapi <strong>cerita dewasa sedarah</strong> ini emang ada saja peminatnya, termasuk anda yang berkunjung kesini, selama menikmati, <strong>cerita seks sedarah</strong>, <strong>Bercinta dengan Mama sendiri</strong></p>
<p>Hari ini suntuk banget dirumah sendirian mamaku lagi masak didapur iseng-iseng aku jalan kedapur, melihat mama yang lagi masak waktu itu mamaku sedang memakai pakian yang longgar mirip daster. aku berjalan kedapur, aku perhatikan mama yang lagi masak, ternyata mamaku bodinya bagus juga. dalam pikiran mulai timbul niat isengku untuk mengerjai mama.</p>
<p>aku pelan-pelan mendekati mamaku, tanpa sepengatahuan mamaku aku jongkok dibawah mamaku yang sedang berdiri <span id="more-37"></span>di meja masak. aku intip bagian bawah mama ternyata mama tidak pakai celana dalam. pikiranku mulai kotor untuk ngentot mamaku, diam-diam aku keluarkan penisku yang sudah tegang&#8230; kemudian aku singkap baju mamaku dari bawah. dan ternyata mamaku diam saja. tidak menyadari kalo anaknya mau menyetubuhinya. tanganku mulai menggerayangi bagian tubuh mama, perut, tetek dan lehernya. ternyata mamaku diam aja.. akupun terus meremas-remas</p>
<p>tetek dan pantat bahenol mamaku.. mamaku mulai melenguh tak karuan. kemudian aku pegang kontolku dan mulai aku gesek-gesekan di pantat mama, mama melenguh tak karuan. kemudian dengan kedua kakiku aku berusaha melebarkan kaki mamaku, dengan penuh nafsuk aku mulai mengarahkan penisku ke vagina mama dari belakang. ternyata vagina mam sudah basah banget. akupun mulai memasukaan penus sidikit-demi sedikit ke lubang yang dulu tempat aku lahir,</p>
<p>aahhhh ennaaaaak terussss&#8230;&#8230;.. masukaan lagi yang dalam pinta mamaku.<br />
Bleesss&#8230;&#8230;&#8230; ahhhhhn akhirnya kontolku masuk semua kevagina mamaku&#8230;<br />
ahhhhhh nikmaaaaaaaaaaaatttt&#8230;&#8230;..<br />
pantatku mulai aku goyangkan maju mundur yang diselingi dengan pantat mamaku yang berputar-putar.. enakkkk sayang&#8230;. lebih keras lagi.. ohhhh&#8230;.ohhhhh sayang aku dah mau keluar. kata mamaku.. aku terus mempercepat pompaan pantatku divagina mama&#8230; dan akhirnya kami berdua sama-sama teriakkk.<br />
aaaaaaaaaaaahhhhhhh&#8230;&#8230;.aku keluar mah&#8230;aku juga sayang..aaaaaahhkkk nikkmaaaat&#8230;</p>
<p>sambil berdiri berpelukan kami berciuman mesra layaknya sepasang kekasih, kontolku masih berada dalam vagina mamaku. rasanya masih tersisa sedotan-sedotan vagina mamaku. sudah ya mahh&#8230; aku capek nih.. akh kamu nakal.kata mamaku. akhirnya hubungan itu setiap kali kami lakukan, baik itu dikamar, dapur atau kamar mandi&#8230;</p>
<p><strong>Nge-Seks Gratis Dengan Ibuku</strong></p>
<p>Halo pembaca aku mau nyritain pengalaman pribadiku ni.Tapi sebelum aku menyeritakan kisahku ini aku akan menyeritakan tentang diriku aku dulu.Aku Andika aku anak pertama dari sebuah keluarga sederhana didaerah xx.Tinggi aku 170cm,berat aku sekitar 40kg tapi gak tahu juga sih karena aku tidak pernah tes berat badan,kulitku sawo matang. Penisku panjangnya 14cm,diameternya kira-kira 3.5cm.</p>
<p>Kisahku terjadi Awal bulan juli 2004 ketika aku liburan sekolah ato aku mau masuk ke SMA. Waktu itu adalah hari minggu sehingga aku hanya malas-malasan dirumah saja dan adekku baru main ke tempat temannya dan ayahku baru ke kebun. Maklumlah tempat tinggalku di daerah pedesaan jadi pekerjaan ortuku adalah seorang petani,tapi aku bangga dengan pekerjaan ortuku itu karena mereka gak pernah berbohong ato korupsi seperti para wakil-wakil rakyat.</p>
<p>Siang itu aku dirumah merasa panas dan ingin mencari sesuatu di ruang tamu yang bisa aku makan.Ketika aku sampai ruang tamu aku dapati ibuku sedang tiduran di depan TV dan hanya menggunakan daster yang transparan sehingga CD dan BH ibuku terlihat dengan jelas olehku dan seluk beluk tubuhnya terlihat sangat menggairahkan.Waktu itu aku berumur 15thn dan ibuku 31 thn,maklum ibuku menikah dengan ayahku pada saat usianya 15thn. Maklumlah di desaku umur segitu dulu dah pada nikah. Aku yang melihat kejadian itu tak mampu mengendalikan nafsuku,dengan segera aku dekati ibuku dan aku sibak dasternya keatas sehingga Cdnya terlihat jelas oleh mataku. Aku segera meraba CD ibuku aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi nanti jika sampai ibuku bangun karena aku sudah kepalang nafsu.</p>
<p>Aku terus saja meraba CD ibuku hingga kudengar ibuku mendesah dalam tidurnya dan vaginanya sudah mulai basah. Aku sudah tidak tahan lagi berinisiatif menurunkan CD ibuku sehingga kini dihadapanku terlihat jelas vagina ibuku yang banyak ditumbuhi dengan rambut. Segera saja aku jilati vagina ibuku karena aku takut kalo ibuku akan segera bangun karena perbuatanku ini. Aku terus saja jilati vagina ibuku sehingga vaginanya semakin basah dan ibuku semakin mendesah. Aku yang sudah terbakar nafsu sudah tidak tahan dan aku lepaskan semua bajuku sehingga aku kini telanjang bulat dengan penis yang mengacung siap untuk aku masukan ke dalam vagina ibuku.</p>
<p>Perlahan aku arahakan penisku kelubang vagina ibuku yang masih menggunakan daster dan BH karena akau hanya melepas Cdnya aja. Aku mulai mengarahkan dan perlahan penisku mulai masuk kelubang vagina ibuku dengan mudah karena lubangnya sudah mulai basah sehingga mudah saja penisku masuk walaupun penisku ini juga besar. Tapi ini juga karena ibuku juga sudah melahirkan 2 orang anak sehingga lubangnya sudah agak lebar, tapi walaupun begitu punya ibuku itu masih nyedot dan memijat banget.</p>
<p>Aku mulai memompa keluar masuk penisku didalam lubang vaina ibuku sehingga terdengar gemercak-gemercik dan suara desahan ibuku yang membuat aku semakin bernafsu mempercepat gerakan penisku. Aku yang semakin bernafsu semakin mempercepat gerakan penisku dan tanpa akau sadari ibuku jadi bangun karena gerakanku yang cepat ini. Ibuku yang melihat perbuatanku ini sangat kaget dan berusaha melawan aku dan mencoba menghentikan gerakanku dan melepaskn penisku dari lubang vaginanya. Tapi itu sia-sia saja karena aku sudah terlanjur nafsu dan ibuku sebenarnya juga menikmati adegan ini karena terasa benar bahwa vaginanya basah banget,menyedot dan memijat.</p>
<p>Aku yang semakin bernafsu dan aku juga sudah tidak tahan lagi semakin mempercepat gerakanku dan ibuku masih berusaha menghentikan adegan ini dan tanpa disadari ibuku berteriak keras diseertai tubuhnya mengejang dan vaginanya keluar cairang yang begitu banyak aku kira dulu ibuku kencing tapi kini aku tahu bahwa ibuku telah orgasme dan aku pun sudah tidak tahan lagi aku semakin percepat gerakanku dan ibuku hanya pasrah dengan perbuatanku ini dan ia mulai mengendurkan perlawannya dan ia pasrah dengan wajah sayu dan lemas dan “ahhhhhhhhhhhhh” keluar juga spermaku dan semuanya aku semprotkan kelubang vagina ibuku. Aku tekan dalam-dalam penisku ke lubang vagina ibuku sehingga terasa mentok dan aku peluk ibuku sambil aku remas-remas payudaranya karena aku tadi belom sempat memainkan payudaranya dan aku juga mengajak ibuku jionan.</p>
<p>Pertama kali dia tidak mau dan berusaha menghindar tapi secepat kilat memasukan lidahku kedalam mulutnya dan memaenkannya dan beberapa menit kemudian ibuku namapaknya menikamatinya dan ikut mengimabangi gerakan lidahku. Setelah kami sama2 sudah bugar lagi,ibuku dengan cepat kilat melepaskan lidahnya dan angkat bicara.</p>
<p>“dika napa kamu lakuin ini ama ibu????”<br />
“abis dika nafsu lihat ibu tidur kaya gitu” “tapi kan gak seharusnya kamu lakuin ini, aku ini ibu kandungmu!!!!!!!!!”<br />
“tapi ibu juga menikmatinya kan ????????”</p>
<p>Ibuku hanya diam tidak mampu memnjawab pertanyaanku tadi karena dia mungkin malu kalo harus menjawab pertanyaan tadi karena aku dia benar-benar menikmati adegan tadi. “ibu gak mau kamu ngulangin ini lagi ama ibu karena kalo sampe ayahmu tahu bisa gawat” sontek ibuku mengagetkanku<br />
“tapi kalo ibu gak bilang kan gak bakal tahu “ jawabku.<br />
“ih dasar nak nakal!!!!!!!!!!”<br />
“biarin abiznya ibu benar-benar menggairahkan sih!mau ya bu maen ma aku lagi kapan2???”</p>
<p>Ibuku tidak menjawab dan melepaskan pelukanku dan dengan sendirinya penisku yang tadi masih didalam vagina ibuku terlepas dan telah mengecil dan dari lubang vagina ibuku aku lihat keluar cairan vagina ibku bercampur dengan spermaku.<br />
“Ok deh tapi dika hatrus janji sperma dika jangan dimasukin kedalm vagina ibu karena ibu tidak KB”jawabnya dengan pelan.<br />
“apa ibu gak KB?????????”tanyaku dengan kaget,karena aku kira ibuku dah kb’<br />
“ya makanya aku gak mau hamil karena anak ibu ndiri.kamu mau punya adek yang juga anak kamu??????”<br />
“ya sebenarnya sih mau aja bu karena aku mau tahu gimana hasil karya ciptaku”jawabku sambil tersenyum.<br />
“kamu tu bener-bener nakal ya”<br />
“trus gmn ni bu tadikan sperma dika masukin kevagina ibu????????”<br />
“nanti malam ibu mau minum jamu biar tidak hamil,cepat pake bajumu nanti gawat kalo ayahmu ato adekmu tahu”<br />
“Tapi ayah dan adek pulangnya nanti sore,Kita maen lagi yuk bu?????????’<br />
“ih dasar nafsu banget nih anak ibu ini,tapi janji gak boleh dimasukin didalam vagina ibu” “ok deh ma”</p>
<p>Aku mulai memasukan penisku lgi kedalm vagina ibuku karena penisku sudah tegang lagi dan vagina ibuku masih basah sehingga tidak perlu pemanasan lagi dan kin ibuku tidak memakai pakaian sehelaipun karena darster dan Bhnya telah dilepasnya. Aku mulai menytubuhi ibu dengan nafsu yang membara dan beda denagan awal tadi karna kini ibuku juga dengan sukarela melayaniku shingga kami benar-benar seperti sepasang suami.</p>
<p>Aku mencoba beberapa gaya dengan ibuku dan tak kusangga akau dan ibuku telah maen + 2jam dan selama tu ibuku telah orgasme selama4X sehingga ibuku benar-benar telah lemas dan kini ia hanya pasrah dengan perbuatanku dan menungguku mengakhirnya. Aku pun sudah tihan tahan lagi dan gerakanku makin cepat dan ibuku mengetahui aku kan orgasme juga dan berusaha mendorongku agar spermaku keluar didalm vaginanya.Tapi tenagaku lebih kuat sehingga ku keluarkan lagi spermaku didalam vagina ibuku dan ibuku kembali orgasme lagi.<br />
AQ memeluk ibuku dan dia menamparku sambil berkata:”dika napa kamu masukin lagi didalam?”<br />
“ma setelah aku pikir-pikir aku pengin punya anak dari mama”<br />
“hah??????kamu gila aku ini ibumu trus kamu mau hamilin ibumu ndiri??????”<br />
“tapikan ibu ce dan aku co jadi bisa dunk?????”<br />
“aku gak mau nglahirin anak buat kamu!!!!!!!!!!!’<br />
Ibuku terus melepaskan pelukanku dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Aku juga mandi setelah ibu mandinya selesai.</p>
<p>Malam itu ayah dan adeku tidak ada dirumah karena tadi sore mereka brangkat ke banyuwangi ketempat saudaraku yang ada nikahan. Aku tidak ikut dengan alasan mau jaga di rumah ayahku yang tidak percaya menyuruh ibuku menjagaku karena ayahku takut aku macam-macam dirumah. Dalam hatiku senang sekali karena ibuku gak ikut sehingga satu minggu ini aku bebas menyetubuhi ibuku karena ayahku dan adekku pergi selama satu minggu.</p>
<p>Malam itu ibu sudah beli jamu agar tidak hamil dan ketika mau diminum di kamarnya aku buru-buru masuk karna aku tahu ibu pasti mau minum jamu itu dan aku tidak ingin itu terjadi karena aku pengin punya anak dari ibuku. Aku tampar gelas yang isinya jamu itu dan semua jatuh dilantai.<br />
“dika apa yang kamu lakuin??????”<br />
“aku pengin ibu halim karna ku”<br />
“itu gak boleh terjadi”<br />
“pokoknya boleh!!!!!!!!”seruku sambil memeluk ibuku dan merangsangnya dan malam itu aku dan ibuku melakkukannya lagi sampai pagi.</p>
<p>Dan paginya setelah sarapan pun aku kembali menyetubuhi ibuku dengan penuh nafsu dan aku tidak memberi kesempatn kepada ibuku untuk minum jamu. Selama 1 minggu itu pula siang dan malam aku setubuhi ibuku dan aku lebih betah di rumah untuk menyetubuhi ibuku. 1minggu telah berlalu dan ayahku telah pulang dan aku resmi sekarang menjadi siswa SMA klas1, selama ayahku dirumah aku tetap menyetuhi ibuku ketika ayahku dikebun, sehingga pulang sekolah aku langsung pulang untuk menyetubuhi ibuku. Selama itu pula ibuku berkali-kali mencoba minum jamu sehingga aku extra ketat mengaawasi ibu kalo malam, karena kalo siang ibu gak suka minum jamu, karena abis minum jamu biasanya dipake dia tidur. Dan tak terasa hubunganku dengan ibuku telah satu bulan dan ibuku mengaku padaku sudah telat mens 2minggu dan dia bilang ini anakku bukan anak ayahku.Aku senang sekali dan sejak saat itu ibuku sudah tidak mencoba minum jamu lagi karna sudah terlanjur hamil.</p>
<p>Sejak saat itu aku rutin menyetubuhinya. Kira-kira pertengahan bulan april 2005 ibuku melahirkan anak dengan jenis kelamin cewek. Aku benar-benar senang begitu juga dengan ayahku karna dia kira itu anaknya padahal itu adalah cucunya alias anakku.</p>
<p>Sejak saat itu aku terus menyetubuhi ibuku mula-mula menolaknya tapi akhirnya dia mau juga karena dia juga mengakui lebih puas aku setubuhi daripada disetubuhi ayahku. Kini aku kelas 3 SMA dan aku masih setia menyetubuhi ibuku tetapi sejak melahirkan anakku ibuku melakukan Kb karena dia tidak ingin punya anak lagi dari aku karena dia bilang bahwa ayahku sudah impotent jadi dia takut kalo dia hamil bakal ketahuan oleh ayahku.Tapi gak apalah yang penting aku bisa ngeseks gratis dengan ibuku.</p>
<p>Demikian cerita seks dengan mamaku sendiri, ku nikmati setiap lekukan tubuh mamaku sendiri dengan sangat nikmat, ngesek dengan mamaku emang tiada duanya, ngentot mama enaknya luar biasa.. Sekian&#8230;Aku berharap kalian tidak emniru aku yang bejat&#8230; karena hubungan seks yang gak wajar&#8230;</p>
<p>Demikian <strong><a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a></strong> kali ini&#8230; Nantikan cerita dewasa selanjutnya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/ngentot-mamaku-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Aku, Mama Dan Tante</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/antara-aku-mama-dan-tante/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/antara-aku-mama-dan-tante/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 22:47:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks ibu dan anak]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks menyimpang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tante girang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ini menjadi cerita aneh bagi anda, tapi tetap semua bisa menjadi pelajaran buat kita, cerita seks yang menceritakan hubungan intim terlarang antara anka dan ibu, ya inilah cerita seks ibu dan anak, di tambah bergabungnya tante sendiri dalam permainan seks nya. Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin ini menjadi cerita aneh bagi anda, tapi tetap semua bisa menjadi pelajaran buat kita, <strong>cerita seks</strong> yang menceritakan hubungan intim terlarang antara anka dan ibu, ya inilah cerita seks ibu dan anak, di tambah bergabungnya tante sendiri dalam permainan seks nya.</p>
<p>Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.</p>
<p>Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.</p>
<p>Waktu itu<span id="more-14"></span> hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.</p>
<p>Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.</p>
<p>Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.</p>
<p>Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.</p>
<p>&#8220;Roy..!&#8221; panggil mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.<br />
&#8220;Ada apa, Ma?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya&#8230;&#8221; kata mama sambil tengkurap.<br />
&#8220;Iya, Ma&#8230;&#8221; jawab aku.</p>
<p>Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, &#8220;Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih&#8230;&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Seluruh badan mama,&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Ya sudah, mama buka baju saja,&#8221; kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.<br />
&#8220;Ayo lanjutkan, Roy!&#8221; kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.<br />
&#8220;Mama tidak malu buka baju depan Roy?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,&#8221; jawab mama sambil memejamkan mata.</p>
<p>Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai &#8220;memijit&#8221; paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.</p>
<p>&#8220;Kok dilewat sih, Roy?&#8221; protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.<br />
&#8220;Mm.. Roy takut mama marah&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!&#8221; pinta mama.</p>
<p>Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. Kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.</p>
<p>Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.</p>
<p>Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.</p>
<p>&#8220;Roy, kamu ngapain?&#8221; tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.<br />
&#8220;Maaf, Ma&#8230;&#8221; kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.<br />
&#8220;Roy tidak tahan menahan nafsu&#8230;&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nafsu apa?&#8221; kata mama dengan nada lembut.<br />
&#8220;Sini berbaring dekat mama,&#8221; kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.<br />
&#8220;Sini berbaring Roy,&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Tutup dulu pintu kamar,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.</p>
<p>Mama menatapku sambil membelai rambut aku.</p>
<p>&#8220;Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,&#8221; tanya mama lembut.<br />
&#8220;Mama marahkah?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Berarti anak mama sudah mulai dewasa,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Kamu benar-benar mau sayang?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Maksud mama?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Dua jam lagi Papa kamu pulang&#8230;&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.</p>
<p>Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.</p>
<p>&#8220;Buka pakaian kamu, Roy,&#8221; kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.</p>
<p>Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.</p>
<p>&#8220;Kontol kamu besar, Roy&#8230;&#8221; kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.<br />
&#8220;Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?&#8221; tanya mama.<br />
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, &#8220;Belum pernah, Ma.. Mmhh..&#8221;. Mama tersenyum, entah apa artinya.</p>
<p>Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.</p>
<p>&#8220;Enak sayang?&#8221; tanya mama sambil menengadah menatapku.<br />
&#8220;Iya, Ma.. Enak sekali,&#8221; jawabku dengan suara tertahan.<br />
&#8220;Sini sayang. Kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil menarik tanganku.</p>
<p>Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.</p>
<p>&#8220;Ayo, Roy.. Masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil terus memandang wajahku.</p>
<p>Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.</p>
<p>&#8220;Enak, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Sangat enak, Ma&#8230;&#8221; jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.<br />
&#8220;Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?&#8221; tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.<br />
&#8220;Karena mama sayang kamu, Roy&#8230;&#8221; jawab mama.<br />
&#8220;Sangat sayang&#8230;&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh&#8230;&#8221; lanjutnya lagi.</p>
<p>Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.</p>
<p>&#8220;Roy juga sangat sayang mama&#8230;&#8221; ujarku.<br />
&#8220;Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh&#8230;&#8221; desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.<br />
&#8220;Mama mau keluar&#8230;&#8221; desah mama lagi.</p>
<p>Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..</p>
<p>&#8220;Ohh.. Enak sayangg&#8230;&#8221; desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.</p>
<p>Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..</p>
<p>&#8220;Ma, Roy gak tahann&#8230;&#8221; ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.<br />
&#8220;Keluarin sayang&#8230;&#8221; ujar mama sambil meremas-remas pantatku.<br />
&#8220;Keluarin di dalam aja sayang biar enak&#8230;&#8221; bisik mama mesra.</p>
<p>Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.</p>
<p>&#8220;Mmhh&#8230;&#8221; desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; ujar aku sambil mencium bibir mama.<br />
&#8220;Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!&#8221; kata mama.</p>
<p>Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.</p>
<p>Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.</p>
<p>Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,&#8221;ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Hayo, ngapain..?&#8221; tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok&#8230;&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Curigaan amat sih, tante?&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil tersenyum.<br />
&#8220;Kayak suara yang lagi enak&#8230;&#8221; ujar tante Rina lagi.<br />
&#8220;Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah&#8230;&#8221; ujarku sambil bangkit.<br />
&#8220;Maaf dong, Roy. Tante becanda kok&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kamu mau kemana?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Mau tidur,&#8221; jawabku pendek.<br />
&#8220;Temenein tante dong, Roy,&#8221; pinta tante.</p>
<p>Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.</p>
<p>&#8220;Ada apa sih tante?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,&#8221; jawab tante Rina.<br />
&#8220;Kamu sudah punya pacar, Roy?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Belum tante. Kenapa?&#8221; aku balik bertanya.<br />
&#8220;Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?&#8221; tanya tante lagi.<br />
&#8220;Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?&#8221; tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.</p>
<p>Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.</p>
<p>&#8220;Ni tante lagi horny kayaknya&#8230;&#8221; pikir aku.</p>
<p>Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.</p>
<p>&#8220;Mmhh..&#8221;</p>
<p>Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. Kontolku langsung tegang.</p>
<p>&#8220;Roy, pindah ke kamar tante, yuk?&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Iya tante&#8230;&#8221; jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.</p>
<p>Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.</p>
<p>&#8220;Ayo Roy, tante sudah gak tahan&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.</p>
<p>Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.</p>
<p>&#8220;Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.</p>
<p>Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. Memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.</p>
<p>&#8220;Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.</p>
<p>Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.</p>
<p>&#8220;Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh&#8230;&#8221; desah tante Rina.</p>
<p>Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.</p>
<p>&#8220;Isep dong kontol Roy, tante&#8230;&#8221; pintaku.</p>
<p>Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.</p>
<p>&#8220;Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante&#8230;&#8221; kataku.</p>
<p>Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.</p>
<p>&#8220;Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan&#8230;&#8221; bisik tante Rina.</p>
<p>Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. Kontolku keluar masuk memek tante Rina.</p>
<p>&#8220;Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan&#8230;&#8221; kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.<br />
&#8220;Ah, biasa saja, tante&#8230;&#8221; ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.</p>
<p>Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.</p>
<p>&#8220;Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh&#8230;&#8221; desahnya.</p>
<p>Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.</p>
<p>&#8220;Tente udah keluar, sayang&#8230;&#8221; bisik tante Rina.<br />
&#8220;Kamu hebat.. Kuat&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu&#8230;&#8221; ujarnya lagi.</p>
<p>Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.</p>
<p>&#8220;Roy mau keluar, Tante&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Jangan keluarkan di dalam, sayang&#8230;&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Cabut dulu&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Sini tante isepin&#8230;&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.</p>
<p>Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.</p>
<p>&#8220;Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?&#8221; tanya tante sambil memeluk aku.<br />
&#8220;Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Terima kasih, sayang,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya, sana tidur,&#8221; katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.</p>
<p>Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.</p>
<p>&#8220;Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?&#8221; tanya mama mengejutkanku.</p>
<p>Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,&#8221;Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?&#8221; tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.</p>
<p>&#8220;Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian&#8230;&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Kalian hati-hatilah&#8230;&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Kenapa mama tidak marah,&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Roy sayang mama,&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Bantu apa, Ma?&#8221; aku balik tanya.<br />
&#8220;Mama ingin&#8230;&#8221; ujar mama sambil mengusap kontolku.<br />
&#8220;Roy akan lakukan apapun buat mama&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Mama tunggu di kamar ya?&#8221; kata mama. Aku mengangguk..</p>
<p>Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.</p>
<p>Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.</p>
<p>Demikian <a href="http://cerita.modelperawan.com">Cerita Dewasa</a> ini kami suguhkan kepada anda semoga menjadi bagian dari pelajaran agar kita bisa memperhatikan lingkungan sekitar, dan terhindar dari seks yang menyimpang.</p>
<p>Sekian</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/antara-aku-mama-dan-tante/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

