<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa &#187; tante cantik</title>
	<atom:link href="http://cerita.modelperawan.com/tag/tante-cantik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.modelperawan.com</link>
	<description>Cerita seks terlengkap dan cerita dewasa terbaru</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 02:37:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Cerita Panjang Aku dan Mbak Yeyen</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/cerita-panjang-aku-dan-mbak-yeyen/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/cerita-panjang-aku-dan-mbak-yeyen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 12:56:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[diperkosa tante]]></category>
		<category><![CDATA[pemerkosaan tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante binal]]></category>
		<category><![CDATA[tante cantik]]></category>
		<category><![CDATA[tante genit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin selama ini cerita pengalaman diperkosa milik seorang wanita saja, tapi tahu kah anda, bahwa banyak sekali ternyata cerita dewasa dari pengakuan banyak pemuda bahwa mereka pemuda laki-laki ternyata menjadi korban perkosaan beberapa tante atau wanita dewasa. namun karena tidak ada keterbukaan, sehinga cerita pemerkosaan seolah hanya milik perempuan belaka. Namaku Ian, tinggal di salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin selama ini cerita pengalaman diperkosa milik seorang wanita saja, tapi tahu kah anda, bahwa banyak sekali ternyata <strong>cerita dewasa</strong> dari pengakuan banyak pemuda bahwa mereka pemuda laki-laki ternyata menjadi korban perkosaan beberapa tante atau wanita dewasa. namun karena tidak ada keterbukaan, sehinga <a href="http://cerita.modelperawan.com/pemerkosaan-abg/">cerita pemerkosaan</a> seolah hanya milik perempuan belaka.</p>
<p>Namaku Ian, tinggal di salah satu kota besar di Jawa Barat. Yang kuceritakan disini adalah kejadian waktu aku masih duduk di kelas 1 SMA. Keluargaku tinggal di sebuah komplek perumahan yang cukup jauh dari pusat kota, sehingga suasana antar warganya masih akrab dan cukup dekat satu sama lain.</p>
<p>Semuanya bermula ketika keluargaku menggaji seorang pembantu yang bernama Yeyen. Dia merupakan pembantu yang digaji perhari, banyak keluarga di komplek kami yang menggunakan jasanya. Suatu ketika, aku sedang memberi makan kucingku ketika bel pintu berbunyi, aku segera melihat siapa yang datang, ternyata Mbak Yeyen.<br />
&#8220;Halo Ian, ada siapa di rumah?&#8221; tanya Mbak Yeyen.<br />
&#8220;Oh Mbak, kirain siapa. Mama Papa kan jam segini belum pulang Mbak..&#8221; jawabku sambil mempersilahkan dia masuk.<br />
&#8220;Oh gitu, kalo sendirian aja biar skalian Mbak temenin aja, kamu lagi apa?&#8221; tanya Mbak Yeyen lagi sambil langsung menuju dapur, aku mengikuti dari belakang sambil memandang pantat Mbak Yeyen yang montok. Hari ini dia memakai sweater hitam yang dipadu dengan rok coklat sepanjang betis.<br />
&#8220;Ga lagi ngapa2in Mbak..&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Ya udah Mbak nyuci dulu ya.&#8221; katanya lagi.<br />
Aku hanya mengangguk dan pergi ke kamarku main Playstation.</p>
<p>Beberapa jam kemudian aku capek dan mulai tertidur. Tiba2 Mbak Yeyen masuk ke kamarku hanya dengan mengenakan handuk yang dililitkan ke badannya. Aku terbangun karena suara pintu yang terbuka.<br />
&#8220;Ian, mama kamu punya hair dryer nggak?&#8221; tanyanya, sambil mengacak2 rambutnya yang basah didepan cermin besar di kamarku.<br />
&#8220;Mama sih punya Mbak, cuman Ian ga tau tempatnya dimana.&#8221; aku berbaring kembali. Mbak Yeyen memang biasa mandi dan makan di rumahku apabila orangtuaku sedang tidak ada, malah kadang2 dia membawa teman2nya untuk nonton DVD, masak apa yang ada di kulkas, hingga tidur2an di kamar Mama sambil ngegosip.<br />
&#8220;Yah, kalo gini rambut Mbak bakal lama keringnya dong.&#8221;<br />
Aku tidak menjawab. Tiba2 Mbak Yeyen melemparkan tubuhnya ke ranjang, tepat disebelahku sambil tertawa.<br />
&#8220;Uaah, Mbak ikut nungguin disini ya..&#8221; katanya. Lipatan handuknya terlepas tapi Mbak Yeyen tidak berusaha merapikannya. Payudaranya yang besar terlihat jelas. Aku bengong, soalnya baru pertama kali itu aku melihat payudara seorang wanita.<br />
&#8220;Heh kamu ngeliatin apa?&#8221; canda Mbak Yeyen.<br />
&#8220;Dadanya Mbak Yeyen gede..&#8221; ucapku polos.<br />
&#8220;Bagus nggak? Kamu suka?&#8221; tanya Mbak Yeyen lagi. Tapi tanpa menunggu jawabanku tiba2 Mbak Yeyen mendekap kepalaku ke payudaranya sambil tertawa2.<br />
&#8220;Nih Ian, isep..! Isep..!&#8221; candanya. Sementara aku tidak bisa bergerak karena Mbak Yeyen menindihku. Aku hampir tidak bisa bernapas. Mbak Yeyen terus membekapku dengan payudaranya, seringkali putingnya yang coklat dipaksakan memenuhi mulutku. Kira2 10 menit Mbak Yeyen berbuat begitu, aku yang tidak tahu apa2 bingung sendiri melihat Mbak Yeyen mulai keringatan dan napasnya terengah engah.<br />
&#8220;Ian, buka bajunya dong!&#8221; kata Mbak Yeyen sambil berjalan menuju pintu dan menguncinya.<br />
&#8220;Ian ga mau, malu sama Mbak!&#8221; aku mulai ketakutan karena tidak mengerti apa yang terjadi dan kenapa Mbak Yeyen berperilaku aneh. Aku melompat dari ranjang dan berlari menuju pintu, berusaha membukanya meski aku tahu itu percuma karena kunci pintu sudah disimpan Mbak Yeyen di atas lemari yang sulit kujangkau.<br />
&#8220;Udah sini kamu!&#8221; bentak Mbak Yeyen sambil mengangkat tubuhku, aku hanya bisa meronta2 tak berdaya. Lalu Mbak Yeyen membantingkan tubuhku ke atas ranjang, aku sesak, tapi Mbak Yeyen tak peduli, dia langsung menindih kakiku tepat dilutut, celanaku dipelorotkan, bajuku dibuka paksa sehingga kancing2 bajuku berhamburan di lantai. Tiap kali aku mencoba bangun, Mbak Yeyen mendorongku kembali, malah kadang2 dia menamparku sambil membentak2 menyuruhku berbaring.</p>
<p>Aku ketakutan sekali sehingga aku pasrah dan hanya bisa menangis. Mbak Yeyen mengocok penisku dan kadang2 mengulumnya sampai keseluruhan penisku masuk ke dalam mulutnya, jari2 tangan kirinya bermain2 di vaginanya. Kira2 15 menit kemudian, dia berjongkok diatasku dan mulai mengarahkan penisku yang menegang ke dalam vaginanya. Aku benar2 bingung dan tidak mengerti apapun, yang kurasakan hanya kenikmatan yang luarbiasa ketika penisku masuk seluruhnya ke dalam liang vagina Mbak Yeyen.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Ahh..&#8221; Mbak Yeyen mendesah sementara pinggulnya bergoyang2, kadang memutar, kadang naik turun. Tanganku ditarik sedemikian rupa sehingga memegang payudaranya.<br />
&#8220;Cepetan remes..! Yang kuat remesnya tolol!&#8221; bentak Mbak Yeyen, aku sudah meremas sekuat tenaga tapi telapak tanganku tidak mampu menjangkau seluruh payudaranya. Plaak!! Mbak Yeyen kembali menamparku.<br />
&#8220;Aaah.. Mau keluar niihh..!&#8221; Mbak Yeyen mempercepat gerakannya, badanku yang jauh lebih kecil dari Mbak Yeyen terombang ambing mengikuti gerakannya. Meski ketakutan, aku tidak bisa berbohong kalau rasanya nikmat sekali, seperti mau kencing tapi beda. Akhirnya aku hanya memejamkan mata ketika spermaku keluar. Mbak Yeyen menyadari aku keluar, dan dia makin mempercepat gerakannya sambil tertawa2.<br />
&#8220;Oooh&#8230;! Hahaha enak kan? Aah&#8230;! Nnngh..! Mbak juga mau keluar..!&#8221; sehabis bicara begitu tubuh Mbak Yeyen bergetar dan sedetik kemudian dia mendesah kencang.<br />
&#8220;Aaaahhh&#8230;!! Nikmatt..!&#8221; desahnya sementara </p>
<p>Bersambung, <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> ini cukup panjang, nantikan saja sambungan cerita nya dalam postingan berikutnya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/cerita-panjang-aku-dan-mbak-yeyen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tante Stella</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-stella/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-stella/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 19:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[klitoris]]></category>
		<category><![CDATA[klitoris tante]]></category>
		<category><![CDATA[merangsang]]></category>
		<category><![CDATA[tante cantik]]></category>
		<category><![CDATA[tante genit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan dalam kisah panas ini, adalah seorang pemuda yang awalnya takut berdekatan dengan wanita, namun karena sebuah pengalaman bertemu seorang tante cantik, dia pun akhirnya berani dan bisa kelewat bernafsu dengan lawan jenis. berikut selengkapnya. Kisah ini berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diceritakan dalam kisah panas ini, adalah seorang pemuda yang awalnya takut berdekatan dengan wanita, namun karena sebuah pengalaman bertemu seorang tante cantik, dia pun akhirnya berani dan bisa kelewat bernafsu dengan lawan jenis. berikut selengkapnya.</p>
<p><img title="Tante Cantik" src="http://www.nangaspace.com/upload/2009-11-16-10-10.jpg" alt="Tante Girang cantik, tante Bugil, tante girang" width="120" height="300" /><br />
Kisah ini berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari<span id="more-235"></span> orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Rudy.</p>
<p>Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.</p>
<p>Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.</p>
<p>Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.</p>
<p>Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stella semakin akrab.</p>
<p>Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Stella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.</p>
<p>Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam &#8220;BL&#8221; seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36B.</p>
<p>Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.<br />
&#8220;Rud, kamu lugu sekali yah..?&#8221; tanya Tante Stella.<br />
&#8220;Agh.. Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?&#8221; jawab saya.<br />
&#8220;Yah.. lebih dewasa Dong..!&#8221; tegasnya.<br />
Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.</p>
<p>&#8220;Rud.. mau kan tolongin Tante..?&#8221; tanya si Tante dengan manja.<br />
&#8220;Loh.. tolongin apalagi nih Tante..?&#8221; jawab saya.<br />
&#8220;Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!&#8221; jawab si Tante.<br />
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk &#8220;bercinta&#8221; dengan Tante Stella ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.<br />
&#8220;Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?&#8221; tanya saya sambil bercanda.<br />
&#8220;Yah.. kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?&#8221; jawabnya.</p>
<p>Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. <a href="http://cerita.modelperawan.info">Tante</a> Stella juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.</p>
<p>Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi&#8217;s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.</p>
<p>&#8220;Wah.. Rud, gede juga nih punya kamu..&#8221; kata si Tante sambil bercanda.<br />
&#8220;Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!&#8221; jawab saya.<br />
Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.</p>
<p>Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.<br />
&#8220;Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Rud..!&#8221; desahnya.<br />
&#8220;Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?&#8221; kata saya.</p>
<p>Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.<br />
&#8220;Ogh.. Rud, pintar sekali yah kamu <a href="http://cerita.modelperawan.info/tag/merangsang/">merangsang</a> Tante..&#8221; dengan suara yang mendesah.<br />
Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.</p>
<p>Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.<br />
&#8220;Rud.. ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!&#8221; pinta si Tante.<br />
&#8220;Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!&#8221; sambil berusaha meyakinkan saya.</p>
<p>Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.<br />
&#8220;Ahh.. dorong terus Dong Rud..!&#8221; pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.<br />
Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stella mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.</p>
<p>Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.<br />
&#8220;Oh.. oh.. nikmat sekali Rudy..!&#8221; teriak si Tante.<br />
&#8220;Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..!&#8221; kata saya.<br />
&#8220;Sabar yah Rud.. tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!&#8221; jawab si Tante.</p>
<p>Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.<br />
&#8220;Arghh..!&#8221; teriak Tante Stella.<br />
Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.</p>
<p>Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stella dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.</p>
<p>&#8220;Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?&#8221; kataya sambil tertawa kecil.<br />
&#8220;Agh.. Tante bisa aja deh..!&#8221; jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.<br />
Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.</p>
<p>&#8220;Um.. dorong lebih keras lagi dong Rud..!&#8221; desahnya.<br />
Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.<br />
&#8220;Rud.. mandi yuk..!&#8221; pintanya.<br />
&#8220;Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?&#8221; jawab saya.</p>
<p>Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Stella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.<br />
&#8220;Hm.. nikmat sekali jilatanmu Rud.. agghh..!&#8221; desahnya.<br />
&#8220;Rud.. kamu sering-sering ke sini Rud..!&#8221; katanya dengan nafas memburu.<br />
Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya &#8220;KO&#8221; kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.</p>
<p>Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Indah teman sekampus saya, apalagi Noni murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.</p>
<p>Dan setelah kejadian itu, aku menjadi lebih berani dengan cewek, aku merasa aku bisa menjadi lelaki yang umumnya tanpa harus minder dan lain sebagainya, sungguh pengalaman bersama tante merubah keberanianku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-stella/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Tetty seksi</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/tante-tetty-seksi/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/tante-tetty-seksi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 18:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante bugil]]></category>
		<category><![CDATA[tante cantik]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang bugil]]></category>
		<category><![CDATA[tante seksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Ngomongin tante girang selalu aja menarik, apalagi kalo di bumbui dengan cerita dewasa yang mampu membuat tensi naik turun. wow&#8230; cerita tante girang?? siapa yang gak senang baca??? nah kali ini akan aku berikan cerita seks menawan dari seorang tante yang seksi namanya tante tetty, bagi anda yang pernah baca mungkin bisa mengabaikan postingan ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ngomongin <a href="http://cerita.modelperawan.com/tag/tante-girang/">tante girang</a> selalu aja menarik, apalagi kalo di bumbui dengan<a href="http://cerita.modelperawan.com"> cerita dewasa</a> yang mampu membuat tensi naik turun. wow&#8230; <a href="http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/">cerita tante girang</a>?? siapa yang gak senang baca??? nah kali ini akan aku berikan cerita seks menawan dari seorang tante yang seksi namanya tante tetty, bagi anda yang pernah baca mungkin bisa mengabaikan postingan ini, silahkan cari-cari postingan lain yang mungkin ceritanya blom kamu baca , ok!!</p>
<p>Hai, namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku ‘make love’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU).</p>
<p>Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru-guru dari kelas yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda, sekitar 25 tahunan. Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.</p>
<p>Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan paha dan betisnya yang mulus.</p>
<p>Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih. Aku agak terkejut dan sedikit mel<span id="more-193"></span>otot dengan ‘show’ yang sedang dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih memandangku sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku. Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty yang masih setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah.</p>
<p>Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. &#8220;Sudah selasai?&#8221; katanya sambil tersenyum. &#8220;Sudah, bu….&#8221; jawabku sambil membalas senyumnya. &#8220;Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?&#8221; dia bertanya mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan berbisik-bisik. &#8220;Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?&#8221; kataku memberanikan diri, masih dengan berbisik. &#8220;Kita ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?&#8221; katanya sambil tersenyum simpul. Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin.</p>
<p>Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, &#8220;Bud, kamu ikuti saya dari belakang&#8221; Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan. &#8220;Kamu benar-benar ingin melihat lagi?&#8221; tanyanya memecah kesunyian. &#8220;Lihat apa bu?&#8221; jawabku berpura-pura lupa, pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. &#8220;Ah, kamu, suka pura-pura…&#8221; Katanya sambil mencubit pinggangku pelan. Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat.</p>
<p>Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu. &#8220;Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya!&#8221; Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya, sehingga memperlihatkan BH-nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia memanggilku. &#8220;Bud, tolong dong, lepasin pengaitnya…&#8221; katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku. T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi.</p>
<p>Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya. Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba pantat bu Netty dan sedikit meremasnya, gemas.<br />
&#8220;Udah nggak sabar ya, Bud?&#8221; Kata bu Netty.<br />
&#8220;Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya….&#8221;<br />
&#8220;Kalo di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘teteh’ aja ya?&#8221;<br />
&#8220;Iya bu, eh, teh Netty&#8221;<br />
Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi.<br />
&#8220;Gimana Bud, suka nggak kamu?&#8221; Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya.<br />
&#8220;Kok kamu jadi bengong, Bud?&#8221; Lanjutnya sambil menghampiriku.<br />
Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. &#8220;Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh….&#8221; Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. &#8220;Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh&#8221; Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu. Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat.</p>
<p>Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali itu aku mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy. Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap karena basah.</p>
<p>Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip.</p>
<p>Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya belasan centi. &#8220;Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya&#8221; katanya sambil menghampiriku.</p>
<p>Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. &#8220;Oooohhhh…. enak teh….&#8221; rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku. Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi.<br />
&#8220;Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!&#8221; Teriakku tak tertahankan lagi.<br />
&#8220;Gimana? enak Bud?&#8221; Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku.<br />
&#8220;Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri&#8221; jawabku puas.<br />
&#8220;Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh&#8221; lanjutku sedikit memohon.<br />
&#8220;Boleh…,&#8221; katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai. Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap, memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku.<br />
&#8220;Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan, aaaaauuuuuhhhhhh!&#8221; Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes demi tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku.</p>
<p>&#8220;Bud, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar darimana?&#8221; Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet. Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri, memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan tampak basah serta licin itu.<br />
&#8220;Aku masukin ya teh?&#8221; Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku.<br />
&#8220;Oooohhhh…&#8221; rintihnya,<br />
&#8220;Aaaahhhh…&#8221; kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku. Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya. Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya, matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai tersenggal-senggal.<br />
&#8220;Ahh-ahh-ahh auuuu!&#8221; Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy.</p>
<p>Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai akhirnya, &#8220;Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh… aaahhhhh&#8221; teriakannya semakin kacau.<br />
Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum itu. Bu Netty sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku.</p>
<p>Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul, aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan yang panas.</p>
<p>Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya.</p>
<p>Sejak kejadian hari itu, aku sudah tidak lagi melakukan masturbasi, kami ML setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa dia memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya, yang membuatnya kehilangan mahkotanya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya, katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho). Saat kutanya, apa tidak takut hamil?, dengan santai dia menjawab, bahwa dia sudah rutin disuntik setiap 3 bulan.</p>
<p>sudah selesailah cerita seks ini, semoga bermanfaat buat anda sebagai perangsang sebelum anda bertempur dengan istri anda, sayangi istri anda untuk tidak coba-coba bertukar pasangan, bagi anda yang masih lajang, sayangi <a href="http://cerita.modelperawan.com/tag/kontol/">kontol</a> anda, jangan sampe masuk ke lubang yang salah, karena resikonya sangat kejam <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  bisa-bisa kontol anda di sunat 3 kali, <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  bisa abis dooong <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . sampai jumpa ya <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/tante-tetty-seksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tante Girang</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 19:14:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[no hp tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante cantik]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang bugil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang bisa di ungkapkan selain dengan kata mujur, ya.. cerita kali ini adalah kemujuran bagi seorang laki-laki muda yang berkenalan dengan tante girang, dapat nomer hp tante girang, langsung ketemuan lagi dan akhirnya bisa ngentot tante girang. ceritanya gak datar, seru bikin jatung degdegan, cerita tante girang yang mungkin belum pernah anda baca. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang bisa di ungkapkan selain dengan kata mujur, ya.. cerita kali ini adalah kemujuran bagi seorang laki-laki muda yang berkenalan dengan tante girang, dapat nomer hp tante girang, langsung ketemuan lagi dan akhirnya bisa ngentot tante girang. ceritanya gak datar, seru bikin jatung degdegan, <strong>cerita tante girang</strong> yang mungkin belum pernah anda baca. berikut cerita lengkapnya.</p>
<p>Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku Gramedia di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.</p>
<p>Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.</p>
<p>Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut. Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai.</p>
<p>“Maaf..” kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang <span id="more-43"></span>berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. “Busyet! molek juga nih ibu-ibu”, pikirku.</p>
<p>“Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah.. saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet”, katanya sambil tersenyum manis.</p>
<p>“Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak..”</p>
<p>“Kamu suka juga fotografi yah?”</p>
<p>“Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok..”</p>
<p>Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya,<br />
“Mah, Mamah.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah”, potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.</p>
<p>“Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan”, katanya sambil menggandeng anaknya.</p>
<p>Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja.</p>
<p>Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.</p>
<p>“Hi, asyik amat baca bukunya”, tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.</p>
<p>“Ada yang kelupaan Mbak?”</p>
<p>“Oh tidak.”</p>
<p>“Putrinya mana, Mbak?</p>
<p>“Les piano di daerah Tebet”</p>
<p>“Nggak dianter?</p>
<p>“Oh, supir yang nganter.”</p>
<p>Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus.</p>
<p>Akhirnya mbak yang bernama Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Maya duduk di sampingku.</p>
<p>Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.</p>
<p>Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.</p>
<p>“Ke mana?” tanyaku.</p>
<p>“Terserah kamu saja”, balasnya mesra.</p>
<p>“Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol”, kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.</p>
<p>“Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol”, katanya sambil tersenyum.</p>
<p>Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.</p>
<p>Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Maya yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesek-gesekan dengan perlahan burungku ke pantat Mbak Maya, Mbak Maya pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku. Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Maya dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya. “Mmhhh.. kamu nakal sekali deh dari tadi.. hhm, aku sudah tidak tahan nih”, sambil dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku.</p>
<p>Dia segera membalikkan tubuhnya, payudaranya yang berada di balik BH-nya telah membusung. “Buka dong bajumu”, pintanya dengan penuh kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yang sudah keluar dari CD-ku. Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar. Aku sih tidak mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya.<br />
Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini adalah cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya. Ketika CD-nya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang. Nafas Mbak Maya semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya.</p>
<p>Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa BH-nya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan. Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Mbak Maya menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras. Dan semakin ke bawah terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali.<br />
Kulihat Mbak Maya segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Maya bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Mbak Maya ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan. Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Maya yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar. Dan kuhisap-hisap klitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Mbak Maya menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, “Slebbb…” tidak masuk, hanya ujung batanganku saja yang menempel dan Mbak Maya merintih kesakitan.</p>
<p>“Pelan-pelan Ndi”, pintanya lemah.</p>
<p>“Ya deh Mbak”, dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan tapi pasti kudorong lagi senjataku.</p>
<p>“Aarrghh.. pelan Ndi..” Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah susah masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga.</p>
<p>Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras. “Arrhhghh…” Mbak Maya menjerit, terlihat air matanya meleleh di sisi matanya.</p>
<p>“Kenapa Mbak, mau udahan dulu?” bisikku padda Mbak Maya setelah melihatnya kesakitan.</p>
<p>“Jangan Ndi, terus aja”, balasnya manja.</p>
<p>Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Maya yang ketat sekali.</p>
<p>Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Mbak Maya. Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras.</p>
<p>Setelah Mbak Maya tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Maya mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Maya mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini adalah sangat nikmat.</p>
<p>Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan, “Auuwwww….”, jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.</p>
<p>“Istirahat dulu Mbak”, tanyaku.</p>
<p>“Ya Ndi.. aku ingin istirahat, abis capek banget sich.. Tulang-tulang Mbak terasa mau lepas Ndi”, bisiknya dengan nada manja.<br />
“Oke deh Mbak, kita lanjutkan nanti aja..”, balasku tak kalah mesranya.</p>
<p>“Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain..”, pancing Mbak Maya.</p>
<p>“Ah nggak kok Mbak, baru kali ini”, jawabku berbohong.</p>
<p>“Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Ndi, Kamu hebat Ndi..<br />
Sungguh perkasa”, puji Mbak Maya.</p>
<p>“Mbak juga hebat, lubang surga Mbak sempit banget sich.., padahal kan Mbak udah punya anak”, balasku balik memuji.</p>
<p>“Ah kamu bisa aja, kalau itu sich rahasia dapur”, balasnya manja.</p>
<p>Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan.</p>
<p>Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami kaget saat terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan bermacam-macam posisi. Dan yang lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang berarti, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Maya tidak sesempit yang pertama tadi, mungkin karena sudah ditembus oleh senjataku yang luar biasa ini sehingga kini lancarlah senjataku memasuki liang sorganya. Tapi permainan ini tidak berlangsung lama karena Mbak Maya harus cepat-cepat pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les piano. Tapi sebelum berpisah kami saling memberikan alamat dan nomer telepon sehingga kami bisa bercinta lagi di lain saat dengan tenang dan damai.</p>
<p><a href="http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/">Cerita tante girang</a> selalu menarik untuk anda, mungkin menjadi referensi untuk trik mendekati tante girang, atau cara mendekati tante girang, cara kenalan dengan tante girang dan cara-cara lain yang mungkin anda kurang fahami dalam komunitas tante girang. Sekian <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> kali ini. semoga bermanfaat buat anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

