<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa &#187; cerita seks ABG</title>
	<atom:link href="http://cerita.modelperawan.com/tag/cerita-seks-abg/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.modelperawan.com</link>
	<description>Cerita seks terlengkap dan cerita dewasa terbaru</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 02:37:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Bercinta dengan Om</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-om/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-om/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 10:19:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[abg cari om berduit]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan om genit]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks ABG]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks daun muda]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks dengan om]]></category>
		<category><![CDATA[seks abag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Kisah daun muda, ya kisah cerita daun muda, atau anak yang baru gede, yang orang banyak sebut sebagai abg, cerita seks nya tak kalah hot dengan cerita seks dewasa lain nya, walau masih muda, bukan berarti cerita seks nya muda, bahkan pengalaman seks anak muda jaman sekarang jauh lebih hebat, karena belajar langung dalam film [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah daun muda, ya kisah cerita daun muda, atau anak yang baru gede, yang orang banyak sebut sebagai abg, cerita seks nya tak kalah hot dengan cerita seks dewasa lain nya, walau masih muda, bukan berarti cerita seks nya muda, bahkan pengalaman seks anak muda jaman sekarang jauh lebih hebat, karena belajar langung dalam film bokep yang selama ini beredar.berikut cerita seks bercinta dengan om-om.</p>
<p>Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan seperti aku, sehingga tidak seperti gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang indah sampai rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.</p>
<p>Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sekolah, aku disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta.</p>
<p>Om Robert ini walau usianya sudah di akhir kepala 4, namun wajah dan gayanya masih seperti anak muda. Dari dulu diam-diam aku sedikit naksir padanya. Habis selain ganteng dan rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya sejak<span id="more-47"></span> semasa kuliah dulu, oleh sebab itu kami lumayan dekat dengan keluarganya.</p>
<p>Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, sedang istrinya aktif di kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta. Ibu sering diajak oleh si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak karena dia lebih senang di rumah.</p>
<p>Dengan diantar supir, aku sampai juga di rumahnya Om Robert yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang luas. Sejak kecil aku sudah sering ke sini, namun baru kali ini aku datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, aku memencet bel pintu rumahnya sambil membawa amplop besar titipan ayahku.</p>
<p>Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat dia berikan sendiri.</p>
<p>Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan tua keluar dari dalam dan membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar.<br />
Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, &#8220;Tuan sedang berenang, Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan kalau Non sudah datang.&#8221;<br />
&#8220;Makasih, Bi.&#8221; jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.</p>
<p>Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula dengan Om Robert. Karena bosan, aku jalan-jalan dan sampai di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robert yang sedang berdiri dan mengeringkan tubuh dengan handuk.</p>
<p>&#8220;Ooh..&#8221; pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulubulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya.<br />
Wajahku agak memerah karena mendadak aku jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku berdiri terpaku dengan tatapan tolol, dia pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya.</p>
<p>&#8220;Halo Karin, apa kabar kamu..?&#8221; sapa Om Robert hangat sambil memberikan sun di pipiku. Aku pun balas sun dia walau kagok, &#8220;Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?&#8221;<br />
&#8220;Om baik-baik aja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?&#8221; tanya Om Robert sambil memandangku dari atas sampai ke bawah.<br />
Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, sedangkan aku sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang Om Robert yang ketat itu mengeras.</p>
<p>&#8220;Iya Om, baru latihan cheers. Tante Mella mana Om..?&#8221; ujarku basa-basi.<br />
&#8220;Tante Mella lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih.&#8221; balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya.<br />
&#8220;Ooh..&#8221; jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi.<br />
&#8220;Ke dapur yuk..!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu mau minum apa Rin..?&#8221; tanya Om Robert ketika kami sampai di dapur.<br />
&#8220;Air putih aja Om, biar awet muda.&#8221; jawabku asal.<br />
Sambil menunggu Om Robert menuangkan air dingin ke gelas, aku pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada bangku di dapurnya.<br />
&#8220;Duduk di sini boleh yah Om..?&#8221; tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat.<br />
&#8220;Boleh kok Rin.&#8221; kata Om Robert sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.</p>
<p>Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menggoda itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Robert pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku.<br />
&#8220;Aaah..!&#8221; pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert langsung menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.<br />
&#8220;Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kamu jadi basah semua tuh.<br />
Dingin nggak airnya tadi..?&#8221; tanya Om Robert sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.</p>
<p>Aku yang masih terkejut hanya diam mengamati tangan Om Robert yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku yang basah dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert.<br />
&#8220;Om.. udah Om..!&#8221; kataku lirih.<br />
Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.</p>
<p>&#8220;Kamu cantik, Karin..&#8221; ujarnya lembut.<br />
Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku tepat di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robert kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robert, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.</p>
<p>Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.</p>
<p>Aku melenguh agak keras dan Om Robert pun makin giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan dia melepaskan ciumannya dan aku membiarkan dia melepas kaosku dari atas. Kini aku duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip. Kemudian dia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.</p>
<p>Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa aneh karena baru kali ini aku telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba aku merasa putingku yang sudah tegang akibat nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.</p>
<p>Tanpa kusadari, aku pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Robert bernafsu.<br />
&#8220;Oom.. aah.. aaah..!&#8221;<br />
&#8220;Rin, kamu kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus banget. Apalagi<br />
ini..&#8221; godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang.<br />
&#8220;Ahh.., Om.. gelii..!&#8221; balasku manja.</p>
<p>&#8220;Sshh.. jangan panggil &#8216;Om&#8217;, sekarang panggil &#8216;Robert&#8217; aja ya, Rin. Kamu kan udah gede..&#8221; ujarnya.<br />
&#8220;Iya deh, Om.&#8221; jawabku nakal dan Om Robert pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi.<br />
&#8220;Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!&#8221; kataku sambil sedikit cemberut namun dia tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra.</p>
<p>Entah kapan tepatnya, Om Robert berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu aku sudah telanjang bulat di atas meja dapur itu dan Om Robert sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja. Kini Om Robert membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya agar dia dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.</p>
<p>Kemudian lidah yang hangat dan basah itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga aku mengerang tidak tertahan.<br />
&#8220;Aeeh.. uuh&#8230; Rob.. aawh.. ehh..!&#8221;<br />
Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robert dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang.</p>
<p>Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Robert pun menjilatinya dengan cepat sampai vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak sabar ingin dimasuki olehnya.</p>
<p>Perlahan Om Robert mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya aku hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya.<br />
&#8220;Aaww.. gede banget sih Rob..!&#8221; ujarku karena dari tadi Om Robert belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu.<br />
&#8220;Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kamu juga sempitnya.. ampun deh..!&#8221;<br />
Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu.</p>
<p>Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Robert berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robert mengerang keenakan.<br />
&#8220;Ah Rin&#8230; enak Rin.. aduuuh..!&#8221;<br />
&#8220;Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. terusss.. eehh..!&#8221; balasku sambil merem melek keenakan.</p>
<p>Om Robert tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang kalau sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robert semakin nafsu saja.<br />
&#8220;Awwh.. awwwh.. aah..!&#8221; orgasmeku mulai lagi.<br />
Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih berdiri tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.</p>
<p>Kini posisiku membelakangi Om Robert dan dia pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi.</p>
<p>&#8220;Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterrr..!&#8221; rintihku dan Om Robert serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku. Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robert yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.</p>
<p>Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosokgosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang kuat dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Robert, akhirnya dia ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.</p>
<p>&#8220;Aaah.. Riin..!&#8221; erangnya.</p>
<p>Om Robert melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan aku berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Robert duduk di sebelahku dan kami samasama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.</p>
<p>&#8220;Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!&#8221; ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robert.<br />
Om Robert hanya terdiam sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, kemudian dia mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.</p>
<p>Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, aku keluar menemui Om Robert yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum.<br />
&#8220;Rin, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kamu nggak menyesal kan..?&#8221; ujar Om Robert sambil menarik diriku duduk di pangkuannya.<br />
&#8220;Enggak Om, dari dulu Karin emang senang sama Om, menurut Karin Om itu temen ayah yang paling ganteng dan baik.&#8221; pujiku.<br />
&#8220;Makasih ya Sayang, ingat kalau ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?&#8221; balasnya.<br />
&#8220;Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om jago deh.&#8221;<br />
&#8220;Iya Rin, kamu juga. Om aja nggak nyangka kamu bisa muasin Om kayak tadi.&#8221;<br />
&#8220;He.. he.. he..&#8221; aku tersipu malu.</p>
<p>&#8220;Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa.&#8221; ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Robert.<br />
&#8220;Iya, makasih ya Karin sayang..&#8221; jawab Om Robert sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku.<br />
&#8220;Aah.. Om, Karin musti pulang nih, udah sore.&#8221; elakku sambil melepaskan diri dari Om Robert.<br />
Om Robert pun berdiri dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke mobil dan aku pun pulang.</p>
<p>Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya.<br />
&#8220;Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?&#8221;<br />
Sambil menahan tawa aku pun berkata, &#8220;Iya Pak, dikasih &#8216;wejangan&#8217; pula..&#8221; Supirku hanya dapat memandangku dari kaca spion dengan pandangan tidak mengerti dan aku hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..</p>
<p>Cerita seks memang tak akan ada habis di ceritakan, selalu saja ada yang baru di <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a>. nantikan postingan kami selanjutnya, tentang cerita seks dewasa yang membuat anda betah untuk berlama-lama di website kami. Sekian&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-om/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerkosaan ABG</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/pemerkosaan-abg/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/pemerkosaan-abg/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 18:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks ABG]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks pertama]]></category>
		<category><![CDATA[hilang keperawanan]]></category>
		<category><![CDATA[pemerkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tak tergoda dengan tuguh seorang abg, masih seger, padat dan pastinya ranum, orang mengistilahkan dengan wanita bau kencur, atau wanita yang masih suci, bagaimana jika keperawanan nya hilang karena di perkosa? Berikut adalah cerita pemerkosaan Seorang ABG. Mungkin emnarik untuk anda simak&#8230;. Bejo adalah seorang narapidana dari sebuah rutan di suatu kabupaten di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tak tergoda dengan tuguh seorang abg, masih seger, padat dan pastinya ranum, orang mengistilahkan dengan wanita bau kencur, atau  wanita yang masih suci, bagaimana jika keperawanan nya hilang karena di perkosa? Berikut adalah <em><strong>cerita pemerkosaan Seorang ABG</strong></em>. Mungkin emnarik untuk anda simak&#8230;.</p>
<p>Bejo adalah seorang narapidana dari sebuah rutan di suatu kabupaten di Jawa Tengah. Ia masuk penjara karena mencuri dengan kekerasan. Berperawakan sedang, kulit sawo matang, rambut cepak dihiasi sebuah tato banteng di punggungnya. Hukuman yang Bejo terima selama 1 tahun 8 bulan penjara. Namun karena berkelakuan baik, ia mendapat pengurangan hukuman sebanyak 2 bulan. Dalam rutan tersebut pria itu banyak kenal dekat dengan para penjaga rutan. Bahkan saking dekatnya, ia sering mendapat kepercayaan untuk mengurusi tetek-bengek kebutuhan para penjaga mulai dari beli rokok di warung luar penjara sampai beli makanan di warteg! Memang si Bejo paling pintar mengambil hati para penjaga rutan itu. Namun ia tidak <span id="more-40"></span>berani disuruh pergi agak jauh dari rutan, karena khawatir, kalau ada kepala rutan mendadak melihat ia sedang berada di luar bisa gawat. Hari kebebasan yang tinggal 1 hari lagi bisa sirna.</p>
<p>Namun hari itu &#8220;mungkin&#8221; merupakan hari keberuntungannya, Bejo diminta oleh salah seorang sipir penjara untuk mengantarkan sebuah bungkusan ke rumah temannya yang berada jauh dari rutan. &#8220;Wah, mas! nanti kalau ketahuan saya tidak ada di tempat bagaimana? &#8220;, tanya Bejo dengan cemas. &#8220;Tenang Jo. bapak lagi keluar daerah 2 hari. Pokoke kamu tenang saja, aku jamin aman&#8221;, jawab si sipir penjara yang paling dekat dengan si napi satu ini. Sambil menghela nafas lega Bejo yang sudah mengganti bajunya dengan baju biasa pergi meninggalkan rutan. Di tengah perjalanan, ia terusik akan isi bungkusan yang dibawanya. Alangkah kagetnya ketika dibuka isinya vcd porno berjumlah 30 lembar. Kebanyakan dari vcd itu merupakan film porno asia terutama Jepang. Mata si Bejo melotot melihat gambar2 sampul vcd itu. Namun segera ia masukkan kembali karena sedang berada dalam angkutan umum. Nafasnya naik turun gara-gara melihat sampul vcd tadi. Terlebih sudah lama ia tidak merasakan kenikmatan tubuh wa nita. &#8220;Sialan mas Surip! aku disuruh mulangin barang ke rumah temennya nggak taunya vcd bf!&#8221;, umpat Bejo dalam hati ,&#8221;Otakku nggak keruan jadinya!&#8221;.</p>
<p>Akhirnya tibalah sang napi ke tempat yang dituju, yang ternyata rumah kos. Orang yang dituju menyewa kamar di belakang rumah kos yang berada di lantai 2. Ternyata teman si sipir penjara tadi hendak pergi keluar. Dengan ramah ia menawarkan Bejo untuk menonton vcd koleksinya yang dipinjam sang sipir. Dengan antusias Bejo menerima tawarannya, sambil tidak melupakan pesan orang itu agar menitipkan kunci kamar kepada pemilik kost setelah ia selesai nonton. Film demi film Bejo tonton dengan penuh nafsu. Selesai menonton, sesuai dengan janjinya ia titipkan kunci kamar kepada pemilik rumah. Waktu menunjukkan pukul 14:00 siang. Di dalam angkot Bejo merasakan nafsu birahinya naik turun. Ia merasa kesal karena gejolak nafsu dalam dirinya belum dapat terlampiaskan. &#8220;Uuuhh! Sial! gara-gara film tadi otakku nggak karu-karuan&#8221;, sesal Bejo. Namun apa daya di dalam angkot yang ditumpanginya hanya berisi 3 orang pria dan 1 orang nenek. Kemudian satu demi satu penumpang itu turun tinggal ia sendiri. Disaat dirinya sedang tenggelam dalam lamunan joroknya, sang sopir angkot menepikan mobilnya pertanda akan ada penumpang yang naik. Naiklah seorang gadis SMU ke dalam angkot yang ia tumpangi dan duduk dekat pintu keluar masuk angkot. Serta merta mata si Bejo melirik tajam ke arah cewek itu. Diamatinya tubuh gadis itu dengan seksama. Wajahnya lumayan manis dengan rambut sebahu diikat kebelakang, buah dadanya terlihat agak menonjol dari balik seragam OSISnya. Lekukan pinggul dan pantatnya kelihatan padat berisi dibalut rok abu-abu selutut. Otak, mata dan birahinya terasa panas membara. Bayangan akan blue film yang ditontonnya tadi terlintas jelas. Terutama film Jepang dengan adegan seorang siswi SMU yang sedang ditunggangi seorang pria dari belakang. Sadar akan dirinya sedang dipandangi oleh orang asing, <em><strong>gadis</strong></em> itu berusaha menutupi paha dan lututnya dengan tas sekolahnya. Dirinya mulai merasakan kegelisahan dan rasa cemas yang amat sangat karena pria itu terus menatapnya seola h-olah ingin menerkam.</p>
<p>Namun gadis SMU itu merasa lega karena tujuannya sudah dekat. Segera ia minta turun dan membayar ongkos. Sambil berjalan dengan perasaan was-was, gadis itu bolak-balik menengok kalau pria yang menakutkannya itu ikut turun dan mengikutinya. Dilihat sosok yang dimaksud tidak ada perasaannya kembali lega. <strong>Gadis</strong> itu berjalan menyusuri jalan setapak dimana kanan kirinya merupakan tanah kosong ditumbuhi pepohonan dan semak rimbun dengan beberapa gubuk kosong yang berdiri . Namun tanpa disadarinya si Bejo sedari tadi menguntitnya dari belakang sambil menjaga jarak dan bersembunyi di balik pepohonan. Sang napi segera mengambil jalan pintas untuk mendahului langkah gadis itu. Dari balik pohon dan semak belukar yang agak lebat Bejo menanti mangsanya mendekat. Begitu gadis SMU itu berjalan melewati lokasi tempat Bejo bersembunyi, pria itu segera bergerak meringkusnya dari belakang. Untuk melumpuhkan mangsanya Bejo menempelkan sebuah pisau yang ia ambil dari tempat kos tadi. Ditempelk annya pisau ke leher gadis itu sambil tangan kirinya menutup mulutnya dan mengancam agar ia tidak berteriak. Bau harum tubuh gadis itu membuat ia tidak tahan lagi. Diseretnya gadis itu ke dalam rerimbunan pohon dan semak-semak. Gadis yang tidak berdaya itu hanya bisa menangis terisak-isak ketakutan akan keselamatan dirinya. Sampai ditempat yang dirasa Bejo aman, ia segera melaksanakan aksinya. Sambil tetap menempelkan pisaunya ke leher gadis SMU itu, tangan kirinya mulai bergerilya meremas-remas buah dada korbannya dari luar hem putihnya. Tangan gadis kiri gadis itu berusaha mencegah namun urung karena Bejo makin menempelkan pisau yang dipegang itu ke lehernya. &#8220;Ampun pak&#8230;tolong lepaskan saya&#8221;, isak gadis itu memohon. &#8220;Ssshh&#8230;Diam manis, kalau sekali lagi kamu bicara akan kugorok lehermu!&#8221;, hardik Bejo pelan sambil menciumi leher gadis itu. Puas meremas-remas buah dadanya, tangan kirinya bergerak turun meraba dan mengobok-obok selangkangan gadis itu dari balik rok abu-abunya. S edangkan dari belakang ia gesek-gesekkan penisnya yang sudah menegang dalam celana ke belahan pantat gadis itu. Cewek SMU itu hanya bisa menangis pasrah tak berdaya diperlakukan seperti itu.</p>
<p>Tangan kiri Bejo menarik rok SMU gadis itu keatas kemudian jemarinya segera menyusup kedalam cd dan mulai mengorek-ngorek vaginanya. Gadis itu tersentak karena perlakuan Bejo lagipula seumur hidupnya belum pernah ada tangan kasar pria yang menyentuh liang kewanitaannya. Rintihan dan isak tangis gadis itu membuat birahi Bejo semakin naik. &#8220;AAkkhh&#8230;!&#8221;&#8216;, pekik gadis itu tiba2 karena jatuh telungkup diatas rerumputan tebal akibat didorong Bejo dari belakang. Belum punah rasa kaget dan ketakutannya, kedua belah tangannya ditarik kebelakang oleh Bejo kemudian diikat dengan tali yang sudah dipersiapkannya. Merasa mangsanya tidak mungkin kabur ditancapkannya pisau yang dipegangnya ke tanah. Kemudian pria birahi itu membuka seluruh pakaiannya hingga bugil. Dan nampak penis yang sudah berdiri mengeras mengacung keatas siap bertempur. Dibaliknya tubuh gadis itu. Dengan mata terbelalak ia menatap Bejo yang sudah bugil dengan penis besar sedang mengacung. Mulutnya yang hendak berteria k segera disumpal Bejo dengan sehelai saputangan. Tangan-tangan kasar Bejo membuka paksa seragam putih yang dikenakannya sehingga sobek. Terpampanglah bukit kembar sekepalan tangan terbungkus bra berwarna coklat muda. Dengan sekali tarik putuslah bh itu tinggal buah dada yang terpampang indah dengan puting susu berwarna coklat muda. Dengan rakus dikulum dan dilumatnya kedua buah dada itu bergantian. Tangan kirinya meremas buah dada sambil sesekali memelintir puting susu gadis itu. Sedangkan tangan kanannya meraba dan mengelus selangkangan gadis itu dari luar rok abu-abunya. Tentu saja tubuh gadis yg belum pernah disentuh oleh pria itu menggelinjang tidak karuan. Apalagi ketika tangan kasar lelaki itu masuk ke dalam roknya serta <strong>meraba dan mengelus paha dan vaginanya</strong>, membuat tubuhnya bergetar bagaikan tersengat listrik. Lama kelamaan celana dalam gadis itu mulai basah akibat perlakuannya.</p>
<p>Merasa tidak tahan lagi, Bejo membalikkan tubuh siswi SMU itu hingga kembali tengkurap. Ditariknya pinggul ABG itu sehingga posisinya seperti orang bersujud dengan pantat menungging serta tangan terikat ke belakang. Dielus dan diremasnya pantat yang padat dan kenyal itu, sambil sesekali menggosok-gosokkan penisnya ke belahan pantat yang masih terbungkus rok abu-abu SMU. Jerit dan isak tangis yang tertahan akibat mulut yang tersumpal gadis itu makin menjadi-jadi ketika tangan Bejo menyingkap roknya ke atas dan <strong>memelorotkan celana</strong> dalam putihnya. Dengan mata melotot dipandanginya pantat yang putih bulat serta padat dan kenyal itu. Diremas, dicium, digigit dan dikulumnya pantat itu. Dalam keadaan yang tidak berdaya gadis itu hanya bisa menangis pasrah. Rasa ketakutan yang amat sangat tidak henti-hentinya menyergap dirinya. Degup jantungnya berdebar kencang ketika pahanya dilebarkan Bejo. Dengan rasa yang berdebar dia menant i apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya. Tiba-tiba ia memekik tertahan ketika merasakan benda kenyal dan besar sedang menggesek belahan pantatnya. Rupanya Bejo sedang melakukan pemanasan berikutnya dengan menggesekkan batang kemaluannya. Dengan nafas memburu ia arahkan penis besar menegang itu ke liang senggama yang lembab, sedangkan tangan kirinya mencengkram erat pinggul siswi SMU itu. Tubuh gadis itu tersentak ketika merasa benda asing dan besar sedang memasuki vaginanya dengan paksa. &#8220;Ssshhh&#8230;.&#8221;, desis mulut Bejo yang sedang melakukan penetrasi. Terasa sempit dan hangat. Butuh usaha yang keras. Senti demi senti hingga setengah dari penisnya perlahan menembus liang kenikmatan ABG itu, hingga akhirnya seluruhnya terbenam masuk. &#8220;SShhh&#8230;ahhh&#8230;&#8221;, desis dan desah nikmat keluar dari mulutnya. Sedangkan tubuh gadis bergetar akibat menahan sakit dan tangis. Nampak darah menetes dari selangkangannya. Jebol sudah keperawanannya. Dibiarkannya sejena k penisnya yang menancap dalam liang surga itu. Terasa batang kemaluannya seperti sedang diurut oleh liang vagina siswi SMU itu. Perlahan Bejo menggerakkan pantatnya maju mundur sambil mencengkram erat pinggulnya. Irama genjotannya lama kelamaan dipercepat. &#8220;Plak..plak..&#8221;, bunyi benturan pantat gadis itu dengan selangkangannya. Tubuh yang dalam keadaan telungkup menungging itu menggeliat-geliat karena disodok dari belakang. &#8220;Mmmhh&#8230;emmhh&#8230;ehh..hhhh &#8220;, suara sang korban yang hanya bisa merintih. Sedangkan Bejo mengeluarkan desahan dan racauan dari mulutnya sambil memompa dari belakang. &#8220;Ssshh..aahh..nikmat sekali memkmu manis&#8221;, racaunya. Terkadang tangannya meremas kuat kedua belah pantatnya sambil menepok-nepok dengan gemas. Di otaknya terlintas bayangan film porno yang ditontonnya tadi siang. 15 menit berlalu, makin lama sodokan pria itu makin cepat. Penisnya bergetar hebat hendak mengeluarkan lahar panas. Dipeluknya tubuh ABG i tu dari belakang sambil terus memompa dan meremas-remas kedua bukit kembarnya. Bejo merasakan vagina gadis itu makin lama makin basah dan tubuhnya juga menggelinjang hebat. Nampaknya ia akan mencapai klimaksnya. Merasakan hal itu, Bejo makin mempercepat sodokannya. Dibenamkannya dalam-dalam sang penis hingga menyentuh rahim kewanitaan gadis itu. &#8220;Ummpphh&#8230;&#8221;, dengus nafas kencang siswi itu sambil kepalanya mendongak keatas. Tubuhnya melengkung. Dan pada saat yang bersamaan <strong>pria pemerkosanya</strong> juga mencapai klimaks. Ditancapkannya penis itu dalam-dalam. &#8220;<strong>Crrott&#8230;crrottt..</strong>&#8220;, pancaran sperma menyembur dari kepala penisnya, bercampur dengan cairan kewanitaan dan darah perawan sang gadis. Tubuh kedua insan berlainan jenis itu ambruk seketika dengan posisi sang pria memeluk siswi ABG itu dari belakang. Senyum puas mengembang dari bibir Bejo, sedangkan cucuran air mata menetes dari mata sayu sang gadis. Agak lama batang kemaluan si Bejo dibiarkan menancap didalam va gina sang korban. Sepertinya ia ingin menikmati momen tersebut berlama-lama.</p>
<p>Waktu terus bergulir, dan sinar matahari mulai meredup seiring datangnya senja. Bejo bangkit berdiri sambil menarik rok abu-abu siswi SMU untuk melap batang kejantanannya yang berlumur air mani bercampur darah. Setelah rapi berpakaian kembali, ia sempat menatap sebentar tubuh yang tertelungkup lemah itu. &#8220;Oh indah dan nikmatnya hari ini&#8221;, kata hatinya sambil tersenyum puas. Ditinggalkannya siswi SMU korban nafsu birahinya dalam keadaan baju dan rok tersingkap awut-awutan. &#8220;Kebabasan aku datang!&#8221;, teriaknya dalam hati sambil berharap hari-hari berikutnya ia dapat kembali menikmati tubuh-tubuh hangat <strong>gadis muda</strong>.</p>
<p>Demikian <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> kali ini yang menceritakan tentang hilangnya keperawanan seorang wanita akibat pemerkosaan, nantikan cerita selanjutnya dari kami yang selalu memberikan cerita baru yang mungkin belum pernah anda baca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/pemerkosaan-abg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta dengan Cewek SMP</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cewek-smp/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cewek-smp/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 15:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan abg]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks ABG]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks belia]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks cewek smp]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot abg]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot cewek smp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini cerita seks cewek smp, memang banyak cerita cewek abg yang banyak di minati orang, walaupun banyak juga terjadi cerita seks cewek smp, tapi banyak yang tak mau emmbuka cerita mereka, mungkin merasa masih sangat belia untuk berbagi pengalaman tantang seks. menghisap puting yang masih kecil memang menjadi sensasi beberapa orang. berikut bercinta dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini cerita seks cewek smp, memang banyak cerita <a href="http://cerita.modelperawan.com/tag/cerita-seks-abg/">cewek abg</a> yang banyak di minati orang, walaupun banyak juga terjadi cerita seks cewek smp, tapi banyak yang tak mau emmbuka cerita mereka, mungkin merasa masih sangat belia untuk berbagi pengalaman tantang seks. menghisap puting yang masih kecil memang menjadi sensasi beberapa orang. berikut <a href="http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cewek-smp/">bercinta dengan cewek smp</a> selengkapnya.</p>
<p>Kisah ini terjadi saat aq masih duduk di kelas SMP. Di kelasku ada cewek namanya Susi, anak ini memang terkenal genit. Padahal sebenarnya orangnya biasa2 aja gak terlalu istimewa tapi karena sifatnya yang ramah dan gampangan itu yang membuat dia banyak dikerubutin teman2 cowok termasuk aq. Diantara sekian banyak cowok ada satu yang paling getol dekat2 ma Susi, namanya Rudi. Setiap kali aq melihat Rudi mendekati Susi maka tangannya gk <span id="more-29"></span>jauh2 dari meraba pantat atau toked Susi.</p>
<p>Pernah suatu ketika saat pelajaran Kesenian, Susi yang duduk sendirian karena teman satu mejanya tidak datang pindah tempat duduk ke tempat Rudi yang memang duduk sendirian dibarisan paling belakang sudut, bersebelahan dengan mejaku.<br />
Mulanya aq gk terlalu pedulian, paling juga si Rudi ngucek2 payudaranya si Susi. Tapi saat aq ngelirik, aq kaget setengah mati. Kontol si Rudi udah keluar dari celananya dan sedang dikocok2 ma Susi! Rudi menyeringai bangga melihat ke arahku. Sementara Susi hanya tersenyum2 genit aja melihat aq yang terpelongo.</p>
<p>Sambil menikmati kocokan Susi tangan kiri Rudi asik meremas2 payudara kanan Susi, untuk menutupi pandangan guru dari depan Rudi sengaja menaruh buku bacaan kesenian di depan Susi dengan cara di dirikan jadi seolah2 mereka berdua sedang membaca buku itu.<br />
Beberapa menit kemudian kulihat peju Rudi menyembur keluar, Susi kemudian mengelap tangannya yg belepotan peju Rudi ke celana Rudi. Meilhat itu aq juga jadi kepingin. Aq segera memberi kode sama Rudi untuk gantian, kamipun berganti posisi.</p>
<p>“Si, aq juga donk..” pintaku setelah duduk di sampingnya,<br />
“Paan?” tanyanya pura2 gk tau. “Kocokin kontol aq” ujarku, Susi mencibir kearahku, “Gak mau” tolaknya. Bangsatnya ni pikirku, gk tau orang dah konak juga. Sementara di meja sebelahku, si Rudi cekikikan melihatku, teman semejaku juga ngintip2 sambil tersenyum2 mupeng. Pasti mintak bagian juga tuh.<br />
Karena udah gk tahan menahan birahi, sambil melihat kedepan pelan2 aq menurunkan resleting celanaku, tapi susah juga ngeluarin si kontol yang udah jegang dari tadi dalam posisi duduk gini. Ku longgarkan sedikit ikat pinggangku dan ku lepaskan kait kancing celanaku baru kurogoh kontolku mengeluarkannya, begitu kontolku keluar dari celana langsung keraih tangan kanan Susi, ku arahkan ke batang kontolku.<br />
“kocokla cepat..” bisikku, tangan Susi yang lembut dan halus kemudian memegang batang kontolku dan mulai mengocok2nya membuat aq tertunduk keenakan.</p>
<p>“enak ya..?” bisik Susi, “anjeng, enak kali” balasku berbisik. Berkali2 aq mengeluarkan nafas keras saat kulit tangan Susi yang lembut menggesek2 kepala kontolku.<br />
Sesekali aq melirik ke arah Rudi dan temanku yg tertawa2 kecil melihat aq lagi dikocokin ma Susi, teman semejaku berkali2 memberi kode mintak giliran yang dibalas dengan Susi leletan lidahnya. Asli mupeng dia, terlebih lagi saat aq dengan sengaja meremas2 payudara Susi sambil melirik mengejek ke temanku itu.<br />
Beberapa menit kemudian pejuku akhirnya muncrat keluar disertai rasa nikmat tiada tara, sebisa mungkin aq menahan untuk tidak mengerang. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku menahankan rasa nikmat di kontolku.</p>
<p>Susi mengangkat tangannya menunjukkan jari2 tangannya yang belepotan pejuku, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik. Kemudian seperti tadi dia mengelapkan tangannya ke celanaku.<br />
Karena merasa masih ada bau2 pejunya, Susi permisi ke wc. Gk lama teman sebangkuku ikut permisi keluar. Aq kembali pindah ke mejaku sementara Rudi duduk di bangku sebelahku.<br />
Tapi ko lama kali ya..?? “jangan2 mereka maen di wc” terka Rudi. Aq manggut2 mengiyakan. Ampe pergantian jam pelajaran (kira2 15 menit lebih) baru mereka kembali, ku lihat teman aq itu tersenyum bahagia. Sementara Susi kembali ke bangkunya, bukan di tempat Rudi lagi.<br />
Langsung kucecar teman ku dengan pertanyaan2, ngapain aja kalian? Temanku cerita begitu dikamar mandi, dia langsung meluk Susi. Sambil berciuman temanku meremas2 payudara Susi lalu dia meminta Susi untuk menghisap kontolnya, Susi ok-ok aja menghisap kontol temanku itu, lagi pula biasanya kamar mandi pas jam pelajaran masih berlangsung memang tergolong sepi kuadrat.</p>
<p>Eh pas lagi asik2an begitu tiba2 masuk cowok dari kelas sebelah, udah bisa ketebak cowok itupun mintak bagian. Terpaksa Susi ngelayani dua kontol sekaligus. Sepikan bukan berarti gk ada yang datang, beberapa menit kemudian datang dua orang cowok, anak kelas 2. melihat Susi yang lagi jongkok sambil ngisapin kontol kami, mereka pun dengan sabar ngantri mintak disepong juga.<br />
Setelah semua ngecrot baru Susi dan teman aq itu kembali ke kelas. Aq jadi geleng2 mendengar cerita teman aq itu, jontor deh tuh bibir nyepong 4 batang sekaligus&#8230;</p>
<p>Lain waktu ada lagi cerita saat aq, Rudi dan Susi tergabung dalam satu tugas kelompok yg diberikan oleh guru bahasa inggris kami. Selain kami bertiga ada empat orang lagi, dua perempuan dua laki2. Jadi totalnya kami bertujuh. Kami memutuskan mengerjakan tugas kelompok tersebut pada hari minggu di rumah Susi.<br />
Jadi begitulah pada hari minggu yang dijanjikan kami berkumpul di rumah Susi, kami mengerjakan tugas itu di ruang tamunya. Mulanya sih biasa2 aja, selain karena ada cewek lain juga karena orang tua Susi masih berada di rumah.</p>
<p>Suasana mulai berubah saat orang tua Susi keluar untuk menghadiri suatu pesta pernikahan, tangan Rudi mulai gatal meraba2 tubuh Susi membuat Susi sibuk menepis tangan jahil Rudi. Jadinya malah gk mengerjakan tugas kelompok lagi tapi mule cerita2 jorok yang membangkitkan gairah.<br />
“Sil udah pernah liat kontol gk?” tanya Rudi ma Silvia salah satu teman cewek dalam kelompok kami. Nih anak emang gk ada otaknya. Silvia yang mendengar pertanyaan Rudi jadi merah padam mukanya, mulutnya langsung melancarkan cacian sama Rudi membuat kami tertawa2.<br />
“gitu aja marah, Sil, Susi aja tenang2 aja klo liat kontol, ya kan Si” Amir ikut2 nimbrung sambil ngelirik genit sama Susi, Susi hanya mencibir menanggapi godaan Amir.</p>
<p>“ngomong2 kontol kelen, macam yg besar aja kontol kelen” Wita kali ini yang angkat bicara, nih anak mang rada berani dibandingin Silvia.<br />
“eh, mo liat ko kontol aq&#8230;?” tanyak Rudi semangat sambil berdiri memamerkan celananya yang menggembung di bagian selangkangan. Tingkahnya membuat para cewek2 itu terpekik2 sambil cekikikan, Susi yang tepat berada di samping Rudi tiba2 meninju selangkangan Rudi membuat dia terpekik kesakitan yang disambut gelak tawa kami semua.<br />
Gk sadar udah hampir tiga jam juga kami di rumah Susi, akhirnya kami memutuskan melanjutkan lagi pengerjaan tugas kelompok itu Senin besok. Wita dan Silvia pulang dengan diantar Amir dan Joko sementara aq dan Rudi tetap tinggal. Aq sudah menebak apa yang ada dalam pikiran Rudi, begitu mereka berempat meninggalkan rumah Susi, Rudi langsung melancarkan serangan2nnya.</p>
<p>Entah siapa yang bernafsu duluan keduanya udah bergumul saling peluk dan cium mengabaikan aq yang terbengong2 melihat aktivitas mereka berdua. Dengan ganas tangan Rudi meremas2 payudara Susi sementara tangan Susi meraba2 selangkangan Rudi. Gk mau ketinggalan aq langsung duduk disamping kiri Susi dan ikut2an meremas2 payudara kirinya. Susi melepaskan ciumannya dari Rudi gantian menciumi bibirku yang kubalas dengan penuh nafsu. Aq menggeliat nikmat saat jari2 Susi meremas selangkanganku sementara disamping kanan Susi Rudi memelorotkan celananya sekaligus celana dalamnya hingga kontolnya yang tegang terlihat menjulang.</p>
<p>Rudi segera meraih tangan Susi dan mengarahkannya ke kontolnya, Susi melepaskan ciumannya dariku dan melihat ke arah kontol Rudi kemudian mulai mengocok2nya membuat tubuh Rudi jadi kejang2. Aq ikut2an melepasi celanaku hingga kontolku dengan leluasa tegak dengan gagah.<br />
Aq berdiri disamping Susi sambil meraih kepala Susi dan menariknya ke arah kontolku, mengerti kemauanku Susi langsung membuka mulutnya lebar2 membiarkan batang kontolku masuk ke dalam mulutnya, begitu kontolku masuk langsung dia menghisapnya membuat aq mendesis keenakan.</p>
<p>“kontol! Kau pulak yang duluan di sepong!” maki Rudi, “salah sendiri lah” jawabku penuh kemenangan. Kugerakkan pinggulku seolah2 sedang mengentoti mulut Susi sambil mendesah2 keras memanas2i Rudi sementara Susi makin aktip menghisap2 kontolku.<br />
Panas melihat aq yang disepong Susi, tangan Rudi kelayapan menaikkan rok terusan Susi ke atas hingga pahanya yang mulus terbuka sampai terlihat pangkal paha Susi yang terbalut celana dalam warna pink.<br />
Rudi menggesek2kan telunjuknya ke selangkangan Susi membuat Susi mengeluarkan suara2 mengeram sambil terus menghisap2 kontolku. Celana dalamnya terlihat basah oleh rembesan cairan vaginanya.<br />
“Si buka sempak kau, si Martin mau liat pepek kau” kata Rudi sambil tangannya berusaha memelorotkan celana dalam Susi, Susi agak menaikkan pantatnya agar celana dalamnya dengan mudah dapat dipeloroti Rudi ke bawah.</p>
<p>Mataku tak lepas memandang pepek Susi yang ditumbuhi bulu2 halus, begitu pepek Susi terbuka jari2 Rudi langsung bermain di celah pepek Susi membuat Susi mendengus2 merasakan kenikmatan. Tubuhnya menggeliat2 merasakan gesekan2 jari Rudi di celah pepeknya.<br />
Tanpa sadar aq makin dalam menyodokkan kontolku di dalam mulut Susi, berkali2 Susi mengeluarkan suara tersedak dan berusaha melepaskan kontolku dari dalam mulutnya tapi karena aq telah dikuasai nafsu birahi malah makin kasar menggoyang2kan pinggulku mengentoti mulut Susi sambil tanganku memegang kepala Susi menghindari dia melepaskan kontolku. Susi udah gk lagi menghisap kontolku hanya membiarkan saja kontolku memenuhi rongga mulutnya bergerak leluasa.<br />
“ayo tin terus” ujar Rudi sambil memberi semangat sambil tangannya juga dengan cepat menggesek2 pepek Susi membuat Susi makin keras mengerang2.</p>
<p>“aq mo keluaaarrrr&#8230;” jeritku, dengan susah payah Susi menjauhkan kepalanya dari kontolku, tepat saat dia berhasil mengeluarkan kontolku dari dalam mulutnya, maniku muncrat keluar dengan perasaan nikmat tiada tara.<br />
Susi memekik kecil saat maniku menyembur ke wajahnya, aq dengan sengaja mengarahkan ujung kontolku ke wajahnya hingga maniku muncrat di wajah Susi. Maniku yang kental dan berwarna putih itu menempel disekitar wajah Susi.<br />
“martin jahat, maninya ditembakkan ke muka Susi” rungut Susi manja, dengan perasaan lelah aq duduk disamping Susi melihat dengan takjub maniku meleleh di sekitar wajah Susi sebagian menetes ke baju kaosnya.<br />
“memang ni, gk usah kasih lagi Si” Rudi ngompor2in, pasti udah mupeng dia. “dah buka aja Si bajunya, udah kenak mani si martin gitu” ujar Rudi, “alah pengen aja bilang” cibir Susi tapi dia mau juga membuka bajunya.<br />
Kini udah benar2 bugil , kontolku yang semula layu mulai bangkit kembali melihat tubuh telanjang Susi, “kelen juga la buka baju masak aq aja” ujar Susi, tanpa diminta dua kali Rudi segera menanggalkan pakaiannya diikuti oleh aq.</p>
<p>Kini kami bertiga udah bugi, aq dan Rudi segera mencaplok masing2 payudara Susi yang cukup besar itu membuat Susi tertawa geli menerima rangsangan dari kami. Ini pertama kalinya aq menghisap pentil perempuan.<br />
Rudi kemudian merebahkan tubuh Susi di sofa dengan kepalanya berbantalkan pahaku hingga wajahnya tepat di depan kontolku yang mulai tegak lagi. Aq terbengong2 melihat Rudi mengambil posisi di tengah2 pangkal paha Susi, kontolnya yang tegang tepat berada di celah pepek Susi.<br />
“ko mo ngentoti dia??” tanyaku terheran2, “memang kenapa?” tanya Rudi, sementara Susi memandangku dengan ekspresi heran, “nanti dia gk perawan lagi” ujarku lugu. Mereka berdua tertawa geli mendengar ucapanku.</p>
<p>“Martin tenang aja, nantik abis Rudi, Martin boleh ngentoti Susi” ujar Susi sambil menggesek2kan pipinya di batang kontolku. Sementara Rudi kembali melanjutkan maksudnya mengentoti Susi.<br />
Terdengar pekik Susi saat batang kontol Rudi menerobos masuk kedalam pepeknya, entah karena udah dari tadi nahan nafsunya, Rudi dengan cepat menjurus kasar menyodok2kan batang kontolnya di dalam pepek Susi membuat Susi makin memekik2 menahankan serangan2 Rudi.<br />
“enak kali pepek kauuu siii&#8230;.”ceracau Rudi meningkahi pekikan Susi, sementara aq hanya bisa diam aja menonton mereka berdua ngentot dengan liarnya. Kontolku sekarang udah benar2 ngaceng lagi.<br />
Tubuh Susi terguncang2 seiring hunjaman kontol Rudi di dalam pepeknya, teteknya yang bulat ikut bergoyang2 membuatku jadi gemas meremas2nya.</p>
<p>“Ahhh&#8230;..uunnnngghhhh&#8230;. pelaaaaaannnn&#8230; pelaaaaannnn diiiiiiiiii&#8230;.”pekik Susi, tapi Rudi nggak merubah tempo genjotannya malah makin cepat menggoyang2kan tubuhnya. Tubuh mereka berdua mulai dibanjiri oleh keringat.<br />
“ungh&#8230;ungh&#8230;”dengus Rudi, yang dibalas dengan pekikkan terputus2 Susi. Entah berapa lama tiba2 Rudi mencabut kontolnya dari dalam pepek Susi dan mengocok2kan batang kontolnya di depan perut Susi. Gk berapa lama kontolnya memuntahkan mani yang cukup banyak. Maninya muncrat diperut bahkan sampai ke payudara Susi.<br />
“aduh enak kali..” desis Rudi, sementara Susi memejamkan matanya dengan dadanya yang turun naik seolah2 baru saja berlari jauh. Tubuhnya yang mungil terlihat mengkilat oleh keringatnya.<br />
Begitu Rudi bangkit dari tubuh Susi, aq segera menggantikan posisinya. Dengan tidak sabar menusukkan batang kontolku ke celah pepek Susi tanpa memperdulikan mani Rudi di tubuh Susi.</p>
<p>Tapi berkali2 kutusukkan ko gk masuk2 ya??? Ini memang pertama kalinya aq mengentot dengan perempuan. Sadar ketidak tahuanku, sambil memegang batang kontolku dia mengarahkan arah tusukanku, “dibawah sini” bisiknya masih dengan nafas yang tersengal2.<br />
Lobang pepknya mengalirkan cairan lendir yang membuat permukaan pepeknya terasa licin. Aq terpejam nikmat merasakan pertama kali kontolku masuk ke lobang pepek perempuan, aq berusaha mengocokkan batang kontolku di pepeknya tapi berkali2 kontolku keluar lagi dari pepek Susi. Melihat itu Rudi jadi tertawa2, “jangan panjang2 ko nareknya bodoh” ujar Rudi.</p>
<p>“baru pertama ya tin?” Susi ikut2an bersuara membuat jadi panas. Setelah agak lama akhirnya terbiasa juga aq menyodok2kan kontolku di dalam pepek Susi. Beda dengan Rudi dengan ku Susi hanya mengeluarkan suara mendesah2 kecil aja.<br />
Walau tadi baru mengeluarkan tapi karena ini sensasi pertama ku mengentoti cewek, gk lama kurasakan maniku akan muncrat. Aq makin mempercepat goyanganku, berkali2 kontolku keluar dari pepek Susi tapi dengan cepat ku masukkan lagi dan ku kocok lagi.<br />
“Tin klo mo nembak jangan di dalam” ujar Rudi mengingatkan, tubuh Susi sendiri terlihat makin kaku. Akhirnya dengan perasaan nikmat tiada tara kontolku untuk kedua kalinya mengeluarkan spermanya. Kalo ini di dalam pepek Susi, tubuh ku mengejang2 kaku mendapatkan orgasme kedua ku. Susi langsung terpekik kaget menyadari aq menembak di dalam vaginanya.</p>
<p>“wei kontol, jangan ko tembak didalamnya!” maki Rudi, tapi aq yang lagi dilanda kenikmatan gk peduli sama sekali. Aq makin menekankn dalam2 batang kontolku di dalam pepek Susi sementara tubuh Susi yang terhimpit tubuhku ikut mengejang. Kepalanya menggeleng2 kiri dan kanan, kurasakan daging otot pepek Susi mencengkram erat batang kontolku.</p>
<p>Ku rasa pepek Susi makin penuh dan sempit, oleh maniku, lendirnya juga karena kontraksi otot pepeknya.<br />
Lima menit kemudian kami uda berpakaian kembali, sementara Susi ke kamar mandi. Baru kemudian kami berpamitan pulang. Selama sebulan aq cemas2 Susi akan hamil, apalagi tiap hari Rudi menakut2iku kalo Susi hamil dan mintak pertanggung jawabanku. Tapi ternyata apa yg ku khawatirkan tidak benar2 terjadi.</p>
<p>Nantikan cerita seks dan cerita dewasa lain nya dari kami, kami berikan cerita terbaru dari <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita seks indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/bercinta-dengan-cewek-smp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Seks Cewek SMU</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/cerita-seks-cewek-smu/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/cerita-seks-cewek-smu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 18:01:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan cewek SMU]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks ABG]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks cewek smu]]></category>
		<category><![CDATA[cewek smu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot cewek SMU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian orang bercinta dengan cewek SMU menjadi tantangan tersendiri, bisa menikmati tubuh cewek abg memang menjadi khayalan banyak lelaki, terutama para om-om berduit yang merasa bosan dengan fantasi seks dengan istri. Berikut ini adalah serita daun muda, alias cerita seks Cewek SMU.. Rere sedang terduduk di kursi malas sambil membaca-baca tabloid gossip seputar selebritis. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sebagian orang bercinta dengan cewek SMU menjadi tantangan tersendiri, bisa menikmati tubuh cewek abg memang menjadi khayalan banyak lelaki, terutama para om-om berduit yang merasa bosan dengan fantasi seks dengan istri. Berikut ini adalah serita <a href="hhttp://cerita.modelperawan.com/category/daun-muda/">daun muda</a>, alias cerita seks <strong><a href="http://cerita.modelperawan.com">Cewek SMU</a></strong>..</p>
<p>Rere sedang terduduk di kursi malas sambil membaca-baca tabloid gossip seputar selebritis. Nana Mirdad sekarang sedang hamil tua. Kok secepat itu ya? Apakah memang dia betul-betul MBA (married by accident) seperti yang orang-orang gosipin?. Rere terus membalik-balikkan lembaran demi lembaran tabloid ketika seseorang membuka pintu, dilihatnya Ben menghambur masuk ke kamarnya. Sosok laki-laki tampan, tinggi dan putih tetapi sangat di Benci Rere, kenapa ada disini? Kenapa dia bisa masuk ke kamarnya sementara mama-papanya saja harus mengetuk dahulu dan meminta ijinnya sebelum masuk ke kamarnya.</p>
<p>“Hallo sayang&#8230;” Ben menyapanya sambil<span id="more-18"></span> mengecup keningnya. “Kamu dah makan belum?” Seolah tanpa salah, Rere mengelak kecupan di keningnya itu.</p>
<p>“Ngapain Lo ke sini?!&#8230; Ngapain Lo ke kamar gue!!&#8230; PERGI LO!!! KELUAR DARI KAMAR GUE!!!&#8230; PERGIIIIIIIII!!!” Teriak Rere kasar. Dia masih ingat ketika Ben dan ketiga kawannya memperkosanya beramai-ramai di sekolah.<br />
“Kamu ngomong apa sih sayang???? Ini kan kamar kita berdua, jadi ini kamar aku juga” Jawab Ben kelihatan khawatir dengan sikap Rere.<br />
“JANGAN MIMPI LO!!!! PERGI LO SANA!! KELUAR DARI KAMAR GUE!!” teriak Rere histeris.<br />
“Kamu kenapa sih Re?? Ini aku Ben&#8230; Suami kamu&#8230; Kamu kenapa? Kamu demam ya?“ Ben berusaha meraba kening Rere, tetapi Rere dengan cepat mengelak.<br />
“APA?! SUAMI?! CUIH! MANA BISA LO JADI SUAMI GUE!!! SAMPE MATI GUE GAK MAU JADI ISTRI LO!! JANGAN MIMPI LO!!” masih dengan nada tinggi, Rere seakan mendengar suaranya melengking saking marahnya.<br />
“Re, kamu ngomong apa? Jangan gitu!! Ingat kamu lagi hamil tua&#8230; itu anak kita&#8230; anak aku, suami kamu&#8230;“ Ben berusaha menjelaskan dan menenangkan Rere. Tetapi setelah mendengar perkataan Ben, Rere bukannya tenang melainkan bingung. Suami? Hamil? Anak?? Spontan dia melihat ke bawah. Dilihatnya gelembung besar di daerah perutnya. Rere meraba perutnya. Memang dia sedang hamil. Hamil besar. Apakah ini hasil dari pemerkosaan waktu itu? Dia tidak mau anak ini. Lalu dengan keras dia memukul perutnya, mencoba membunuh mahluk hidup yang ada di dalamnya. Rere kesakitan. Sakit tepat ketika dia memukul perutnya. Sekejap kemudian dia terbangun dari kursi malasnya.</p>
<p>Alih-alih kursi malas, ternyata Rere masih tergeletak di suatu ruangan. Rupanya dia tadi bermimpi. Dilihat sekelilingnya gelap gulita, didapati dirinya masih telanjang bulat. Perutnya sakit akibat pukulan tanpa sadar di mimpinya sendiri. Tubuhnya basah bermandikan keringat. Rere berusaha memfokuskan pandangannya yang buram. Dia meraba sesuatu di sebelahnya. Dilihatnya samar-samar, itu Albie. Rere terkejut ketika melihat Albie pun tertidur telanjang bulat seperti dirinya. Rere melihat sekelilingnya. Sepertinya dia kenal ruangan ini. Rere bangkit berdiri. Tetapi tiba-tiba kakinya sakit luar biasa. Sekujur tubuhnya sakit. Selangkangannya terasa perih dan panas.</p>
<p>Akhirnya Rere ingat. Dia masih diruangan BP sekolahnya. Kembali dia tersadar atas apa yang baru saja menimpanya. Tertatih-tatih Rere berjalan sambil mencoba meraba ke tembok-tembok berusaha meraih electricity outlet untuk menghidupkan lampu atau mencari penerangan. Ditemukan electricity outlet dan dihidupkan lampu. Ketika ruangan sudah terang, dilihatnya ruangan itu, masih segar dalam ingatannya ketika Albie merenggut keperawanannya di sofa sana , juga ketika Ben, Dave, Sam dan Zack yang menyetubuhinya beramai-ramai. Dan Rere juga teringat karena merekalah dia jatuh pingsan. Dilihatnya jam yang ada di tangannya. “Jam 9 malam&#8230;” katanya dalam hati. Pasti mama sudah mencari-carinya. Mungkin sudah menelepon ke HPnya untuk menyuruh pulang.</p>
<p>Rere tidak ingat dimana tasnya, dimana semua barang-barang bawaannya. “dingin&#8230;” Rere berseru pelan kepada dirinya sendiri. Rere berusaha mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Tetapi setelah dia sadar bahwa tidak ada sehelai Benang pun untuk menutupi keterlanjangannya, Rere pun merosot terduduk. Jongkok sambil memeluk kakinya. Membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang masih sakit, terisak-isak menangis.</p>
<p>Rere tak tahu sudah berapa lama dia tersedu-sedu ketika didengarnya disudut ruangan Albie mengerang pelan. Rupanya Albie sudah sadarkan diri. Rere melihat Albie memegangi kepalanya yang beberapa jam lalu dihantam keras oleh Sam sampai dia jatuh pingsan. Beberapa saat kemudian Albie pun menyadari sesenggukan Rere di tempat Rere membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Albie bangkit berdiri dan menghampiri Rere.</p>
<p>“Re&#8230; kamu masih disini? Aku pikir kamu udah dibawa mereka&#8230; Kamu gak apa-apa kan?” Albie membelai rambut Rere yang sudah awut-awutan itu.<br />
“Apanya yang gak apa-apa Bie??“ seru Rere sambil menangis. “Kamu udah liat apa yang terjadi!!“<br />
“Sorry Re, aku gak tahu&#8230; si bangsat itu mukul aku dari belakang&#8230; Apa yang terjadi Re??“ tanya Albie sambil terus membelai rambut Rere, berusaha menenangkan suaranya meskipun dia bisa menebak apa yang akan dijawab Rere.<br />
“AKU DIPERKOSA BIE!!!!“ Rere menepis tangan Albie dari kepalanya. “ABIS KAMU PINGSAN AKU DIPERKOSA RAME-RAME SAMA MEREKA!!“ teriak Rere histeris, seolah itu adalah kesalahan Albie. “MEREKA MENGGILIR AKU BIE!! MEREKA MAKE AKU RAME-RAME&#8230; DI SANA! MEREKA BUANG DI DALAM PERUT AKU BIE!!“ sambil menunjuk sofa tempat perbuatan maksiat itu terjadi. Albie pun tahu, ketika melihat tempat yang ditunjuk Rere, dilihatnya darah kering tercetak di cover sofa itu. Albie sadar itu adalah darah perawan Rere yang sudah diteguknya.</p>
<p>“Ok Re, aku minta maaf&#8230; aku terpaksa&#8230; aku dipaksa mereka&#8230;“ Albie seolah kehabisan kata-kata, menyadari kesalahan itu pantas dibebankan kepada dirinya. Bingung harus berbuat apa-apa, Albie pun memeluk erat Rere yang masih terduduk di lantai.<br />
“seperti kata-kataku tadi, aku mau tanggung jawab Re, aku gak akan meninggalkan kamu.. Aku akan terus berada disisi kamu&#8230; Swear! Aku janji&#8230; Aku akan terus menyayangi kamu apa adanya&#8230;“<br />
“Aku&#8230;aku takut Bie&#8230; Aku takut&#8230;“ Rere membalas pelukan Albie, dia menggigil hebat. Menggigil kedinginan atau ketakutan? Albie tidak bisa mengenalinya. Sekejap kemudian Albie beranjak dari pelukan Rere, mencoba mencari pakaiannya, tapi tidak ditemukannya.</p>
<p>Rupanya Albie tidak kehilangan akal. Dia segera menuju meja di dalam ruangan itu. Membuka lacinya dan merogoh-rogoh mencari sesuatu. Rere melihat Albie mengeluarkan gunting besar dari laci itu. Lalu Albie berjalan menuju Sofa panjang. Diguntingnya sofa tersebut mencoba mengambil kulit penutupnya. Setelah itu di gunting menjadi dua. Salah satu dari kain bahan sofa itu diselimutkan ke Rere, dan yang lainnya dililitkan ke tubuhnya menutupi setengah bagian bawah tubuh Albie.<br />
“kamu mau ke mana Bie?“ Tanya Rere ketika dilihatnya Albie memegang daun pintu dan membukanya.<br />
“Aku mau cari sesuatu buat kamu pakai Re, biar kita pergi dari tempat ini&#8230;mungkin di ruang laboratorium ada seragam workshop&#8230;“ jelas Albie.<br />
“laboratorium pasti udah dikunci Bie&#8230; Di mobil ku ada baju serep&#8230; tapi aku gak tau kuncinya ada di mana&#8230;” Rere berfikir keras dimana dia meninggalkan tas sekolahnya. Apa masih di dalam kelas? Tidak mungkin! Tadi ketika dia keluar dari kelas, dia sudah menjinjing tas sekolahnya. Juga ketika dia ijin kepada Ika untuk ke toilet, dia juga masih bawa tas sekolahnya itu.</p>
<p>Tiba-tiba Rere ingat, Ben membuang tas sekolahnya ketika dia berusaha meraih Hpnya.<br />
“Toilet perempuan&#8230; Bie, tas aku ada di toilet anak perempuan&#8230;”<br />
“OK Re, aku ambilin. Kamu tunggu di sini&#8230;”<br />
“Enggak Bie, aku takut&#8230; aku ikut kamu aja&#8230; aku gak mau ditinggal sendiri&#8230;“</p>
<p>Albie pun melilitkan kain bahan sofa ke tubuh Rere. Ketika Rere mengangkat tubuhnya sendiri untuk mencoba berdiri, Albie melihat buah dada Rere yang ranum dan putih menggantung indah. Dan ketika Rere berusaha berdiri dan tertatih menahan berat tubuhnya dengan satu kakinya yang masih sehat, buah dada itu bergoyang-goyang dengan indahnya, membuat darah Albie berdesir, berputar di otaknya turun ke bawah menghantarkan darah hangat ke selangkangannya. Albie berusaha untuk tetap berkonsentrasi menguatkan akal sehatnya. Tetapi ketika Rere berdiri, dia juga melihat kemaluan Rere yang terpampang dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya membuatnya tidak bisa menahan ereksinya.<br />
“Ayo Re, aku bantuin jalan&#8230;“ tawar Albie mengalihkan perhatiannya.</p>
<p>Mereka berjalan dalam kegelapan gedung sekolah menuju ke lantai dua tempat toilet perempuan dimana Rere meninggalkan tas sekolahnya. Pikiran Albie terus melayang kepada pandangannya beberapa menit lalu. Tubuh telanjang Rere yang indah terus menari-nari didalam pikirannya sementara dia membopong Rere menaiki tangga. Tiba di toilet perempuan mereka langsung mendapatkan tas sekolah Rere yang tergeletak berantakan di ujung sudut pojok koridor. Langsung saja Rere meraih tasnya sendiri dan mereka bergegas ke pelataran parkiran sekolah.</p>
<p>Rere langsung membuka kunci mobilnya dan berjalan untuk membuka pintu belakang. Albie membantunya masuk ke back seat mobil. Memang menurut Albie Honda Jazz Rere seperti ’mobilku, rumahku’ dimana bangku belakangnya sangat berantakan. Baju Rere berserakan dimana-mana, tetapi anehnya hal itu tidak di anggap ’messy’ oleh Albie. Malah, ada perasaan aneh terlintas dipikiran Albie. Celana pendek, baju you can see, tanktop bahkan Bra Rere pun tergeletak sembarangan di bangku belakang. Boneka bantal Winnie The Pooh besar menghiasi bangku belakangnya. Hal ini membuat Albie merasa seperti berada di ’kamar’ Rere. Sekejap saja, hal ini membuat darah Albie kembali berdesir apalagi melihat kekasihnya setengah telanjang terbaring lemah tak berdaya dengan bercucuran keringat dan sedikit bekas darah di pinggir bibirnya.</p>
<p>Albie mengambil tissue yang terletak di dashboard mobil dan air mineral di botol yang ada di bangku depan. Di basahkannya tissue itu dengan air sebelum Albie membasuh wajah Rere.<br />
“Aku bersihin dulu Re, baru kamu pake bajunya&#8230; biar seger dikit&#8230;“ Albie mengelap wajah Rere, membersihkan sisa darah yang mengering, kening dan lehernya pun di basuh. Tetapi ketika Albie membasuh leher Rere yang jenjang, putih dan mulus itu, dia tidak bisa menahan untuk tidak mengecupnya. Tanpa sadar Albie mendekatkan bibirnya ke leher Rere, memberikan kecupan lembut di sana. Rere sedikit terkejut. Refleks Rere mengelak dan mencoba menghindar. Hal ini membuat lilitan bahan sofa yang ada di tubuhnya mengendur dan terbuka.</p>
<p>Waktu seperti terhenti, kurang lebih semenit mereka hanya berpandangan. Dengan dada yang terbuka, Albie bisa melihat dengan jelas tanpa gangguan keempat orang beberapa saat lalu bahwa buah dada Rere sungguhlah indah dan ranum. Bra ukuran 34 B yang beberapa jam yang lalu menopangnya, sekarang tidak tahu ada di mana. Kencang dan sangat merangsang. Menantang orang yang melihatnya untuk menjamahnya atau paling sedikit menyentuhnya. Albie ingin sekali menyentuhnya lagi, menciuminya lagi. Hasratnya menunjukkan untuk mendekatkan wajahnya ke buah dada Rere, tetapi hatinya mengatakan bahwa Albie seharusnya memulai dari atas dulu.</p>
<p>Perlahan tetapi pasti Albie mendekatkan wajahnya ke wajah Rere, memiringkan mukanya sedikit ke kanan dan entah perasaannya atau bukan, dilihatnya Rere juga memiringkan wajahnya ke arah sebaliknya mendekatkan wajahnya ke wajah Albie.</p>
<p>Bibir mereka bertemu, saling melumat satu sama lain. Sekarang Rere membuka bibirnya, Albie tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan lembut dia menyapu dinding-dinding rongga mulut Rere dengan lidahnya. Mecoba melilitkan lidahnya dengan lidah Rere.</p>
<p>Di lain pihak, Rere merasa ciuman ini adalah ciuman rasa terima kasihnya ke Albie karena sudah menolongnya. Rere berpikir sekarang dia sudah aman dan bisa pulang. Atau memang dia menginginkan ciuman itu? Tetapi Rere Benar-Benar sadar ketika dia mengalungkan lengannya melingkar di leher Albie. Menikmati pagutan mesra di bibirnya. Albie pun sekarang memulai mengaktifkan tangannya. Di peluk mesra gadis di depannya itu. Dibukanya lilitan bahan sofa dari tubuh Rere yang membuat Rere sekarang kembali telanjang bulat. Tanpa melihat dan sambil berciuman, Albie meremas kedua buah dada Rere. Dia semakin bersemangat dan terangsang ketika didengarnya Rere mendesah pelan dan bernafas berat di wajahnya.</p>
<p>Ciuman berpindah dari bibir turun ke leher. Albie merasa tanpa perlawanan Rere yang berarti menjelaskan bahwa Rere pun menikmatinya. Kembali Albie mencoba turun lebih ke bawah lagi. Kali ini remasan di dada Rere berubah menjadi jilatan dan gigitan kecil yang merangsang Rere menjadi tinggi. Rere memejamkan matanya. Tangannya meremas rambut Albie yang ada di dadanya. Merasa puas menggumuli buah dada Rere, dengan hati-hati Albie merebahkan Rere di bangku. Winnie The pooh sekarang berubah menjadi bantal, menahan baringan tubuh Rere di atasnya. Albie turun lebih ke bawah lagi menuju selangkangan Rere. Menjilat dan menekan-nekan tonjolan kecil di sana. Rere terkejut hebat dan menggelinjang tetapi di saat yang sama dia merasakan sensasi yang luar biasa di tubuhnya. “Aaacchhhhh&#8230; Bie&#8230;“ racau Rere terangsang berat. Cairan Bening kental mulai keluar dari lubang kemaluan Rere. Albie terus menjalankan jurusnya di selangkangan Rere. Jilatan di segitiga Rere sekarang berubah menjadi hisapan kecil. Masing-masing hisapan Albie di kemaluannya membuat Rere tak bisa menahan rangsangan yang bergejolak di tubuhnya.<br />
“Aaaaccchhhhhhhhhhh&#8230; Bie&#8230; masukin Bie&#8230; Aku udah gak tahan&#8230;“ Rere heran mendengar dirinya berkata seperti itu. Tetapi itu bukan dirinya yang bicara. Tetapi perasaan hawa nafsu di luar kendali Rere. Albie pun mengambil posisi. Seakan lupa dengan luka di sekujur tubuhnya dan sakit di perutnya, Rere membuka kakinya memberikan posisi mudah Albie untuk berpenetrasi di dalam rongga kewanitaannya.</p>
<p>Peluh keringat menetes di dada Rere ketika jatuh dari dahi Albie saat dia berusaha menaikinya. Kembali mereka berciuman mesra sambil berpelukan seolah badan mereka serasa ingin menyatu. Albie menuntun batang kemaluannya di mulut kemaluan kekasihnya. Menusuk pelan-pelan agar sensasi yang didapatkannya dapat dinikmatinya. Jepitan demi jepitan di setiap inci batangnya sungguh terasa luar biasa. Permainan kali ini betul-betul lepas buat Albie. Respons luar biasa dari Rere pun membuatnya terangsang lebih tinggi.</p>
<p>Habis tertelan kemaluan Rere, Albie mulai menggenjotnya naik turun. Seperti tanpa lelah, ritme kali ini betul-betul teratur. Perlahan tapi pasti, dorongan-dorongan dikemaluan Rere semakin cepat dan sensasional. Rere hampir menggigit bibir Albie yang menempel di bibirnya. Pelukannya semakin kencang seakan tak mau menyudahi kejadian ini. Tak lama kemudian Rere merasakan otot pada batang yang ada di dalam kemaluannya semakin kencang dan berdenyut keras. Tak berapa lama kemudian, Albie menyemprotkan spermanya, dia berejakulasi di dalam kemaluan Rere. Sengaja tertanam lebih dalam, Albie membiarkan batangnya tertelan beberapa saat sampai batang itu mengecil dengan sendirinya. Menyudahi dengan mengecup kening Rere, Albie mencabut kemaluannya di ikuti aliran spermanya yang mengalir keluar dari kewanitaan Rere.</p>
<p>“Re&#8230;” Albie tak tahu harus bicara apa, “Makasih ya&#8230;”<br />
Rere pun hanya diam saja. Bahkan ketika dia memakai celana pendek dan memungut baju ’serep’ dari jok mobilnya, dia diam seribu bahasa saat memakainya. Albie tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tetapi dengan mantap dia kembali melilitkan bahan sofa yang tadi terlepas ke bagian bawah tubuhnya.<br />
“Kamu tunggu sini ya&#8230; Aku mau cari kunci gerbang dulu. Mungkin aku bisa cari di tempat pak somad&#8230;“ Kembali Rere diam seribu bahasa, tetapi dia menganggukan kepalanya tanda setuju.</p>
<p>Albie pun keluar dan berlari kecil menuju belakang sekolah. Rere terus melihatnya sampai Albie menghilang tertelan gelapnya gedung sekolah.</p>
<p>Tidak sampai 10 menit berlalu Albie kembali dengan mimik lega. Sepertinya dia berhasil menemukan kunci yang dimaksud. Tidak langsung menghampiri Rere, Albie menuju gerbang sekolah, membiarkannya terbuka lebar dan menghampiri Rere.<br />
“Ayo kita ke pergi dari sini&#8230;” Katanya sambil membopong Rere pindah ke bangku depan mobil. Rere pun mengangguk kuat seakan kata-kata itulah yang ditunggunya sejak bel pulang sekolah berbunyi.. Albie menstater mobil dan meluncurkannya keluar dari pelataran sekolah menuju keramaian di luar sana.</p>
<p>“Kita ke dokter dulu ya Re&#8230; kamu harus periksa luka kamu&#8230;“Albie menyarankan. “Apanya yang sakit?” tanya Albie kembali.<br />
“Tadi perut aku sakit banget, but it’s ok now tapi My leg is killing me right now&#8230; gak tau, mungkin patah atau apa&#8230; hidung aku juga gak jelas patah ato enggak&#8230;” jawab Rere. Hal ini melegakan Albie. Menandakan dengan menjawab itu berarti Rere sudah tenang dan tidak marah kepadanya.<br />
“Kok kamu bisa datang ke sini??“ Tanya Rere tiba-tiba ditengah-tengah perjalanan mereka.<br />
“Aku emang belum niat pulang&#8230; suntuk banget abisnya. Tadi pulang sekolah aku sengaja tunggu kamu di kios samping sekolah. Aku masih liat mobil kamu di parkiran&#8230; jadi aku tungguin aja sambil ngobrol sama si Gondrong yang jaga kios&#8230;“<br />
“Trus, kok bisa masuk ke dalam kan ke kunci&#8230;?“ selidik Rere tiba-tiba.<br />
“aku manjat tembok&#8230;Aku emang niat belum pulang dulu sebelum liat kamu pulang trus selamat sampe rumah. Aku pikir kamu ada tugas penting di sekolah sampe lama belum pulang. Kirain juga kamu lagi ngerjain apa di Lab biologi ato di lab komputer gitu&#8230;“ “Sampe aku denger ada yang gedor-gedor gerbang trus denger kamu teriak minta tolong&#8230;“ “si Gondrong bilang itu cuma halusinasi aku aja karena aku kelewat khawatir and tergila-gila ama kamu&#8230;“ jadi aku ngecek sendiri ke sekolah, aku liat kamu udah mulai di tindihin sama si bangsat itu&#8230; jadi otak udah gak mikir panjang langsung aku manjat tembok&#8230;“ Gerutu Albie ketika mengingat bagaimana gadis impiannya di perlakukan oleh Ben dan teman-temannya.</p>
<p>Rere sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia sungguh takjub mendengar bahwa Albie setiap hari selalu memastikannya selamat sampai rumah sebelum dia sendiri pulang ke rumahnya. Entah apa yang akan terjadi kalau Ben tidak datang pada saat itu. Mengulur waktu sebelum Ben dan kawan-kawan memperoksanya? Toh akhirnya dia juga diperoksa beramai-ramai. Tetapi setidaknya dia memberikan sesuatu yang berharga miliknya kepada orang yang disayanginya. Dan perasaan lega ketika dia mengetahui bahwa bukan Albie yang menjebaknya. Tetapi siapa? Ika? Tetapi kenapa Ika bisa setega itu? Salah apa dia sama Ika?</p>
<p>Sesaat dia memikirkan bagaimana persahabatannya dengan Lola. Mungkin sekarang saatnya dia mengesampingkan persahabatan dan mulai mengutamakan perasaan hatinya. Mungkinkah?</p>
<p>A little preview:<br />
Biodata Rere:<br />
Full Name : Renata Bargen<br />
Nick name : Rere<br />
Nama Ayah : Andy Bargen<br />
Nama Ibu : Kinanti<br />
Nama sahabat : Lola<br />
Umur : 16 tahun<br />
Tinggi / berat : 168 cm / 50 kg<br />
Ukuran Bra : 34 B<br />
Hobby : Hanging out, music, movie (any things involved in entertainment).<br />
Ciri-ciri : Rambut lurus panjang di bawah bahu (toning burgundy mengikuti fash)<br />
Hidung mancung mungil (mixed ibu dan ayah), mata bulat sedikit besar, bibir mungil berisi, kulit putih mulus terurus. (gorgeous)</p>
<p>Rere dijebak temannya Ika sehingga dia perkosa oleh empat pemuda berseragam putih abu-abu (tidak tahu dari sekolah mana) Ben, Zack, Sam dan Dave. Dengan segala perlawanannya, Rere berusaha untuk menyelamatkan diri sehingga menyebabkan beberapa luka di sekujur tubuhnya.<br />
Albie laki-laki yang disukainya ternyata juga disukai sahabatnya. Datang menolong pada saat Rere betul-betul tidak berkutik lagi. Tetapi akhirnya pemerkosaan terus berlangsung dengan Albie memetik keperawanan Rere lebih dahulu.</p>
<p>“Pak Somad masih pingsan&#8230; tapi aku pikir besok dia udah sadar&#8230;“ kata Albie tiba-tiba membuyarkan lamunan Rere.<br />
“Ooo&#8230;“ seru Rere sekenanya, dia jadi teringat bahwa pak Somad memang tak sadarkan diri ketika dia meminta pertolongannya.</p>
<p>Honda Jazz Rere meluncur ke kawasan perumahan di daerah Bintaro. Rere tahu itu adalah jalan menuju rumah Albie. Tiba di sana Albie memarkirkan mobilnya di depan rumah.<br />
“kamu tunggu sini ya Re, aku ganti baju dulu“ katanya sambil melirik sepotong bahan yang melilit di pinggangnya. “Abis itu aku anterin kamu ke dokter&#8230;” Rere mengangguk pelan dan Albie pun langsung keluar dari mobil masuk ke rumahnya. Rere memperhatikan kompleks di perumahan tersebut memang sangat sunyi. Dia tahu Albie memang tinggal sendiri di rumahnya, seorang anak tunggal yang ditinggal kerja kedua orangtuanya di luar kota. Rumah Albie besar, tetapi sedikit tak terurus. Banyak rumput liar tumbuh lebih panjang di sekitar halaman depan rumahnya. 3 menit kemudian Albie muncul dari dalam rumah mengenakan pakaian lengkap. Jeans biru dan kaus denim warna merah ditutupi jacket jeans berwarna cream.</p>
<p>Mereka pun langsung meluncur kembali ke jalan besar. Albie membelokkan mobil tepat ketika Rere melihat gedung sedang yang berplang tertulis ’klinik 24 jam’.<br />
“Cuma sedikit memar di pelipis dan bibir robek sedikit&#8230;“ demikian kata dokter jaga yang memeriksa Rere di klinik tersebut. “Ini tulang kering sepertinya tidak patah, cuma sedikit retak saja&#8230; ringanlah, tapi kamu harus istirahat dan pakai gibs sampai kurang lebih 1 seminggu&#8230; gimana? kok bisa jatuh sih? Kecelakaan di mana?“ selidik dokter.<br />
“Cuma jatuh dari tangga aja kok dok, saya kepeleset abis tangganya licin&#8230;“ Rere berbohong kepada dokter, rupanya dia dan Albie sepakat untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya. Ada nada lega di setiap kata-kata Rere, mengetahui bahwa dia tidak mengalami patah tulang. Bagaimana nantinya kalau tulangnya patah nanti&#8230;</p>
<p>Setelah menyelesaikan segala sesuatu di klinik, Albie mengantar Rere pulang ke rumahnya. Rere juga berencana untuk membohongi orangtuanya dengan cerita yang sama yang diceritakan ke dokter. Dan Albie pun langsung mengemudikan mobil Rere menuju ke rumah sang pemilik.</p>
<p>***</p>
<p>Seminggu setelah kejadian yang menyedihkan itu, Rere akhirnya kembali masuk sekolah. Desas-desus di sekolah selama Rere istirahat di rumah mengatakan bahwa (dari versi pak Somad) ada sekawanan pelajar dari sekolah lain yang menyerbu sekolah. Mereka (masih versi pak Somad) rupanya rival dari sekolah ini, mau menghancurkan sekolah dengan mengacaukan ruangan sekolah. Merusak apa saja yang mereka lihat dan karena hanya salah satu ruang kelas saja yang terbuka dan juga ruang BP yang kebetulan pada saat itu tidak terkunci.</p>
<p>Tidak ada yang mencurigai kenapa Rere harus istirahat selama seminggu dan datang dengan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Rere pun juga bungkam seribu bahasa. Dia sudah memperingatkan Albie untuk merahasiakannya juga. Albie bersikeras untuk meminta Rere melaporkan ke pihak yang berwajib. Tapi entah karena hal apa, Rere lebih memilih diam. Mungkin dalam pikirannya, jika semua khalayak sekolah mengetahui kejadian itu, apa tanggapan mereka. Kasihankah? Jijikkah? Support positifkah? Atau malah melecehkan dia karena sudah di ’pake’ beramai-ramai. Tetapi siapapun yang menjebaknya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda. Ika juga sungguh tidak tahu mengenai air mineral itu. Dia sendiripun meminumnya dan pingsan di mobil tepat ketika supirnya mengantarkan pulang. Rere juga mendengar bahwa teman sekelasnya itu di bawa ke rumah sakit dan dokter memprediksinya hanya kebanyakan minum obat tidur saja.</p>
<p>Lola masih tidak mau di ajak bicara, Rere berfikir kenapa dia cepat sekali menghilang. Lola terlihat semakin menjauhi Rere ketika dilihatnya Albie semakin dekat dengan Rere. Rere sendiri juga sungguh merana, semenjak kejadian itu dia jadi sangat pendiam. Selalu murung dan tidak pernah meninggalkan bangku kelasnya selain bel sekolah yang memulangkan semua siswa. Tetapi sekali-sekali Rere masih menyempatkan diri untuk meng-sms Lola, mungkin suatu saat dia mau mereplynya. Sepertinya usaha Rere sia-sia, dia semakin merana. Rere merasa bahwa hari-harinya di sekolah semakin membosankan saja. Dia merasa sangat kesepian. Kecuali Albie (yang terus memperhatikannya), Rere merasa tidak punya hiburan sama-sekali. Dia mau Lola ada di sampingnya, hang out bersama, nonton bersama atau tertawa-tawa bersama seperti dulu lagi.</p>
<p>Kesepian Rere semakin menjadi ketika papa dan mamanya harus pergi ke Glasgow, Scotlandia untuk tugas kantor, “maybe three years, or four&#8230; We don’t know&#8230; depends on the duty dear&#8230;” papanya menjelaskan. “But, we’re going to pick you up right on your graduation, sweetheart&#8230;” Orang tuanya memang menyarankan Rere untuk menyelesaikan sekolahnya lebih dahulu di Jakarta . Dan mereka akan memboyongnya untuk kuliah di sana .</p>
<p>Sebenarnya Rere ingin ikut papa-mamanya, tetapi memang dia harus menyelesaikan pendidikannya dulu yang tinggal dua semester lagi. Sudah empat minggu berlalu Rere tinggal sendiri di rumah hanya di temani pembantunya. Sekarang dia sudah pulih seperti semula, tidak perlu menggunakan tongkat lagi. Albie pun sering berkunjung kerumahnya hampir setiap hari. Rere tidak mengerti, sekarang semenjak dia hidup mandiri, kehidupan seks sepertinya sudah menjadi hal yang biasa saat Albie berkunjung. Mereka pasti melakukannya jika ada kesempatan. Rere pun tidak kuasa menolaknya. Sebenarnya Rere juga tidak kuasa menolak kehadiran Albie ke rumahnya. Kadang dia merasa jenuh padanya. Tetapi sekali lagi, dia memutuskan untuk menjalaninya pelan-pelan.</p>
<p>***</p>
<p>Hari ini cuaca panas sekali. Di dalam kelas pun Rere merasakan udara pengap yang luar biasa. Dia berharap pelajaran cepat selesai dan segera menuju mobilnya untuk menghidupkan ACnya dan mungkin alunan coldplay bisa mendamaikannya. Tetapi saat yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Lagi-lagi Pak Burhan tak henti-hentinya menerangkan sejarah tentang The Great War (War World One), War World Two dan prediksinya tentang War World Three semenjak kejadian 11 September di Twin Towers WTC, US. Rere sungguh bosan luar biasa. Entah kenapa dia paling Benci pelajaran sejarah walaupun dia tahu suatu saat pasti ada manfaatnya. “Who cares&#8230;” katanya dalam hati. Bell berbunyi tepat ketika pak Burhan menceritakan tentang kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan para pengamat dan peneliti dunia saat kejadian 11 September tersebut. Sebenarnya hal ini mungkin bisa dibilang menarik. Tetapi rupanya bukan hanya Rere yang merasa bosan, teman-teman sekelasnya pun langsung membenahkan buku-buku mereka dan segera berhambur keluar. “Kita sambung minggu depan&#8230;” teriak pak Burhan agak keras. Memang suaranya kalah keras dengan kebisingan aktivitas siswa-siswi pasca bell pulang.</p>
<p>Seperti yang dilamuni Rere, dia segera menuju pelataran parkir sekolah untuk menghidupkan AC dan menyetel musik di mobilnya. Rere tahu, Albie pasti lagi main basket bersama teman-temannya. Seakan tak perduli karena panas yang menyengat, Rere sedikit berlari menuju mobilnya. Dia sedang merogoh tasnya untuk mencari kunci mobil ketika tiba-tiba mobil Carry hitam berhenti mendadak di depannya hampir menyerempetnya, menggeser pintunya terbuka dan seorang pria tak di kenal mencondongkan badannya, mendekap mulut Rere dan menariknya masuk ke dalam mobil. Rere tidak menyangka hal ini akan terjadi. Kejadiannya begitu cepat, sampai dia tak sempat untuk berteriak. “Now what&#8230;” gerutunya dalam hati. Sampai di dalam mobil mereka langsung melaju mobil dengan kecepatan sedang sehingga tidak ada orang yang curiga.</p>
<p>Rere hanya melihat 2 orang ketika dia terduduk di dalam mobil, satu memegang kemudi dan yang satu lagi duduk di bangku tengah sebelahnya yang tadi membekap Rere. Dia tidak bisa melihat siapa yang mengemudi. Tetapi rasanya dia pernah melihat mata yang balik menatapnya dari kaca di dalam mobil. Rere juga tidak bisa mengenali orang yang duduk di sebelahnya, dia sungguh besar, dengan kulit coklat dan beberapa brewok yang tak tercukur rapi. Jantung Rere berdegup kencang.</p>
<p>Rere berusaha kabur tetapi Carry ini hanya mempunyai satu pintu samping yang di geser dan di jaga oleh orang di sebelahnya.<br />
“Siapa lo??!! Ngapain lo bawa gue!!! Buka pintunya!!” Teriak Rere sambil mencoba meraih pintu mobil untuk menariknya terbuka. Tetapi tubuh lawan di depannya sungguhlah kuat. Dia menghadang dan membekap Rere yang melawannya.<br />
“Hallo Re&#8230;pa kabar&#8230;” sapa tiba-tiba orang di depannya. Rere terkejut melihat sosok yang sekarang menghentikan mobil dan memalingkan wajahnya ke belakang untuk menyapa Rere. “Ben&#8230;” seru Rere dalam hati. Spontan Rere menjadi pucat, teringat kembali bayangan-bayangan menyakitkan yang terjadi 2 bulan yang lalu.<br />
“Mau kemana sih? Kok buru-buru banget??” senyum Ben masih sama seperti dulu. Sinis dan menakutkan. Senyum itu membuat wajah tampannya menjadi tak berarti sama sekali.<br />
“Ben&#8230;” Rere menyerukan nama itu tanpa sadar.<br />
“Masih inget ya say&#8230; aku pikir kamu udah lupa&#8230; Oia, kenalin tuh namanya Tony&#8230; aku minta bantuan dia buat ngambil kamu&#8230;” seakan hal ini sudah biasa, Ben mengenalkan temannya yang langsung tersenyum sinis pada Rere.<br />
“Gue pikir semuanya udah selesai Ben&#8230; Lo mau apa lagi?? Lo udah dapetin semua!!! Kenapa lo ganggu gue lagi!!?“ Teriak Rere hampir menangis.<br />
“Tadinya emang gitu say&#8230; tapi engga tau kenapa, semenjak kejadian itu aku kebayang-bayang kamu terus&#8230;, kok kayaknya aku jatuh cinta ya&#8230;” Rere merasa nada itu seakan melecehkannya. “Sayang ya papa-mama kamu lagi di luar negeri&#8230; kalo enggak kan aku bisa dateng ngapelin kamu&#8230; kali aja bisa ngelamar kamu&#8230; he..he..he&#8230;” spontan Rere terkejut bukan main. Dia tahu itu kalimat sindiran. Dari mana Ben tahu kalo orangtuanya memang sudah pindah keluar negeri.<br />
“Ngomong apa sih lo&#8230; Bokap-nyokap gue ada di rumah. Kalo mereka tau gue gak pulang mereka akan lapor ke polisi. Gue udah ceritain semuanya sama mereka, kalo ada apa-apa sama gue, gue udah mastiin ke mereka kalo lo yang ngapa-ngapain gue!!” Rere berbohong. Dia berharap Ben mempercayai kata-katanya dan melepaskannya sehingga kejadian ini tidak akan terjadi lagi.<br />
“Aduuuh, kamu gak cocok banget ya kalo ngebo’ong&#8230;” balas Ben. “Aku tau papa-mama kamu udah pindah ke luar negeri. Aku kan tiap hari ngawasin kamu!! Lagian kalo emang bener cerita kamu. Emang orangtua kamu tau siapa aku?? Dari mana dia bisa ngelacak aku&#8230; say.. kalo mau bo’ong yang cantik donk&#8230;” celetuk Ben dengan nada malas dan kembali menyetir mobil tanpa memperhatikan reaksi Rere.</p>
<p>Seakan sudah di vonis mati, Rere terkejut bukan main. Kembali perasaan takut mengisi kepalanya. Spontan dengan segala upaya dia mendorong tubuhnya ke depan. Meraih kemudi dan membelokkannya ke kiri, ke tepi jalan berharap mobil ini akan menabrak sesuatu dan orang-orang sekitar akan menolongnya “Lepasin gue!!!” teriaknya. Tetapi rupanya Ben lebih tanggap. Dia segera menahan kemudi yang tak kalah kuatnya dengan tarikan Rere. Tony pun langsung beriisiatif untuk menarik Rere ke belakang dan menahannya.<br />
“Lepasin gue lo bajingan!!! Lepasin gue!!!!“ Rere meronta dalam dekapan Tony yang kuat. Kakinya menendang-nendang Ben di depan, tangannya menggedor-gedor kaca berharap kaca itu akan pecah sehingga dia bisa berteriak minta tolong. Tetapi ketika dia berupaya dengan sekuat tenaga dari arah depan Rere merasa hidungnya ditutup dengan saputangan. Seakan dunia tidak berudara. Rere sulit bernafas. Bau obat bius sangat menyengat langsung mengalir masuk ke otaknya. Membuat dia pusing bukan kepalang. Rere melihat seakan-akan seluruh isi di dalam mobil berputar-putar di kepalanya dan tiba-tiba kepalanya berat luar biasa. Tubuhnya lemas tak berdaya, dan akhirnya Rere jatuh terkulai tak sadarkan diri.</p>
<p>Rere tidak bisa mengingat berapa lama dia pingsan, tetapi ketika dia tersadar, dia berada di ranjang besar dan empuk berkerangka besi ukiran yang indah di tata dengan beberapa bantal besar diselimuti bed cover. Spontan Rere meraba tubuhnya. Lega, pakaiannya masih lengkap. Sejenak dia memperhatikan ruangan sekitarnya. Sungguh mewah ruangan ini, dengan home theatre lengkap di sudut ruangan beserta koleksi dvd bertumpuk-tumpuk di sebelahnya. Dia bangkit turun dari tempat tidur berjalan mengitari kamar berusaha mencari pintu untuk pergi dari tempat ini. Ada beberapa pintu di sana. Rere menarik daun pintu dari salah satu pintu itu. Ketika terbuka, ruangan disebelahnya adalah kamar mandi besar dilengkapi dengan shower dan bathupnya. Hal ini biasa, yang membuat unik kamar mandi ini dilengkapi dengan jacuzzi bulat dengan gelembung air menguap dari bawah tak henti-hentinya. Rere menutup kembali pintu itu. Dia sedang tidak ingin mandi meskipun dia tergoda untuk mencoba menenggelamkan dirinya di jacuzzi itu, untuk menghilangkan penatnya.</p>
<p>Kembali dia membuka salah satu pintu yang lain. Ternyata pintu itu adalah pintu lemari pakaian dan sepatu. Bertumpuk-tumpuk sepatu tersusun rapi di raknya. Baju-baju, kemeja dan kaos terlipat dan tergantung rapi di salah satu sudut. Rere menyadari. Semua itu adalah ukuran dan model untuk laki-laki. Berarti dia ada di kamar laki-laki. Tetapi kamar siapa? Ben?</p>
<p>Rere menutupnya lagi dan membuka satu pintu yang tersisa. “Terkunci!!” hatinya melengos. “Di mana ini&#8230;” kembali dia mencoba untuk melihat sekelilingnya. Rere berkomentar kenapa kamar sebagus dan semewah ini tidak mempunyai jendela satupun. Tiba-tiba dari pintu yang terkunci terbuka menjeblak mengagetkan Rere yang terbengong takut di dalamnya. Ben muncul dan masuk ke dalam kamar. Menutup kamar dan menguncinya dari dalam.</p>
<p>“Udah bangun ya say&#8230; enak tidurnya??” Sapa Ben ramah. Rere tidak percaya dengan mimik Ben. Spontan dia mundur berusaha menjauh dari Ben. Rere melihat Ben hanya mengenakan celana pendek selutut dengan kaos oblong warna putih dengan sebatang rokok yang menyala dan asbak di tangan kanan, sementara di tangan kirinya dia menenteng paper bag besar yang Rere tidak tahu apa isinya. Ben menghampiri Rere, tetapi Rere lagi-lagi menjauhinya.</p>
<p>“Kamu kok kaya orang jauh aja sih say&#8230; takut?&#8230; apa malu? Gak usah malu dong say&#8230;kita kan udah kenal luar dalem&#8230;” Ben tersenyum, tetapi entah kenapa Rere tidak merasakan kesan manis di senyum itu.<br />
“Pergi lo dari gue!!!! PERGI!!!!&#8230; TOLONG&#8230;TOLONG&#8230;TOLONG&#8230;!!” Rere berteriak ke dalam tembok. Berharap suara itu bisa menembus tembok dan memanggil orang dari luar. Tetapi dengan tenang Ben menghisap rokoknya, menghembus asapnya dan berjalan menuju tempat tidur, meletakkan paper bag yang dibawanya tadi di atasnya.<br />
“Percuma say, kamu mau teriak sekencang apa juga gak bakal ada yang denger&#8230; Sekarang kita lagi ada di villaku, letaknya jauh dari perumahan&#8230; tapi jangan kebanyakan teriak&#8230; Aku pusing dengernya&#8230;” lagi-lagi Rere merasakan nada dingin yang mengancam di setiap kata-kata Ben.<br />
“Di dalam paper bag itu ada baju ganti buat kamu&#8230; baru sebagian sih&#8230; ntar aku beliin lagi&#8230;mulai sekarang kamu tinggal disini sama aku sampai kita pindah ke tempat lain&#8230;” Ben bicara lantang seraya berjalan ke arah pintu seakan tak peduli dengan tawanannya. Rere tahu Ben mau keluar dari kamar ini. Dia sendiri heran dengan apa yang akan dilakukannya. Dia berlari ke arah pintu. Menghadang Ben di depan pintu tepat ketika Ben akan menarik gagangnya.<br />
“A..aa..Apa maksud lo&#8230;? Selamanya? Disini&#8230;? Sama lo??” Rere gugup dan bingung dengan pertanyaannya.<br />
“Denger ya re&#8230;” sambil mengapit dagu Rere dengan punggung telunjuk dan ibu jari tangan kanannya, Ben menengadahkan wajah Rere ke arahnya dan mendekatkan hidungnya tidak lebih dari seinci dengan hidung Rere. “Gue selalu ngedapetin apa yang gue mau&#8230; kalo gue bilang gue mau lo&#8230; gue pasti ngedapetin lo walaupun dengan cara apapun&#8230; mendingan lo mandi sana ganti baju biar seger&#8230; gue males maen sama orang yang loyo&#8230;” Rere merasakan tangan Ben di dagunya dingin sedingin kata-katanya. Tetapi bukan saatnya buat Rere untuk melempem. Dengan masih menghadang Ben di pintu Rere berusaha bicara dengan lantang.<br />
“Gue gak takut sama lo Ben&#8230;ato siapapun nama lo!!&#8230;Lo lepasin gue sekarang ato gu&#8230;” belum sempat Rere menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba ‘PLAK’</p>
<p>Dengan Rokok dan asbak di tangan kiri, Ben menampar keras Rere dengan tangan kanannya dan langsung mencekik leher Rere yang jenjang. Spontan Rere tidak bisa apa-apa lagi. Tanpa sadar Rere memegang tangan Ben dengan kedua tangannya seolah ingin melepaskan cekikan Ben yang ternyata sangat kuat. Wajahnya yang putih lambat laun menjadi kemerahan. Matanya berair menahan nafas yang rasanya sudah 1 jam lamanya seiring dengan cekikan Ben di lehernya.<br />
“Jangan pernah lo ngancem gue&#8230; Lo gak tau siapa gue!!! Mulai sekarang gue yang nentuin apa yang boleh and yang gak boleh lo lakuin!! Mulai sekarang lo harus nurutin semua perkataan gue&#8230; mulai sekarang nasib lo ada di tangan gue&#8230;” sungguh-sungguh Ben berbicara seakan ingin menunjukkan ke gadis ditangannya bahwa dia tidak main-main. Sambil mencekik leher Rere, Ben menarik Rere menjauh dari pintu. “mendingan lo mandi sekarang&#8230;” Ben melepaskan cekikannya, spontan Rere langsung terjatuh bersimpuh di lantai karpet, lepas keseimbangan dan terbatuk-batuk seakan udara yang masuk ke paru-parunya terasa sesak dan sedikit.</p>
<p>Ben kembali menghisap rokoknya dengan tenang. “Gue mau pesen makanan&#8230; sebentar lagi gue kesini&#8230; jangan pernah lo berani macem-macem&#8230;” kembali ucapan Ben dingin seperti es bagi Rere. Akhirnya Ben membuka pintu dan berjalan keluar. Rere tidak melihat Ben menutup pintunya, tetapi dia mendengar tanda klik arti pintu kembali terkunci. Tanpa sadar Rere mengisak, air matanya menetes di kedua pipinya yang putih mulus, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Bagaimana nasibnya nanti. Apakah Albie menyadari kalau dirinya sudah pergi ke tempat yang Rere gak tahu ada dimana. Tas sekolah dan telepon genggamnya juga tidak tahu ada dimana. Sambil berpikir, Rere berjalan menuju kamar mandi. Mungkin Albie akan menyadarinya kalau dia melihat mobil Rere masih terparkir di pelataran sekolah. “Ya, pasti Albie datang menolong lagi&#8230;” Rere berusaha menghibur dirinya sendiri.</p>
<p>Rere membuka kran air dan menutup sumbat di bathup. Dia mengisinya dengan air hangat&#8230; membuka pakaiannya dan meletakkan tubuh telanjangnya ke dalam bathup yang sudah setengah terisi. “hangat&#8230;” katanya dalam hati. Serasa dia lupa sedang berada dimana, dia menikmati tubuhnya terendam air hangat dan menikmati bath time-nya, Rere memejamkan mata dan mulai tertidur ketika tiba-tiba ada tangan yang menyentuh bahunya. Rere terlonjak kaget. Ketika membuka matanya dia melihat Ben sudah ada di sampingnya<br />
“Kamu seksi deh kalau basah&#8230;” senyum Ben kembali menghiasi wajahnya. Rere benar-benar benci orang yang ada dihadapannya. Dia mencari handuk, tetapi tidak ditemukan. Dia mencoba mengambil seragamnya untuk menutup tubuhnya. Tetapi seragam itu tidak ada di lantai tempat dimana tadi dia meletakannya. Rere berusaha menutup tubuhnya dengan tangannya meskipun dia tahu tidak akan berhasil. Alhasil, dia hanya menutupi buah dadanya yang putih kenyal dan sangat menantang itu dengan melipat tangannya di daerah tersebut sementara kemaluan Rere tak kuasa untuk ditutupi.</p>
<p>Ben dengan santai mencoba untuk mencium bibir Rere. Tak diduga, Rere mendorong tubuh Ben menjauh dan keluar dari bathup. Ben pun terjatuh ke lantai kamar mandi yang licin. Dengan telanjang Rere berlari keluar dari kamar mandi menuju kamar, dia meraih pintu keluar, tetapi pintu itu terkunci. Rere menelusuri kamar dengan pandangannya mencoba mencari kunci untuk membuka pintu. Tepat ketika Rere berputar, Ben sudah ada di hadapannya dan langsung saja kembali Ben menampar keras Rere hingga Rere terjatuh terjerembab di lantai karpet. Ben memutar tubuh Rere agar terlentang dan menindihnya. Dia langsung menciumi gadis yang ada di bawahnya itu dengan nafsu yang tinggi. Rere masih saja berusaha untuk menghindar, melupakan rasa perih dan panas di pipinya dan berat tubuh lawannya.<br />
“Jangan&#8230;please&#8230; gak mau&#8230; TOLOOOONG!!! TOLOOOONG&#8230;TOLLffmpph&#8230;” Ben menghentikan lolongan Rere yang keras dengan menerkam bibirnya, melumat dengan ganas. Lidahnya berusaha masuk ke dalam mulut Rere, bermain-main di dinding rongga mulutnya. Tangan Ben yang kuat membekap kedua tangan Rere ke atas, membuat tubuh Rere terlentang pasrah menantang lawannya. Sambil menahan tangan Rere, Ben menindih dan mencumbui bibir Rere. Entah kenapa permainan ini tidak bisa dinikmati Rere seperti waktu yang lalu. Pikirannya kalut, marah, takut dan bingung menjadi satu. Dia benar-benar tertekan. Cumbuan Ben sekarang turun ke buah dadanya. Lagi-lagi mulut Rere yang terbebas kembali berteriak, hal ini membuat Ben senewen. Dengan tidak melepaskan tindihannya. Kembali Ben menampar Rere.</p>
<p>“Diam!! Ato gue siksa lo pelan-pelan!!” Ancaman Ben ternyata membuat Rere ciut. Dia pun menjadi diam. Dia tidak mau disiksa, tetapi juga tidak mau diperkosa. Rere memilih diam walaupun dalam hatinya sangat memberontak.</p>
<p>Ben pun kembali meneruskan permainannya. Setelah mengetahui ancamannya berhasil, Ben melepaskan bekapan tangannya pelan pelan. Rere pun tidak berkutik lagi. Dia hanya diam terlentang tak bereaksi sama sekali. Matanya menatap ke langit-langit, hampa dan kosong. Beberapa tetes air mata menetes keluar tanpa reaksi. Sementara mulai membuka pakaiannya satu persatu, sehingga dengan hitungan detik, Ben sudah berbugil ria. Dia terus melumat tubuh Rere yang hanya pasrah menerima setiap cumbuannya. Ben mulai menuruni badan Rere menghadapkan wajahnya di selangkangan Rere. Ben membuka paha Rere dan membenamkan kepalanra di pangkalnya. Ketika lidah Ben menjilat klit daging kecil di sana, Rere menggelinjang sedikit. Bukan rangsangan tetapi perasaan tidak nyaman yang dirasanya.</p>
<p>Rere sama sekali tidak menikmati pergelutan kali ini. Dia merasa seperti di sangkar burung emas yang mengurungnya. Ketika dirasakan batang kemaluan Ben mulai menekan liang sanggamanya. Rere berusaha mendorong tubuh Ben dari atasnya. Tetapi Ben tak bergeser sedikitpun. Dia semakin bernafsu mendengar Rere mengerang kesakitan. Tepat ketika dirasakan posisi batang kejantanannya tepat di pintu sanggama Rere, tanpa peringatan, Ben langsung menusukkannya jauh ke dalam. Rere menjerit kesakitan. Kemaluannya yang kering tidak siap untuk dimasuki benda apapun membuatnya sangat menderita. Ben sama sekali tidak memperdulikannya, dia mulai menggenjot tawanannya. Semakin lama semakin cepat sehingga dorongan-dorongannya yang kuat membuat badan Rere terdorong maju mundur.</p>
<p>“Enak banget sih say punya kamu&#8230; uuggh&#8230;” Ben meracau ditelinga Rere. Kembali air mata rere mengalir tak terasa. Dia tidak mengisak juga tidak bereaksi sama sekali.<br />
“Aku emang sengaja engga make kamu waktu itu&#8230; biar aku jadi orang yang terakhir yang make kamu sampai selamanya&#8230;“ Rere tidak mendengarkan celoteh Ben. Dia sedikit meringis ketika genjotan Ben semakin dalam dan cepat.</p>
<p>Tiba-tiba Ben mencabut batang kemaluannya dari kemaluan Rere. Sedetik kemudian dia mengangkat kedua kaki Rere ke atas sehingga Rere merasakan kedua lututnya tepat menempel kuat di masing-masing buah dadanya membuat selangkangannya lebih terbuka menantang. Ben menahan kedua kaki Rere dan mengarahkan batangnya ke selangkangan Rere. Tetapi bukan kemaluan Rere yang dicoba ditusuknya, melainkan saluran pembuangan belakang Rere. Rere pun terlonjak kaget ketika dirasakan anusnya diraba oleh kepala kemaluan Ben. Dia memberontak kuat menolak keras maksud dan tujuan Ben.</p>
<p>“Jangan!!! Jangan di situ&#8230;Jangan!!!! gak mau&#8230; jangan!!“ Rere memberontak. Dia menggoyang-goyangkan tubuhnya keras berusaha memelesetkan kepala kemaluan Ben di lubang duburnya. Tetapi sekali lagi usahanya sia-sia. Ben mengunci mati tubuh dan kaki Rere tak berkutik. Dia pun menusukkan kepala batangnya ke lubang belakang Rere. Sedikit demi sedikit batang itu menerobos masuk ke dalam. Rere menggigit bibirnya sendiri. Serasa sesuatu merobek tubuhnya. Kali ini dia mengerang keras ketika Ben menggenjot lubang belakangnya. Ben tahu itu bukan karena kenikmatan, tetapi dia semakin bersemangat memompa dubur Rere.<br />
“Aku kan gak merawanin depan kamu waktu itu&#8230; Boleh donk aku merawanin belakang kamu&#8230;“ Ben berbisik pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke telinga Rere.</p>
<p>Rere sungguh tersiksa dengan anal seks ini. Sungguh mati dia tidak membayangkan dirinya beranal dengan pria manapun. Ketegangan dan kesakitan melanda tubuh Rere. Keringatnya sekarang mengucur menahan sakit bercampur dengan air matanya. 5 menit pergelutan itu berlangsung. Rere sungguh tidak kuat lagi. Akhirnya Ben mempercepat genjotannya di dalam dubur Rere. Beberapa detik kemudian Rere merasakan batang yang tertanam ditubuhnya berdenyut kuat dan tak lama sesudahnya Ben menyemprotkan cairan spermanya di dalam tubuh Rere.</p>
<p>Ben tidak menunggu batangnya mengecil terlebih dahulu, dia langsung mencabut kejantanannya dari dalam tubuh Rere. Dilihatnya spermanya mengalir keluar bercampur cairan sedikit berbusa berwarna pink. Ben tahu itu adalah darah Rere. Dia sadar telah memerawani anus Rere. Ben pun tersenyum.<br />
“We’re going to have the greatest days everyday honey&#8230;” katanya sambil mengecup kening Rere. Rere memalingkan mukanya. Dia melingkarkan tubuhnya dilantai karpet, memeluk lututnya dan mengisak mengucurkan air mata. Sementara Ben berjalan meninggalkan Rere menuju kamar mandi. Sedetik kemudian Rere mendengar bunyi gemericik air mengalir dari kamar mandi. Dia tahu Ben pasti sedang membersihkan badannya. Dia sungguh-sungguh benci orang itu.</p>
<p>Lima menit kemudian Ben keluar dari kamar mandi. Dia melilitkan handuk kecil di pinggangnya. Rere pun masih bersimpuh di lantai karpet. Ben menghampiri Rere, berjongkok di sebelahnya sambil membelai rambut Rere.<br />
“Say&#8230; Mending kamu mandi deh&#8230;biar seger&#8230; tar lagi makanan dateng&#8230;aku tungguin makanan di luar ya&#8230; ntar lagi aku ke sini&#8230; “ katanya mesra. Rere sungguh tidak menggubris pesan Ben. Dia terus melingkarkan tubuhnya di lantai karpet tempat dimana pergelutan terjadi beberapa menit yang lalu. Ben pun bangkit dengan tak lupa mengecup rambut Rere. Dia berputar menuju pintu, membuka dan berjalan keluar ruangan. Sekali lagi Rere mendengar bunyi klik tanda pintu kembali terkunci.</p>
<p>Rere berpikir sampai kapan dia akan mengalami nasib seperti ini. Dia sekarang putus asa. Sia-sia sudah air matanya mengalir di pipi, tetapi tidak bisa meluluhkan perasaan Ben yang sekuat baja. “Mama&#8230;” katanya menangis tersedu. Seandainya dia bisa bertemu mamanya sekarang, mungkin hatinya akan tenang. Tetapi hal itu tidak mungkin. Dia benar-benar tidak tahu ada di mana sekarang. Menunggu dan menanti apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya.</p>
<p>Sampai disini dulu cerita dewasa kali ini, <strong>cerita seks</strong> ini bersambung, bersambung sampai nanti sumber cerita nya akan memberikan ceritanya lagi&#8230; Bersambung&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/cerita-seks-cewek-smu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

