<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa &#187; tante girang</title>
	<atom:link href="http://cerita.modelperawan.com/tag/tante-girang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.modelperawan.com</link>
	<description>Cerita seks terlengkap dan cerita dewasa terbaru</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 02:37:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Nginep Di Vila Dengan Tante</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/nginep-di-vila-dengan-tante/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/nginep-di-vila-dengan-tante/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 02:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante binal]]></category>
		<category><![CDATA[tante di villa]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tanteku genit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa &#8211; Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita dewasa</strong> &#8211; Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.</p>
<p><img title="Tante girang" src="http://4.bp.blogspot.com/_CwWOc3EZEWc/SPAncyPad9I/AAAAAAAABhA/qZ-F2BPU4N8/s320/tante+di+gudang.jpg" alt="tante" width="320" height="240" /><br />
Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.</p>
<p>Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.<br />
&#8220;Den, ini kamarnya.&#8221;<br />
&#8220;Eh iya Bi.&#8221; jawabku setengah tergagap.<br />
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.<br />
&#8220;Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?&#8221; ucapnya sambil berlalu.<br />
&#8220;Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih.&#8221; Kataku setengah memelas.<br />
&#8220;Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?&#8221;<br />
&#8220;Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?&#8221;<br />
&#8220;Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku.&#8221; ucapku dalam hati.<br />
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.<br />
&#8220;Den, coba Aden tiduran gih.&#8221; suruh Bi Sum.<br />
&#8220;Eh, iya Bi.&#8221; lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.<br />
&#8220;Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?&#8221; tanyaku memecah keheningan.<br />
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.<br />
&#8220;Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali.&#8221; kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya &#8220;Adik&#8221; kecilku.</p>
<p>Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.<br />
&#8220;Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih.&#8221;<br />
&#8220;Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L.&#8221; tuturnya.<br />
&#8220;Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?&#8221; tanyaku<br />
&#8220;Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin.&#8221; kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.<br />
&#8220;Ada apa den?&#8221; tanyanya polos.<br />
&#8220;Anu Bi, itu yang pegel.&#8221; jawabku sekenanya.<br />
&#8220;Mm.. Bibi udah punya suami?&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu.&#8221; jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.<br />
&#8220;Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?&#8221;<br />
&#8220;Bibi titipkan pada adik Bibi&#8221; katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.<br />
&#8220;Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?&#8221; tanyaku lagi.<br />
&#8220;Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?&#8221; ucapnya.<br />
&#8220;Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok.&#8221; pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.<br />
&#8220;Ah.., den andy ini bisa saja&#8221; katanya, sambil tersipu malu.<br />
&#8220;Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh.&#8221; Godaku lagi.<br />
&#8220;Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus.&#8221;</p>
<p>Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.<br />
&#8220;Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh..&#8221; kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.<br />
&#8220;Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus.&#8221; katanya polos.<br />
Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.<br />
&#8220;Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri&#8221; kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.<br />
&#8220;Jangan ah den, Bibi malu.&#8221;<br />
&#8220;Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca.&#8221; Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.<br />
&#8220;Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?&#8221; tanyanya polos.<br />
&#8220;Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok&#8221; Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu &#8220;Adik&#8221; kecilku langsung mengacung keras sekali.</p>
<p>Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya &#8220;Merem-melek&#8221;.<br />
&#8220;Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den&#8221;<br />
Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.<br />
&#8220;Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den&#8221;<br />
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.<br />
&#8220;Den, punya aden besar sekali&#8221; katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.<br />
&#8220;Bi, jilatin ya.. punya Andy.&#8221; Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.<br />
&#8220;Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.<br />
&#8220;Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh&#8221; jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.</p>
<p>Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.</p>
<p>&#8220;Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh&#8221; katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.<br />
&#8220;Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh.&#8221; Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.<br />
Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, &#8220;Bi aku masukkan sekarang ya..&#8221;. ia hanya bisa mengangguk pelan.</p>
<p>aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.</p>
<p>&#8220;Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh.&#8221; desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.<br />
&#8220;Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..&#8221;<br />
&#8220;Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..&#8221;<br />
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.<br />
&#8220;Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..&#8221;<br />
&#8220;Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..&#8221;</p>
<p>Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.</p>
<p>&#8220;Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak&#8221; kataku sambil mencupang buah dadanya.<br />
&#8220;Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa.&#8221;</p>
<p>akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak. Nantikan cerita-cerita kami selanjutnya, <a href="http://cerita.modelperawan.com/category/setengah-baya/">setengah baya</a>, <a href="http://cerita.modelperawan.com/category/daun-muda/">daun muda</a> dan <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/nginep-di-vila-dengan-tante/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Tetty seksi</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/tante-tetty-seksi/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/tante-tetty-seksi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 18:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante bugil]]></category>
		<category><![CDATA[tante cantik]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang bugil]]></category>
		<category><![CDATA[tante seksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Ngomongin tante girang selalu aja menarik, apalagi kalo di bumbui dengan cerita dewasa yang mampu membuat tensi naik turun. wow&#8230; cerita tante girang?? siapa yang gak senang baca??? nah kali ini akan aku berikan cerita seks menawan dari seorang tante yang seksi namanya tante tetty, bagi anda yang pernah baca mungkin bisa mengabaikan postingan ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ngomongin <a href="http://cerita.modelperawan.com/tag/tante-girang/">tante girang</a> selalu aja menarik, apalagi kalo di bumbui dengan<a href="http://cerita.modelperawan.com"> cerita dewasa</a> yang mampu membuat tensi naik turun. wow&#8230; <a href="http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/">cerita tante girang</a>?? siapa yang gak senang baca??? nah kali ini akan aku berikan cerita seks menawan dari seorang tante yang seksi namanya tante tetty, bagi anda yang pernah baca mungkin bisa mengabaikan postingan ini, silahkan cari-cari postingan lain yang mungkin ceritanya blom kamu baca , ok!!</p>
<p>Hai, namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku ‘make love’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU).</p>
<p>Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru-guru dari kelas yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda, sekitar 25 tahunan. Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.</p>
<p>Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan paha dan betisnya yang mulus.</p>
<p>Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih. Aku agak terkejut dan sedikit mel<span id="more-193"></span>otot dengan ‘show’ yang sedang dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil tersebut. Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih memandangku sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku. Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty yang masih setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah.</p>
<p>Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. &#8220;Sudah selasai?&#8221; katanya sambil tersenyum. &#8220;Sudah, bu….&#8221; jawabku sambil membalas senyumnya. &#8220;Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?&#8221; dia bertanya mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan berbisik-bisik. &#8220;Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?&#8221; kataku memberanikan diri, masih dengan berbisik. &#8220;Kita ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?&#8221; katanya sambil tersenyum simpul. Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin.</p>
<p>Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, &#8220;Bud, kamu ikuti saya dari belakang&#8221; Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan. &#8220;Kamu benar-benar ingin melihat lagi?&#8221; tanyanya memecah kesunyian. &#8220;Lihat apa bu?&#8221; jawabku berpura-pura lupa, pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. &#8220;Ah, kamu, suka pura-pura…&#8221; Katanya sambil mencubit pinggangku pelan. Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat.</p>
<p>Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu. &#8220;Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya!&#8221; Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya, sehingga memperlihatkan BH-nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia memanggilku. &#8220;Bud, tolong dong, lepasin pengaitnya…&#8221; katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku. T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi.</p>
<p>Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya. Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba pantat bu Netty dan sedikit meremasnya, gemas.<br />
&#8220;Udah nggak sabar ya, Bud?&#8221; Kata bu Netty.<br />
&#8220;Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya….&#8221;<br />
&#8220;Kalo di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘teteh’ aja ya?&#8221;<br />
&#8220;Iya bu, eh, teh Netty&#8221;<br />
Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi.<br />
&#8220;Gimana Bud, suka nggak kamu?&#8221; Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya.<br />
&#8220;Kok kamu jadi bengong, Bud?&#8221; Lanjutnya sambil menghampiriku.<br />
Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. &#8220;Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh….&#8221; Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. &#8220;Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh&#8221; Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu. Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat.</p>
<p>Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali itu aku mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy. Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap karena basah.</p>
<p>Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip.</p>
<p>Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya belasan centi. &#8220;Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya&#8221; katanya sambil menghampiriku.</p>
<p>Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. &#8220;Oooohhhh…. enak teh….&#8221; rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku. Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi.<br />
&#8220;Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!&#8221; Teriakku tak tertahankan lagi.<br />
&#8220;Gimana? enak Bud?&#8221; Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku.<br />
&#8220;Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri&#8221; jawabku puas.<br />
&#8220;Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh&#8221; lanjutku sedikit memohon.<br />
&#8220;Boleh…,&#8221; katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai. Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap, memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku.<br />
&#8220;Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan, aaaaauuuuuhhhhhh!&#8221; Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes demi tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku.</p>
<p>&#8220;Bud, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar darimana?&#8221; Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet. Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri, memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan tampak basah serta licin itu.<br />
&#8220;Aku masukin ya teh?&#8221; Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku.<br />
&#8220;Oooohhhh…&#8221; rintihnya,<br />
&#8220;Aaaahhhh…&#8221; kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku. Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya. Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya, matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai tersenggal-senggal.<br />
&#8220;Ahh-ahh-ahh auuuu!&#8221; Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy.</p>
<p>Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai akhirnya, &#8220;Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh… aaahhhhh&#8221; teriakannya semakin kacau.<br />
Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum itu. Bu Netty sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku.</p>
<p>Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul, aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan yang panas.</p>
<p>Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya.</p>
<p>Sejak kejadian hari itu, aku sudah tidak lagi melakukan masturbasi, kami ML setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa dia memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya, yang membuatnya kehilangan mahkotanya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya, katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho). Saat kutanya, apa tidak takut hamil?, dengan santai dia menjawab, bahwa dia sudah rutin disuntik setiap 3 bulan.</p>
<p>sudah selesailah cerita seks ini, semoga bermanfaat buat anda sebagai perangsang sebelum anda bertempur dengan istri anda, sayangi istri anda untuk tidak coba-coba bertukar pasangan, bagi anda yang masih lajang, sayangi <a href="http://cerita.modelperawan.com/tag/kontol/">kontol</a> anda, jangan sampe masuk ke lubang yang salah, karena resikonya sangat kejam <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  bisa-bisa kontol anda di sunat 3 kali, <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  bisa abis dooong <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . sampai jumpa ya <img src='http://cerita.modelperawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/tante-tetty-seksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tante Girang</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 19:14:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[no hp tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante cantik]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang bugil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang bisa di ungkapkan selain dengan kata mujur, ya.. cerita kali ini adalah kemujuran bagi seorang laki-laki muda yang berkenalan dengan tante girang, dapat nomer hp tante girang, langsung ketemuan lagi dan akhirnya bisa ngentot tante girang. ceritanya gak datar, seru bikin jatung degdegan, cerita tante girang yang mungkin belum pernah anda baca. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang bisa di ungkapkan selain dengan kata mujur, ya.. cerita kali ini adalah kemujuran bagi seorang laki-laki muda yang berkenalan dengan tante girang, dapat nomer hp tante girang, langsung ketemuan lagi dan akhirnya bisa ngentot tante girang. ceritanya gak datar, seru bikin jatung degdegan, <strong>cerita tante girang</strong> yang mungkin belum pernah anda baca. berikut cerita lengkapnya.</p>
<p>Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku Gramedia di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.</p>
<p>Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.</p>
<p>Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut. Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai.</p>
<p>“Maaf..” kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang <span id="more-43"></span>berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. “Busyet! molek juga nih ibu-ibu”, pikirku.</p>
<p>“Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah.. saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet”, katanya sambil tersenyum manis.</p>
<p>“Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak..”</p>
<p>“Kamu suka juga fotografi yah?”</p>
<p>“Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok..”</p>
<p>Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya,<br />
“Mah, Mamah.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah”, potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.</p>
<p>“Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan”, katanya sambil menggandeng anaknya.</p>
<p>Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja.</p>
<p>Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.</p>
<p>“Hi, asyik amat baca bukunya”, tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.</p>
<p>“Ada yang kelupaan Mbak?”</p>
<p>“Oh tidak.”</p>
<p>“Putrinya mana, Mbak?</p>
<p>“Les piano di daerah Tebet”</p>
<p>“Nggak dianter?</p>
<p>“Oh, supir yang nganter.”</p>
<p>Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus.</p>
<p>Akhirnya mbak yang bernama Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Maya duduk di sampingku.</p>
<p>Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.</p>
<p>Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.</p>
<p>“Ke mana?” tanyaku.</p>
<p>“Terserah kamu saja”, balasnya mesra.</p>
<p>“Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol”, kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.</p>
<p>“Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol”, katanya sambil tersenyum.</p>
<p>Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.</p>
<p>Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Maya yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesek-gesekan dengan perlahan burungku ke pantat Mbak Maya, Mbak Maya pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku. Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Maya dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya. “Mmhhh.. kamu nakal sekali deh dari tadi.. hhm, aku sudah tidak tahan nih”, sambil dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku.</p>
<p>Dia segera membalikkan tubuhnya, payudaranya yang berada di balik BH-nya telah membusung. “Buka dong bajumu”, pintanya dengan penuh kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yang sudah keluar dari CD-ku. Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar. Aku sih tidak mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya.<br />
Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini adalah cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya. Ketika CD-nya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang. Nafas Mbak Maya semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya.</p>
<p>Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa BH-nya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan. Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Mbak Maya menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras. Dan semakin ke bawah terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali.<br />
Kulihat Mbak Maya segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Maya bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Mbak Maya ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan. Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Maya yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar. Dan kuhisap-hisap klitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Mbak Maya menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, “Slebbb…” tidak masuk, hanya ujung batanganku saja yang menempel dan Mbak Maya merintih kesakitan.</p>
<p>“Pelan-pelan Ndi”, pintanya lemah.</p>
<p>“Ya deh Mbak”, dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan tapi pasti kudorong lagi senjataku.</p>
<p>“Aarrghh.. pelan Ndi..” Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah susah masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga.</p>
<p>Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras. “Arrhhghh…” Mbak Maya menjerit, terlihat air matanya meleleh di sisi matanya.</p>
<p>“Kenapa Mbak, mau udahan dulu?” bisikku padda Mbak Maya setelah melihatnya kesakitan.</p>
<p>“Jangan Ndi, terus aja”, balasnya manja.</p>
<p>Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Maya yang ketat sekali.</p>
<p>Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Mbak Maya. Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras.</p>
<p>Setelah Mbak Maya tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Maya mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Maya mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini adalah sangat nikmat.</p>
<p>Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan, “Auuwwww….”, jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.</p>
<p>“Istirahat dulu Mbak”, tanyaku.</p>
<p>“Ya Ndi.. aku ingin istirahat, abis capek banget sich.. Tulang-tulang Mbak terasa mau lepas Ndi”, bisiknya dengan nada manja.<br />
“Oke deh Mbak, kita lanjutkan nanti aja..”, balasku tak kalah mesranya.</p>
<p>“Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain..”, pancing Mbak Maya.</p>
<p>“Ah nggak kok Mbak, baru kali ini”, jawabku berbohong.</p>
<p>“Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Ndi, Kamu hebat Ndi..<br />
Sungguh perkasa”, puji Mbak Maya.</p>
<p>“Mbak juga hebat, lubang surga Mbak sempit banget sich.., padahal kan Mbak udah punya anak”, balasku balik memuji.</p>
<p>“Ah kamu bisa aja, kalau itu sich rahasia dapur”, balasnya manja.</p>
<p>Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan.</p>
<p>Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami kaget saat terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan bermacam-macam posisi. Dan yang lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang berarti, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Maya tidak sesempit yang pertama tadi, mungkin karena sudah ditembus oleh senjataku yang luar biasa ini sehingga kini lancarlah senjataku memasuki liang sorganya. Tapi permainan ini tidak berlangsung lama karena Mbak Maya harus cepat-cepat pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les piano. Tapi sebelum berpisah kami saling memberikan alamat dan nomer telepon sehingga kami bisa bercinta lagi di lain saat dengan tenang dan damai.</p>
<p><a href="http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/">Cerita tante girang</a> selalu menarik untuk anda, mungkin menjadi referensi untuk trik mendekati tante girang, atau cara mendekati tante girang, cara kenalan dengan tante girang dan cara-cara lain yang mungkin anda kurang fahami dalam komunitas tante girang. Sekian <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> kali ini. semoga bermanfaat buat anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/cerita-tante-girang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Seks Tante Girang</title>
		<link>http://cerita.modelperawan.com/gairah-seks-tante-girang/</link>
		<comments>http://cerita.modelperawan.com/gairah-seks-tante-girang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 17:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[gairah tante]]></category>
		<category><![CDATA[seks tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelperawan.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Cerita seks ini aku bagi karena rasa bahagianya diriku, bagaikan mendapat durian runtuh, entah dari mana datangnya, akhirnya gue mengenal seorang tante, kenalan lalu main di ranjang, cerita tante girang ini aku ceritakan untuk kalian yang doyan tante girang, tante girang cantik, no hp tante girang dan semua tentang tante girang. sore hari menjelang malam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita seks </strong>ini aku bagi karena rasa bahagianya diriku, bagaikan mendapat durian runtuh, entah dari mana datangnya, akhirnya gue mengenal seorang tante, kenalan lalu main di ranjang, <a href="http://komunitas-tante-girang.blogspot.com">cerita tante girang</a> ini aku ceritakan untuk kalian yang doyan tante girang, tante girang cantik, no hp tante girang dan semua tentang <a href="http://cerita.modelperawan.com/gairah-seks-tante-girang/">tante girang</a>.</p>
<p>sore hari menjelang malam pulang kantor naik motor tengah jalan hujan deras terpaksa minggir dulu berteduh samping ATM BCA. lagi berdiri sendirian kedinginan tiba2x ada sinar lampu mobil yang silau banget. sialan bener nih orang parkir mobil persis depan muka gue. dari pintu pengemudi keluarlah sosok seorang tante dengan <span id="more-32"></span>gaun pesta yang lumayan seksi lari2x kehujanan langsung masuk ke dalam ruang ATM.</p>
<p>terdengar suara tante itu ngomel2x sendiri, ternyata ATM dia di blokir dan dia perlu uang cash. gue coba masuk ke dalam pura2x nanya kenapa. omigod! bajunya seksi banget, bentuk tubuhnya makin keliatan karena di dalam ruang ATM lampunya terang. baju hitam berbahan sutra tipis banget, pentilnya njeplak karena gak pake beha. pahanya yang putih mulus banget karena roknya pendek banget. bahkan gue bisa tahu kalo dia pake g-string karena pantatnya mulus gak ada garis celana dalam.</p>
<p>jantung gue berdetak cepat dan celana mulai terasa sempit. dia juga kaget waktu gue masuk, ternyata dia gak liat waktu gue di luar. kenapa tante, bisa saya bantu? aku perlu cash nih tapi ATM-ku error. pake kartu saya aja tante, nanti gantinya belakangan. saya minta alamat dan nomer telpon tante aja buat ambil uang saya nanti. aduh makasih banget ya mas, aku bener2x kepepet nih butuh 500 ribu aja kok.</p>
<p>celana gue makin terasa mau robek, titit gue yang membesar makin keliatan menyembul. sementara gue ambil duit dari ATM, tante melihat ke arah celana gue. kamu kedinginan ya? iya tante.. AC-nya dingin banget, mana hujan lagi. gue kaget banget si tante mengelus titit dengan tiba2x. mmmhh.. besar juga punya kamu!! aduh tante, bikin jantung saya hampir copot. hihihi&#8230; mendingan jantung copot atau celana kamu yang saya copot??</p>
<p>si tante terus mengelus titit gue sampe gue gak tahan dan gue langsung cium bibirnya. akhirnya kita french kiss lama banget, gue lupa kartu ATM gue masih di dalam mesin akhirnya kartunya ditelan lagi sama mesinnya. gue gak peduli lagi sama kartu ATM gue, karena udah sange berat. tangan gue masuk ke dalam roknya gue tarik g-stringnya. terasa memeknya tercukur halus, tanpa jembut sehelai pun. ternyata si tante juga udah basah banget.</p>
<p>posisi masih berdiri sambil berciuman tapi rok tante udah terangkat dan g-stringnya udah di lantai. sedangkan celana gue udah melorot tinggal celana dalam masih utuh. tangan kanan gue meremas toket tante yang tak berbeha dan tangan kiri gue mainin klitorisnya. sementara tangan tante melingkar di pundak gue. akhirnya tante buka celana dalam gue dan bibirnya menukik ke bawah ke arah titit dan berlutut. anjrit! jilatannya lembut banget sampe akhirnya dia gak tahan dia sedot palkon gue. sambil berlutut tante mengulum biji peler gue dan bergantian menyedot batang titit gue. ngilu abisss!!! gue cuma bisa merem nikmat.</p>
<p>tante&#8230; udah yuk, takut saya keburu keluar. tante berdiri ngangkang gue coba masukin titit gue ke dalam memeknya. pas udah masuk, si tante gue gendong sambil bersandar di mesin ATM. kedua tangan tante melingkar di leher gue. kedua tangan gue pegangin pahanya. gue sampe lupa kalo gue gak pake kondom, mana kepikiran.. gak ada waktu juga. kesempatan seperti ini hanya sekali. pahanya gue pegel dengan posisi kuda2x begitu sambil gendong si tante, untung aja badannya kurus jadi gak berat2x banget.</p>
<p>sekitar 15 menit.. gue capek dengan posisi gitu, gue suruh tante berdiri balik badan trus agak nungging. gue hajar memeknya dengan posisi doggy style, tangan gue sambil meremas toket tante dari belakang. si tante meraung-raung (nikmat atau sakit, gue gak ngerti), yang pasti gue sih merasa nikmat banget. akhirnya udah gak tahan lagi, gue croot di dalam meki si tante. ternyata kita keluar bareng, karena disemprot cairan peju hangat dalam memek, si tante ikutan croot juga. hujan berhenti, kita masuk ke dalam mobil. belum begitu puas, kita lanjut ke salah satu hotel transit di daerah cilandak&#8230;</p>
<p>Sampai disini dulu <a href="http://cerita.modelperawan.com">cerita dewasa</a> kali ini, akan ada sambungan cerita seks tante girang yang mampu memuaskan gairah seks ku, gairah tante girang emang bikin aku tak bisa melupakan si tante cantik ini&#8230;.</p>
<p>Bersambung&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelperawan.com/gairah-seks-tante-girang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

